
"Lo mikir nggak sih, Ra?! Lo kira semua hal harus lo akhirin dengan cara kayak gini?!" teriak Vin lagi.
"Lo nggak ngerti! Kenapa sih lo selalu ke sini, Sialan!!" Yura ikut berteriak karena rasa kesalnya yang sudah memuncak.
"Lo yang nggak ngerti! Kenapa lo selalu ngelakuin kayak gini?! Lo mau semua orang nangisin lo pas lo mati?! Segitu kurang perhatiannya lo?!" teriak Vin membuat hati gadis itu semakin tersobek.
Jantung Yura semakin berdenyut dengan sangat cepat beriringan dengan rasa kesal itu. "Aaaaarrghhhhhh!!" teriak Yura sekencang-kencangnya.
"Sekarang lo mau semua orang denger teriakan lo itu dan tahu kalo lo mau bunuh diri di sini lagi?! Lo mau beritanya heboh kayak dulu?!" balas Vin lagi.
"Vin!!" teriak Kim Tae Young yang turut kesal mendengar kalimat tersebut. "Lo nggak ngerti apa-apa, Vin!" lanjutnya.
"Lo juga sengaja ngebiarin dia ngelakuin ini!" tunjuk Vin pada wajah Kim Tae Young.
Yura melayangkan pukulan di wajah pria itu dengan sekuat tenaganya. "Mati lo di tangan gue, Vin!" teriak Yura.
Ia hendak memukuli Vin lagi namun Kim Tae Young menarik Yura untuk berhambur ke pelukannya. Yura memberontak ingin memukuli Vin lagi. Tapi, kali ini tenaga Kim Tae Young lebih kuat untuk mengurung tubuh gadis yang mungil itu.
Tiba-tiba Yura menangis dan menggenggam jaket yang Kim Tae Young kenakan. Pria itu mengingat bebrrapa kalimat yang Yura katakan beberapa menit yang lalu. "Lo ke sini mau ngapain? Bunuh diri?"
"Ini 'kan tempat persembunyian gue!"
"Gue capek di rumah."
Bisa-bisanya Kim Tae Young tak berpikir bahwa Yura sedang berbohong seperti yang ia lakukan. Tak mungkin seorang gadis kabur dari rumahnya hanya karena disuruh belajar.
Tangisan Yura semakin kencang di dalam pelukan Kim Tae Young. Lagi-lagi Vin melihat kejadian ini. Kemarin Yura menangis di pelukan Kayuki dan hari ini Kim Tae Young. Ia tak pernah mendapatkan kesempatan itu untuk menampung air mata Yura.
***
Setelah Yura tenang, Kim Tae Young membiarkan gadis itu untuk duduk di lantai. Kim Tae Young ikut berbaring di sebelahnya dan memandang langit.
"Ngapain lo ke sini?" tanya Vin.
Kim Tae Young tak menghiraukan pertanyaan tersebut. Ia terus menatap langit. "Udah tenang?" tanya Kim Tae Young pada Yura dan gadis itu mengangguk.
"Sembunyi?" gumam Kim Tae Young. "Lo mau sembunyiin berita kematian lo di sini?" tanya Kim Tae Young.
Yura menghela napasnya. "Setidaknya nggak ada yang bakalan kepikiran kalo gue bunuh diri di sini lagi," jawab Yura.
Vin terdiam mendengar obrolan tersebut.
__ADS_1
"Gue juga tadinya mikir gitu. Karena tempat ini udah pernah heboh berita lo mau bunuh diri, pastinya nggak bakalan ada yang berani ke sini. Gue bisa bunuh diri tanpa ada yang ganggu. Tapi ada lo, nggak jadi," ucap Kim Tae Young.
"Kenapa lo mau bunuh diri?" tanya Yura.
"Bulan depan gue berangkat ke Korea," ucap Kim Tae Young.
"Soal ranking itu, gue minta maaf, Nold. Gue nggak tahu bakalan—"
"Santai aja. Gue juga nggak tahu bakalan kayak gini," ucap Kim Tae Young memotong kalimat Vin. "Lo punya masalah sama siapa?" tanyanya pada Yura.
Yura kembali menghela napasnya. "Gue nggak tahu," jawabnya.
"Kenapa nggak tahu?" tanya Kim Tae Young lagi.
Yura memilih untuk diam. Mereka semua terdiam. Kim Tae Young menutup matanya yang lelah dan tertidur. Tiba-tiba kilat menyambar di langit. Pertanda akan turun hujan.
"Udah mau ujan. Gue antar lo balik!" ucap Vin.
Yura masih merasakan sakit dari kalimat yang Vin katakan tadi. Ia menyalakan ponsel dan menerangi wajah Kim Tae Young. Di sana ia melihat luka lebab di wajah pria itu.
"Nold!" ucap Yura membangunkan pria itu.
Untungnya Kim Tae Young langsung terbangun dan melihat cahaya terang dari layar ponsel Yura. "Hmm," jawabnya.
Kim Tae Young mengucek matanya dan menatap langit yang bintangnya tertutupi awan. "Gue antar lo balik," ucap Kim Tae Young.
"Iya," jawab Yura.
Vin mendengar jawaban yang Yura berikan tersebut.
Vin pulang dengan perasaan kesal yang membara di dadanya. Ia menyaksikan bahwa Yura lebih memilih Kim Tae Young dari pada dirinya.
Vin berbaring di kasurnya dan melempar guling hingga mengenai vas bunga. Bunyi dari pecahan keramik itu terdengar hingga ke telinga Nia yang baru saja hendak mengetuk pintu kamar tersebut.
Dengan cepat Nia membukanya. "Kak Vin!" jerit Nia panik dan ekspresinya berubah begitu mendapati tuan mudanya itu sedang berbaring di atas kasur dengan nyaman.
"Perasaan tadi ada bunyi pecah," ucap Nia.
Vin hanya berdiam diri dan enggan menanggapinya.
"Mau makan dulu, atau mandi dulu, Tuan Muda?" tanya Nia yang tak bisa membaca situasi.
__ADS_1
"Ke luar!" teriak Vin membuat gadis itu terkejut.
"Kenapa?" tanya Nia.
"Ke luar!!" teriak Vin semakin menjadi.
Pintu kamar terbuka, Rafa bisa mendengar teriakan Vin tersebut di tengah malam ini. Ia menghampiri anaknya itu. Dari bawah tangga Rafa mendengar pertengkaran yang terjadi di kamar Vin.
"Ya 'kan bisa ngomong baik-baik!" teriak Nia.
"Apa perlu gue tendang lo keluar dari kamar gue?! Gue mau sendiri!!" teriak Vin.
Rafa membuka pintu kamar itu lebih lebar dan melihat seorang pelayan sedang bertengkar dengan anaknya tersebut.
"Ini kenapa, Vin?" tanya Rafa mengejutkam merwka berdua.
"Tuan Muda baru pulang, Tuan. Saya menawarkan untuk mandi dulu atau makan dulu. Tapi dia berteriak-teriak kayak gini. 'Kan saya jadi kaget. Saya nggak budek. Saya bisa denger kok. Kenapa mesti teriak-teriak kayak gitu. Saya manusia loh," jelas Nia.
"Benar itu, Vin?" tanya Rafa.
"Aku mau sendiri," jawab Vin singkat.
Rafa mendorong kedua alisnya. Pertanda ia berusaha fokus untuk menelaah apa yang terjadi pada Vin. Ia tak pernah sekasar ini terhadap pelayan. Vin salalu berlaku lemah lembut sebagaimana yang diajarkan oleh Feno dan Nurul kepadanya.
"Nia, kamu bisa kembali ke kamar kamu," ucap Rafa.
Nia menurutinya. "Abis dari mana sih dia? Pulang-pulang kesurupan kayak gitu!" gerutu Nia sambil menginjak anak tangga menuju lantai bawah.
"Tuan Muda kenapa?"
"Kamu berantem sama Tuan Muda?"
"Apa jangan-jangan Tuan Muda berantem sama Tuan Rafa?!"
Nia langsung ditodongkan pertanyaan-pertanyaan seperti itu begitu memasuki kamar para pelayan.
"Nggak tahu," jawab Nia singkat.
"Kamu 'kan pelayan pribadi Tuan Muda! Masa nggak tahu," balas mereka.
"Iya, nggak tahu! Dia pulang-pulang langsung kesurupan kayak gitu, teriak-teriak!" ucap Nia.
__ADS_1
"Tuan Muda baik kok! Nggak pernah teriak-teriak di sini.," balas mereka lagi.
"Masa sih?" tanya Nia.