
"Bukan urusan lo!" bentak Kim Tae Young.
"Yaelah, Nold. Belajar mah belajar aja! Ngapain sambil ngumpet kayak gini?" ejek Vin.
"Lo nggak tahu apa-apa!" balas Kim Tae Young.
"Iya, kenapa nggak di perpus aja?" tanya Vio.
"Lo bertiga ngapain sih?! Serah gue lah! Gue mau belajar di mana, sama siapa! Urusannya sama lo bertiga apa?!" omel Kim Tae Young.
"Nggak ada urusannya sih. Cuma mau nanya aja," jawab Vin.
"Jangan ganggu gue!" tegas Kim Tae Young yang malah menarik perhatian Yura untuk semakin mengganggu.
"Buku apa nih?" tanya Yura mencoba merebut buku yang berada digenggaman Kim Tae Young.
"Yuraa!! Don't touch!" tegas pria itu.
"Gue cuma mau lihat!" ucap Yura.
"Gue bakalan ke Korea lulus sekolah semester depan! Gue bakalan dikirim dari bokap gue ke rumah utamanya. Di sana ada istri sah bokap gue! Dan gue? Gue cuma anak dari hasil perselingkuhan! Gue nggak punya jaminan buat masa depan gue sendiri! Gue dijodohin sama Jesika demi kelangsungan bisnis bokap gue! Dan sekarang gue harus ditutut untuk dapat ranking 1 karena kalo gue dapat ranking di bawah itu, gue bakalan dikirim ke sana!" teriak Kim Tae Young dengan kesal.
Vin, Yura dan Vio terdiam mendengar kalimat tersebut.
Vin kembali memergoki Jesika memaksa Nia untuk membeli barang-barang mahal. Begitu Jesika pergi. Vin menjegat Nia dan merampas ponsel gadis itu.
Vin melihat aplikasi yang terakhir kali dibuka oleh mereka.
"Apaan nih?" tanya Vin.
"Balikin!" ucap Nia berusaha menggapai ponselnya, namun tak bisa. Vin terlalu tinggi.
"Ini siapa yang beli?" tanya Vin lagi.
"Gue!" ucap Nia.
"Nggak salah?!" Vin mengernyitkan dahi.
"Balikin, Kak!" ucap Nia lagi sambil terus berusaha mengambil ponselnya.
"Jesika 'kan yang nyuruh lo?!" bentak Vin.
"Bukan!" bantah Nia.
"Gue tahu! Jesika yang maksa lo buat beli ini!" ucap Vin lagi.
"Ya kalo emang iya, kenapa?!" omel Nia.
"Lo ngapain sih, mau aja lagi disuruh-suruh check out barang semahal ini!" omel Vin begitu melihat pesanan yang nilainya sangat fantastis itu.
__ADS_1
"Yaudah biarin aja, Kak!" ucap Nia.
"Nggak bisa dibiarin kalo kayak gini! Gue tahu lo juga butuh duit! Lo di sini beasiswa 'kan?!" omel Vin lagi.
Nia merampas ponselnya dari genggaman Vin. "Emangnya kenapa kalo aku beasiswa?!" tegas Nia.
"Gue nggak maksud ngerendahin lo! Coba lo mikir! Lo butuh duit, dan sekarang lo harus bayarin ini semua buat Jesika?! Lo mikir sampai ke sana nggak?!" omel Vin lagi dan lagi.
Nia malah pergi karena merasa sakit hati akan perkataan Vin.
"Woi!" panggil Vin yang tak mendapatkan jawaban apa pun. "Dih, dibantuin malah kayak gitu!" lanjutnya.
***
Sedangkan Nia berjalan dengan cepat menuju kelasnya. "Siapa juga yang minta bantuin!" ucap Nia.
Nia duduk di bangkunya dan mengingat total jumlah yang dikreditkan kepada akun marketplace-nya.
"Seratus dua puluh juta? Di mana gue bakalan nyari duit sebanyak itu?" gerutunya dan hendak menangis.
***
Vin berjalan menuju kelas Yura. Di sana mereka masih menjalani jam pelajaran sehingga Vin terpaksa menunggu di luar kelas hingga guru yang berada di sana pergi.
Begitu beliau meninggalkan kelas, Vin langsung menghampiri Jesika. "Woi!" teriaknya menggebrak meja. "Lo gila ya?! Seratus dua puluh juta? Lo kira Nia bisa dapetin duit sebanyak itu dari mana?! Ngotak nggak lo?!" teriak Vin.
Kayuki ikut berdiri begitu melihat Jesika diperlakukan seperti itu.
"Dia belanja pakai akun marketplace-nya Nia! Kreditnya sampai seratus dua puluh juta! Nia sekolah di sini dapst beasiswa! Sekarang gimana caranya dia lunasin kredit itu?!" jelas Vin. "Lo emang biadab!" teriaknya sambil menoyor kepala Jesika.
Kayuki malah menepis tangan pria itu.
"Lo juga biadab! Orang kayak gini lo belain?!" Vin ikut melampiaskan emosinya pada Kayuki.
"Gue bisa jadi saksi, kalo misalnya kasus ini dilaporin ke polisi! Kasus perundungan, pemaksaan, pelanggaran HAM dan penipuan!" ucap Yura.
Jesika hanya bisa terdiam. Pasalnya dia meminta barang-barang itu bukan tanpa alasan. Ia membutuhkannya.
"Lo diam!" tegas Kayuki pada Yura.
"Kok gue?" bantah Yura dengan cepat.
"Lo yang diam! Mata lo buta apa gimana, hah?!" teriak Vin sambil mendorong Kayuki dan membuat tubuh pria itu terhuyung.
Kayuki menghampiri Vin dan melayangkan pukulan ke wajah kakak kelasnya tersebut.
"Kayuki!!" teriak Yura.
Vin dan Kayuki malah saling adu tinju di kelas tersebut.
__ADS_1
Yura berusaha mengamankan Vin dengan menghadang mereka satu sama lain. "Pukul gue kalo lo mau!" ucap Yura pada Kayuki.
Kayuki hendak melayangkan pukulannya di wajah Yura. "Yuraaa!!" teriak Vio.
Tapi Vin menangkis pukulan tersebut. "Mau mati lo?!" teriak Vin.
Yura menarik Vin untuk menjauh dari Kayuki.
"Vin, gue 'kan udah bilang. Jangan berurusan sama dia!" omel Yura.
"Tapi dia mau mukul lo tadi!" bantah Vin.
Yura menghela napasnya ketika mengingat kejadian yang beberapa detik mereka alami tadi.
***
Sejak kejadian itu, Vin sering memerhatikan gelagat Nia. Ada rasa iba tersemat di dadanya. Terlebih lagi, Vin pernah berada di posisi kesulitan ekonomi seperti yang sedang Nia alami saat ini.
Muncul satu ide di otak Vin untuk menbantu Nia mendapatkan uang dan melunasi semua kredit akun marketplace-nya.
"Lo bisa kerja di rumah gue!" ucap Vin.
"Kerja? Kerja apaan? Gue cuma bisa nyuci piring," ucap Nia.
"Nah, lo bisa jadi pelayan di rumah gue. Gajinya lumayan! Ntar gue nego sama bokap gue," ucap Vin lagi.
"Jadi pelayan? Emangnya lo sanggup bayar gaji gue berapa?" tanya Nia.
"Ntar balik sekolah, lo ikut gue," ucap Vin dan Nia menyetujuinya.
Apa pun kerjaannya, yang terpenting ia bisa melunasi kredit tersebut. Begitu pikir Nia saat ini.
***
"Ini rumah gue, masuk aja," ucap Vin dan beberapa pelayan membukakan mereka pintu.
"Lo sekaya ini, Kak?" pekik Nia tak percaya.
"Bukan gue, tapi bokap gue," jawab Vin sambil berjalan mencari keberadaan Desi di rumah itu.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan Muda?" tanya Desi begitu ia melihat kehadiran Vin di dapur.
"Ini Nia, dia temen saya dan saya mau mempekerjakan dia sebagai pelayan pribadi saya menggantikan Chika," ucap Vin.
"Baik, Tuan Muda," jawab Desi yang langsung mengajak Nia untuk masuk ke kamar para pelayan dan memberikan Nia seragam pelayan di rumah tersebut.
Vin masuk ke kamarnya. Sebelum itu, ia melihat Rafa tengah berdiri sambil menelepon seseorang. Tapi, ia memilih untuk membiarkan ayahnya.
Vin mengganti pakaiannya dan berbaring di atas kasur. Tiba-tiba dia tersenyum dan terbesit niat untuk menjahili adik kelasnya yang merepotkan itu.
__ADS_1
Vin mengaktifkan mikrofon yang terhubung di kamarnya. "Nia, bawa makan siang saya!" ucap Vin.