Hipotalamus

Hipotalamus
Mama


__ADS_3

"Baik, Ma," balas Vin.


"Kamu nggak kangen sama Mama sama Papa?" tulis Nurul lagi.


"Kangen kok," balas Vin lagi.


"Terus kenapa kamu nggak pulang? Masih banyak ya tugasnya?" Dengan berat hati Nurul mengirim pesan tersebut.


"Nggak kok, Ma. Tugas udah kelar semua. Aku nginep rumah temen, Ma. Soalnya ada acara sekolah," tulis Vin.


Nurul terdiam sejenak. Feno mengatakan bahwa Vin sibuk mengurusi tugas. Tapi, Vin mengatakan hal yang lain. Nurul memilih untuk menanyakan hal itu kepada Feno.


"Kamu bilang kalau Vin ngurusin tugas di sekolah. Tapi kata Vin dia nggak ada tugas lagi! Kamu ketemu apa nggak sama dia di sekolah?" tanya Nurul.


"Aku ketemu kok," jawab Feno.


"Terus kenapa kalian kasih jawaban yang beda? Kamu bohong sama aku?" tanya Nurul lagi.


"Bohong apa? Vin memang ngurusin tugas tadi di sekolah. Ya, mungkin tugasnya udah kelar pas aku pulang." Feno sekuat tenaga menutupi kebohongan Vin.


"Nggak mungkin dia kelarin semuanya dalam satu waktu. Tadi kamu bilang kalau tugasnya Vin banyak!" teriak Nurul.


"Kamu tuh maunya apa sih?! Aku udah ke sekolahnya Vin! Dia sibuk ngurusin tugas tadi! Kamu hubungin Vin barusan. Mungkin tugasnya udah selesai!" bantah Feno terus menerus.


Nurul mencoba mengontrol napasnya. "Jadi, Vin sekarang di mana?" tanya Nurul.


"Dia nggak ke mana-mana, Nur. Dia di asrama ...." Feno menghentikan kalimatnya karena air mata Nurul menepik dengan tatapan yang masih menancap tajam ke wajah suaminya itu.


"Kita jemput dia sekarang!" tegas Nurul sambil menangis.


"Kamu gila?! Ini udah malam. Kita suruh dia ke sini, besok!" bantah Feno.


"Dia nggak di asrama! Dia juga nggak pulang udah bebeeapa bulan ini, Fen! Gimana kalau dia nginap di rumah Rafa?!" teriak Nurul dengan deraian air mata.


"Dia nggak bakalan ke sana!" bantah Feno lagi.


"Kamu tahu dari mana?! Jelas-jelas dia nggak di asrama! Dia juga nggak pulang ke sini! Gimana kalau dia nginep di rumah Rafa? Gimana kalau dia lebih milih hidup mewah sama Rafa dari pada sama kita? Gimana kalau Rafa ngelarang dia buat ketemu kita lagi, Fen?!" jerit Nurul hingga terduduk di kursi ruang tamu sambil menangis tersedu-sedu.


Benar. Bagaimana jika semua itu terjadi? Sejujurnya, Feno pun takut hal itu benar-benar terjadi. Vin kecil yang ia gendong dan ajak bermain setiap hari, kini harus pergi bersama ayahnya karena waktu bermainnya sudah habis. Tak bisa Feno bayangkan bagaimana jika hal itu benar-benar terjadi. Sudah jelas di depan matanya bahwa Vin pulang bersama supir pribadi dan mobil mewah milik Rafa.

__ADS_1


***


Yura berdiri di depan ruang rumah sakit dan melihat Putri dari balik kaca pintu yang transparan.


"Yura!" panggil Rumi dan menghampiri anak majikannya itu.


"Gimana?" tanya Yura.


"Hasil lab, Kak Rum nggak tahu, Ra. Soalnya nenek yang pegang," jelas Rumi.


"Nenek juga di sini?" tanya Yura.


"Iya, lagi ambil obat di apotek," jawab Rumi.


Bersamaan dengan itu, Isabel datang dan berkumpul bersama mereka.


"Udah, tenang aja. Mama kamu nggak apa-apa kok. Emang udah biasa kayak gini. Palingan dia lagi ada masalah sama papa kamu, Ra," ucap Isabel pada cucunya tersebut.


"Sama papa?" tanya Yura.


"Dulu mama kamu pernah nggak ke luar dari kamar sampai seminggu. Eh, pas Om Regi dobrak pintu kamarnya, ternyata udah pingsan gegara ada masalah sama papa kamu," ucap Isabel lagi.


Yura mengambil ponsel dan mencoba menelepon Angga. "Halo, Sayang!" sapa Angga begitu menjawab panggilan tersebut.


"Masalah? Masalah apa? Nggak ada apa-apa kok," ucap Angga.


"Mama masuk rumah sakit. Aku juga lagi ada di rumah sakit sekarang. Besok libur. Aku nggak pulang, masih mau di asrama. Untungnya ada Minnah sama yang lain," jelas Yura.


"Udah biarin aja. Mama kamu emang biasa kok masuk rumah sakit," ucap Angga yang malah terdengar sangat jahat di telinga Yura.


"Kalau mama kenapa-kenapa gimana?" tanya Yura.


"Mama kamu nggak apa-apa kok. Dia emang sering pingsan gitu," ucap Angga lagi.


Yura tak ingin membahas sesuatu yang menyakiti hatinya. Ia memilih untuk mengalihkan pembicaraan tersebut.


"Papa kapan balik? Katanya cuma tiga bulan. Tapi udah hampir setahun nggak balik juga," ucap Yura.


"Besok Papa pulang ke sana. Ada sesuatu yang mau Papa urus," ucap Angga.

__ADS_1


Ya, dia akan mengurus kepindahan Yura ke Jepang agar lebih mudah untuknya mengurusi gadis itu.


***


Sementara itu, Feno pergi dari rumahnya demi mencari kedamaian. Ia tak sanggup melihat wajah Nurul ketika ia membohongi istrinya itu. Tanpa di sengaja ia melihat Vin dan Rafa yang baru saja ke luar dari sebuah kafe.


Vin juga melihat ayahnya itu. Mata mereka bertemu. Feno tersenyum pada anaknya tersebut meski dadanya mendadak terasa sakit. Cemburu. Ia begitu cemburu pada Rafa yang tak perlu meminta maaf pada siapa pun saat melakukan kesalahan.


Pria yang berada di sebelah Vin itu pernah menjadi pria paling jahat karena meninggalkan Nurul dan anaknya di saat mereka semua membutuhkannya. Tapi kini, ia mendapatkan semuanya dengan begitu mudah.


"Feno!" sapa Rafa tanpa ragu.


Vin mendadak ketakutan melihat perlakuan Rafa tersebut. Bisa saja Feno mengatakan apa yang ia saksikan malam ini kepada Nurul. Itu adalah hal yang Vin khawatirkan saat ini.


"Kau sudah makan malam?" tanya Rafa sambil tersenyum.


"Sudah," jawab Feno.


"Ah, yang benar saja? Aku dan Vin baru saja ingin membeli makanan. Tadi, kami bertemu klien," ucap Rafa.


Feno tersenyum sambil menatap Vin. "Hari ini kau banyak belajar, Vin. Jangan lupa berisitirahat," ucapnya.


Vin malah merasa bersalah pada ayah tirinya tersebut. Vin tahu betul apa yang dirasakan oleh Feno saat ini.


"Tidak perlu khawatir, Fen. Vin dilayani dengan baik di rumahku," jawab Rafa.


Vin menatap tak senang ke arah ayahnya itu.


"Terkadang Vin harus melakukan semuanya sendiri agar dia bisa menjadi anak yang bertanggungjawab," ucap Feno.


"Iya, itu menurutmu. Tapi, aku mencoba memberikan apa yang tak pernah ia dapatkan sedari kecil," ucap Rafa.


Vin langsung menengahi mereka. "Aku bukan lagi anak-anak dan aku tidak pernah merasa kekurangan sesuatu sedari kecil," ucap Vin.


Rafa tersenyum ke arah Feno. "Makasih, Fen. Sudah menjaga dan merawat Vin dengan baik," ucapnya.


Feno malah menatapnya dengan pandangan tak bersahabat. "Seharusnya kau tahu itu sedari dulu. Bukan meninggalkannya sedari kecil," ucap Feno.


"Tapi dia anakku. Meski aku meninggalkannya, tidak akan ada yang berubah," ucap Rafa.

__ADS_1


"Semuanya berubah, Ayah saja yang tak menyadarinya," ucap Vin.


Kalimat itu menjadi sebuah pukulan telak untuk seorang Rafa dan Feno. Apa yang berubah? Apa yang mengubah ikatan darah ini hanya karena dirinya meninggalkan Vin dan Nurul di waktu dulu?


__ADS_2