
"Hasil tes laboratorium," ucap Rafa memberikan sebuah kertas kepada wanita yang pernah ia sakiti itu. "Rontgen-nya akan dilakukan saat dia sadar. Anak buahku sudah menyediakan 3 kantung darah dari PMI. Dia terlalu banyak kekurangan darah," lanjut Rafa dan Nurul mengambil alih kertas tersebut.
"Kasus ini sudah dilaporkan ke pihak berwajib. Dia korban tabrak lari. Aku juga berada di sana karena kecelakaan itu menyebabkan kemacetan," ucap Rafa lagi.
"Kau yakin? Bukan kau yang melakukan ini?" tanya Nurul membuat Rafa menaikkan sebelah alisnya.
"Untuk apa kubawa dia ke sini jika aku pelakunya?" Rafa balik bertanya.
"Karena kau ingin terlihat baik dan mendapatkan perhatian Vin?" tebak Nurul.
"Semuanya terserah kau saja. Kita bukan lagi anak SMA yang memperebutkan seseorang di sekolah!" ucap Rafa dan pergi bersama para penjaganya.
Nurul kembali melihat wajah Feno yang penuh luka. Juga bajunya yang bercorak darah dengan sangat jelas. Kaki dan tangan suaminya juga mengalami patah tulang akibat kecelakaan tersebut.
Suatu hal yang mengejutkan semakin membuat Nurul menangis. Biaya pengobatan atas korban kecelakaan tidak bisa mendapatkan pengobatan gratis seperti beberapa penyakit lainnya. Biasanya mereka menggunakan sebuah kartu untuk pengobatan, dan pemerintah akan menanggung biaya semuanya. Namun, kali ini berbeda, kasus kecelakaan tidak termasuk dalam syarat untuk penggunaan kartu tersebut.
Nurul menangis sejadi-jadinya di luar rumah sakit sambil memegang kertas nota yang bertuliskan total biaya pengobatan suaminya selama beberapa jam di rumah sakit tersebut. Nurul sempat berniat untuk membawa Feno pulang dan berobat secara tradisional saja, tapi cairan darah yang kurang di tubuh pria itu tetap menggunakan tenaga medis untuk mentransfusikannya.
***
Hal itu juga diketahui oleh Vin. Bagaimana keadaan papanya? Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana cara ibunya melunasi biaya rumah sakit tersebut?
Semua kejadian itu menjadi beban di pikiran Vin yang sedang berada di asrama sekolah.
"Jadi bokap lo gimana, Vin?" tanya Jong Woo.
"Perlu dioperasi, soalnya ada beberapa tulang yang patah," jawab Vin.
"Tapi nggak apa-apa 'kan? Nggak sampai kritis gitu?" tanya Marc.
"Nggak," jawab Vin singkat.
***
Vin kembali pulang di hari Sabtu. Sedangkan Feno masih berada di rumah sakit. Setidaknya mereka berhasil mengumpulkan hutang biaya pengobatan sebanyak dua puluh juta rupiah. Semua biaya itu meliputi biaya kamar, obat, perawatan dan biaya lainnya.
"Coba kamu minta pinjaman dulu ke Regi," ucap Feno pada Nurul.
Vin juga mendengar kalimat tersebut. Terlihat jelas bahwa kedua orang tuanya tidak ingin merepotkan Vin akan hal ini. Mereka berusaha mencari jalan ke luar sendiri.
__ADS_1
"Regi udah bilang, dia nggak punya duit sebanyak itu. Dua puluh juta loh. Bukan sedikit. Regi juga udah bayar tukang buat renov toko," jawab Nurul.
"Putri? Coba minjem ke Putri," ucap Feno.
"Putri cuma bisa minjemin tiga juta," jawab Nurul lagi.
***
Malam itu, Vin dipanggil oleh seorang perawat.
"Mas Vin?" tanya perawat tersebut.
"Iya, Mbak," jawab Vin.
"Ini total biayanya udah dua puluh juta lima ratus ribu, ya, Mas. Kalau besok nggak dilunasin, biayanya bisa nambah gede lagi," ucap perawat tersebut.
"Iya, Mbak," jawab Vin dan berjalan ke luar rumah sakit.
Vin mengacak rambutnya karena merasa pusing akan hal ini. Lagi-lagi keluarganya mendapatkan masalah ekonomi seperti ini.
"Vin!" teriak seorang gadis sambil berlari menghampiri pria yang sedang berjalan di halaman rumah sakit tersebut. Gadis itu adalah Yura. "Mana bokap lo?" tanyanya yang datang untuk menjenguk.
Yura langsung mengetahui bahwa pria yang berada di hadapannya itu sedang tidak baik-baik saja. "Kenapa? Ada masalah?" tanyanya.
Vin menceritakan semuanya kepada Yura.
"Dua puluh juta lima ratus ribu?!" pekik Yura terkejut akan nominal biaya pengobatan tersebut.
"Kayaknya besok bakalan nambah lagi. Soalnya biaya kamar sama obat juga bakalan nambah," ucap Vin.
"Jadi gimana? Coba minjem duit ke Om Regi!" ucap Yura.
"Om Regi habis bayar tukang buat renovasi toko, jadi duitnya nggak ada," ucap Vin.
"Iya juga sih. Jadi gimana dong?" tanya Yura lagi.
"Bantuin gue mikir, kek! Nanya mulu lo!" Omel Vin.
"Iya, gue juga lagi mikir. Dua puluh juta itu nggak dikit, Vin!" ucap Yura.
__ADS_1
***
Vin kembali ke asrama dan biaya pengobatan Feno sudah semakin membesar menjadi sebanyak dua puluh tiga juta rupiah hanya dalam waktu dua hari.
"Menurut gue sih, coba lo minjem duit ke ayah lo, Vin. 'kan dia kaya," ucap Jong Woo.
Vin juga sempat berpikir seperti itu, tapi mustahil baginya untuk meminjam uang dengan alasan pengobatan sang ayah tiri. Itu juga akan menyakiti perasaan Rafa karena Vin lebih peduli pada ayah tirinya itu dari pada dirinya.
***
Hari ini, Vin memberanikan diri untuk datang ke rumah megah milik Rafa. Ia disambut dan dilayani bak seorang pangeran di sana. Semua orang memanggilnya dengan sebutan "Tuan Muda". Terdengar sedikit aneh untuk Vin. Tapi dia harus melakukan ini.
"Jadi kamu butuh berapa?" tanya Rafa setelah mendengar permintaan anaknya tersebut.
"Dua puluh empat juta," jawab Vin dengan pelan.
"Ayah akan memberikannya lebih dari itu, tapi tinggallah di sini untuk satu hari." Syarat itu diucapkan oleh Rafa.
Vin membutuhkan uang tersebut, Rafa bisa memanfaatkannya agar Vin semakin dekat dengannya. Meskipun Vin melakukan ini untuk Feno, tapi Rafa juga ingin anaknya itu tak dimiliki oleh orang lain.
Vin sedang berada di kediaman ayahnya. Rafa juga sedang menunggu jawaban Vin untuk bersedia tinggal bersamanya dalam waktu satu hari saja. Tapi, Vin malah pulang tanpa memberikan jawaban.
Vin sedang dilanda kebingungan. Ia sangat memerlukan uang untuk mengeluarkan Feno dari rumah sakit. Semakin lama Feno berada di sana, maka akan semakin banyak uang yang tercatat sebagai hutang.
***
Kini, Feno sudah dipersilahkan untuk pulang dan meninggalkan hutang sebanyak dua puluh delapan juta rupiah di rumah sakit. Semua kartu identitas Nurul dan Feno terpaksa ditahan pihak rumah sakit sebagai jaminan.
Vin kembali ke asrama dan menceritakan apa yang terjadi kepada Marc dan Jong Woo.
"Kalau gue jadi lo, Vin. Gue datang ke rumah bokap lo dan nikmatin kehidupan sebagai putra tunggal pemilik GG Group! Kapan lagi lo bisa ngerasain hal kayak gitu?!" ucap Marc sambil berbaring di kasurnya dan memainkan sebuah kalung.
"Kalau gue bisa bawa bokap sama nyokap gue, mungkin gue bakalan mau," balas Vin.
"Gini loh, Vin. 'kan bokap lo cuma mau lo nginep satu hari, satu hari doang, Vin! Apa susahnya?!" omel Jong Woo.
"Lo nggak paham kondisinya, Jong!" bantah Vin.
"Sekarang lo pikirin, gimana cara keluarga lo bisa lunasin hutang ke pihak rumah sakit sebanyak dua puluh delapan juta?!" tegas Marc.
__ADS_1