
Sudah lebih dari seminggu Kim Tae Young pulang ke rumahnya dan tidak kembali ke asrama. Atas perintah sang ayah, Kim Tae Young terpaksa menjauhi teman-temannya.
Kim Tae Young memasuki kamarnya dan menghempas tas di atas kasur. Ia berbaring dan menatap langit-langit sambil mengingat-ingat semester pertama Yura dan Vin datang ke sekolah.
Kini ia menyadari bahwa Vin memang pemenangnya sejak awal. Dia hanya merasa iri pada pria itu. Berawal dari permasalahan Yura hingga segalanya. Bahkan sekarang ia merasa iri akan keluarga yang Vin miliki. Bahkan anak yang terlahir sebelum pernikahan seperti Vin masih memiliki tempat di sisi ayahnya. Begitu pikir Kim Tae Young.
Notifikasi ponselnya tiba-tiba berbunyi. Nomor tak dikenal mengiriminya pesan suara.
"Gue punya buku persiapan Ujian Nasional, lo mau nggak?" tanya Vin.
"Gue bisa urus urusan gue sendiri," jawab Kim Tae Young.
Setelah beberapa saat, ia kembali berpikir. Mungkin buku itu yang membuat Vin menduduki peringkat satu hasil try-out pertama.
Segera Kim Tae Young menarik pesannya dan menggantinya menjadi, "Mau," ucapnya singkat.
"Besok gue bawa ke sekolah," balas Vin.
***
Keesokan harinya, Vin memberikan buku itu pada Kim Tae Young. Di sana mereka mengobrol dan membahas try-out ke dua yang tak lama lagi akan dilaksanakan.
"Lo berdua temenan?" ejek Yura yang tak sengaja berlalu di depan kelas mereka.
"Sibuk amat sih lo sama urusan orang?!" bantah Vin.
"Ciyeee temenan!" ejek Yura lagi.
"Sana! Ganggu aja, orang mau bahas try-out!" omel Vin.
"Ciyeeeee!! Dulunya bangsat, sekarang jadi sahabat!" ejek Yura terus menerus.
"Pergi nggak lo?! Gue lempar klpake buku nih!" omel Vin.
"Ciyeee!" teriak Yura sambil berlalu.
Kim Tae Young tersenyum melihat tingkah Yura tersebut.
"Enak ya jadi lo sama Yura, bisa temenan tanpa perasaan," ucap Kim Tae Young.
Vin tekekeh mendengar hal tersebut. Ia menyadari, bahwa perannya terlalu profesional sampai tak seorang pun bisa menyadari bahwa dia menyukai sosok gadis yang sering bertengar dengannya tersebut.
***
Minggu ini Vin kembali pulang ke rumah Rafa. Di sana ia kembali bertemu Nia.
Gadis itu membawakan makanan untuk Vin dan dua buku buku. Sambil menunggu Vin selesai makan, Nia mengerjakan tugas sekolahnya. Nia juga sempat menelepon beberapa teman untuk membantunya mengerjakan tugas tersebut.
"Gue salah deh kayaknya! Bentar, gue hitung ulang," ucap Nia.
"Kok bisa beda-beda sih jawabannya? Yang bener yang mana?" tanya salah seorang teman Nia.
Vin yang sedang makan malah tertarik akan kesibukan pelayan pribadinya tersebut.
__ADS_1
"Ngerjain apa lo?" tanya Vin dan membuat Nia terkejut. Kalang kabut ia mengakhiri panggilan telepon bersama temannya itu.
"Kalo temen gue denger tadi, gimana?! Bisa ketauan gue kerja sama lo, Kak!" omel Nia yang sedang sibuk dan pusing.
"Ya maaf, gue cuma nanya. Lo ngerjain apaan?" tanya Vin lagi.
"Tugas matematika, tapi jawaban gue sama temen-temen gue beda semua. Bantuin ngerjain, Kak!" ucap Nia memelas.
"Bantuin?! Berani gaji gue berapa?" balaa Vin.
"Tuan Muda!" panggil Nia lagi.
Vin menggeram setiap kali Nia memanggilnya dengan sebutkan itu.
"Mana?!" bentak Vin yang ikut duduk di sebelah Nia.
"Yang nomor tiga ini susah, Tuan Muda," ucap Nia.
"Stop manggil gue kayak gitu!!" tegas Vin.
"Iya, Kak Vin! Bantu kerjain ini," ucap Nia lagi.
Hampir satu jam Vin mengerjakan soal nomor tiga itu, hingga akhirnya ia juga memilih untuk menyerah.
"Udah, gue nggak tahu! Kerjain sendiri!" ucap Vin yang berdiri san merubuhkan tubuhnya ke atas kasur.
"Dih, Kak Vin! Bantuin! Ini mau dikumpul besok!" ucap Nia.
"Gue nggak tahu! Soalnya susah! Siapa sih yang ngasih?" balas Vin.
"Yah, pantesan!" balas Vin.
"Jadi ini gimana?!" tanya Nia.
"Yaudah jawab aja yang tadi. Kasih ke Pak Ferdi," jawab Vin.
"Nggak bisa, Kak! Ini belum tentu bener jawabannya. Gue nggak boleh dapat nilai jelek, soalnya gue dapat beasiswa! Kalo gue nggak ranking semester ini, beasiswa gue dicabut!" ucap Nia.
"Lah!" Vin bangkit dari tidurnya. "Emang beasiswa pakai aturan kayak gitu ya?" tanyanya.
"Ya emang gitu!" balas Nia kembali memelas.
Vin terpaksa membantu Nia mengerjakan tugas itu kembali hingga malam hari. Seorang pelayan mengantarkan makanan untuk Vin dan menyadarkan mereka bahwa di luar rumah sudah gelap.
"Ya udah, Kak. Besok aja ngerjainnya. 'kan besok Minggu," ucap Nia.
"Kata lo mau dikumpul besok!" bantah Vin.
"Iya, besok, Senin," jawab Nia membawa bukunya dan pergi.
Vin masih menatap punggung gadis itu. "Jadi, buat apa gue duduk di sini berjam-jam?" Ia bermonolog.
***
__ADS_1
Di tengah malam, Vin berjalan ke dapur di saat semua pelayan telah tertidur pulas di kamar mereka masing-masing.
Vin mengambil air minum dan menumpahkannya karena terkejut akan sosok Nia yang masih mengerjakan tugas sekolah di lantai dapur sebelah dispenser. Air minum itu membasahi buku tugas Nia.
"Aarghh!!" teriak Nia.
"Sorry-sorry! Gue nggak sengaja, seriusan!" ucap Vin.
"Ini buku tugas gue, Kak!" teriak Nia.
"Gue nggak sengaja!" bantah Vin.
"Gue nggak peduli lo sengaja atau nggak. Terus ini gimana tugasnya?! Mana belum gue kelarin! Bukunya basah! Tintanya ngeluber kayak gini! Aarghh! Kak Vin!" pekik Nia hendak menangis.
"Bisa dikeringin itu pakai setrikaan!" ucap Vin.
Vin menyetrika buku milik Nia dan membuat buku tulis itu menjadi keriting.
"Kok jadi jelek gini?!" omel Nia.
"Yang penting bukunya kering!" omel Vin.
***
Pagi ini, Nia dibangunkan oleh Desi untuk bersiap melayani Tuan Muda mereka.
Nia mengikuti semua perintah dan arahan yang Desi berikan padanya. Nia dan beberapa pelayan lainnya berdiri mengelilingi kasur Vin sambil menunggu pria itu terbangun. Nia terus menguap diakibatkan rasa kantuknya yang tak terbayar akibat mengerjakan tugas semalaman.
Begitu Vin membuka mata dengan tubuh dibalut selimut putih. Semua pelayan sigap dan siap. "Selamat pagi, Tuan Muda!"
Nia sampai terkejut mendengar kalimat tersebut.
"Iya, selamat pagi," jawab Vin yang kembali memejamkan mata.
"Apa ada jadwal tambahan minggu ini, Tuan Muda?" tanya Desi.
"Nggak ada," jawab Vin singkat dan kembali menikmati tidurnya.
"Baik," jawab Desi dan pelayan yang lainnya.
Semua pelayan berjalan kembali ke dapur, Nia mengikutinya. Namun, Desi menghentikan gerak gadis itu. "Kamu tunggu di sini sampai Tuan Muda bangun. Kamu siapin air dan sabun untuk Tuan Muda mandi," ucap Desi.
Nia menunjuk dirinya sendiri sambil melongok.
"Iya!" tegas Desi dan kembali ke dapur.
Nia menghela napasnya begitu ia ditinggalkan oleh para pelayan.
"Kak Vin, bangunnya bentaran lagi ya? Gue juga mau tidur. Gegara lo basahin buku gue, gue sampai begadang semalam," ucap Nia.
Membuat Vin mengangkat kepalanya dan melihat gadis itu duduk di lantai sambil menyandarkan kepala ke kasur.
Vin membiarkannya dan berjalan ke kamar mandi. Pria itu juga terbiasa mandiri. Setelah Chika dipecat akibat kasus pencurian di kamar Vin. Lagipula Vin memang terlahir dari keluarga yang kurang mampu sebelum ia mengenal siapa ayahnya.
__ADS_1
Vin sedang duduk santai di kursi belajarnya sambil bermain ponsel. Seorang pelayan membawakan sarapan dan hendak memarahi Nia yang tertidur.
Vin berdehem dan memberikan isyarat untuk tidak membangunkan gadis itu. Sebagai permintaan maafnya yang sudah membuat Nia begadang.