
Nia yang berada di dapur sampai terkejut mendengar suara yang menggema di sekeliling rumah dan setiap ruangan itu.
"Ini tugas pertama kamu, bawa makan siang Tuan Muda ke kamarnya!" perintah Desi sambil menaruh nampan berisi makanan kepada Nia.
"Ini semua?!" tanya Nia tak percaya. Ia sampai tergopoh-gopoh membawa semua jenis menu yang disajikan di atas nampan tersebut.
Nia mengetuk pintu kamar Vin dan pria itu membukakannya. "Ini makananya," ucap Nia. "Tuan Muda!" tegasnya menirukan kalimat yang Desi sebutkan.
"Khusus lo, jangan panggil gue Tuan Muda! Lo bisa kebiasaan manggil gue kayak gitu, di sekolah!" omel Vin.
"Baik, Tuan Muda!" Nia sengaja memancing emosi Vin dan hendak kembali ke dapur.
"Mau ke mana?!" tanya Vin membuat gadis itu menghentikan langkahnya.
"Ke dapur," tunjuk Nia.
"Lo itu pelayan pribadi gue. Jadi, lo harus nurutin semua perintah gue! Dapur itu urusan pelayan dapur!" omel Vin lagi.
"Baiiikk, Tuan Mudaaaa," ucap Nia sambik tersenyum tidak mengenakkan.
"Lucu juga ya kalau gangguin orang kayak gini," ucap Vin sambil menyantap makanannya.
"Kata ayah saya, nggak boleh makan sambil ngomong. Nanti makanannya dimakan setan!" ucap Nia.
"Ya lo jangan ajak gue ngomong!" omel Vin.
"Siapa juga yang ngajak ngomong. Emang dasarnya aja banyak omong," gerutu Nia.
Vin sengaja memperlambat makan siangnya agar Nia menunggu lebih lama.
"Btw, ini kapan kelarnya ya, Tuan Muda?" tanya Nia.
"Ya serah gue lah!" bantah Vin.
"Saya boleh duduk nggak, Tuan Muda? Kaki saya pegel," ucap Nia menunjuk kursi belajar yang terdapat di dalam kamar tersebut.
"Duduk aja," jawab Vin.
Nia langsung menggapai kursi itu dan duduk di sana. Ia melihat sekeliling kamar itu dengan gembira. Terutama AC yang mendinginkan ruangan itu sangat membuat Nia bahagia. Tidak seperti kamarnya yang pengap.
"Kenapa lo senyum-senyum?!" tanya Vin.
"Enak kali ya kalo punya kamar kayak gini," ucap Nia.
"Biasa aja sih. Malah boros listrik," ucap Vin.
"Jadi pengen tidur di sini," ucap Nia sambil tersenyum.
Vin menoleh padanya. "Maksud lo?!" bentak Vin.
***
Malam ini, Vio terbangun di jam 2 malam karena mendengar suara berisik di balkon asrama. Begitu ia mengecek sumber suara tersebut, terdapat Jesika yang sedang menelepon seseorang.
"Jadi kita pacaran?" tanya Jesika.
__ADS_1
"Gue manggilnya apa? Kayuki? Yuki? Atau Ay, atau apa?" tanya Jesika lagi.
Kayuki pacaran sama Jesika?!
***
Jam istirahat pertama hari ini, Vio langsung menyampaikan apa yang ia lihat semalam.
"Nggak mungkin, Vi!" bantah Yura.
"Gue sih nggak maksa lo percaya, Ra. Tapi itu yang gue tau. Dia nembak Jesika semalam lewat telpon," ucap Vio.
Yura terdiam sejenak menatap baksonya yang mendadak tidak enak. Vin dan Marc ikut berdiam diri mendengar obrolan mereka.
"Apa harus ya gue nggak peduli soal mereka?" tanya Yura.
"Iya!" jawab Marc, Vio dan Vin serempak.
"Lo itu cantik, Ra. Lo galak! Nggak bakalan ada cowok yang mau sama lo!" ucap Vin membuat Yura merasa kesal. "Maksud gue, lo cantik, lo baik, semua murid di sekolah kenal sama lo! Lo nggak perlu deketin cowok, semua cowok yang ngasih lo bunga, cokelat, kado, surat. Lo live juga mereka nonton. Lo nggak perlu caper kayak Jesika!" lanjutnya.
"Iya, Ra! Ngapain juga lo ngurusin cewek caper kayak Jesika! Nguras tenaga doang!" Vio ikut menimpali.
Marc malah sibuk bermain ponsel.
"Oke kalo gitu! Gue nggak bakalan peduli!" tegas Yura.
"Iya! Ngapain juga peduli sama mereka berdua!" Vio mentransfer semangat baru hntuk sahabatnya itu.
"Vin! Hasil try-out udah ke luar!" pekik Marc.
Marc menunjukkan layar ponselnya pada Vin. Terdapat nama Vin di urutan pertama dan Kim Tae Young berada di nomor dua puluh tiga. Seketika Vin mengingat kalimat yang Kim Tae Young pernah ucapkan kepada mereka.
"Dua tiga?" gumam Vin.
"Dua tiga? Lo nomor satu!" tegas Marc yang tak mengerti akan apa yang Vin maksud.
"Arnold peringkat dua tiga!" ucap Vin.
"Hah?! Berarti dia bakalan ke Korea juga?" tanya Vio.
"Arnold? Ngapain Arnold ke Korea?" tanya Marc.
"Ini 'kan cuma Try-out, bukan ujian asli," bantah Yura.
"Iya juga sih. Tapi kok gue mendadak mellow gini ya liat rankingnya Arnold," ucap Vin.
Bertepatan dengan itu, Kim Tae Young datang ke kantin sendirian. Vin memanggilnya dan meminta pria itu untuk bergabung bersama mereka.
"Lo kok akhir-akhir ini sendirian, Nold? Temen-temen lo ke mana?" tanya Yura.
"Gue nggak dibolehin temenan sama siapa-siapa," jawab Kim Tae Young.
"Hah?!" Yura dan Vio dikejutkan akan jawabannya tersebut.
"Terus lo temenan sama siapa?" tanya Yura lagi.
__ADS_1
"Gue harus fokus belajar ngadepin ujian," jawab Kim Tae Young dan meninggalkan mereka semua.
Pria itu hanya membawa dua buah roti. Yura melihatnya.
"Dih, kesian amat. Pasti dia mau belajar di Aula lagi," ucap Vio.
"Lo dipaksa kayak gitu juga, Vin?" tanya Yura.
"Nggak lah! Kemaren aja ulangan Bahasa Mandarin gue dapat nol, bokap gue biasa aja, malah gue disuruh belajar bahasa Inggris. Pelajaran yang diluar kebutuhan bisnis mah bodo amat," jawab Vin.
"Tapi kalo yang bisnis dapat nilai jelek, gimana?" tanya Yura lagi.
"Kemaren pernah gue sama Marc dapat nilai tiga pas ulangan Ekonomi Bisnis. Bokap gue juga biasa aja. Katanya pelajarin yang gue suka aja. Sisanya bisa langsung praktek di kantor. Setidaknya gue tau ilmu dasar, skill bisa ditambah," jawab Vin lagi.
"Lo mah enak! Gue yang diomelin dari bokap gue!" omel Marc.
"Yang nyuruh lo nyontek sama gue, siapa?!" bantah Vin.
"Teman sesat!" ejek Marc.
***
Kim Tae Young berusaha fokus pada buku-buku yang ada di hadapannya. Tapi, kalimat sang ayah terus terngiang di telinga.
Kim Tae Young diharuskan untuk mendapatkan peringkat satu di Ujiian Nasional nanti. Sementara try-out pertama malah dia berada di angka dua puluh tiga. Sedangkan Vin berada di nomor 1.
Seseorang menaruh sebuah minuman kaleng di atas meja tempat Kim Tae Young belajar di Aula. Pria itu menoleh padanya. Yura sedang menyeruput susu kotak sambil berbalik badan untuk meninggalkan Kim Tae Young di sana.
"Gomaweo," ucap Kim Tae Young pelan. Ia membuka minuman itu dan meneguknya.
Setidaknya sedikit melepas dahaga juga bisa melepaskan sedikit rasa cemas. Begitu yang Kim Tae Young pikirkan.
***
Di luar Aula, Vin, Vio dan Marc menunggu Yura keluar dari sana.
"Gimana? Pasti dia terharu banget! Secara 'kan dia suka sama lo, Ra!" ucap Vio membuat Vin memasang wajah datar.
"Ya nggak gimana-gimana. Gue kasih, terus gue balik ke sini!" balas Yura.
"Dia ada ngomong apa?" tanya Marc.
"Nggak ada!" jawab Yura.
"Dia ngomong apa, Ra?!" Vin menanyakan hal yang sama.
"Nggak ada ngomong apa-apa! Gue masuk ke situ terus kasih minumananya, terus gue balik ke sini! Nggak ada ngomong apa-apa!" jelas Yura lagi.
"Yakin lo?! Tapi kok gue nggak percaya," ucap Vin.
"Ya serah lo sih! Gue nggak peduli!" Yura menghabiskan susu kotaknya dan membuang sampah.
"Lo sama dia ngobrol apa tadi?" tanya Vin lagi.
"Lo kenapa sih?! Udah dibilang nggak ada ngomong apa-apa, maksa banget!" omel Yura.
__ADS_1
***