Hipotalamus

Hipotalamus
Perjodohan Yang Melelahkan


__ADS_3

"Papa nggak mau tahu soal kamu sama gadis yang bernama Yura itu! Yang Papa masalahkan di sini adalah bagaimana caranya membuat kamu dan anak Tuan Kim segera menikah!" Suara seorang pria dari balik ponsel Jesika.


Jesika menghela napasnya lebih dalam.


"Tadi Papa nelepon Arnold. Dia bilang kalau kamu mulai suka sama Vin. Siapa itu Vin?!" omel ayahnya lagi.


"Bukan siapa-siapa," jawab Jesika.


"Kalau bukan siapa-siapa kenapa anak Tuan Kim bilang begitu ke Papa?!"


"Ya mana aku tahu, Pa! Tanya aja sama Arnold! Maksud dia ngomong gitu tuh apa!" Jesika ikut mengomel.


"Kalau sampai Vin itu menggagalkan rencana bisnis ini, kamu yang akan menanggung akibatnya, Jes!" tegas sang ayah dan memutuskan panggilan itu secara sepihak.


Jesika menaruh ponselnya di lantai dan berjongkok sambil menatap gedung asrama putra dari balkon.


"Kenapa sih?! Emangnya gue nggak boleh milih jalan hidup gue sendiri?! Mbak Ria boleh aja tuh jadi dokter. Dia juga nolak pernikahan sama anak Presdir! Kenapa gue harus?! Kenapa gue nggak boleh nolak?!" omel Jesika.


Tiba-tiba ponselnya kembali berdering. Nomor tak dikenal menghubunginya. Ia segera menarik napas dan mengontrol diri lalu menjawab panggilan tersebut.


"Halo?" ucap Jesika lemah lembut.


"Bilang ke bokap lo, jangan nelepon gue lagi!" tegas Kim Tae Young.


"Kalo pun gue bisa! Gue juga mau nggak diteleponin dia!" balas Jesika begitu menyadari siapa pria yang meneleponnya.


"Gue capek, Jes!" omel Kim Tae Young.


"Lo kira gue nggak capek?! Gue juga capek, Nold! Gue mau kehidupan gue normal kayak orang lain! Gue juga iri sama kakak gue yang bisa jadi dokter! Dia bisa nolak perjodohan bokap gue! Terus gue gimana?! Kenapa gue nggak boleh?!" teriak Jesika.


Tanpa mengucapkan kalimat lain, Kim Tae Young langsung memutus panggilan tersebut.


Air mata Jesika menetes. Tapi dengan cepat ia mengusapnya. Seandainya ada jalan keluar dari masalah ini. Itu yang sedang Jesika pikirkan di dalam otaknya.


"Enak aja dia bilang capek. Dikira gue nggak capek apa?!" ucap Jesika pelan.


Sementara di balkon yang lain, Kim Tae Young sedang menatap ke arah Jesika yang menempelkan jidatnya ke tralis besi.


"Lo ngapain, Nold?" Edo menghampiri temannya itu.


Dengan cepat Kim Tae Young mengalihkan perhatiannya. "Kayaknya mau ujan. Nggak ada bintang," ucap Kim Tae Young.


Edo menoleh ke arah asrama putri dan melihat sosok Jesika di sana. "Lo lagi merhatiin Jesika?" tanyanya.


"Kalo nebak yang masuk akal dikit!" bantah Kim Tae Young dan masuk kembali ke kamarnya.

__ADS_1


***


Hari ini, berita munculnya seorang murid baru menghebohkan sekolah. Pasalnya, murid baru itu digadang-gadang sebagai anak penguasa yang ketat akan penjagaan.


"Murid baru siapa sih? Heboh amat. Nggak di kelas, nggak di kantin, nggak di koridor, semua orang bahas murid baru!" ucap Yura.


"Gue juga nggak tahu, Ra. Katanya sih, dia ganteng," balas Vio.


"Standar kegantengan lo itu beda sama gue!" bantah Yura.


"Iya, kayak Oppa-oppa Korea gitu!" ucap Vio.


"Lo makan noh Arnold! Oppa Korea! Atau nggak, Jong Woo sana!" umpat Yura.


"Diiihh! Yang nggak ada rasa lokalnya!" bantah Vio lagi.


"Ya, serah lo aja. Gue mau tidur bentar. Kalo ada guru, bangunin gue ya!" ucap Yura sambil menbaringkan kepalanya.


Tak lama kemudian, wali kelas mereka datang bersama seorang siswa baru.


"Ra! Bu Gina, Ra!" ucap Vio mencoba membangunkan sahabatnya tersebut.


"Iya! Gue nggak tidur kok!" ucap Yura dengan posisi yang sama. Karena ia masih malas untuk duduk dengan tegap.


"Selamat pagi semuanya! Hari ini, Ibu bersama murid baru yang akan mengisi kelas ini. Perkenalkan diri!" ucap wali kelas mereka.


"Halo semuanya! Nama gue Kayuki." Secepat kilat Yura mengangkat kepalanya setelah mendengar kalimat tersebut. "Gue pindahan dari Indonesia School di Jepang. Salam kenal," lanjutnya yang disambut ricuh oleh para murid.


"Ngapain dia ke sini?!" omel Yura pada Vio.


"Maksud lo?" tanya Vio yang tak mengenal sosok Kayuki.


"Dia cowok yang gue ceritain itu, Vi! Dia Kayuki!" ucap Yura panik.


"Kayuki? Kayuki?! Kayuki yang cowok lo di Jepang?!" umpat Vio membuat Yura mencubitnya dengan kuat.


"Kayuki boleh duduk di mana aja yang dia mau. Silakan!" ucap wali kelas.


Kayuki memilih untuk duduk di kursi depan Yura yang kosong dan tepat menjadi teman sebangku Jesika.


Mata Yura tak bisa berpindah dari pria yang berdiri di hadapannya tersebut. "Lo mau ngapain ke sini?!" omel Yura.


"Ya sekolah!" jawab Kayuki acuh.


"Lo kenal sama Yura?" tanya Jesika.

__ADS_1


Kayuki kembali menoleh pada Yura dan menggeleng. "Emangnya dia siapa?" balas Kayuki.


"Hah?!" Yura tercengang mendengar jawaban tersebut.


Jesika tersenyum. Akhirnya, ada pria yang tak mengenal Yura, begitu pikirnya.


"Lo nggak kenal gue?" tanya Yura menendang kursi yang diduduki oleh Kayuki.


Kayuki menoleh ke arah gadis itu dan menjukurkan tangannya. "Kayuki," ucap pria itu.


"Lo kenapa dah? Lo kesurupan? Hilang ingatan?!" tanya Yura.


Kayuki menyimpan kembali salamnya yang tak terbalaskan. Yura semakin heran pada Kayuki yang tak mengenalinya. Hingga jam istirahat dimulai.


"Lo seriusan nggak kenal gue, Kay?" tanya Yura menghentikan gerak Kayuki dan membuat murid baru itu kembali terduduk di bangkunya.


"Kenal? Emangnya kita pernah kenal?" tanya Kayuki.


"Lo kenapa sih?!" omel Yura.


"Sorry," ucap Kayuki memilih pergi meninggalkan gadis itu ke kantin.


Jesika tersenyum menatap Yura. "Nggak semua cowok harus lo ganjenin!" ejeknya.


"Udahlah, Ra," ucap Vio.


"Kayaknya ada yang nggak beres deh. Masa dia nggak kenal sama gue!" omel Yura.


"Ya emang itu faktanya! Emangnya semua orang harus kenal sama lo?!" balas Jesika.


"Lo bisa diam nggak?! Jangan sampai gue sobek mulut lo!" tegas Yura pada gadis itu.


"Ow, takut!" ejek Jesika lagi dan memilih untuk menyusul Kayuki ke kantin.


"Nggak, Vi! Nggak mungkin gue salah! Dia beneran Kayuki! Kayuki yang gue ceritain ke lo! Masa dia nggak ingat gue?! Apa dia pura-pura, atau dia sengaja lupain gue?!" omel Yura membuat Vio memijat jidatnya yang mendadak berdenyut.


"Ya terus emangnya kenapa kalo dia nggak kenal sama lo?" tanya Vio


"Ya itu nggak masuk akal!" bantah Yura.


"Lo nggak mau dilupain dari dia?" tanya Vio lagi dan membuat Yura terdiam sejenak.


"Pokoknya gue harus bikin dia ngaku kalo dia itu kenal gue! Masa gue dilupain gitu aja?! Nggak lucu tahu nggak sih?! Padahal dia yang .... Pokoknya gue mau bikin dia ngaku kalo dia ingat gue!" ucap Yura.


"Kalo dia emang beneran nggak ingat atau emang nggak kenal sama lo, gimana? Malu dong!" balas Vio.

__ADS_1


"Gue bikin dia ingat lagi sama gue!" tegas Yura.


__ADS_2