Hipotalamus

Hipotalamus
Lo Kenapa sih? Gila?


__ADS_3

"Apa? Keluarga lo kenal sama keluarganya dia? Atau lo sama dia dijodohin kayak yang di novel-novel? Atau lo berdua sebenarnya kakak-adek yang tertukar? AWWW!" teriak Zahra yang tiba-tiba mendapat jambakan kecil dari Yura.


"Gue tuh mau cerita! Lo malah kayak gitu!" omel Yura.


"Iya, cerita apa?" tanya Zahra sambil mengusap kepalanya.


"Dia pernah nyium gue," bisik Yura di telinga temannya tersebut.


Detik itu juga Zahra terbelalak. Tubuhnya mendadak kaku tak bisa melontarkan kalimat apa pun untuk merespons ucapan Yura tersebut.


"Zah! Zahra! Lo kenapa?! Zahra!!" Yura mulai panik dibuat tingkah temannya itu.


"Aaaarrrrghhhhhh!!!" Tiba-tiba Zahra menjerit dan membuat Yura terkejut.


"Lo kenapa sih?! Gila?" bentak Yura.


"Lo seriusan?! Lo nggak bohong, Ra?! Lo sama dia?! Sama Kayuki?! Ciuma—" Yura langsung membekap mulut Zahra agar ia tak melanjutkan kalimat tersebut.


"Lo ngomong kenceng-kenceng, gue colok mulut lo pakai sumpit!" ancam Yura.


"Gue nanya seriusan, Ra! Lo sama dia?!" tanya Zahra lagi. Yura mengangguk sambil tersipu malu.


"Kapan?! Di mana?! Kok gue nggak lihat?!" tanya Zahra lagi.


"Sebelum gue libur seminggu. Di kereta," ucap Yura semakin terbang melayang membayangkan kejadian yang telah lalu.


"Diiihh!! Yuraaaaaa!! Kok bisa?!" Zahra benar-benar tak percaya akan apa yang diceritakan oleh Yura.


"Ceritanya panjang!" ejek Yura seperti saat ia menanyakan pasal Kayuki pertama kali pada temannya itu.


"Cerita nggak?! Cerita, buru! Atau gue umumin nih di sekolah!" ancam Zahra.

__ADS_1


"Eeehhh!! Jangan! Idiot! Ngapain lo umumin? Lo mau seluruh sekolah tahu kalau gue suka sama dia, hah?! Dapet apa lo emangnya kalau mereka semua tahu?!" bantah Yura.


"Ya udah, buru ceritain! Kenapa dia bisa muach-in lo?" tanya Zahra sambil memberikan kode pengganti kada cium.


"Ya, susah gue ceritainnya! Kapan-kapan deh. Gue udah dijemput, bye -bye!" ucap Yura dan kabur memasuki mobil yang Angga bawa untuk menjemput anaknya tersebut.


"Yuraaa!!! Ih, bisa mati penasaran gue, Ra!! Iihh ngeselin banget!" teriak Zahra yang tak mendapatkan jawaban apa pun dari temannya itu.


***


"Ige mwon-gayo?!" teriak Tuan Kim yang baru saja mendapatkan hasil nilai ujian minggu ini yang diperoleh dari Kim Tae Young.


Sebuah kertas dihempas ke wajah Kim Tae Young membuat pria berusia 18 tahun itu memejamkan matanya akibat rasa terkejut menghadapi sang ayah.


"Nega neol hag-gyo-e deryeoda juneun de eolmana deuleossneunji ara?!" teriak Tuan Kim lagi sambil menampar anaknya tersebut dan memberikan bekas luka di ujung bibir Kim Tae Young.


Ia benar-benar tak habis pikir. Apa saja yang dilakukan oleh anaknya di sekolah sehingga mendapatkan nilai seburuk yang tertera di kertas laporan itu. Yang lebih menjadi bahan omelannya adalah sudah banyak biaya yang ia keluarkan untuk menyekolahkan Kim Tae Young di sekolah terbaik dengan fasilitas terbaik, tapi ia malah mendapatkan anaknya yang bodoh di lingkungan sekolah tersebut.


Tuan Kim pergi meninggalkan putranya yang terduduk di lantai. Ia akan kembali ke Korea dan menemui istrinya di sana.


"Mwoya, Tae Young-hee?" tanya wanita tersebut yang merupakan ibu dari Kim Tae Young.


Kim Tae Young meremas kertas yang bertuliskan hasil nilai ujian minggu ini. Tanpa memberikan sepatah kata pun, Kim Tae Young memasuki kamarnya.


Hidup terlalu sulit untuknya. Terlahir dari seorang wanita simpanan, bukanlah hal yang ia inginkan. Ayahnya hanya menginginkan nilai sempurna. Sementara ia tak tahu apa yang Kim Tae Young rasakan. Belum lagi, masalah ibunya yang tak biss terlepas dari jerat sang ayah.


Tuan Kim beralasan untuk tidak memanjakan anak di hadapan para rekan bisnisnya. Padahal, ia tak memiliki alasan untuk memanjakan Kim Tae Young. Bahkan perusahaan yang ia miliki tidak bisa diberikan kepada anak laki-lakinya itu, karena anak-anaknya yang terlahir dari istri sah di Korea, lebih layak dan pantas untuk mendapatkan semua warisan tersebut.


Kim Tae Young hanyalah alat promosi Tuan Kim di Indonesia. Itu sebabnya ia tak ingin terdapat cacat pada anaknya tersebut. Kelangsungan bisnis Tuan Kim di negara merah putih ini bergantung pada Kim Tae Young, termasuk nilainya di sekolah. Kesempurnaan yang ia patok untuk anaknya itu, terlalu tinggi. Hingga Kin Tae Young berusaha untuk berhenti melampauinya. Jangankan untuk mencapai, mendekatinya saja, Kim Tae Young tak sanggup. Karena ia menyadari siapa dirinya. Anak dari wanita simpanan.


***

__ADS_1


Sementara itu, yang terjadi di keluarga Angga dan Putri semakin memanas. Kertas perceraian dari pengadilan agama telah berada di genggaman Putri. Derai air mata semakin membanjiri wajah ibu satu anak tersebut. Tak mampu ia berkata-kata.


Untuk menyesali semua pun rasanya sudah terlambat. Tak ada yang perlu disesali selain menentukan pilihan. Bercerai dengan Angga atau memperbaiki semuanya.


"Ibu nangis," ucap Rumi, asisten rumah tangga yang mengurusi Yura sedari kecil sambil berjalan menuju dapur.


Perceraian Putri dan Angga menjadi topik hangat pembicaraan asisten rumah tangga mereka.


"Minggu kemaren bapak ke sini ngantar surat cerai," balas Minnah.


"Aduh, kasian neng Yura. Mungkin dia nggak dikasih tahu soal ini. Kalau dia tahu, pasti dia udah protes duluan!" ucap Rumi.


"Mungkin dia udah tahu dan emang mau orang tuanya cerai. Secara 'kan neng Yura nggak suka sama ibunya!" bantah Minnah.


"Nggak boleh ngomong gitu! Neng Yura itu sayang sama ibunya! Cuma dia 'kan nggak deket dari kecil. Jadi gimana cara ngungkapinnya? Berasa kayak ngomong sama orang asing," jelas Rumi.


"Sok tahu kamu, Rum!" balas Minnah.


"Sok tahu dari mana? Emang Yura begitu kok! Saya yang ngerawat dia dari kecil. Dari baru bisa ngomong, sampai udah sebesar ini! Dia juga paling dekat sama saya!" bantah Rumi.


"Ya udah, kamu aja yang jadi ibunya!" tegas Minnah tak mau kalah.


"Sudahlah, Minnah! Kamu ART baru di sini. Saya sudah lama kerja di sini. Jadi kamu jangan sembarangan kalau ngomong! Kalau ibu sampai tahu omongan kamu itu, bisa-bisa dipecat kamu!" ancam Rumi.


"Dih! 'kan cuma menduga! Bisa aja toh 'kan kalau neng Yura emang mau orang tuanya bercerai! Kamunya aja yang sok tahu, Rumi!" bantah Minnah lagi dan perdebatan pun terjadi di antara mereka berdua.


"Udah-udah! Majikan lagi panas, malah kalian ribut! Nggak sadar diri!" ucap asisten rumah tangga yang lain.


"Coba kamu tanya langsung ke neng Yura!" tantang Minnah.


"Nggak! Tahu-tahunya Pak Angga sengaja ngerahasiain ini dari neng Yura. Nanti aku yang kena marah!" bantah Rumi.

__ADS_1


"Ya coba aja! Neng Yura harus tahu dong masalah ini! Ini 'kan masalah orang tuanya!" tegas Minnah.


"Nggak! Kita cukup tahu aja! Jangan mencampuri!" balas Rumi.


__ADS_2