
Yura berbaring di sebelah Kim Tae Young. Memandang pria yang sedang tertidur itu. Tiba-tiba sesak itu datang lagi. Namun, kali ini rasanya lebih menyakitkan hingga membuat air matanya menetes. Kayuki. Nama itu yang muncul di otak Yura sebagai sebab ia menangis.
Yura telah menikah. Ia memiliki keluarganya sendiri. Tapi, rasa terhadap Kayuki, ia tak bisa membohongi itu. Memang menyakitkan. Yura beranjak dari kasurnya dan pergi ke kamar mandi karena ia tak ingin Kim Tae Young terbangun akibat tangisannya itu.
Kayuki. Pria itu yang membuat Yura jatuh cinta untuk pertama kalinya. Pria itu juga yang membuatnya berani untuk menghadapi apa yang ia takuti. Pria yang memeluk Yura ketika gadis itu menangis menghadapi keluarganya yang hampir hancur.
***
Hari pernikahan Kayuki dan Jesika pun tiba. Kim Tae Young dan Yura datang untuk memberikan selamat dan ikut merayakan acara pernikahan tersebut. Di sana Yura melihat keberadaan Saigi dan anggota keluarga Kayuki lainnya. Tak butuh waktu lama untuk menikmati rasa sakit akibat menghadiri acara pernikahan itu.
***
"Yura!" teriak Kim Tae Young membuat Yura tersadar dari lamunannya. "Kamu kenapa?" tanya pria itu dengan nada datar.
"Nggak kenapa-kenapa," jawab Yura pelan.
"Dari tadi aku bahas ini, Ra!" tegas Kim Tae Young menunjuk selembar kertas program kehamilan karena mereka telah muak akan paksaan kedua orang tua Yura.
"Kenapa?" tanya Yura yang sempat hilang fokus dari dirinya sendiri.
Kim Tae Young terdiam sejenak dan menggenggam kertas itu. "Lupain aja," ucapnya dan berjalan menuju dapur.
"Nold!" panggil Yura membuat pria itu menghentikan langkah dan menoleh padanya. Yura menghampiri suaminya tersebut dan memeluknya dengan erat. Tiba-tiba ia menangis.
"Kenapa?" tanya Kim Tae Young tak mengerti akan apa yang terjadi pada Yura.
Yura tak memberikan jawaban. Ia hanya menangis dan terus menangis. Kim Tae Young membelai rambut panjang yang terurai itu, membuat tangisan Yura semakin menjadi.
***
"Ya terus lo mau nyalahin gue karena Kak Yura udah nikah sama Kak Arnold waktu itu?!" teriak Nia di dalam kamar rawat inap.
Semenjak pernikahan Kim Tae Young dan Yura terjadi, Vin sering marah-marah padanya. Vin juga sering mengamuk tanpa alasan yang jelas. Hal itu membuat Nia muak dan ikut marah ketika tuan mudanya itu melakukan hal tersebut.
__ADS_1
"Ke luar! Gue mau sendiri!" tegas Vin.
Namun, kali ini Nia tak akan menurutinya. Mengingat bahwa Vin sempat hendak bunuh diri akibat pernikahan Yura dan Kim Tae Young. Bodohnya Nia saat itu, ia menuruti pinta Vin yang mengatakan bahwa dirinya menginginkan kesendirian.
"Lo kenapa sih, Kak?! Ya udah sih kalo Kak Yura udah nikah, udah punya suami! Lo tinggal nyari istri! Apa susahnya?!" balas Nia lagi.
"Gue bakalan nunggu Yura!" tegas Vin lagi.
"Dih, lo nggak capek apa kayak gini?! Udahlah, Kak! Kak Yura udah bahagia sama suaminya! Jangan ngusik dia! Toh hidup lo nggak bakalan stuck di Kak Yura doang, 'kan?!" Ceramah itu didengar oleh Rafa yang sedang terbaring di kasur rumah sakit.
"Lo nggak tahu apa-apa. Jadi, tutup mulut lo!" tegas Vin.
"Ya udah sih. Kalo lo mau nangis, nangis aja! Gue mau belajar! Tiga bulan lagi, gue Ujian Nasional! Emangnya lo bisa ngurusin Tuan Rafa? Kalo gue ke luar, bokap lo gimana?" tanya Nia.
"Lo kenapa sih?!" tegas Vin semakin geram akan tingkah pelayan pribadinya tersebut.
"Lo yang kenapa, Kak?! Gue mau belajar doang di sini! Mumpung nggak terlalu sibuk! Gue bentar lagi mau Ujian Nasional. Lo malah marah-marah nyuruh gue ke luar! Kalo gue ke luar, Tuan Rafa gimana? Lo mau ngurusin sendiri?!" balas Nia yang kembali mengambil buku-bukunya dan mencoba fokus untuk belajar.
***
Vin sedang mengerjakan tugas mata kuliahnya di kamar rawat inap milik ayahnya. Nia ikut duduk di hadapan pria itu sambil menopang dagu dengan kedua tangan. Nia tersenyum-senyum.
"Ngapain lo?" tanya Vin.
"Aduh, gantengnya tuan muda gue," jawab Nia sambil terus tersenyum.
Vin memukul pelan kepala gadis itu dengan buku.
"Gue cerita ke temen-temen gue di sekolah, kalo gue deket sama lo, Kak," ucap Nia membuat Vin terkejut bukan main. Ia sampai menghentikan gerak jarinya untuk menulis.
"Lo gila?!" pekik Vin.
"Mereka nggak sengaja ngeliat foto kita di hp gue! Ya, gue cuma bisa ngasih alasan itu. Ya, masa gue bilang kalo gue pelayan pribadi lo! Yang ada gue malah dibuli!" ucap Nia.
__ADS_1
"Ya udah, terserah lo aja," jawab Vin.
"Masalahnya, Kak!" ucap Nia lagi. Vin menatap lekat ke wajah gadis di hadapannya tersebut. "Gue udah terlanjur bilang kalo lo bakalan anterin gue ke sekolah, besok," lanjut Nia membuat kedua bola mata pria itu membulat sempurna.
"Maksud lo?!" tegas Vin.
"Gini-gini! Mereka nggak percaya kalo gue deket sama lo. Jadi, mereka minta bukti. Ya, gue bilang, besok lo bakalan anter gue ke sekolah," ucap Nia.
"Biar apa sih lo kayak gini?!" omel Vin.
"Ya biar identitas gue sebagai pelayan pribadi lo, nggak ada yang tahu soal itu di sekolah! Lo mau gue dibuli gegara itu?!" balas Nia.
"Ya, terus kenapa emangnya kalo lo pelayan pribadi gue?! Kerjaan halal, nggak ada masalah! Kenapa?!" Vin menutup bukunya dan mulai fokus pada masalah yang Nia sodorkan padanya.
"Ya, gue sih nggak masalah sama kerjaan gue. Tapi orang lain gimana?! Gue emang nggak peduli pandangan orang lain ke gue. Tapi kalo mereka ngebuli gue cuma gegara kerjaan gue ini, gimana?!" cecar Nia.
Vin ikut memutar otaknya, ia juga merasa tak tega jika melihat Nia akan dibuli seperti apa yang pernah Jesika lakukan terhadap gadis itu.
"Ya udah, besok doang, 'kan?" tanya Vin.
Nia mengangguk dengan cepat sambil tersenyum-senyum.
***
Keesokannya, beberapa pelayan yang akan menjaga Rafa melihat Vin yang sedang menunggu Nia di halaman rumah sakit.
"Lama amat sih lo?!" bentak Vin pada gadis yang berlari dari arah rumah sakit tersebut.
"Ya, lo kira seragam sekolah bisa kepake sendiri ke badan gue?! Ya gue juga butuh waktu buat mandi, gosok gigi! Keringin rambut! Gue nggak mau anak-anak malah ngelihat gue kayak gembel!" balas Nia yang ngos-ngosan.
Para pelayan adalah saksi bahwa Nia dibonceng tuan muda mereka untuk pergi ke sekolah.
Gosip baru tentang Vin dan Nia tersebar di rumah besar milik Rafa.
__ADS_1