
Keesokan harinya, Kim Tae Young berada di sekolah. Untungnya Vin sibuk mengurusi urusan Meta dan Jong Woo. Sehingga pria itu tak lagi datang untuk mengusik Kim Tae Young.
"Seriusan, Nold?!" pekik Dewa mendengar penjelasan Kim Tae Young mengenai perjodohan antara dirinya dan Jesika.
"Jesika siapa? Gue nggak pernah denger! Emangnya sekolah kita punya murid namanya Jesika?" tanya Edo.
"Iya, gue aja baru tahu," ucap Dewa.
"Mending kita cari tahu dulu. Yang mana sih orangnya? Jadi penasaran gue," ucap Edo.
Jam istirahat pertama, mereka menghuni kantin. Di sana seorang gadis berjalan sendirian dengan gaya yang super waw. Bahkan tatapan Dewa dan Edo tak berpaling dari gadis itu.
"Siapa tuh?" tanya Dewa.
"Nggak tahu, gue aja baru lihat," jawab Kim Tae Young.
"Ow! Itu murid baru yang gantiin Yura!" ucap Edo.
"Masa sih? Gila, gayanya! Namanya siapa?" tanya Dewa lagi.
"Jesika," jawab Edo santai.
"Jesika?!" Kim Tae Young dan Dewa saling menatap.
"Itu yang dijodohin sama lo, Nold?!" pekik Edo tak percaya.
"Mana gue tahu!" balas Kim Tae Young.
Tiba-tiba gadis itu menghampirinya. "Arnold?" tanyanya.
"Iya iya! Ini Arnold! Kim Tae Young! Ini dia!" jawab Dewa dan Edo sambil merapikan pakaian temannya tersebut.
"Jesika," ucap gadis itu sambil menjulurkan tangannya.
"Tangan gue lagi sakit," ucap Kim Tae Young.
"Nggak boleh gitu, Nold! Ingat bokap lo!" gerutu Dewa.
Kim Tae Young menghela napasnya dan membalas salam tersebut. "Arnold," ucapnya singkat.
"Aku murid baru di sini. Boleh dong ceritain dikit tentang sekolahnya," ucap Jesika yang ikut duduk di hadapan Kim Tae Young.
"Sekolah kita angker," ucap Kim Yae Young membuat kedua temannya terbelalak.
"Nggak! Sekolah kita ramah, baik, damai dan berprestasi. Kamu mau masuk ekskul apa?" tanya Dewa memperbaiki suasana yang hampir buyar.
"Di sini adanya ekstra kurikuler apa aja? Musik ada nggak?" tanya Jesika.
__ADS_1
"Ada, Edo masuk ekskul musik. Kalau mau gabung, daftar sama dia aja. Biar diurusin ntar," jawab Dewa.
"Yang namanya Edo, yang mana?" tanya Jesika lagi.
"Gue! Gue ketua ekskul musik. Gue drumer band sekolah. Setiap Pensi, gue sama band selalu ikut. Band gue juga setidaknya udah pernah dapat dua medali emas di Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional atau FLS2N tingkat provinsi sih, belum bisa tingkat nasional," jelas Edo.
"Boleh juga. Aku mau daftar dong! Aku bisanya nyanyi dan aku suka nyanyi," ucap Jesika.
"Nyanyi?! Kebetulan kita lagi butuh vokalis buat lomba!" ucap Edo yang disambut antusias dari adik kelasnya tersebut.
***
"Nae-il dangsineun Jesika-ege jeobgeunhae-yahabnida!" Kalimat itu masih terngiang di telinga Kim Tae Young.
Tuan Kim memaksanya untuk mendekati Jesika secepat mungkin agar kerjasama perusaannya dengan Tuan Rendi semakin dipercepat. Kim Tae Young benar-benar merasa dirinya tak berharga di dalam keluarga itu. Terlahir sebagai alat bisnis ayahnya, bukanlah hal yang pernah Kim Tae Young inginkan.
Kim Tae Young sedang melihat Edo dan Jesika yang asik bermain musik di dalam ruang ekskul. Edo juga bisa bermain gitar, hal itu semakin membuat Jesika tertarik padanya.
Saat mereka hendak pulang ke asrama masing-masing. Jesika mengucapkan satu kalimat kepada Kim Tae Young dan membuat pria itu terkejut.
Ia mengucapkan, "Gue nggak setuju sama perjodohan ini! Gue mau secepatnya dibatalkan!"
Kim Tae Young menatap wajah gadis itu. Edo juga terkejut mendengarnya.
"Kenapa?! Lo cocok kok sama Arnold?! Kenapa nggak setuju?!" Edo yang mempertanyakan hal tersebut.
"Karena gue nggak ada rasa sama Arnold. Perjodohan ini cuma buat kepentingan perusahaan. Gue nggak mau lebih dari itu. Kalau mau temenan, silakan. Tapi, gue nggak mau jadi alat bisnis," ucap Jesika.
"Lo nggak bisa seenaknya gitu, Jes!" bantah Edo.
"Kenapa? Gue emang nggak mau sama dia," ucap Jesika.
"Tapi Arnold ngelakuin ini demi bokapnya!" bantah Edo lagi.
"Ya itu bukan urusan gue," ucap Jesika dengan santainya.
"Lo nggak tahu hubungan Arnold sama bokapnya kayak gimana! Bokapnya yang maksa dia buat deketin lo! Sebelum ada lo, Arnold suka sama Yura! Tapi Yura pindah ke Jepang! Lo kira dia juga suka sama lo?! Dia juga masih ngarepin Yura sampai sekarang! Dia juga kepaksa ngelakuin ini semua! Kalau pun lo nggak terima dijodohin, lo harusnya lapor ke bokap lo! Bukan ke Arnold!" omel Edo dan pergi memasuki asrama putra.
"Kok jadi gue yang salah?" tanya Jesika.
***
"Masak apa lagi nih?" tanya Yura menghampiri Putri yang sedang memarut sebuah kelapa tua.
"Mau masak opor. Kata Rumi kalau santannya asli, lebih enak. Tadinya mau beli yang instans aja, tapi nggak jadi," jawab Putri.
"Ma, nanti aku mau ke rumah Om Regi. Udah lama nggak ketemu Meta. Kangen," ucap Yura.
__ADS_1
"Oh iya, tapi nanti balik ya! Makan di rumah! Mama udah masakin ini capek-capek!" omel Putri.
"Iya!" jawab Yura sambil tersenyum.
Putri kembali memarut kelapa secara manual.
"Udah, Bu. Biar saya aja!" ucap Rumi.
"Iya, biar Kak Rumi aja. Mama nggak bisa marut," ejek Yura sambil terkekeh.
"Bisa kok! Ini lihat! Tuh!" bantah Putri.
"Kesiam Ibu dari pagi udah nyuci," ucap Rumi.
"Nyuci 'kan pakai mesin cuci, Rum. Nggak capek," bantah Putri.
"Tapi bangun pagi-pagi, udah masak," ucap Rumi lagi.
"Iya, mau aku biasain. Selama ini aku nggak pernah masak. Sekarang aku suka masak," ucap Putri.
"Kalau suka, mending buka usaha katering," cetus Yura membuka sebuah ide dan peluang bisnis.
"Iya juga ya!" Tadinya Putri bersemangat tapi tiba-tiba ia terdiam. "Tapi kayaknya nggak juga, Ra," lanjutnya.
"Kenapa?" tanya Yura.
"Nggak kenapa-kenapa. Mending Mama masak buat kalian aja," ucap Putri.
"Takut dimarahin Papa ya?" goda Yura.
"Hust!" ucap Putri memberikan isyarat agar anaknya itu tak melanjutkan kalimatnya tersebut.
"Nanti aku yang bilang deh," ucap Yura.
"Jangan! Udah biarin aja!" bantah Putri tak ingin memulai masalah yang baru. Ia tahu bahwa Angga tak menyukai dirinya bekerja.
***
Sementara yang terjadi di kediaman Tuan Lee, Jong Woo sudah setengah bulan tak pulang ke rumah akibat takut bertemu dengan sang ayah.
Ia sempat berniat untuk berkunjung ke rumah Meta dan meminta maaf. Tapi, ia mengurung niatnya tersebut karena takut untuk bertanggungjawab.
"Gimana, Jong? Gue denger-denger sih, Tante Debi mau usut ini ke pihak kepolisian," ucap Vin sambil berbaring di kamar asrama.
Jong Woo hanya berdiam diri. Marc juga merasa enggan mencampuri urusan mereka.
"Kenapa?" tanya Vin begitu Jong Woo melihat ke arahnya.
__ADS_1
"Gue mau minta maaf ke Meta," ucap Jong Woo.
"Kayaknya udah telat. Soalnya Tante Debi udah laporin kasus ini ke polisi. Mungkin besok atau lusa polisi datang ke sini buat minta keterangan dari kita semua," jawab Vin.