Hipotalamus

Hipotalamus
Halo, Om Regi


__ADS_3

Di rumah Yura saat ini mendapati kedatangan Regi yang secara tiba-tiba mengajak Putri untuk jalan-jalan ke Jepang agar ia bisa menemui Angga.


"Dari pada lo di sini doang!" ucap Regi. "Emangnya lo nggak kangen sama Angga?" tanyanya.


"Susah, Reg. Yuranya nggak bisa gue ajak ke sana," ucap Putri.


"Nggak bisa kenapa?" tanya Regi.


"Dia pasti nggak suka lihat gue sama Angga," ucap Putri.


"Lah, kenapa? Lo 'kan ibunya. Angga, bapaknya. Kenapa nggak suka?" tanya Regi lagi.


"Gue nggak pernah ngurusin Yura dari kecil. Gue selalu serahin semuanya ke ART atau suster yang jagain dia. Sekarang Yura malah lebih deket sama ART. Sedangkan sama gue, tiap hari berantem mulu," ucap Putri.


"Biasa itu mah! Meta juga berantem mulu sama Debi. Debi sukanya anime. Meta sukanya drama Korea. Berantem aja soal itu-itu mulu. Gue juga pusing ngelihatnya," ucap Regi sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa empuk yang berada di rumah adiknya itu.


"Mungkin ini ya rasanya Ibu sama Ayah kalau lihat kita berantem tiap hari," ucap Putri sambil terkekeh.


Ia kembali mengingat kejadian-kejadian yang membuat mereka hampir setiap hari selalu bertengkar. Dari semasa kecil hingga SMA, dan bekerja pun mereka masih sering bertengkar saat berada di dalam satu rumah yang sama.


Tapi semuanya berubah saat Regi memutuskan untuk menikahi Debi. Putri merasakan sepi. Tak ada lagi sosok pengacau bernama Regi di rumah itu.


"Kira-kira kabar ayah sama ibu gimana ya? Samperin ke rumahnya yuk!" ajak Regi.


"Sekarang?" tanya Putri.


"Minggu depan aja deh. Gue mau ajak anak-istri gue, biar rame. Lo juga bawa Yura, ya!" tegas Regi.


"Susah, Reg!" bantah Putri.


"Apanya yang susah? Lo bawa aja dia. Bilang mau ke rumah nenek sama kakek, udah beres!" ucap Regi.


"Ini nggak semudah imajinasi lo buat bikin novel, Reg!" bantah Putri lagi.


Bertepatan dengan itu, Yura ke luar dari kamarnya dan hendak pergi.


"Yura!" panggil Regi pada keponakannya itu.


"Halo, Om Regi," sapa Yura.


"Waduh, cantiknya keponakan Om. Tingginya udah sama ama Meta," ucap Regi sambil mengusap kepala Yura.


"Kan seumuran Om!" bantah Yura.


"Oh iya! Kamu mau bantuin Om nggak?" tanya Regi.

__ADS_1


"Bantuin apa, Om? Ada bayarannya nggak?" balas Yura.


Regi malah tertawa. "Sebelas dua belas sama lo, Put!" ucapnya. "Kamu ke rumahnya Om Rafa, terus mintain flashdisk anime buat referensi bikin novel. Bilang aja disuruh Om Regi. Kalau Om Rafanya belum pulang, kamu tungguin aja," lanjut Regi.


"Rumah Om Rafa? Aku bareng Meta ya perginya?" ucap Yura.


"Meta nggak balik hari ini. Dia di asrama. Katanya sih ada tugas," balas Regi.


Tugas? Pastinya Meta ngurusin Jong Woo sialan itu! (ucap Yura dalam hati).


"Oke deh Om. By the way, berapa nih bayarannya?!" tanya Yura lagi.


"Nanti Om transfer duitnya! Astaga nggak emak, nggak anak. Sama aja mata duitan!" gerutu Regi sambil melirik Putri.


***


Sesampainya Yura di kediaman mewah milik Rafa. Beberapa pelayan dan penjaga sudah mengenali gadis itu.


"Udah lama nggak ke sini, Neng Ra!" sapa satpam.


"Iya, Pak. Ada perlu doang datang ke sini!" jawab Yura dan masuk ke dalam rumah.


Bertepatan dengan itu Vin baru saja menuruni anam tangga menuju ruang tamu. Pria itu membatu begitu mendapati Yura di depannya.


"Lo ngapain ke sini?!" tanya Vin.


"Gue ada perlu!" jawab Yura. "Lo sendiri ngapain di sini? Ini 'kan rumahnya Om Rafa!" ucap Yura dengan sengaja ia ingin menjebak Vin agar mengakui semuanya secara langsung.


"Gue ... gue ... sebenarnya gue ...." Vin benar-benar kehabisan alibi untuk menghindari pertanyaan tersebut.


"Gue udah tahu semuanya. Lo santai aja," ucap Yura sambil terkekeh karena ekspresi Vin yang menegangkan.


"Maksud lo?" tanya Vin.


"Gue udah tahu, lo anaknya Om Rafa. Tapi gue nggak mau bahas itu. Gue ada perlu sama Om Rafa, makanya gue datang ke sini," jawab Yura.


"Jadi, lo udah tahu kalau gue—"


"Gue nggak mau bahas itu, Vin!" tegas Yura.


***


Yura dipersilakan untuk menunggu di ruang tamu. Namun, ia merasa bosan, sehingga Vin mengajaknya untuk ke halaman samping rumah itu yang terdapat sebuah taman kecil.


Saat mereka sedang asyik bermain, bertengkar dan saling mengejek, tiba-tiba hujan turun. Vin dan Yura berlari masuk ke rumah dalam keadaan basah kuyup.

__ADS_1


Vin dan Yura hanya bisa berdiam diri di ruang tamu. Mereka memang jarang mengobrol jika tidak ada topik pembahasan. Mereka juga bukanlah orang yang sebanh mencari topik pembicaraan. Semua topik pembicaraan pastinya akan menimbulkan pertengkaran di antara mereka berdua.


Chika memecahkan keheningan yang ada di sana. Dengan wajah kesal Chika menghampiri Vin. "Kenapa?" tanyanya.


"Kasih dia baju ganti!" perintah Vin.


Chika hanya menghela napasnya dan pergi ke kamar tamu.


"Itu pelayan di sini?" tanya Yura.


"Iya, umurnya enam belas tahun, lebih muda setahun dari lo," jawab Vin.


***


Sementara Yura mengganti pakaiannya. Vin masih tertegun sambil memikirkan sesuatu. Sudah berapa lama mereka saling mengenal dan tak pernah baik-baik saja jika bertemu? Tapi sekarang, mereka hampir tak pernah bertengkar lagi.


Vin juga masih mengingat kejadian di bawah air hujan tadi. Yura yang terkesan cuek pada air hujan, tapi gadis itu juga takut pada petir.


"Kenapa gue mikirin dia? Astaga!" Vin mencoba menepis pikiran tersebut.


"Vin, gue pinjem baju lo aja," ucap Yura yang menghampiri Vin dengan baju dan celana milik Vin. Yura juga menggerai rambutnya yang basah.


Justru hal itu membuat gadis itu terlihat semakin cantik. Kali pertama Vin melihat Yura dengan gaya sesantai ini. Gadis tomboi itu benar-benar membuat Vin terpesona.


"Lo cantik, Ra," ucap Vin.


"Hah?!" Yura langsung menoleh padanya.


"Eh, maksud gue baju gue yang cantik kalau lo yang pakai," ralat Vin tak ingin isi hatinya diketahui oleh siapa pun.


Sementara itu, Chika melihat mereka dari kejauhan. "Mereka cocok, sama-sama orang kaya," ucapnya dan kembali ke dapur.


"Apa sih, Vin? Nggak jelas lo," ucap Yura dan ikut duduk di hadapan Vin.


"Om Rafa kayaknya balik malam. Lo yakin mau nungguin?" Vin mengalihkan topik bahasannya.


"Om Regi nyuruh gue nunggu. Tadinya gue mau ajak Meta ke sini. Tapi, Meta lagi ngurusin Jong Woo," jawab Yura.


"Lo mau gue kasih tahu satu rahasia?" tanya Vin.


Yura menggedikkan alisnya pertanda ia ingin tahu.


"Jong Woo tuh udah sembuh dari kemaren-kemaren," ucap Vin sambil tersenyum-senyum.


"Hah?! Jadi dia udah sembuh? Terus kenapa dia minta Meta—"

__ADS_1


__ADS_2