
Vin mulai menatap tidak senang ke arah pria yang sekamar di asrama dengannya tersebut.
"Apaan sih?!" balas Meta.
"Apaan sih-apaan sih. Ini minuman buat lo?!" bentak Jong Woo lagi.
"Ya gue nggak mau! Kenapa sih lo maksa banget!" balas Meta.
"Caper nggak usah segitunya juga, Jong!" balas Vio membuat mereka semua mendadak terdiam.
"Siapa yang caper?!" bantah Jong Woo yang tak bisa menghindar dari kalimat Vio tersebut karena memang apa yang ia lakukan adalah sebuah tindakan untuk mencari perhatian saja.
"Lo lah! Siapa lagi?!" balas Vio.
"Ngapain juga caper sama anak penulis yang nggak punya masa depan kayak dia!" tegas Jong Woo dan kembali ke meja makannya bersama Vin dan Marc.
Vin masih menatap kesal ke arah Jong Woo.
"Dih, nggak punya masa depan. Emangnya lo siapa?! Bapak dia punya hutang sama bapak lo?!" teriak Vio kesal.
***
Keesokan harinya, Jong Woo kembali berulah. Hari Sabtu ini Meta dan Vio akan pulang ke rumah mereka masing-masing. Lagi-lagi Jong Woo menemui Meta di depan asrama putri dan menawarkan tumpangan untuk pulang.
"Nggak! Gue nggak sudi!" bentak Meta dengan mempertahankan posisinya menunggu jemputan.
"Burulah! Makin sore ini!" paksa Jong Woo.
"Terserah lo ya, Kak Jong Woo! Gue nggak mau! Kalau gue nggak mau, ya berarti gue nggak mau!" teriak Meta semakin menjadi. "Lagian lo mau ngapain sih?! Segitunya mau caper ke gue?!" lanjutnya.
"Dih, caper? Ngaca lo! Muka udah kayak pantat Biawak bilang gue caper? Gue cuma berusaha baik ke lo! Malah dikatain caper!" omel Jong Woo.
"Udah ya, Kak. Gue ilfil sama lo. Kalau cara lo deketin gue kayak gini, sumpah gue jijik banget!" ucap Meta begitu melihat mobil jemputannya sudah mendekat.
"Hah?! Gila kali lo ...." Kalimat Jong Woo terhenti karena Meta memasuki mobil yang terdapat Regi di dalamnya. "Halo, Om!" sapanya yang mendadak baik.
"Halo, Jong Woo!" balas Regi.
"Udah jangan diladenin, Pa!" ucap Meta.
"Loh kenapa?" tanya Regi.
"Dia itu suka gangguin aku di sekolah, Pa! Depan Papa aja sok baik!" jawab Meta.
"Namanya juga anak cowok," ucap Regi dan melajukan mobilnya.
__ADS_1
"Bukan gitu, Pa! Vin aja sampai berantem sama dia! Gegara dia gangguin aku!" jelas Meta.
"Kenapa Vin berantem?" tanya Regi.
"Ya itu gegara Kak Jong Woo gangguin aku terus! Vin aja males temenan lagi sama dia!" jelas Meta.
"Berantem kayak gimana coba?" tanya Regi lagi.
"Nggak tahu. Yang pasti sih hari itu aja sampai teriak-teriakan di kantin. Nggak tahu deh kalau di kamar asramanya gimana. 'kan mereka satu kamar di asrama!" Meta mengeluarkan ponselnya.
"Tapi kok Papa lihat Jong Woo baik-baik aja. Nggak ada masalah. Nggak nakal juga," ucap Regi.
"Iya, itu di depan Papa! Kalau di belakang Papa, beda lagi! Muka dua! Aku juga nggak ngerti kenapa dia kayak gitu! Padahal kemaren-kemaren biasa aja!" omel Meta.
***
Senin itu, kelas Vin sedang menjalani praktek renang di kolam renang sekolah. Di sebelahnya, terdapat lapangan Voli. Di sana para gadis kelas Vio sedang bermain Bola Voli.
"Ambil, Met!" jerit Vio.
"Makan tuh!" teriak Meta saat melakukan passing.
"Dih, sepupu lo jago main Voli, Vin?" ucap Jong Woo tanpa rasa bersalah mengenai hal-hal kemarin.
"Waduh! Pada mulus semua paha adek kelas kita!" ucap Marc.
"Gue jadi heran. Kok perut lo bisa kotak-kotak gitu, Vin? Lo nge-gym?" tanya Marc.
"Kotak-kotak secara alami!" jawab Vin.
Tiba-tiba bola Voli melintasi perbatasan dan mengambang di atas kolam renang. Meta mendatangi kolam tersebut dan melaporkannya kepada guru yang sedang mengajar di sana.
"Vin! Ambilin bolanya!" pinta Meta pada sepupunya tersebut.
Vin langsung mengambilnya dan memberikan bola itu kepada Meta. Namun, Jong Woo malah menahan bola itu sebelum sampai di tangan Meta.
"Mau lo apa sih?!" bentak Meta. "Balikin bolanya!"
"Kasih bolanya, Jong!" tegas Vin.
Bukannya memberikan bola Voli itu kepada Meta, Jong Woo malah mendorong Meta untuk ikut menyebur ke kolam renang bersama sepupunya itu. Riak tawa murid kelas mereka menyambut kejadian itu. Vio berlari menghampiri kolam renang. "Metaaa!!" teriaknya.
Vin membawa Meta ketepian karena gadis itu memang tak pandai berenang sedari kecil. Meta terus menangis karena takut tenggelam. Wajahnya mendadak merah karena menghirup air melalui hidung.
Vio berlari mendekati Jong Woo dan mendaratkan sebuah pukulan yang sangat kuat di wajah kakak kelasnya itu.
__ADS_1
"Bakalan seru nih," ucap Dewa pada teman-temannya yang hanya melihat saja dari pinggiran kolam renang lainnya.
"Mau mati lo?!" teriak Vio.
Jong Woo mengusap bibirnya yang berdarah akibat tergigit.
"Maksud lo apa, Hah?!" teriak Vio lagi.
Jong Woo hendak melayangkan pukulan ke wajah Vio. Tapi Marc menangkap tangannya itu. "Sekali lo mukul dia, gue pastiin lo nggak bernyawa besok pagi!" tegasnya.
"Dia yang mukul gue duluan!" teriak Jong Woo.
"Lo yang gangguin temennya duluan!" balas Marc dengan teriakan yang lebih kencang di hadapan pria itu.
"Lo nggak apa-apa, Met?" tanya Vio yang langsung menghampiri Meta di pinggiran kolam bersama Vin.
"Gue takut, Vi!" jerit Meta sambil menangis.
"Lo udah kelewatan, Jong!" teriak Vin.
"Gue cuma bercanda!" bantah Jong Woo.
"Bercanda lo bisa bikin Meta mati! Dia pernah tenggelam waktu kecil! Dan dengan mudahnya lo bercanda kayak gini?! Ngotak dong lo!" teriak Vin semakin kesal.
"Mana gue tahu kalau dia pernah tenggelam!" balas Jong Woo.
"Justru kalau lo nggak tahu, lo jangan kayak bocah gini! Gimana kalau Meta kenapa-kenapa?! Udah bukan urusan bercanda lagi! Lo ngebunuh dia!" teriak Marc.
Jong Woo melihat Meta yang menangis sambil dipeluk Violin.
***
Sejak kejadian itu, Meta jatuh sakit dan harus dilarikan ke rumah sakit dan Debi sebagai pendampingnya di sana.
"Coba ceritain, Meta pernah ngapain di sekolah?" tanya Debi pada Vin.
"Dia tenggelam di kolam renang sebelum sakit, Tante," jawab Vin.
"Terus?" tanya Debi yang berpikir mungkin saat itu adalah jam pelajaran olahraga yang mengharuskan anaknya memasuki kolam renang.
Tiba-tiba Meta menangis lagi. Ia mengingat kejadian tersebut bisa saja membunuhnya. Kini tersemat di otak gadis itu betapa jahatnya seorang Jong Woo. Kini ia menyadari semua perlakuan Jong Woo padanya adalah sebuah tindakan pembulian. Termasuk insiden malam sebelum keberangkatan Yura ke Jepang dan mereka terjatuh dari motor.
"Kenapa dia nangisan gini?" tanya Debi yang bingung karena anaknya mendadak berubah.
"Dia takut tenggelam kayaknya, Tan," ucap Vio.
__ADS_1
"Ya udah, kalian balik aja ke sekolah. Soal Meta, biar Tante yang urus. Makasih ya udah jagain Meta di sekolah. Makasih ya, Vio udah rawat Meta pas sakit," ucap Debi.
"Nggak apa-apa Tante. Dia sahabat aku!" ucap Vio dan pergi bersama Vin kembali menuju sekolah.