
"Arnold ngelamar Yura?!" jerit Vin setelah mendengar apa yang diinfokan oleh Nia kepadanya.
"Katanya sih gitu. Tapi nggak tahu juga benar atau nggaknya. Soalnya gue cuma denger dari anak-anak lain di sekolah," ucap Nia.
Berita lamaran Kim Tae Young hari itu menghebohkan International High School. Vio adalah dalang dari semua kehebohan tersebut. Seharusnya Yura tak mempercayai rahasianya pada gadis itu.
Vin mengambil jaketnya dan melajukan motor menuju sekolah. Di sana ia meminta izin pada penjaga asrama untuk memanggilkan Yura.
"Vin!" jerit Yura sambil berlari dan memukul pundak Vin begitu ia sampai di hadapan pria itu. Senyuman terukir di bibirnya. "Kangen lo sama gue?" ejek Yura.
"Lo dilamar Arnold?" tanya Vin tanpa basa-basi.
Yura terdiam dan menggaruk kepalanya yang mendadak gatal. "Gimana ya gue bilangnya. Gue juga nggak paham, itu lamaran atau apa. Gue nggak—"
"Ra, gue suka sama lo!" ucap Vin memotong kalimat gadis itu.
Yura terdiam. Bukan karena ia menyukainya, tapi ia bingung akan apa yang sedang terjadi. Kenapa Vin mengatakan hal semacam itu.
"Gue suka sama lo dari dulu!" ucap Vin lagi. "Dulu gue selalu bilang kalo kita itu temenan, kita itu saingan, kita suka berantem. Tapi, pas lo pindah ke Jepang, semuanya berubah! Gue baru paham apa yang gue rasain ke lo lebih dari itu semua! Tapi gue nggak berani ungkapin ke lo! Karena waktu itu lo malah bilang kalo lo punya cowok di sana! Dan pas lo balik ke sini lagi, lo malah bawa Kayuki!" lanjut Vin.
Yura menghela napasnya. "Lucu lo! Pasti lo mau gue bilang 'gue juga suka sama lo, Vin!' terus lo bilang 'prankkk!'. Nggak mempan, Vin!" balas Yura sambil terkekeh.
Vin terdiam. Matanya memerah. Mata itu mendadak berkaca-kaca. Ia mencoba mengontrol napasnya.
Yura melihat mata itu dan ekspresi gadis itu tiba-tiba berubah. "Ini bukan prank?" tanyanya.
"Kesalahan terbesar gue .... Seharusnya gue nggak pernah jatuh cinta sama lo," ucap Vin berusaha menyeka air matanya yang hendak menetes. "Aargh!! Lo kenapa sih, Ra?!" teriaknya.
"Ini semua beneran?" tanya Yura lagi berusaha memastikan.
"Ra!" teriak Vin di hadapan gadis itu. "Gue suka sama lo! Lo tahu kenapa gue baru ungkapin sekarang?! Karena lo dilamar Arnold! Dan sekarang lo bilang gue becanda?! Lo punya otak nggak sih, Ra?! Gue juga manusia! Gue punya hati! Ah."
Vin menarik napasnya lebih dalam dan menyeka air matanya yang terlanjur membanjiri wajah. "Sakit tahu nggak digituin," lanjutnya.
Yura hanya bisa terdiam. Dia bingung untuk merespons semua itu dengan kalimat apa. Yura tak pernah menaruh Vin di hatinya ia selalu menganggap Vin adalah sosok yang mengganggu. Ia tak pernah tahu bahwa Vin menyimpan rasa itu untuk dirinya.
__ADS_1
"Gue cuma nggak mau lo nikah sama dia," ucap Vin dan kembali menaiki motor.
"Vin!" Yura menghadangnya.
"Gue nggak peduli, lo mau ngejek gue karena gue nangis kayak gini di depan lo atau apa," ucap Vin.
"Gue ...." Yura tak melanjutkan kalimatnya.
Vin bersedia untuk menunggu jawaban Yura atas apa yang ia ungkapankan.
"Gue mau kita nggak berubah," ucap Yura.
Vin menyalakan motornya.
"Vin!" Yura berusaha untuk tidak menyakiti perasaan Vin.
"Iya," jawab Vin dan Yura memberikannya jalan untuk pergi.
Sepanjang perjalanan air mata Vin diusap oleh angin. Gue mau kita nggak berubah, kalimat itu masih terngiang-ngiang. Pertanda bahwa Yura tak menginginkan sesuatu yang lebih dari hubungan mereka selama ini.
***
Nia yang masih mengerjakan tugas, terpaksa menutup buku dan melayani tuan mudanya tersebut. Vin berbaring sambil memeluk guling dan matanya terpejam rapat.
Nia melihat tangan pria itu masih menggenggam kunci motor. Ia mengambilnya dan meletakkan di atas meja.
"Kak Vin, tidurnya masih lama nggak? Gue mau ngerjain tugas," bisik Nia.
Tiba-tiba Vin menarik tangan Nia untuk mendekat padanya. Sontak gadis itu melawan.
"Kak lepasin!! Ntar malah dikira yang nggak-nggak dari pelayan lain!" omel Nia.
Vin menggapai remot kontrol dengan tangannya yang satu lagi. Pria itu mengunci pintu kamarnya melalui alat kendali jarak jauh tersebut.
"Kak Vin! Mau ngapain?! Eh Gila!!" omel Nia lagi.
__ADS_1
Vin terus menggenggam tangan Nia san membayangkan bahwa tangan itu adalah milik Yura. Tiba-tiba ia menyembunyikan wajahnya di balik guling dan menangis.
Nia yang sedari tadi memberontak dan mengomel mendadak terdiam sejenak begitu mendengar Vin sesenggukan. "Kak Vin," panggilnya.
Vin malah semakin sesenggukan. Tak pernah ia rasakan rasa sakit seperih ini.
"Kak, ada yang buli kah?" tanya Nia lagi.
Vin terus menangis. Nia jadi tak tega melihatnya. Ia mengusap menepuk pundak pria itu dengan ragu-ragu. "Udah Kak. Hidup memang nggak selalu mulus. Ada kalanya, semua nggak sesuai apa yang kita rencanain. Kita cuma bisa bikin rencana, tapi kenyataan itu yang menentukan," ucap Nia.
"Udah jangan nangis. Lo 'kan cowok! Malu kek sama gue!"lanjutnya.
Vin masih terus menangis.
"Aduh, ntar dikira gue mukulin lo, Kak! Tuan bentar lagi balik! Kalo pintunya tiba-tiba dibuka, gimana?! Oh iya, Tuan Rafa sakit apa sih, Kak? Kok dari kemaren batuk-batuk mulu," Nia berusaha mengalihkan kesedihan Vin.
Pria itu melepaskan genggamannya dan membiarkan tangan Nia terbebas.
"Lo kenapa sih, Kak Vin? Habis ngeliat setan? Atau apa?!" omel Nia.
Tiba-tiba pintu kamar digedor-gedor oleh banyak pelayan. Nia berusaha membukanya, namun pintu itu masih terkunci. Vin membukanya dengan menggunakan remote. Para pelayan langsung menghampiri Vin.
"Tuan Muda! Tuan Rafa masuk rumah sakit!" pekik mereka dan membuat Vin terpaksa bangkit dari rasa sakitnya. Ia berangkat ke rumah sakit dan menemui sang ayah.
***
Penyakit ginjal yang Rafa derita kini telah mengalami komplikasi ke paru-paru dan menyerang sistem pernapasan. Kemungkinan terburuknya ialah komplikasi itu bisa berlanjut menyerang jantung.
"Maksudnya gimana ya, Dok?" tanya Vin setelah mendengar penjelasan itu dari dokter.
"Ginjal Tuan Rafa sudah rusak selama kurang lebih 23 tahun. Ginjal ini tidak bisa menyaring air dengan baik. Sehingga airnya tertumpuk di tubuh, dan membasahi paru-paru Tuan Rafa. Lebih parahnya, air-air ini bisa merendam jantung," jelas dokter lagi.
"Jadi solusinya apa, Dok?" tanya Vin.
"Solusi pertama, kita akan membersihkan air yang ada di paru-paru dulu. Tapi, jika ingin proses pengobatan yang lebih cepat, sebaiknya pihak keluarga mencarikan donor ginjal untuk Tuan Rafa. Tapi, ini akan memakan banyak biaya," ujar dokter.
__ADS_1
Vin mencari pendonor ginjal hingga ke situs-situs web. Di tengah kesibukan Vin mencari pengobatan untuk sang ayah, sebulan telah berlalu untuk hari kelulusan masa SMA Yura. Kini ia resmi menjadi mempelai wanita di acara pernikahannya dengan Kim Tae Young.