
"Yaaa, maaf Vin! Jan musuhin gue Vin! Ini cuma perkara anime!" teriak Marc sambil memeluk Vin.
Jong Woo terbahak melihat kejadian tersebut.
"Apaan sih Marc! Gue cuma becanda! Dih geli gue!" bantah Vin sambil berusaha mendorong Marc untuk menjauh dari tubuhnya.
***
Di tengah hujan, Yura dan Kayuki turun dari bus. Yura membuka payungnya di halte. Kayuki mengambil alih payung itu.
"Payung gue!" teriak Yura.
"Ya kita pakai sama-sama! Gue nggak beli payung tadi!" omel Kayuki."Ya, kenapa lo nggak beli? 'kan tadi gue udah bilang! Rumah nenek gue jauh dari halte!" Yura ikut mengomel.
"Ya, gue kira hujannya bakalan berenti!" bantah Kayuki.
"Nggak ada pakai sama-sama! Lo nggak beli, berarti lo yang harus tanggung sendiri!" Yura merampas payungnya dan berjalan lebih dulu.
Kayuki berlari mengejar gadis itu. Ia tak bisa ikut berteduh di bawah payung yang Yura pegang karena tubuhnya terlalu tinggi dari payung tersebut.
Yura sempat terpeleset dan hampir terjatuh akibat jalanan yang licin. Kayuki menarik tubuh gadis itu untuk tetap berdiri.
"Gue basah kuyup," ucap Kayuki.
"Ya, salah lo nggak beli payung!" Balas Yura.
Sesampai di rumah neneknya, Yura memanggil-manggil pemghuni di sana. Angga membukakan pintu untuk anak gadisnya tersebut.
"Ini siapa?" Angga langsung tertuju pada kehadiran sosok pria yang bersama Yura.
"Ini Kayuki," jawab Yura.
"Kayuki?" tanya Angga dengan nada tak menyukai sosok anak laki-laki di hadapannya itu.
"Suruh masuk dulu kek, dingin banget ini, Pa!" omel Yura.
Angga membuka pintu lebih lebar dengan tatapan yang masih melekat pada Kayuki. "Masuk!" perintahnya.
Yura langsung disambut oleh neneknya yang terbangun. "Kenapa pulang jam segini, Ra?" tanya sang nenek.
"Tadi aku ke rumahnya Kayuki, Nek. Diajakin makan malam," ucap Yura.
__ADS_1
Nenek Yura tersenyum pada sosok Kayuki. Karena beliau mengetahui bahwa Yura menyukai pria itu.
"Harusnya mereka anterin kamu pulang! Kamu anak gadis! Masa dibiarin pulang sama anaknya! Kalau kamu diapa-apain dari dia, gimana?" omel Angga.
"Mereka mau anterin pulang, tapi aku nggak mau. Aku mau balik sendiri!" ucap Yura.
"Jangan pulang sendiri! Kalau kamu ada apa-apa di jalan gimana, Ra?" ucap sang nenek.
"Tapi bapaknya Kayuki juga bilang gitu! Makanya Kayuki disuruh anterin aku pulang sampai rumah naik bus dari Tokyo!" jawab Yura.
"Dari Tokyo? Naik bus?!" pekik Angga. "Tokyo itu jauh loh!" omelnya.
"Makanya sampai di rumah jam segini, mana ujan lagi," ucap Yura.
"Ya udah, kamu ganti baju dulu, Ra. Nenek cariin baju dulu buat Kayuki. Kayaknya pakaian Angga pas SMA masih nenek simpan," ucap sang nenek.
Yura berjalan ke kamarnya. Sedangkan Angga masih menatap kedua mata Kayuki. "Kamu jangan macam-macam sama anak saya!" tegas Angga.
"Nggak, Om! Saya nggak ngapa-ngapain, Yura, kok. Tanya aja sama dia!" jawab Kayuki ketakutan.
"Angga!" panggil sang ibu agar anaknya itu bersikap lebih ramah pada tamu mereka.
"Gimana rasanya kalau kamu digituin ayah Putri pas berkunjung ke rumahnya?" balas sang ibu. Angga tertunduk mendengar kalimat tersebut. "Kayuki, sini. Nenek cariin baju buat kamu," lanjutnya.
Selesai Kayuki berganti pakaian. Ia duduk di ruang tamu bersama Angga karena nenek menyuruhnya untuk menunggu sup hangat yang sedang beliau masak. Yura ikut duduk di sana dan memecah keheningan dengan bermain game di ponselnya.
"Kenapa kamu nggak jawab telepon Papa?" tanya Angga.
"Kan lagi makan sama keluarga Kayuki, nggak enak kalau sambil main hp," jawab Yura.
"Setidaknya kamu bilang dulu! Kan Papa bisa jemput kamu di sana!" omel Angga.
Yura hanya menghela napasnya dan kembali bermain game.
"Kenapa kamu yang pegang hp Yura tadi?" tanya Angga membuat Kayuki terkejut. "Apa maksud kamu ngirim pesan suara kayak gini?!" tanya Angga lagi sambil menunjukkan pesan suara yang tadi siang dikirim Kayuki menggunakan ponsel Yura.
Kayuki menepuk jidatnya karena melakukan hal bodoh semacam itu. Lagi-lagi Yura menghela napasnya.
"Papa kenapa sih?" tanya Yura.
"Kenapa apanya? Kamu dibawa pergi loh dari anak cowok! Papa khawatirin kamu!" jawab Angga.
__ADS_1
"Ya, 'kan akunya masih balik! Nggak ngilang ke mana-mana!" balas Yura.
"Ini pertama kalinya kamu bawa cowok ke rumah, Yura! Papa nggak mau kamu terjerumus pergaulan bebas!" omel Angga.
"Ya Papa 'kan lama di sini! Aku tinggal sama Mama di Indo. Papa mana tahu aku bawa cowok apa nggak ke rumah!" balas Yura lagi.
"Pokoknya Papa nggak mau kamu kayak gini lagi!" tegas Angga.
"Kayak gimana? Aku cuma diajak makan bareng keluarga Kayuki! Terus aku balik! Yang Papa nggak mau itu yang kayak gimana?!" Yura mulai memprotes ayahnya tersebut.
"Yah yang ini! Kamu pulang tengah malam sampai jam 1 pagi! Kamu itu anak cewek, Yura!" teriak Angga. Kayuki jadi merasa tidak enak hati karenaberada di pertengkaran ayah dan anak itu.
"Ya aku balik jam 1 karena jalannya jauh! Dari Tokyo! Apa yang salah?!" bantah Yura lagi.
"Kamu yang salah! Pergi, nggak bilang! Pulang, tengah malam! Sama laki-laki! Kamu kira Papa nggak kepikiran sama kamu?! Gimana kalau kamu diapa-apain dari dia atau laki-laki di jalan?!" teriak Angga.
"Om, udah Om," ucap Kayuki agar pertikaian itu segera dihentikan.
"Kamu, diam! Ini bukan urusan kamu!" tegas Angga padanya.
"Terus kalau Papa yang pulang tengah malam sampai aku ketiduran nungguin Papa, kenapa sah-sah aja?! Papa kira aku nggak kepikiran?! Aku sampai mikir Papa selingkuhin Mama! Papa terlalu betah di tempat kerja karena ada si ***** itu?!" Yura ikut berteriak.
Angga hendak menampar Yura.
"Angga!" teriak sang ibu menghentikan gerak tangan Angga. "Kalian ini kenapa?! Kenapa malah berantem gini?!"
Air mata Yura menetes di hadapan ayahnya dan Kayuki. Ini kali pertama Yura menunjukkan air matanya di hadapan orang-orang.
"Aku mau balik ke Indo," ucap Yura.
"Kamu nggak ngerti, Yura! Papa kerja! Mama kamu nggak pernah ngurusin kamu!" ucap Angga.
"Iya, Mama kerja! Aku tahu! Tapi Mama nggak pernah jadiin kerjaan sebagai alasan buat dekat sama laki-laki lain! Apa lagi sampai datang ke rumah cuma buat pura-pura ambil berkas!" balas Yura menyindir soal Ayumi tempo hari.
"Kamu nggak ngerti. Ini urusan orang dewasa!" ucap Angga.
"Ya kalau itu urusan orang dewasa, jangan bawa dampak ke kehidupan aku! Aku nggak ngerti! Dan suruh ***** itu berhenti jadi pelakor! Aku tahu ini bukan urusan aku. Tapi kelakuan dia bisa bikin hancur keluarga aku!" tegas Yura sambil mengusap air matanya.
"Setidaknya Ayumi bisa dengar semua keluh kesah Papa!" Angga melontarkan kalimat yang tak ingin Yura dengar.
"Terus Mama berkeluh-kesah ke siapa?! Mungkin Mama nggak tahu soal ini. Pantesan Mama nggak ngurusin soal ***** itu! Kalau Mama nggak bisa balas, biar aku yang balasin!" tegas Yura.
__ADS_1