Hipotalamus

Hipotalamus
Gibi Punya Bokap Gue


__ADS_3

"Halo, Tante Nurul!" sapa Meta yang berusaha mengalihkan pertanyaan William pada kehadiran Nurul.


"Loh Meta! Nggak sekolah?" tanya Nurul. "Ini siapa? Pacar kamu?" lanjutnya.


"Hah?! Nggak—"


"Oh, lo bolos sekolah? Ke sini buat pacaran?! Gitu, Met?!" bentak William lagi.


"Nggak!! Gue nggak pacaran! Suer!" bantah Meta.


"Lo sering ke sini?" tanya Jong Woo pada gadis itu.


"Gibi ini punya bokap gue, Kak," jawab Meta pelan.


"Hah?! Seriusan?!" tanya Jong Woo lagi.


"Iya, kenalin dulu. Ini abang gue, William," tunjuk Meta pada abangnya itu.


"Ini Tante Nurul, nyokapnya Vin. Vin sama gue masih ada ikatan keluarga," jelas Meta lagi.


"Berapa umur lo?!" tanya William pada Jong Woo dengan nada yang tidak mengenakkan.


"Delapan belas," jawab Jong Woo mencoba sopan dan ramah.


"Delapan belas tahun mau pacaran sama adek gue? Segede apa nyali lo?!" omel William.


"Bang! Bang! Udah! Gue sama dia ini nggak pacaran! Dia Jong Woo! Dia kakak kelas gue!" jelas Meta.


"Terus kenapa lo nggak sekolah? Bareng dia lagi ke sininya! Bolos sekolah lo?! Dia yang ngajarin lo bolos?!" tanya William lagi.


"Nggak! Kita telat! Jadi pagar sekolahnya nggak dibuka lagi! Terus dia bawa gue ke sini," jawab Meta.


Jong Woo malah tak mempedulikan masalah dua kakak beradik itu. Ia memilih berjalan mencari buku yang bagus untuk dibaca dan menghabiskan waktu.


Meta dan Jong Woo membaca buku di sana. Tapi William mulai mencurigai pria itu.


Hari ini Meta berpatroli ke setiap sudut sekolah demi mencari Jong Woo. Ia harus membalaskan perbuatan pria itu dan memaksanya untuk meminta maaf kepada Violin.


"Gaes, gue ada urusan. Lo ke kantin berdua aja. Ntar gue nyusul!" ucap Meta dan berlari menuju kelas Jong Woo.


Di sana ia malah menabrak Kim Tae Young di depan pintu.


"Sorry!" ucapnya dan hendak masuk ke dalam kelas.


Tapi Kin Tae Young lebih dulu menahan tangan pria itu agar tidak berlalu. "Yura mana?" tanyanya.


"Di kantin, sama Vio!" jawabnya cepat dan melepaskan genggaman tangan Kim Tae Young.


Kim Tae Young langsung berjalan menuju kantin bersama kedua temannya.


Sedangkan Jong Woo yang menyadari kehadiran Meta, malah memilih kabur.


"Kak Jong Woo!!" teriak Meta melihat pria itu berlari menghindarinya.

__ADS_1


***


Meta juga mendapati Jong Woo di kantin. Tapi lagi-lagi pria itu kabur entah ke mana. Setelah beberapa kali kabur, akhirnya Meta berhasil mendapatkan pria itu saat pulang sekolah di depan kelas.


Meta menarik tangan Jong Woo. "Ikut gue, sekarang!" tegasnya.


"Ikut ke mana?! Gue salah apa sih, Met?! Kenapa lo ngejar-ngejar gue kayak gini?!" bantah Jong Woo.


"Nggak usah pura-pura bego! Lo harus minta maaf sekarang!" tegas Meta lagi.


Tiba-tiba Jong Woo kembali kabur ke lantai atas. Meta mengejarnya.


"Kak Jong Woo!!" teriak gadis itu.


Namun, Jong Woo berlari terlalu cepat hingga kakinya terkilir saat melangkahkan kaki di anak tangga.


"Aarghh!!" teriaknya dan terjatuh dari lantai paling atas.


Meta yang mendengar hal itu segera mempercepat langkahnya karena ia telah tertinggal jauh. Didapatinya Jong Woo yang terduduk di lantai dengan kaki, sikut dan wajah yang berdarah.


"Kak, Jong Woo!" teriak Meta terkejut akan pemandangan tersebut. "Lo kenapa?!" tanyanya panik.


"Bawa gue ke klinik!" ucap Jong Woo sambil menahan sakit pada kaki kirinya yang terkilir.


"Gimana caranya?! Gue nggak kuat ngegendong lo!" bantah Meta.


"Bawa aja!! Astaga!" omel Jong Woo.


Sesampainya di klinik, Meta merasa tak tenang akan kejadian ini. Dia merasa bersalah atas apa yang telah ia perbuat.


"Maaf," ucap Meta pelan saat luka Jong Woo telah dibersihkan.


"Sekarang kaki gue sakit gegara lo!" bentak Jong Woo.


"Tapi, 'kan lo jatoh sendiri—"


"Karena lo ngejar-ngejar gue!" bentak pria itu lagi dan memotong kalimat Meta.


"Gue 'kan cuma mau lo minta maaf ke Vio, tapi lo nggak mau," bantah Meta lagi.


"Sekarang, gimana caranya gue jalan?! Gimana caranya gue sekolah?! Siapa yang bakalan ngurusin gue kalau lagi sakit gini?! Lo sengaja 'kan biar gue jatoh dari tangga dan gue balik ke rumah gue?! Sengaja 'kan lo?!" oceh Jong Woo.


"Nggak, Kak! Gue cuma mau lo minta maaf ke Vio!" bantah Meta terus menerus.


"Sekarnag gue gimana?! Lo ada minta maaf ke gue?!" bentak Jong Woo.


"Kan udah tadi," ucap Meta.


"Minta maaf kayak gitu?! Lo kira maaf lo itu bisa bikin kaki gue sembuh?!" bentaknya lagi.


"Jadi gue harus ngapain?! Gue udah minta maaf tadi! Masa kurang!" Meta terus membantah.


"Lo harus jadi kaki kiri gue sampai gue sembuh!" tegas Jong Woo.

__ADS_1


"Bawa tas gue!" perintah Jong Woo yang jalannya masih pincang dan masih harus dibantu oleh Vin dan Marc.


Meta langsung mengambil alih tas tersebut dan menyandangnya di depan.


"Met!" panggil Yura. "Lo ngapain bawa tas dia?" tanyanya.


"Gue yang bikin Kak Jong Woo pincang," jawab Meta.


"Kok bisa?! Kenapa lo nggak cerita?" tanya Yura lagi.


"Gue juga nggak tidur semalaman gegara mikirin ini!" ucap Meta.


"Bawa ke kelas gue!" tegas Jong Woo dan pergi bersama temannya menuju sekolah.


"Gue duluan ya, Ra!" ucap Meta dan ikut di berjalan di belakang Jong Woo.


***


"Nasi ayam!" ucap Jong Woo di jam istirahat pertama. Meta berlari ke kantin dan mengantri untuknya.


"Kola!" ucapnya dan membuat Meta kembali berlari.


"Balikin buku ini ke perpus!" Setumpuk buku dibawa oleh Meta ke perpustakaan sekolah.


***


Meta kembali ke kelasnya dengan tubuh yang lelah karena berlari ke sana-sini.


"Lo habis ngapain, Met?" tanya Vio.


"Gue bertanggungjawab atas kakinya Kak Jong Woo. Kakinya sakit gegara gue! Sekarang kaki gue sakit gegara tanggungjawab," ucap Meta dengan napas ngos-ngosan.


"Kayaknya lo dibudakin deh Met dari dia," ucap Vio.


"Nggak, Vi. Ini cuma tanggungjawab doang," bantah Meta.


"Sampai kapan?" tanya Vio.


"Sampai kakinya Kak Jong Woo sembuh," jawab Meta.


"Oke, gue tunggu sampai kakinya Jong Woo sembuh. Kalau dia masih ngebudakin lo. Gue nggak jamin sih, dia bakalan selamat," ucap Vio.


"Dih, kok gitu, Vi? 'kan gue kayak gini gegara mau bikin dia minta maaf sama lo. Masa lo kasarin dia," ucap Meta lagi.


"Bikin dia minta maaf ke gue? Soal apa?" tanya Vio yang tak mengerti.


"Ya, gegara dia bikin lo nangis waktu itu!" tegas Meta.


Violin kembali mengingat kejadian tiket bioskop itu. "Gue nggak apa-apa, Met!" tegas Vio.


"Tapi lo sampai nangis gitu!" bantah Meta lagi.


Tiba-tiba ponsel gadis itu berbunyi. Sebuah pesan dari Jong Woo tersampaikan untuknya.

__ADS_1


__ADS_2