
"Ra, Ra!!! Gue nggak mau bunuh lo! Bokap gue cuma mau ketemu sama lo, itu doang!" teriak Kayuki yang menarik tangan Yura untuk menjauh dari benda tajam tersebut.
"Ya kenapa bokap lo mau ketemu sama gue?! Mau jual ginjal gue?!" Yura terus menduga hal itu benar-benar terjadi.
"Mau ngelamar lo buat gue!" tegas Kayuki.
"Hah?!" Bibir Yura naik sebelah.
Sepanjang perjalanan mereka habiskan dengan bertengkar. Yura sampai memukul salah seorang penjaga saking kesalnya dan ingin membebaskan diri.
Yura dipaksa untuk turun dari mobil begitu sampai di depan halaman rumah kediaman keluarga Kayuki yang super megah. Di sana ia melihat rumah mewah bak istana mewah.
"Rumah lo?" tanya Yura.
"Bukan," jawab Kayuki singkat dan memasuki rumahnya tersebut.
Semua pelayan menyambut kedatangan Kayuki.
"Hah?! Apaan nih?" tanya Yura.
"Masuk aja!" perintah Kayuki sambil tersenyum.
"Lo mau bawa gue ke tempat operasi ya?! Lo mau ambil ginjal gue 'kan?!" teriak Yura membuat semua pelayan menahan tawa.
"Why do you always talk about ginjal?!" tanya Kayuki.
"Ya, biasanya yang di film-film gitu! Terus tujuan lo bawa gue ke sini mau ngapain kalo bukan mau ngambil ginjal gue?!" Yura balik bertanya.
"Padahal 'kan empedu juga mahal, kenapa cuma bahas ginjal?" goda Kayuki sambil terkekeh membuat Yura semakin mengamuk.
"Lo benar-benar gila ya, Kayuki?!" teriak Yura.
"Ini Yura?" tanya seorang wanita yang menghampiri mereka.
Ia adalah ibu tiri Kayuki yang bernama Hilma. Kayuki tiba-tiba mengubah mimik wajahnya begitu wanita tersebut berada di hadapannya.
Hilma tersenyum remeh kepada Yura. "Yura?" tanyanya.
"Halo, Tante," ucap Yura membungkuk penuh hormat.
"Ayo masuk, ayah kamu udah nungguin dari tadi," ucap Hilma melangkah lebih dulu ke ruang makan.
"Ayah gue?" tanya Yura.
__ADS_1
"Bokap gue!" tegas Kayuki yang langsung menarik tangan Yura untuk ikut masuk.
Yura melihat meja panjang yang terdapat begitu banyak orang. Di sana ia bertemu ayah Kayuki yang bernama Saigi.
"Halo, Yura," ucap Saigi menyapa terlebih dahulu. Seketika semua pasang mata yang berada di sana tertuju padanya.
"Halo, semuanya," ucap Yura sambil membungkuk.
"Ini Yura?" tanya Saigi yang mengingat seseorang akibat wajahnya yang mirip dengan seseorang.
"Iya, Om. Saya Yura. Sebelumnya, saya mau nanya. Ini ada apa ya sebenarnya? Soalnya Kayuki yang bawa saya tiba-tiba ke sini. Dia juga nggak bilang alasannya apa," ucap Yura.
"Sebelumnya perkenalkan, ini semua anggota keluarga Kayuki yang tinggal di sini. Saya Saigi, ayah Kayuki. Saya sengaja menyuruh Kayuki untuk membawa kamu ke sini. Karena Kayuki banyak cerita tentang kamu dan kamu adalah orang yang berhasil membuat Kayuki mau belajar dan bersedia tinggal di rumah ini. Sebagai ucapan terima kasih, kami ingin mengajak kamu makan malam. Apa kamu bersedia, Yura?" tanya Saigi.
"Ta—tapi, saya bukan mau dibunuh 'kan?" tanya Yura dengan polosnya dan membuat semua orang terkekeh.
"Tidak. Kayuki juga bercerita tentang kamu yang menyatakan perasaan setiap hari—"
"Nggak, Om!" teriak Yura memotong kalimat Saigi. "Lo gila ya, Kayuki?!" lanjutnya dengan berteriak ke arah Kayuki.
Kini semua orang berdehem pertanda mereka tidak menyukai sikap Yura yang dinilai kurang sopan.
Sedangkan Saigi memakluminya. Karena Yura memang mirip dengan apa yang Kayuki ceritakan. Jika Yura sopan dan tidak banyak tingkah seperti gadis yang lain, mungkin Kayuki tidak akan seperti ini ketika mengenalnya.
Saigi malah terkekeh. Yura menatap ke arahnya dengan bingung. "Kenapa ya, Om?" tanya Yura.
"Tidak apa-apa. Ayo duduk, kita makan," ajak Saigi.
Kayuki menarik tangan Yura untuk ikut duduk di sebelahnya.
"Lo yakin bokap lo nggak mau jual ginjal gue?" bisik Yura.
"Nggak lah! Lo kenapa sih, mikirin ginjal mulu!" omel Kayuki.
"Ya kali aja gitu 'kan!" Yura ikut mengomel.
"Sebenarnya ...." Kayuki tak melanjutkan kalimatnya.
"Sebenarnya apa?" tanya Yura.
"Gue cerita ke bokap gue kalau lo itu cewek gue," ucap Kayuki.
Ini dia yang paling gila di dunia ini. Kayukiiii!!!! jerit Yura dalam hatinya.
__ADS_1
***
Sementara Yura menikmati makan bersama keluarga besar Kayuki. Vin, Marc dan Jong Woo malah menangis tersedu-sedu akibat menonton anime yang sangat sedih di kamar asrama mereka dengan menggunakan laptop milik Jong Woo.
"Kenapa lo ajakin gue nonton ginian, Jong? Hiks, sedih banget! Aduh, sebaper ini sama dua dimensi!" gerutu Marc sambil mengusap air matanya.
"Gu—gue juga nggak ta—tahu! Di google re—rekomendasinya yang ini!" jawab Jong Woo yang masih tersedu-sedu.
"Nggak ada yang bagus apa animenya?! Nggak suka gue sad ending gini! Menjatuhkan harga diri gue sebagai laki-laki! Gue nggak mau nangis!" omel Vin sambil mengusap air matanya dengan tisu.
"Gue ada yang romance komedi! Tadi gue download! Nggak tahu sih bagus apa nggak, tapi kata google bagus. Tapi 'ntar aja nontonnya maleman. Soalnya gue belum bisa move on dari ini anime! Sialan! Nangis gue nonton ginian!" omel Marc.
Seseorang mengetuk pintu kamar mereka. Vin dan Marc langsung memakai selimut demi menutupi air mata mereka. Jong Woo menjadi satu-satunya orang yang terpaksa untuk membuka pintu tersebut.
Begitu pintu itu dibuka, ia dapati Kim Tae Young yang berdiri di sana. "Ngapain lo?!" tanya Jong Woo berusaha menutupi wajah sedihnya.
"Ini flashdisknya Marc. Kasih ke dia! Animenya bagus. Cuma gue nggak suka tokoh cowoknya terlalu lemah dan gampang nangis cuma gegara anime," ucap Kim Tae Young membuat Vin dan Marc keluar dari persembunyian.
"Lo ngatain kita?!" balas Vin.
Kim Tae Young malah tak mengerti akan apa yang Vin maksud.
"Lo udah nonton?" tanya Marc mengambil alih flashdisknya.
"Udah, lumayan sedih. Tapi gue nggak suka cowoknya. Lebih bagus alur drama Korea," jawab Kim Tae Young.
"Lo nggak nangis?" tanya Marc lagi.
"Nangis? Buat apa?" Kim Tae Young balik bertanya.
"Kita semua nangis gegara nonton—"
"Nonton Keluarga Cemara!" teriak Vin memotong kalimat Marc.
Kim Tae Young mulai merasa ada yang aneh pada mereka semua. "Lo juga mau jadi wibu?!" teriak Kim Tae Young pada Vin.
"Lo juga?!" balas Vin.
***
"Lo rada gila ya, Kayuki?!" bentak Yura sepanjang perjalanan pulang.
Kayuki lebih memilih untuk mengikuti gadis itu dengan menaiki bus yang menuju kediamannya. Yura sudah ditawari untuk diantarkan pulang oleh Saigi, tapi gadis itu menolak dengan alasan ia bisa pulang sendiri. Sebagai gantinya, Saigi meminta Kayuki untuk mengantarkan gadis itu hingga sampai di rumahnya.
__ADS_1