Hipotalamus

Hipotalamus
International High School


__ADS_3

Dengan kesal Yura menarik ikat rambutnya dan mengikat rambut itu dengan tatapan yang masih menancap ke wajah Bu Tiyas. "Gue tandain lo, Bajingan!" tegas Yura dalam batinnya. "Lo kira nggak sakit kepala gue dijambak kayak gitu?" lanjutnya.


Awal perkenalan yang sangat bagus untuk seorang Yura di sekolah elite yang diisi oleh para anak orang kaya tersebut. Karena kejadian itu, Yura jadi banyak dikenali oleh murid lain. Cerita tentang Yura yang dijambak Bu Tiyas juga menjadi topik utama di sekolah tersebut.


***


Di kelas 2 ruang 1, terdapat seorang pria keren berwajah chinese. Sedang berkumpul dengan dua temannya yang lain.


"Yura? Kayak nama orang Jepang," ucap pria itu dengan logat khas orang Korea yang mencoba untuk berbahasa Indonesia.


Ia adalah Kim Tae Young, atau sering disapa Arnold. Ia merupakan anak blasteran Indo-Korea. Kedua orang tuanya bekerja di sebuah perusahaan kosmetik. Ibunya merupakan seorang dokter ahli kecantikan wajah dan kulit. Sedangkan ayahnya merupakan CEO di suatu perusahaan kosmetik yang lumayan tersohor di Korea Selatan.


Kim Tae Young terpaksa untuk ikut ibunya tinggal di Indonesia karena pekerjaan. Sedangkan ayahnya sibuk bekerja dan tak bisa mengurusi anak laki-laki itu di Korea.


"Emang orang Jepang kali! Mukanya aja kelihatan banget," imbuh temannya yang bernama Dewa.


"Banyak banget yang blasteran masuk sekolah kita," ucap temannya yang bernama Edo.


***


Dua hari sudah Yura jalani dengan bersekolah di sekolah elite tersebut. Namun, ia tak kunjung mendapat teman. Gaya Yura yang amburadul, membuat semua murid yang sekelas dengannya merasa enggan untuk menyapa atau berinteraksi dengan gadis itu.


Yura hanya menghabiskan waktunya dengan menggambar. Bakat itu ia dapatkan dari sang ayah yang merupakan seorang ilustrator komik dan animasi di Jepang. Yura telah berhasil membuat puluhan komik yang ia gambar secara manual dan ia simpan di rumahnya. Yura bukan sosok wanita yang manja seperti ibunya (Putri). Yura malah merasa tidak menyukai sosok wanita seperti ibunya yang manja dan selalu mengandalkan ayahnya untuk semua urusan.


Gadis itu menuangkan semua keluh kesah yang ada di hidupnya ke dalam sebuah komik. Menggambar juga dianggap oleh Yura sebagai terapi untuk meringankan beban pikirannya.


Hari itu, Yura merasa lelah menggambarkan suasana hatinya. Ia menggambar seorang gadis yang duduk di sebuah bangku sekolah dan sekelilingnya terdapat berbagai macam perhiasan dan uang namun semua itu diselimuti bayangan hitam dan gadis itu berbaring di atas mejanya.


Sebagaimana perasaan Yura hari ini. Presidential Internasional High School memang terdengar sangat mewah dan berkelas. Semua orang yang bersekolah di sini memiliki kasta. Mereka bisa membandingkannya dengan biaya bersekolah di sana dengan biaya di sekolah umum.

__ADS_1


Namun, kesepian itu tetap saja masih menyelimuti tubuh dan pikiran Yura. Tak ada Vin di sana. Tak ada lagi pria yang sering ia ajak bertengkar dan membuat kedua orang tua mereka dipanggil oleh pihak sekolah.


"Jadi kangen mukulin muka Vin," ucap Yura menghela napasnya. Kini ia sadari bahwa tangannya sudah kotor akibat pensil dan pena yang ia gunakan untuk menggambar.


Yura berjalan ke toilet, hendak mencuci tangannya.


"Lo ngapain di sini?!" teriak seorang pria di koridor dan membuat Yura terkejut. Saat ia menoleh ternyata pria itu adalah Vin.


"Lo?!" balas Yura yang terperangah sambil menunjuk pria tersebut.


"Lo bisa mati aja nggak sih?!" Vin menghampiri gadis itu dan menepis tangan Yura yang mengikuti arah wajahnya.


"Lo ngapain di sini?! Banyak duit lo, sekolah di sini?!" balas Yura.


"Kalau gue banyak duit, lo mau ngapain?! Siapa yang ngelarang gue buat sekolah di sini?! Dan lo ngapain di sini?! Nyari cela buat kabur dari emak lo?! Lo sengaja 'kan sekolah di sini biar tinggal di asrama dan nggak ketemu sama emak lo lagi! Emang anak durhaka!" omel Vin dengan beberapa mata melirik ke arah mereka.


Yura menghela napasnya dan menoleh ke arah lain. "Jangan sampai gue gampar mulut lo!" teriak Yura yang kini mendapat perhatian lebih banyak dari murid yang lain.


Yura langsung membekap mulut Vin dan menariknya ke belakang kelas. Saat Yura membuka bekapannya, ia mendapati Vin yang kini berkumis akibat jiplakan tinta hitam dari jari gadis itu. Seketika itu Yura tertawa melihatnya. Vin malah kebingungan.


"Apaan sih?!" bentak Vin.


"Muka lo ngelawak!" balas Yura yang masih terkekeh sambil memutar kepala Vin ke arah kaca jendela yang tertutup.


Vin melihat wajahnya yang mendadak dekil dan kumis hitam akibat jiplakan tinta dari telapak tangan Yura. "Lo, Sialan! Yuraaa!!" teriak Vin sambil menghapus tinta di wajahnya.


"Gitu aja sih, lebih ganteng muka lo," ejek Yura.


"Gue umumin ke sekolah kalau lo anak durhaka!" ancam Vin.

__ADS_1


Kalimat itu mambuat wajah Yura berubah drastis. Ia menatap serius Vin. "Gue pukulin lo sampai mati!" ucapnya.


"Lo kira gue takut sama lo?!" balas Vin.


"Gue nggak main-main, Vin," ucap Yura.


"Lo kira gue becanda?" balas Vin lagi.


"Kenapa sih lo ke sini?! Gue sekolah di sini biar nggak ketemu lo lagi! Kenapa lo ada di sini juga?!" teriak Yura.


Hal itu mengingatkan Vin pada kejadian kemarin.


***


Vin telah menjadi murid baru di kelas yang sama dengan Kim Tae Young, si blasteran Indo-Korea. Melihat perawakan Vin yang terlihat cupu dan norak, Kim Tae Young dan teman-temannya memilih pria itu untuk menjadi buli-bulian mereka. Sayangnya, Vin tak seberani saat bersama Yura untuk menghadapi pria tersebut.


***


Yura menghempas tasnya ke atas meja ruang tamu. Di sana juga terdapat Putri yang sedang asyik berbalas pesan bersama suaminya tercinta. Wanita itu terkejut dan melihat ke arah anaknya.


"Ada apa, Yura?!" tanya Putri dengan nada yang masih terkejut.


"Mama sengaja ya daftarin aku sekolah di sana?! Vin juga ada di sana! Kemaren Mama bilang katanya Vin sekolah di SWAKARYA, tapi kenapa dia ada di sana sekarang?!" omel gadis itu pada ibunya.


"Oh, Vin. Mama juga nggak tahu," balas Putri dan kembali membalas pesan suaminya dengan emoticon cinta sambil tersenyum.


"Bohong banget kalau Mama nggak tahu. Jelas-jelas 'kan Mama sama Tante Nurul temenan! Masa nggak ada cerita-cerita tentang Vin!" bantah Yura.


"Mama nggak tahu, Yura!" balas Putri dengan tenang.

__ADS_1


"Terus kenapa Vin juga ada di sana, Ma?!" teriak Yura.


Putri mulai mengubah mimik wajahnya, anak semata wayangnya itu tampaknya harus dididik dengan tegas. Dia juga tidak mungkin menceritakan tentang ayah Vin yang meminta anaknya itu untuk bersekolah di sana.


__ADS_2