Hipotalamus

Hipotalamus
Cerai


__ADS_3

"Mending lo bawa Angga ke sini! Kita omongin baik-baik. Sekalian Yuranya juga diajak. Dia juga harus tahu kondisi keluarganya. Dia bukan anak kecil lagi," ucap Feno lagi.


"Iya, gue setuju sama Feno. Dari pada lo sembunyi-sembunyi kayak gini. Coba lo bayangin gimana perasaan Yura pas tahu semuanya? Lo nggak kesian sama dia? Dih gue jadi kepikiran Meta kalau ngomongin soal Yura," ucap Debi.


"Jadi gue mesti gimana?" tanya Putri.


"Lo cerai-in Angga!" tegas Regi.


"Diomongin dulu baik-baik!" bantah Debi.


"Jangan gegabah, Put! Ini masalah keluarga. Kalau pacaran, putus nyambung itu biasa. Tapi cerai-kawin lagi, itu bakalan jadi omongan orang," ucap Feno.


"Iya, bener itu, Put! Harus pertimbangin juga resikonya. Kalo cuma sekedar salah paham, mungkin bisa diomongin baik-baik. Intinya dimusyawarahkan dulu." Debi ikut menimpali.


***


Putri pulang ke rumahnya dan menemui Angga. Tak sepatah kata pun terucap dari bibirnya.


Yura dan Kayuki baru saja sampai dan langsung menyerang Putri yang sedang duduk di sofa ruang tamu. Melihat kehadiran anaknya itu, dengan cepat Putri mengusap air matanya.


Yura memasuki kamar kedua orang tuanya dan mencari di mana surat perceraian itu disimpan. Semua laci ia geledah dengan amarah. Angga terpaksa memegangi kedua tangan anaknya itu agar tak membuat kekacauan lebih parah.


"Ada apa ini, Yura?!" bentak Angga.


Kayuki ikut duduk di sofa dan tak mau berurusan dengan Angga.


"Mana?!" tanya Yura.


"Apa?! Kamu kenapa kayak gini?!" bentak Angga lagi sambil memegangi kedua tangan anak gadisnya.


"Mana surat dari pengadilan itu?!" teriak Yura pada sang ayah.


Mendengar hal itu, Putri bergegas menghampiri Yura.


"Ngomong apa kamu?" tanya Putri berpura-pura tidak tahu.

__ADS_1


"Mana surat pengadilannya?!!" jerit Yura membuat denging di telinga semua orang.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Putri lagi mencoba menahan dadanya yang semakin terasa sesak.


Yura berhasil menghempas genggaman ayahnya dan membuka lemari pakaian. Di sana ia mendapatkan surat dari pengadilan agama. Detik itu juga Yura merobeknya dengan kesal sambil menangis.


"Kenapa sih, Ma, Pa?! Kenapa kalian kayak gini?! Kalian nggak mikirin aku gimana?! Kalian tahu nggak gimana perasaan aku?! Dari kecil aku dirawat ART! AKU NGGAK PERNAH NGERASAIN KELUARGA KAYAK ORANG LAIN! AKU JUGA IRI LIHAT KELUARGA VIN!  Mama sama Papa pernah nggak nanya, kenapa aku berantem terus sama Vin dari kecil? KARENA AKU IRI SAMA DIA! KELUARGA DIA NGGAK KAYAK YANG AKU PUNYA! Aku seneng kok lihat Mama mecat semua ART dan milih ngurus rumah. Itu artinya aku bakalan lebih sering ngelihat Mama di rumah! Aku kira semuanya bakalan membaik. Tapi kenapa di belakang aku kalian kayak gini?!! Iya, aku tahu ini urusan kalian! Aku tahu ini urusan orang dewasa! Pasti Papa mau bilang gitu! Tapi aku juga ngerasain sakitnya! Aku juga nggak mau peduli! Tapi ini keluarga aku!" teriak Yura tanpa jeda dengan derai air mata di hadapa kedua orang tuanya.


Yura yang pendiam, kini banyak bicara bersama air matanya di hadapan Putri. Bahkan Putri tak pernah berpikir bahwa Yura akan se-kecewa ini.


Putri ikut meneteskam air mata dan sesenggukan mendengar semua kalimat yang Yura sampaikan. Ia kembali membuat Yura kecewa. Rasanya Putri memang tak bisa menjadi seorang ibu. Putri memeluk anaknya yang sedang menangis itu.


Angga menyeka air matanya dengan cepat.


"Kenapa Papa ngelakuin ini ke Mama?" tanya Yura lagi. "Kenapa Papa mau ceraiin Mama?!


"Udah, Ra," ucap Putri yang memilih untuk tidak melanjutkan pertengkaran itu.


"Nggak! Aku mau semuanya jelas di sini! Aku nggak peduli Mama sama Papa benci aku atau gimana. Tapi ini yang aku rasain. Aku juga berhak tahu soal ini. Kenapa Papa mau ceraiin Mama?" bantah Yura dengan cepat.


"KALAU NGGAK DISELESAIKAN SEKARANG, MAU SAMPAI KAPAN SEMUANYA KAYAK GINI?!" teriak Yura.


Kayuki berdiri di depan pintu kamar dan melihat kejadian itu. Ia segera mengamankan Yura.


"Lepasin gue!! LEPASIIINN!!" teriak Yura meronta-ronta begitu Kayuki menyeretnya ke luar rumah.


"Lo masih waras 'kan, Ra?! Nyokap sama bokap lo masih ada masalah! Lo jangan bikin semuanya makin runyam! Masalah kayak beginian nggak bisa diselesaiin pakai emosi!" omel Kayuki.


Yura berjongkok di trotoar dan menangis sejadi-jadinya. Dengan kedua tangan ia menutupi wajahnya yang basah akan air mata.


"Tenangin diri dulu," ucap Kayuki.


"Gue nggak mau orang tua gue cerai, Ki!" ucap Yura sambil menangis.


"Sekali pun lo bilang nggak mau, semua keputusan di tangan mereka. Lo cukup bilang nggak mau, bukan maksa!" omel Kayuki lagi.

__ADS_1


Yura kembali berdiri dengan cepat di hadapan pria itu. "Lo nggak bakalan tahu rasanya jadi gue karena lo bukan di posisi gue! Paham?! Jangan ikut campur dalam urusan keluarga gue!" teriak Yura.


"Terus gue harus ngapain kalau nggak ikut campur?! Gue diam aja ngelihat lo kayak gini?! Seriously, I have to be quiet when you cry like this in front of me?!" balas Kayuki.


Yura terdiam dan air matanya kembali menetes. Ia menatap tajam kedua bola mata Kayuki. "I hate you!" ucapnya dan semakin menangis setelah mengucapkan kalimat itu.


Kayuki menarik Yura untuk berhambur ke pelukannya. Yura menangis hingga tersedu-sedu. Kayuki mengusap kepalanya.


Bertepatan dengan itu, Vin baru saja hendak melintasi jalanan menuju rumah Yura. Dari seberang jalan, ia melihat gadis itu berada di pelukan Kayuki.


Vin pulang dengan hati yang lumayan hancur akan pemandangan di depan rumah Yura. Entah sejak kapan ia merasakan cemburu yang teramat pada sosok Kayuki.


Gue nggak suka sama lo, Ra. Tapi kok sakit ya? Lo nggak selemah itu, gue tahu. Kenapa lo nangis di pelukan dia?


Vin bergumam dalam batinnya.


***


Hari demi hari berlalu, keadaan rumah tangga Angga dan Putri semakin remuk. Yura memaksa ayahnya untuk membuktikan apa yang ia katakan dengan mempertemukan mereka dengan anak yang menjadi perkara keluarga itu.


"Dia bukan siapa-siapa! Dia anak temanku!" bantah Angga terus menerus dan setiap hari.


"Kalau bukan siapa-siapa kenapa Ayah nggak berani bawa kita ketemu sama dia?!" balas Yura.


"Justru karena dia bukan siapa-siapa. Kita nggak perlu kayak gini!" omel Angga pada anak gadisnya itu. "Memangnya siapa yang bilang kalau itu anakku?!" lanjutnya.


"***** itu yang datang ke rumah nenek dan bikin nenek marah!" umpat Yura.


"Ayumi?" tanya Angga.


"Nggak ada ***** lain di Jepang itu selain dia!" balas Yura lagi.


"Kita berangkat ke Jepang hari ini!" tegas Angga demi meluruskan kesalahpahaman itu.


Kayuki tersenyum. Itu tandanya ia bisa pulang tanpa mengeluarkan biaya. Malam itu juga, mereka berangkat ke Jepang.

__ADS_1


__ADS_2