
"Nggak ada yang mau ambil-ambilan! Sekarang Vin udah besar. Dia juga berhak tahu siapa orang tuanya. Dia juga berhak nentuin mau hidup kayak gimana. Ya, kalau dia mau tinggal sama Rafa, silakan. Rafa itu ayah kandungnya. Kalau Vin mau tinggal di sini, juga silakan. Kamu ibu kandungnya. Nggak ada yang salah. Yang salah itu, kita sebagai orang tua yang maksa anak untuk jadi apa yang kita mau. Padahal kita yang nyiptain masalah buat dia," ucap Feno.
Vin beranjak dari tempat makannya dan masuk ke dalam kamar. Ia tak sanggup menahan air mata mendengar kalimat yang Feno ucapkan. Bisa-bisanya pria itu tampak tenang di tengah-tengah masalah keluarga. Lebih tak Vin percayai adalah Feno membebaskannya untuk memilih apa yang ia mau untuk saat ini.
"Kalau Vin tinggal sama Rafa, gimana? Aku yang ngelahirin dia! Kita yang ngebesarin dia! Sekarang dia pergi ke rumah Rafa!" jerit Nurul yang terdengar hingga ke dalam kamar Vin.
"Nggak apa-apa. Asal dia balik lagi ke sini," ucap Feno menenangkan istrinya itu.
"Aku nggak mau Vin jauh-jauh dari kita!" jerit Nurul lagi.
"Vin 'kan udah dewasa. Dia juga punya kehidupan. Nantinya juga dia bakalan nikah, punya anak. Ngurusin keluarganya. Mau nggak mau, kita tinggal berdua," ucap Feno.
"Kalau dia pergi sama keluarganya nanti, aku nggak masalah. Tapi ini dia pergi ke rumah Rafa! Gimana kalau Rafa nggak bolehin dia ke sini lagi? Gimana kalau Rafa nggak bolehin dia berhubungan lagi sama kita?!"
"Hush, udah-udah. Vin tahu mana yang terbaik. Kita serahin ke dia aja," ucap Feno.
Vin masih berada di dalam kamarnya dan mengusap air mata yang berlinang. Ia tak tahu bahwa hal semacam ini juga bisa membuat Nurul panik dan takut akan kehilangan dirinya.
***
Sejak kejadian itu, Vin kembali ke rumah Rafa di hari Sabtu berikutnya. Kepulangan Vin yang secara mendadak itu, membuat banyak pelayan terkejut. Karena mereka belum mempersiapkan apa pun untuk keperluan Tuan Muda tersebut.
"Tuan Muda!" teriak seorang pelayan sambil berlari mengejar Vin. "Tuan Muda! Desi membuat keributan lagi!" lanjutnya.
Vin berlari bersama pelayan itu menuju dapur. Di sana beberapa pelayan berbaris dan Desi sedang marah-marah. Vin memberikan isyarat agar pelayannya semua diam dan tidak memberitahu Desi akan kehadirannya.
"Siapa yang mengganti seprei kamar Tuan Muda?!" teriak Desi membuat semua orang terkejut, termasuk Vin.
"Saya, Mak," jawab seorang pelayan.
"Kenapa vas bunga di kamar itu pecah?" tanya Desi.
"Hah?! Tadi nggak pecah kok, Mak. Saya cuma bersihin kamarnya terus ganti seprei sama hordeng," ucap pelayan itu.
__ADS_1
"Tapi pas saya periksa, vas bunganya pecah. Siapa yang pecahin?!" teriak Desi lagi. "Siapa yang masuk kamar Tuan Muda tanpa izin dan keperluan?!" lanjutnya.
Semua pelayan terdiam dan tertunduk. "Kalau salah satu dari kalian tidak mengaku. Semuanya akan saya pecat dan meminta yayasan untuk mengganti pekerja yang ada di sini!" tegas Desi.
Mata Vin langsung menuju ke arah Chika yang ikut berdiri di hadapan Desi.
"Ayo dong! Ngaku aja! Siapa yang masuk kamar Tuan Muda?! Jangan sampai semuanya dipecat hanya gara-gara satu orang nggak ngaku!" ucap Chika yang panik karena pekerjaannya terancam akan insiden ini.
"Ekhem!" Vin berdehem dan membuat semua orang menoleh padanya. "Saya lapar," lanjutnya.
"Siapkan makan siang untuk Tuan Muda!" teriak Desi dan semua pelayan mendadak sibuk.
***
Vin memasuki kamarnya dan mendapati vas bunga yang pecah. Tak ada pelayan yang berani membersihkannya. Vin memungut pecahan beling itu dan menyapunya. Di sana ia menemukan sebuah jepit rambut yang tersangkut di gagang laci. Ia mengenali jepit rambut tersebut.
Bertepatan dengan itu, Chika mengantarkan makan siang untuk Vin.
Vin memberikan jepit rambut tersebut padanya. "Punya kamu," ucap Vin.
Chika terbelalak tak percaya bahwa Vin mengenali jepit rambut itu.
"Kenapa?" tanya Vin.
Chika langsung merampas jepit itu dan pergi.
Rumah mewah itu tengah memanas. Para pelayan masih bertanya-tanya tentang siapa orang yang memasuki kamar Tuan Muda mereka tanpa izin dan keperluan hingga memecahkan vas bunga di kamar itu.
"Satu-satunya cara cuma cek CCTV kamar Tuan Muda," ucap Desi.
"Tapi gimana caranya biar Tuan Muda mau nunjukin rekaman CCTV-nya, Mak?" tanya seorang pelayan.
Desi berjalan menuju kamar Vin. Ia mengetuk pintunya dan Vin membukakaknpintu untuk Kepala Pelayan di rumaha ayahnya itu.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Vin. Meskipun Desi adalah seorang Kepala Pelayan, namun Vin tetao harus menghormatinya karena berbedaan usia di antara mereka.
"Tuan Muda. Kami sedang mencari tahu soal seseorang yang memasuki kamar Anda tanpa izin dan kepentingan, Tuan. Seseorang itu masuk dan memecahkan vas bunga. Satu-satunya cara untuk mengetahui siapa pelaku perbuatan tersebut adalah mengecek CCTV yang berada di kamar Anda," ucap Desi.
"Jadi?" tanya Vin lagi.
"Apa boleh saya memeriksa CCTV-nya?" Desi balik bertanya.
"Biar saya yang akan mengeceknya sendiri," ucap Vin.
"Baik, Tuan Muda," ucap Desi dan pergi.
Tadinya, Vin tidak mau berurusan dengan kasus ini. Tapi, mendengar penjelasan Desi tadi, Vin jadi berpikir bahwa ia bisa menemukan pelajunya hanya dengan memutar rekaman CCTV yang berada di kamarnya tersebut.
Vin menyalakan televisi yang berada di sana dan menonton tutorial di ponselnya agar mengetahui cara untuk menonton rekaman CCTV canggih yang dipasang oleh ayahnya itu.
Vin melihat Chika memasuki kamar Vin dengan mengendap-endap. Ia juga membuka laci di kamar itu dan Vin jadi mengetahui alasan jepit rambut itu tersangkut di sana.
Chika dikejutkan oleh seseorang dan membuatnya menjatuhkan vas bunga. Gadis itu juga bersembunyi di balik hordeng saat Desi memasuki ruangan itu dan ia ke luar saat Desi telah pergi.
"Mau ngapain dia?" tanya Vin.
Di pagi minggu itu, Desi dan para pelayan juga masih mencari tahu siapa pelaku yang memecahkan vas bunga tersebut.
"Aku mengganti seprei dan hordengnya, tapi aku tidak mendekati meja yang ada vas bunganya itu. Jadi aku tidak tahu," ucap pelayan yang diketahui sebagai orang terkahur yang memasuki kamar Vin.
"Kau yakin tidak ada orang yang masuk ke kamar Tuan Muda selain kau?" tanya pelayan yang lain.
"Aku tidak yakin. Karena setelah mengganti hordeng dan sepreinya, aku langsung membawa seprei dan hordeng yang lama ke belakang, untuk dicuci dan dijemur. Jadi, aku tidak memerhatikan kamar itu lagi," jawabnya.
"Apa jangan-jangan, kamu sengaja sibuk karena telah memecahkan vas bunga itu?" Chika menimpali kalimat para pelayan tersebut.
"Tidak!" Desi langsung membantahnya. "Aku dan dia bersama-sama mencuci seprei dan hordeng itu!" lanjut Desi.
__ADS_1