Hipotalamus

Hipotalamus
Cih


__ADS_3

"Ya udah duluan aja. Gue cuma naroh buku di sini. Apa masalahnya sama lo?" bantah Kim Tae Young.


"Kalau kalian bertengkar lagi. Saya akan masukkan nama kalian di dalam daftar hitam. Kalian tidak boleh memasuki kawasan perpustakaan lagi. Karena kalian mengganggu murid lain yang ingin membaca di sini!" tegas penjaga perpustakaan.


"Itu semua gegara lo!" omel Vin begitu mereka keluar dari perpustakaan.


"Nan sang-gwan obseo!" balas Kim Tae Young dan berjalan lebih cepat menuju kelasnya.


"Cih," balas Vin dan berjalan di belakang rivalnya tersebut.


***


Vin membuka lembaran pertama bagian komik Lolita For Angga-kun. Di sana ia menemukan sebuah nama gadis yang tak asing.


"Putri? Angga? Ini kisah orang tuanya Yura?" tanyanya.


"Maksud lo?" tanya Jong Woo.


"Maulidia Saputri itu 'kan nama nyokapnya Yura. Zaenudin Anggara itu nama bokapnya Yura! Ini kisah orang tuanya Yura? Ini novelnya siapa yang bikin?" tanya Vin lagi.


"Novelnya sih karya Bella Biyah. Itu nama penanya Om Regi," jawab Jong Woo. "Itu seri pertama yang diadaptasi jadi komik. Seri yang lainnya cuma sebatas buku novel doang," lanjutnya.


"Ini ada lanjutannya?!" tanya Vin dengan antusias.


Sepanjang hari Vin dan Kim Tae Young menghabiskan waktu dengan membaca komik yang Angga buat.


***


Sepulang sekolah, Vin kembali bertemu dengan Kim Tae Young yang sedang berjalan menuju asrama.


"Gue udah selesai baca komik itu," ucap Kim Tae Young membanggakan dirinya sendiri.


"Gue juga udah," balaa Vin sambil tersenyum mengejek.


Kim Tae Young memasang wajah yang tak menyukai jawaban tersebut. "Siapa nama waifunya Angga?!" Tiba-tiba ia melontarkan pertanyaan.


"Nata-chan," jawab Vin singkat.


"Apa nama festival yang bikin Angga hilang ingatan?!" tanya Kim Tae Young lagi.


"J-Festa," jawab Vin lagi. "Angga seorang murid yang tidak disukai oleh murid yang lainnya karena dia seorang wibu. Tapi, kenapa banyak cewek yang mengerumuni dia pas dia mau ke kantin? Dan di saat itu Putri juga sampai harus menerobos masuk ke dalam kerumunan demi ngasih file movie Nozaki-kun. Kenapa?" tanya Vin.


Kim Tae Young tak begitu memerhatikan setiap detail tentang Angga. Karena topik utama dalam konik itu adalah perjuangan Putri yang ingin mendapatkan cinta seorang Angga-kun.


Kim Tae Young terdiam. Ia tak bisa menjawab pertanyaan tersebut.

__ADS_1


"Jawab!" paksa Vin. "Lo nggak tahu?" ejeknya.


"Kenapa Angga dikerumunin banyak cewek?" tanya Kim Tae Young.


"Karena semua orang emang suka sama Angga. Cuma yang nggak mereka suka itu karena dia wibu. Kalo dia ke kantin 'kan dia jadi manusia normal, nggak bawa-bawa anime. Dia ke kantin mau makan, bukan nonton anime," jawab Vin.


"Tapi kenapa orang-orang sampai ngerumunin dia?!" tanya Kim Tae Young lagi.


"Karena semua orang tahu kalau Putri juga suka sama Angga. Dan Putri satu-satunya cewek yang nggak peduli Angga wibu ataupun bukan," jelas Vin.


"Kira-kira Angga bakalan ingat lagi nggak sama Putri dan Nata-chan?" tanya Kim Tae Young.


"Mungkin kita bisa tahu kalau baca seri yang lainnya," jawab Vin yang seharusnya ia rahasiakan dari rivalnya tersebut. Kini malah ia memberikan jalan ke luarnya.


"Komik itu ada serinya?!" tanya Kim Tae Young.


***


"Yura nggak pulang!" jerit nenek di pagi hari ini.


Angga yang sedang bersiap untuk berangkat kerja berlari menghampiri kamar Yura. Kamar itu kosong tak tersentuh.


"Telepon polisi sekarang!" jerit ibunya lagi.


"Tapi, kapan dia perginya? Atau dia pergi subuh?" tanya Angga lagi.


Otak Angga langsung tertuju pada kalimat yang dulu pernah Yura katakan sewaktu ia tak pulang. "Kayuki" nama itu yang menyebabkan Yura tak bisa pulang.


***


Sepulang sekolah, Angga memunggu Kayuki di depan pintu pagar sekolah. Ia melihat Kayuki yang berjalan cepat ke arah mobil hitam yang dijaga oleh para ajudan.


"Kayuki!"Angga menahan langkah Kayuki dan membuat anak laki-laki itu terkejut.


"Selamat siang, Om," sapa Kayuki sambil membungkuk.


"Di mana Yura?" tanya Angga.


"Yura? Dia nggak sekolah, Om," jawab Kayuki.


"Dia nggak pulang dari kemaren!" ucap Angga.


"Hah?! Kok bisa, Om?! Dia nggak sekolah. Dia juga nggak ngasih surat. Kok dia bisa nggak pulang?! Udah coba ditelepon?" Kayuki ingin panik, tapi tak berani di hadapan Angga.


"Kalau dia menjawab teleponnya, saya tidak akan menanyakan dia ke kamu!" bentak Angga.

__ADS_1


Kayuki mengeluarkan ponselnya dan mencoba menelepon Yura. Namun hasilnya sama saja. Gadis itu tak menjawab panggilan dari siapa pun. "Kalau terjadi sesuatu ke dia, gimana, Om?!" pekik Kayuki.


"Kamu bantu saya nyari dia!" ucap Angga.


"Nyari ke mana?" tanya Kayuki.


"Ya, ke mana-mana! Saya udah lapor polisi dan memberitahukan ini ke pihak sekolah. Kamu bisa tanya ke teman-teman Yura di sini!" jawab Angga.


"Kalau saya minta bantuan Papa saya, boleh, Om?" tanya Yura.


"Terserah kamu, pokoknya kamu bantu saya cari Yura!" tegas Angga dan kembali membuat anak laki-laki itu terkejut. "Terima kasih!" lanjut Angga dan pergi meninggalkan Kayuki di depan pagar sekolah.


"Lo ke mana, Ra?!" pekik Kayuki memasuki mobil dan terus mencoba untuk menelepon Yura.


***


Sementara itu yang terjadi di Indonesia malah, Yura mendatangi sebuah tempat servis alat elektronik. Di sana ia menemui seorang pria paruh baya.


"Permisi," ucap Yura sambil memegang sebuah flashdisk jaman dulu.


"Silakan masuk!" sambut sang pemilik tempat tersebut.


Yura menghampiri pria yang tengah duduk di lantai sambil mengotak-atik sebuah televisi yang sudah tinggal kerangka isinya saja.


"Permisi, Pak—"


"Delion!" tegas pria itu dan membuat kalimat Yura terpotong.


Delion adalah pria yang sewaktu dulu sering mengganggu Yura semasa ia bekerja sebagai penjaga toko buku Gibi.


"Permisi Om Delion, ini saya bawa flashdisk jaman dulu. Kayaknya udah rusak. Tapi saya mau ini diperbaiki, apa bisa, Om?" tanya Yura.


Delion mengambil alih flashdisk yang Yura pegang dan melihat-lihatnya. "Ini isinya apa?" tanya Delion.


"Kayaknya foto-foto lama. Saya juga nggak tahu, Om. Makanya saya minta dibenerin, biar saya tahu isinya apa," jawab Yura.


"Atas nama siapa?" tanya Delion.


"Yura." Delion langsung mencatat nama yang gadis itu sebutkan.


"Minggu depan boleh ke sini lagi. Saya coba benerin dulu," ucap Delion dan Yura menyetujuinya.


Sesampainya Yura di rumah, ia baru melihat ponselnya yang sudah mendapat notifikasi ratusan panggilan tak terjawab. Bertepatan dengan itu, Kayuki kembali menelepon dan Yura menjawabnya.


"Ra!!" teriak Kayuki sangat kencang hingga Yura menjauhkan ponsel itu dari telinganya. "Lo di mana?!" teriak pria itu lagi.

__ADS_1


"Apaan sih lo?! Berisik!" balas Yura yang tak kalah kencangnya.


__ADS_2