
Nenek juga harus menyembunyikan hal ini dari suaminya. Entah bagaimana respons sang suami jika mengetahui apa yang telah diperbuat oleh anak laki-laki mereka tersebut.
Yura masih menangis di dalam kamar. Ia mengambil ponselnya dan menelepon Putri.
"Halo," ucap Putri begitu menjawab panggilan itu.
Yura tak mengatakan sepatah kata pun. Ia hanya menangis tersedu-sedu.
"Halo, kamu kenapa, Ra?" tanya Putri yang kini mendadak panik mendengar anaknya menangis.
Yura terus menangis sejadi-jadinya begitu ia mendengar suara sang ibu.
"Halo! Yura! Kamu kenapa?!" Putri malah semakin panik.
"Aku mau pulang," ucap Yura sambil tersedu-sedu.
"Pulang ke mana? Kamu di mana sekarang?! Kamu digangguin orang? Atau kenapa?! Ngomong dong!" ucap Putri.
"Aku ... sakit," ucap Yura yang tak tahu harus bagaimana mendeskripsikan perasaannya dan alasan ia menangis.
Patah hati anak perempuan adalah ketika cinta pertamanya (Ayah) direbut oleh wanita lain selain ibunya. Itu yang tengah Yura rasakan saat ini. Ia mencoba untuk menguraikannya menjadi kata-kata, namun otaknya terlalu buntu untuk melakukan hal itu. Yang melekat di benaknya hanyalah Angga telah menyakiti Putri dan dirinya. Pahlawan yang seharusnya Yura banggakan. Ternyata tidak sehebat yang ia bayangkan.
"Sakit kenapa, Ra?! Kamu jangan bikin Mama panik dong!" omel Putri.
Yura mengusap air matanya dan mengontrol napas. "Kirim tiket, aku mau pulang sekarang ke Indo," ucap Yura.
"Iya, tapi kenapa?" tanya Putri lagi.
"Aku cerita kalau udah di rumah," jawab Yura.
Tanpa pikir panjang, Putri langsung membeli tiket via online untuk anaknya tersebut. Yura akan berangkat 3 jam lagi. Tak ada pakaian atau apa pun yang Yura siapkan. Ia hanya butuh ponsel dan beberapa uang untuk menyelamatkan hatinya yang sudah terlanjur hancur dibuat sang ayah.
Angga mendapat panggilan mendadak dari kantor rumah produksi manga tempat ia bekerja. Ia diharuskan datang ke sana karena beberapa kerjaannya gagal dicetak hari ini.
Yura pulang ke Indonesia tanpa berpamitan kepada siapa pun. Satu-satunya orang yang mengatahui berita kepulangannya hanyalah Putri, ibunya sendiri.
Yura sampai di rumahnya pada jam 2 siang. Ia pulang dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
"Bu, Yura udah pulang. Tapi langsung masuk ke kamar," ucap Rumi pada Putri yang sedang mengutak-atik mesin cuci.
"Kamu lanjutin, Rum!" perintahnya sambil berlari menghampiri Yura.
"Ra!" panggil Putri sambil mengetuk pintu kamar yang terkunci itu. "Yura!" panggilnya lagi.
__ADS_1
Yura membuka pintu itu dan memeluk Putri sekuat tenaganya. Ia menghamburkan rasa sedih itu pada sang ibu. Tak tahu ke mana lagi untuk mengadu. Biasanya ia akan melampiaskan semua rasanya kepada sang ayah, tapi kali ini ayahnya lah yang membuat dirinya kecewa.
"Kamu kenapa?!" tanya Putri yang tiba-tiba ikut merasa ingin menangis.
"Papa," ucap Yura.
"Papa kenapa? Kamu dimarahin? Kamu berantem sama papa?" tanya Putri lagi.
"Papa selingkuh," ucap Yura lagi.
Putri terdiam mendengar hal itu. Ia kembali mengingat sosok Ayumi. "Kamu tahu dari mana kalau papa selingkuh?"
"Si ***** itu datang ke rumah nenek," ucap Yura sambil menangis.
"*****? Siapa?!"
"Ayumi," jawab Yura.
"Ayumi itu temen papa!" bantah Putri.
"Dia bilang kalau papa punya anak yang lain, selain aku!" Tangisan Yura semakin menjadi di dalam dekapan sang ibu.
Putri terdiam. Ia tak tahu harus mengeluarkan kata apa untuk merespons kalimat yang Yura katakan.
***
Kim Tae Young kembali menatap ponselnya dan mengecek pesan yang ia kirimkan. "Dia online tapi nggak di-read," jawabnya.
"Itu artinya dia nggak mau sama lo!" ucap Vin menyalakan ponselnya. "Gue aja deh yang chat," lanjut Vin.
Dengan cepat Kim Tae Young merampas ponsel milik rivalnya tersebut. "Sesuai perjanjian. Yang boleh chat Yura, cuma Wibu yang asli! Gue yang menang lomba tadi! Berarti gue Wibu yang asli!" ucap Kim Tae Young.
"Bapaknya Vio juga Wibu, suruh bapak lo aja, Vi!" ucap Jong Woo mengingat yang tadi dikatakan oleh Marc.
"Mau gue tempeleng nggak kepala lo?" balas Vio dengan wajah tanpa ekspresi.
"Tumben-tumbenan Yura nggak read pesan. Atau jangan-jangan dia lagi ada masalah?" tebak Vin.
"Atau jangan-jangan dia lagi mesra-mesraan sama cowoknya yang wibu itu!" Kim Tae Young menimpalinya.
"Atau mungkin dia emang nggak suka sama lo, Nold. Lo-nya aja yang masih percaya diri," ucap Vio.
Kim Tae Young berdiri dan hendak memaki gadis itu. Tapi Marc menarik tangan Kim Tae Young untuk kembali duduk di tempatnya.
__ADS_1
"Lagian ya, bokapnya Yura itu ilustrator! Suka bikin manga! Kalaupun ada cowok yang bisa bikin Yura jatuh hati, pasti cowoknya itu berkesan banget sama Om Angga!" ucap Vio lagi.
"Bukannya Om Angga pernah adaptasi novel jadi komik?" tanya Jong Woo.
"Lo tahu dari mana?" tanya Vin.
"Kan gue baca semua novelnya Om Regi, bokapnya Meta. Ada salah satu novel best seller yang diadaptasi jadi komik. Judulnya 'Lolita For Angga-kun' di situ juga ditulis kalau novel itu Om Angga sendiri yang adaptasi ke komik buat ngerjain tugas mata kuliahnya di Jepang," jawab Jong Woo.
"Mungkin yang Yura maksud cowoknya itu wibu, bukan wibu yang nonton anime! Mungkin wibu yang baca komik!" tebak Kim Tae Young.
Dalam hitungan detik, setelah mendengar hal tersebut. Kim Tae Young dan Vin berlari ke perpustakaan untuk mencari komik-komik yang tersedia di sana.
Mereka berebutan masuk ke perpustakaan dan mengambil komik sebanyak-banyaknya. Hingga Vin menemukan komik adaptasi dari novel Lolita For Angga-kun di sana.
"Lolita For Angga-kun?" pekik Vin begitu mendapatkan novel tersebut.
Kim Tae Young berusaha merebut. "Gue udah lihat komik ini dari tadi!" bentaknya.
"Gue duluan yang nemuin! Gue yang dapetin! Enak aja lo mau ngerebut-ngerebut!" omel Vin sambil berusaha mempertahankan komik itu dari genggamannya.
"Gue udah lihat ini dari tadi! Lo telat!" bantah Kim Tae Young.
"Gue duluan!!" teriak Vin.
"Gue!!" Kim Tae Young ikut berteriak.
Sebuah pena dilempar oleh penjaga perpustakaan dan mengenai kepala Kim Tae Young. "Kalau mau bertengkar, di lapangan!" tegas beliau.
Mereka menunduk penuh hormat. Begitu penjaga perpustakaan pergi. Mereka kembali bertengkar.
"Gue duluan yang nemuin ini, Vin!" bentak Kim Tae Young.
"Gue! Lo cuma ngelihat! Gue yang megang! Berarti ini hak gue!" bantah Vin.
"Tapi lo 'kan cuma pegang! Gue lihat!" Kim Tae Young ikut membantah.
"Ekhem!" Penjaga perpustakaan kembali datang dan berdehem dengan sangat kencang hingga membuat mereka berdua terkejut.
Beliau menghampiri dua pria yang berselisih tersebut dan melihat komik yang sedang mereka perebutkan.
"Komik ini 'kan ada banyak di rak sebelah sana! Ngapain berantem kayak anak kecil?!" omel beliau.
Kim Tae Young melepaskan komik yang sedari tadi ia pegang bersama Vin dan berlari ke rak yang ditunjuk oleh penjaga perpustakaan. Di sana ia mendapatkan begitu banyak komik karya Angga.
__ADS_1
Vin membawa buku itu ke meja penjaga dan memberikan sebuah kartu. Bersamaan dengan itu Kim Tae Young juga melakukan hal yang sama.
"Gue duluan!" bentak Vin.