
Mata Vio membesar. "Nggak ada ngomong apa-apa!" ucapnya dengan cepat.
"Nggak mungkin!" bantah Yura.
"Nggak ada apa-y kok, serius!" ucap Vio lagi.
"Lo kira gue percaya?" tajya Yura.
"Percaya aja, kenapa sih, Ra?!" omel Vio.
"Berani lo main rahasia-rahasiaan sama gue?!" omel Yura.
"Nggak, Ra! Emang nggak ada ngomong apa-apa! Lo jangan kepo dong! Ini 'kan privasi gue!" Vio mulai menaikkan nada bicaranya.
"Privasi?! Berani lo main privasi?!" teriak Yura.
"Bisa diam nggak sih lo berdua?! Berisik amat!" Jesika ikut berteriak ke arah mereka.
Yura terdiam dan menatap Jesika dengan tatapan kesal akan sikapnya yang mulai merasa setara dengan Yura karena ada Kayuki yang membelanya.
"Mau gue sobek mulut lo?!" ketus Yura.
Kayuki ikut menoleh padanya.
"Sobek aja kalo lo bisa!" tantang Jesika.
Yura berdiri dan hendak menjambak rambut gadis itu. Tapi Kayuki lagi-lagi menahannya.
"Lo siapa dan kenapa lo seberandalan ini?!" tegas Kayuki padanya.
Berandalan? gumam Yura dalam benaknya.
Berandalan. Kata itu masih tersemat di otak Yura. Dia menatap punggung Kayuki yang sedang fokus membelakanginya.
"Oke," ucap Yura pelan.
Gue kasih tau gimana cara berandalan main, ucap Yura dalam benaknya.
***
"Mana?!" omel Jesika di belakang kelas. Vio dan Yura memergoki kejadian tersebut.
Jesika sedang bersama adik kelas mereka.
"Ngapain tuh?" tanya Yura yang melihat kejadian itu dari kejauhan.
"Nggak tahu," jawab Vio.
Mereka memilih untuk berlalu dan tak menghiraukannya. Keeesokan harinya, mereka kembali melihat kejadian itu berulang-ulang dan terus sama setiap hari.
"Ya udah sana lo! Makasih ya!" ucap Jesika mengembalikan ponsel milik adik kelasnya itu.
Yura dan Vio segera bersembunyi agar tak ketahuan sedang memata-matai. Yura menjegat adik kelas mereka itu. Gadis bertubuh lebih kecil dari Yura dan Vio itu bernama Nia.
"Lo abis ngapain sama Jesika?" tanya Yura.
__ADS_1
"Nggak ngapa-ngapain, Kak," jawab Nia dengan nada ketakutan.
"Jawab yang jujur!" bentak Yura.
"Iya, Kak!" jawab Nia lagi.
"Udah, Ra! Jangan bikin anak orang takut!" ucap Vio dan membiarkan Nia pergi.
***
Hari berikutnya, Vin juga melihat kejadian Jesika dan adik kelasnya itu di belakang kelas. Kali ini Vin mendengarnya dengan sangat jelas.
"Cuma 15 juta, kok! Ini ada diskonnya. Gue mau beli. Tapi jajan gue belum ditransfer bokap gue. Lo bayarin dulu ya!" ucap Jesika.
"15 juta? Itu mahal, Kak!" bantah Nia.
"Ini lagi diskon! Lo liat!" ucap Jesika memaksa dan langsung membeli tas tersebut di toko online melalui akun Nia.
"Tapi bayarnya ntar gimana, Kak?!" tanya Nia yang mulai panik.
"Pakai duit lo dulu!" paksa Jesika dan memberikan ponsel itu kepada Nia. "Makasih ya!" lanjutnya.
Vin terdiam tak mengerti akan apa yang terjadi. Ia memilih untuk diam saja dan berlalu.
Namun, berbeda dengan Yura. Begitu ia mengetahui apa yang diperbuat Jesika pada adik kelasnya itu. Yura langsung melabrak Jesika yang sedang memaksa Nia untuk membeli barang-barang lainnya.
"Bokap lo 'kan bisnisman, kenapa lo kayak orang miskin, gini?" tanya Yura membuat Jesika terkejut dan segera mengembalikan ponsel milik Nia.
"Ini bukan urusan lo!" tegas Jesika.
"Jaga mulut lo!" tegas Jesika.
"Mulut lo yang harusnya dijaga! Lo kira perbuatan lo yang kayak gini, bagus?!" teriak Yura.
"Urus aja urusan lo sendiri!" Jesika ikut berteriak.
"Nama lo siapa?" tanya Yura pada adik kelasnya.
"Nia, Kak," jawab Nia.
"Mulai sekarang, kalo lo gangguin Nia, lo berurusan sama gue," ucap Yura.
"Lo kira gue takut sama lo?!" teriak Jesika.
"Lo kira gue pernah mikirin soal lo?" bantah Yura.
"Lo tahu 'kan, Ra. Kayuki dipihak gue. Mau lo sekuat tenaga pun ngelawan gue. Lo nggak bakalan menang!" ucap Jesika dengan nada sombongnya.
Secepat kilat Yura menjambak rambut gadis itu dan membuatnya kesakitan.
"Lo kenapa sih, Ra?!" teriak Jesika.
"Gue?" tanya Yura dan menjambak kembali rambut Jesika. "Gue berandalan yang suka nyari masalah. Sekarang lo tahu 'kan siapa gue?" lanjutnya.
"Aarghh!! Lepasin rambut gue!!" teriak Jesika menahan sakit.
__ADS_1
"Sini, gue bantuin biar rambut lo lepas," ucap Yura menjambak lebih kuat.
"Ra, udah! Yura!! Ada Kayuki, Ra!" pekik Vio
Yura segera melepaskan jambakannya. Kayuki mendatangi mereka dan mendorong Yura hingga gadis itu terjatuh. Vin menyaksikan kejadian itu.
"Sekali lagi lo nyentuh Jesika. Gue yang bakalan mukulin lo! Gue nggak peduli lo cewek atau apa!" tegas Kayuki sambil menunjuk wajah gadis itu dan membawa Jesika pergi.
Yura terdiam. Vin segera menghampiri mereka. "Lo nggak apa-apa, Ra?" tanya Vin.
Yura masih berdiam diri.
"Harusnya lo pukulin aja tuh cowok! Kesel gue lama-lama ngeliatnya! Bukannya nanya dulu kek apa yang terjadi! Coba aja dia tahu Jesika malakin adek kelas!" omel Vio.
Yura berdiri dan menghampiri Nia yang ketakutan. "Kalo dia gangguin lo lagi, lo bilang aja ke gue atau salah satu temen gue," ucap Yura pada adik kelasnya itu.
Nia mengangguk dan berlari ke kelasnya.
"Jesika malak adek kelas?" tanya Vin.
"Iya! Dia malak di sini! Yura marahin, trus cekcok. Yura jambak deh tuh Jesika. Eh Kayuki datang malah ngedorong Yura sampai jatoh!" jelas Vio.
"Perlu gue patahin nggak tulang leherhya Kayuki?" tanya Vin.
"Jangan!" Yura menjawab dengan cepat.
"Kenapa?" tanya Vin.
"Udah, nggak usah dibahas lagi," ucap Yura. Ia hanya tak ingin Vin berurusan dengan anak mafia tersebut.
Saat mereka sedang berjalan menuju kantin. Tak sengaja mereka melihat Kim Tae Young yang memasuki ruangan Aula.
"Ngapain Arnold ke Aula?" tanya Vin. "Dewa sama Edo juga nggak ada. Biasanya bertiga kayak cabe-cabean," ejek Vin
"Lo juga bertiga sama Marc, sama Jong Woo!" omel Vio.
"Iya, tapi itu kenapa dia sendirian ke Aula?" tanya Vin lagi.
"Banyak tanya. Mending samperin aja langsung!" omel Yura yang mengambil langkah pertama untuk menyusul Kim Tae Young ke dalam Aula.
Di sana tak terdapat siapa pun. Mereka bertiga memutar badan mencari ke mana hilangnya Kim Tae Young. Yura memberikan isyarat agar kedua temannya itu tidak berisik.
Yura lebih dulu menemukan Kim Tae Young yang tengah belajar sendirian di Aula.
"Nold!" panggil Yura dan membuat pria itu terkejut. "Lo ngapain di sini?!" tanyanya.
Kim Tae Young segera menyembunyikan buku-bukunya.
"Lo belajar?" tanya Vin.
"Lo bertiga ngapain di sini?!" bentak Kim Tae Young.
"Kita ngikutin lo," jawab Yura dengan polosnya.
"Pergi, gue lagi nggak mau ngobrol!" bentak Kim Tae Young lagi.
__ADS_1
"Lah, tumben-tumbenan lo belajar. Di Aula sendirian pula. Kenapa?" tanya Yura.