
"Harus nurut sama suami, Ra. Jangan lupa, kasih Papa cucu!" Begitu pesan yang Angga kirimkan pada anak perempuannya yang kini telah menjadi menantu orang tersebut.
"Papa bilang apa?" tanya Kim Tae Young.
Yura segera menyembunyikan ponselnya. "Kepo!" jawabnya singkat.
Mereka tengah disibukkan mengemasi barang-barang yang mereka bawa ke rumah baru. Kim Tae Young masih mempercayai nasihat orang-orang Korea untuk tidak tinggal di rumah orang tua setelah menikah.
Kim Tae Young masih harus bekerja sambil melanjutkan pendidikannya demi bisa melanjutkan bisnis sang ibu.
"Gue capek, Nold!" ucap Yura yang langsung berbaring di atas kasur.
"Ini masih banyak yang belum diberesin, Ra!" pekik Kim Tae Young.
"Iya, ntar aja! Gue mau istirahat dulu," balas Yura.
Kim Tae Young ikut berbaring di sebelah istrinya itu. Tiba-tiba ia memeluk Yura dengan erat. Yura membiarkannya.
"Kecil amat sih badan lo? Kurang gizi apa gimana?!" ejek Kim Tae Young.
"Kurang kasih sayang!" tegas Yura.
"Kan udah disayangin tiap hari, masa kurang," ucap Kim Tae Young.
"Hah?!" pekik Yura.
"Pas di Bali kemaren," ucap Kim Tae Young sambil menggerakkan alisnya.
Yura mengalihkan pandangannya karena malu membahas hal-hal mengenai bulan madu mereka yang merupakan pengalaman baru bagi Yura.
"Apa mau disayangin lagi, sekarang?" goda Kim Tae Young.
"Nold, Nold! Lo jangan gila! Gue capek!" teriak Yura.
"Tadi katanya kurang kasih sayang, disayangin malah nggak mau," ucap Kim Tae Young sambil tertawa.
"Ya, bukan berarti gue kurang kasih sayang beneran! Dan bukan disayangin yang kayak gitu—"
Kim Tae Young membuat gadis itu terdiam dengan sebuah kecupan.
"Bawel," ucapnya dan kembali bergegas untuk mengemasi barang-barang mereka.
Kim Tae Young duduk di lantai sambil bersandar di tempat tidur. Yura masih terdiam menatap punggung Kim Tae Young yang sedang membongkar kotak-kotak kardus.
Yura memutar tubuh dan bertiarap sambil memerhatikan suaminya dari atas kasur. Ia juga bisa mencium aroma sampo yang Kim Tae Young gunakan karena jarak yang terlalu dekat. Tanpa malu ia memeluk kepala beraroma lemon itu.
"Kenapa, Sayang?" ejek Kim Tae Young sambil terkekeh.
"Nggak tahu," jawab Yura.
__ADS_1
"Oh, mau disayang?" Kim Tae Young kembali tertawa.
"Dih, bisa bahas yang lain nggak sih, Nold?! Gue capek!" bantah Yura.
Mereka kembali berdiam diri. Kim Tae Young sibuk mengeluarkan isi kardus, sementara Yura masih nyaman memeluk punggung Kim Tae Young.
"Kenapa kita nikah?" tanya Yura membuat Kim Tae Young menoleh padanya.
"Nggak tahu," jawab Kim Tae Young dan seketika mereka tertawa.
Sebulan setelah kepindahan mereka, Yura mendapat undangan untuk menghadiri reuni SMA.
***
Reuni itu kembali mempertemukan Yura dan Kayuki serta wanita yang sedari awal memang Yura benci, yakni Jesika. Di sana juga mempertemukan Vin bersama wanita yang berhasil membuatnya menangis.
"Lo beneran nikah sama Arnold, Ra?" tanya Vio.
Yura mengangguk.
"Udah berapa lama?" tanyanya lagi.
"Baru sebulan," jawab Kim Tae Young.
"Sebulan sesudah kelulusan? Nggak salah, Ra?!" pekik Vio.
"Lo kapan nikah?" ejek Yura.
Yura selalu melingkarkan tangannya di lengan Kim Tae Young. Entah apa yang membuatnya ingin terus melakukan itu. Vin yang melihat hal tersebut terpaksa menahan rasa sakit lebih dalam. Yura adalah wanita jahat yang ia cintai hingga detik ini.
Yura melihat menu yang tersedia sambil menyandarkan kepalanya di lengan Kim Tae Young. "Gue mau ... maksudnya, aku mau seblak!" ucap Yura.
"Nggak boleh!" bantah Kim Tae Young mengambil alih menu tersebut.
"Seblak level 10, Vi!" ucap Yura pada Vio yang bersedia memesankan makanan.
"Nggak!" bantah Kim Tae Young lagi.
"Gue mau seblak level 10!" tegas Yura.
"Makanan yang lain aja, jangan seblak! Lo punya maag, Ra!" bantah Kim Tae Young.
"Gue bawa obatnya kok!" Yura ikut membantah.
"Yang lain aja! Ini nih, pesen bakso aja," ucap Kim Tae Young.
"Bakso yang isinya cabe, Vi!" ucap Yura.
"Nggak, nggak, nggak! Nggak boleh ada cabenya! Lo punya maag!" tegas Kim Tae Young lagi.
__ADS_1
Perdebatan mereka menarik perhatian beberapa orang termasuk Vin. "Sejak kapan lo punya maag?" bisiknya dari meja yang berbeda.
"Nggak pake cabe, mana ada rasa!" bantah Yura.
"Udah, Ra! Nurut aja sama suami!" ucap Vio.
"Bakso aja, Vi! Nggak usah pake cabe, nggak usah pake micin!" ucap Kim Tae Young tak menghiraukan istrinya.
"Oke!" ucap Vio.
"Nggak pake cabe, nggak pame micin, mana ada rasanya, Nold! Lo kira lidah gue cacat?!" omel Yura yang kini marah dan berlanjut dengan berdiam diri.
Selama menunggu pesanan datang. Mereka semua mengobrol dan bercerita banyak hal.
"Gimana rasanya punya suami, Ra?" tanya Vio.
"Biasa aja sih," jawab Yura dengan jengkel.
Kim Tae Young menyadari bahwa Yura sedang marah. Ia memeluk istrinya itu dan mengusap kepalanya. "Ulululu ngambek!" ejek Kim Tae Young.
Yura sontak berontak. "Apaan sih, Nold!" bentak Yura.
Tiba-tiba ponsel Kim Tae Young berbunyi dan ia terpaksa meninggalkan mereka untuk menerima panggilan tersebut.
Vio dan Yura saling menatap begitu makanan mereka sampai. Vio mulai menyantap makanannya. Sedangkan Yura masih berdiam diri.
"Lo nggak makan, Ra?" tanya Vio.
"Kalo Arnold ngeliat gue makan makanan yang masih berasap kayak gini, 'lo 'kan nggak buta! Lo mau lidah lo melepuh makan makanan kayak gini?! 'kan bisa nunggu bentar biar rada dingin!' pasti dia kayak gitu," jawab Yura.
Seketika itu Vio terkekeh. "Emangnya Arnold kayak gitu?" tanya Vio lagi.
"Gue juga nggak tahu sih, ini pernikahan atau apa," jawab Yura membuat Vio semakin tertawa.
"Apa yang lo rasain setelah nikah sama Arnold? Lo rumah sendiri sama dia atau masih tinggal sama ortu? Keseharian lo ngapain aja? Setelah jadi Ibu Rumah Tangga?" tanya Vio.
"Kita tinggal di rumah sendiri. Ya, di rumah gue ada mbak yang bantuin beres-beres. Jadi kerjaan gue tiap hari, ya nungguin Arnold balik kerja. Gue bosen kalo nggak ada dia," jawab Yura.
"Ow, lo kangen sama dia?" ejek Vio.
"Gue bosen aja gitu. Kalo ada dia di rumah, rumah pasti bakalan berisik! Ada aja yang bikin dia ngomelin gue. Kadang gue juga sengaja sih bikin dia ngomel, seru aja gitu," ucap Yura sambil terkekeh.
Setelah acara reuni itu selesai, Jesika mengumumkan sesuatu.
"Minggu depan gue sama Kayuki nikah," ucap gadis itu mengejutkan semua orang termasuk Yura. "Kemungkinan gue bakalan ikut ke Jepang bareng dia. Gue mau, lo semua datang ya ke acara nikahan gue," lanjutnya.
Yura terdiam. Tersemat rasa sakit di dadanya. Tangan gadis itu mendadak tremor. Kayuki yang ia kenali, yang berhasil membuatnya jatuh cinta kini akan menjadi suami wanita yang ia benci.
"Lo kenapa, Ra?" tanya Vio yang melihat ekspresi sahabatnya tersebut.
__ADS_1
Setelah terdiam sejenak, Yura menjawab, "Nggak apa-apa."