Hipotalamus

Hipotalamus
Surat


__ADS_3

Putri memasuki kamarnya dan berbaring di sana. Ia sudah cukup pusing menghadapi Yura dan memilih untuk menelepon sang suami.


"Halo, Istriku. Apa ada masalah?" Angga langsung menjawab panggilan itu dengan nada girang.


"Yura mengganggu temannya di sekolah dan membuat temannya itu harus dilarikan ke klinik sekolah," ucap Putri.


"Kamu yakin, dia yang melakukannya?" tanya Angga.


"Pihak sekolah yang bilang gitu! Aku udah marahin Yura, aku udah datang ke sekolah setiap dia ada masalah! Tapi dia masih aja bersikap kayak gitu!" oceh Putri hendak menangis.


"Kamu tahu nggak? Kamu nggak pernah belain Yura kalau dia ada masalah. Bahkan tentang pertengkaran dia sama Vin, kamu juga belain Vin bukannya anak kamu sendiri. Yura curhat ke aku kalau dia ngerasa kayak piatu. Kamu ada di rumah sama dia, tapi kamu nggak anggap dia sebagai anak. Kamu juga sibuk kerja terus. Kan aku udah pernah bilang, kamu di rumah aja ngurusin Yura, biar aku yang kerja—"


"Tapi aku udah kerja sama Regi dari lulus SMA, Ngga!" bentak Putri dan memotong kalimat Angga. Lagi-lagi Angga membahas soal pekerjaan dan Putri tidak menyukai hal itu.


"Iya, tahu! Kamu kerja sama abang kamu dari lulus SMA! Tapi 'kan Regi bisa nyari karyawan lain! Kamu kerja buat apa sih, Put?! Kita nggak kekurangan duit! Kita nggak punya hutang! Kamu kerja buat apa?! Malah ngurang-ngurangin waktu buat anak kamu! Seharusnya kamu bisa ngurusin Yura, tapi kamu suruh ART! Seharusnya kamu bisa manjain Yura, tapi kamu manjain dia pakai duit! Sekarang kamu ngerasain sendiri 'kan? Ini soal hati kamu sama anak kita! Kenapa Yura lebih care ke aku yang jarang pulang dari pada ke kamu? Ya karena dia butuh sosok kamu, tapi kamu nggak pernah ada buat dia! Kamu lebih cinta sama kerjaan kamu dari pada anak kamu sendiri!"


Putri terdiam mendengar omelan Angga tersebut dan memilih untuk mengakhiri teleponnya karena ia tak ingin melanjutkan perdebatan tersebut. Kalimat Angga seolah menunjukkan bahwa pekerjaan yang Putri lakukan tidak ada gunanya. Putri berbaring di kasurnya dan memejamkan mata. Air mata mengalir dan menbasahi kasur tersebut.


***


Vin menerima surat itu dan memberikannya kepada Kim Tae Young. Surat pertama berhasil diberikan Vin ke Kim Tae Young, tapi pria itu tak membalasnya. Vin terpaksa harus mengerjakan tugas Pret dan teman-temannya sebagai balasan.


Sedangkan yang terjadi di sekolah, Pret mendekati Kim Tae Young, tapi berkali-kali cintanya ditolak. Pret memaksa Vin untuk memberikan surat cinta untuk Kim Tae Young dengan syarat jika Kim Tae Young tak membalasnya, maka Vin yang harus menanggung akibatnya.


"Kasih ini ke Arnold!" perintah Pret. Tentunya Vin ingin menolak, tapi mengingat dirinya merupakan murid baru di sana dan tidak ada harta yang mampu melindunginya. Satu-satunya tameng adalah menjadi bahan bulian mereka yang kaya raya.


"Mana tugas gue?" tanya Pret keesokan harinya. Vin memberikan semua buku yang menambah beban tasnya itu. "Kasih ini ke Arnold dan wajib ada balasan!" perintah Pret lagi sembari memberikan surat yang baru.


Saat Vin hendak mendatangi Kim Tae Young, ia malah bertemu Yura. Tentu saja tangan gadis itu mendadak gemas ingin menggangu Vin.


"Waw," ucap Yura sambil berjalan mengikuti Vin.

__ADS_1


"Jangan ngikutin gue!" tegas Vin padanya.


"Bawa apa tuh?" tanya Yura melirik surat yang Vin pegang. Segera pria itu menyembunyikannya. "Surat panggilan?" tebak Yura.


"Lo kenapa sih, kepo banget?!" bentak Vin.


"Oooww, gue tahu. Lo dapat surat cinta yaaa?" goda Yura. Vin malah menaikkan sebelah alisnya. "Aduh aduh, sok cakep lo!" balas Yura begitu melihat wajah Vin.


"Lo yang sok cakep! Ngapain lo ngikutin gue?!" bentak Vin.


"Mana coba gue lihat suratnya!" ucap Yura berusaha menggapai surat tersebut.


"Ra! Ini bukan surat gue!" ucap Vin sembari melindungi surat itu.


"Manaa!" Yura tetap memaksa hingga akhirnya ia mendapatkan surat itu dan membuatnya sobek.


Vin terdiam sambil mengepal tangan. "LO BISA NGGAK SIH JANGAN GANGGU GUE?!" teriak Vin membuat Yura terkejut.


"Gue cuma mau lihat," balas Yura.


"Ya, gue nggak tahu—"


"SUMPAH GUE BENCI SAMA LO, RA!" teriak Vin dan pergi meninggalkan gadis itu.


***


Yura mencari tahu tentang Vin dan Pret. Kali ini, ia menemukan gadis itu tengah memarahi Vin di lantai atas sekolah.


"Eh, Miskin! Kenapa bisa sobek suratnya?! Lo kira gue bakalan main-main sama lo?!" teriak Pret.


"Ow jadi itu yang namanya Prethayata?" gumam Yura sambil mengintip dari kejauhan.

__ADS_1


"Bukan gue yang bikin sobek, tapi Yura!" balas Vin.


"Yura? Si cewek gatel itu?!" teriak Pret lagi.


"Cewek gatel? Dih, siapa juga yang gatel. Lo kali! Ngirim-ngirim surat buat cowok, gatel lo?!" omel Yura sambil berbisik pelan agar tak terdengar oleh mereka.


Sialnya Yura, Vin malah menyadari keberadaan gadis itu. "Nah itu dia! Yuraa!!" panggil Vin sambil melambaikan tangan.


Yura hendak kabur, tapi Pret lebih dulu menghalangi langkahmya. "Lo yang sobek suratnya?!" tanya Pret.


"Nggak sengaja! Suer! Gue kira itu suratnya Vin!" jawab Yura.


"Sebagai gantinya, lo yang harus kasih surat ini ke Arnold!" perintah Pret sambil memberikan sebuah sueat baru.


"Gue?" tunjuk Yura pada dirinya sendiri.


"Harus ada balasan!" tambah Pret pada kalimatnya.


"Kok gue sih?! Ini 'kan urusan lo sama Vin!" bantah Yura.


"Oke! Vin, kasih surat ini ke Arnold! Lo tahu 'kan konsekuensi kalau dia nggak balas?" pret memberikan surat itu kepada Vin.


Tapi pria itu memelas pada Yura agar ia yang mengirimkan surat tersebut.


Yura menjadi tidak tega akan kejadian yang menimpa Vin di sekolah ini. "Sini!" Yura merpas surat itu dan memasukkannya ke dalam saku.


"Kalau Si Tae udah ngasih balasan, jangan gangguin Vin lagi!" ancam Yura.


Pret tersenyum dan menyetujui hal itu.


***

__ADS_1


Yura mendatangi Kim Tae Young yang sedang duduk di delan kelas bersama Dewa dan Edo. Tanpa ragu ia memberikan surat itu kepada Kim Tae Young.


"Ini surat dari Prethayata kelas 2-1, si cewek mata sipit, blasteran Indo-Thailand yang naksir sama lo tapi nggak berani ngasih surat ini ke lo. Ini memang kelihatan norak dan menjijikan. Sebenarnya gue juga rada najis ngasihnya ke elo. Tapi demi kemanusiaan, gue kasih ini ke lo. Prethayata juga minta balasan dari suratnya. Jadi, lo baca sekarang dan buat balasannya sekarang! Gue nggak mau nunggu lama-lama, bentar lagi kelas gue ada pelajaran Bu Tyas!" uceh Yura membuat ke-tiga kakak kelasnya itu melongok.


__ADS_2