
"Memangnya kenapa kalau Vin sekolah di sana?!" tegas Putri.
"Ya 'kan Mama tahu sendiri kalau aku sama Vin nggak pernah akur! Kenapa Mama daftarin aku buat sekolah di sana?! Mama sengaja biar aku sama dia berantem terus?!" teriak Yura.
"Kenapa kamu berantem terus sama dia?! Gini cara kamu bikin susah orang tua?! Jajan dikasih, sekolah dibayarin, makan siap, pakaian ada, rumah tinggal punya. Kamu mau nuntut lebih dari itu?! Kamu mau Mama ngurusin kamu sampai ke masalah orang-orang di sekitar kamu?! Kamu pikir Mama nggak bisa marah sama kamu, Yura?! Sikap kamu keterlaluan! Mama nggak pernah ajarin kamu jadi anak kurang ajar kayak gini!! Pernah kamu lihat Mama neriakin nenek kamu kayak gini?! Pernah kamu ngelihat Mama neriakin papa kamu kayak gini?! Kamu kayaknya nggak bisa dididik halus. Mau Mama pukul, kamu baru bisa ngerti?!" teriak Putri di hadapan anaknya tersebut.
"Sejak kapan Mama ngurusin aku? Cuma datang ke sekolah buat panggilan ortu, segitu cukup buat disebut ngurusin?!" balas Yura yang mengingat bahwa ia tumbuh dan besar diurusi oleh suster dan beberapa asisten rumah tangga di rumahnya.
"Jaga mulut kamu, Yura! Jangan jadi anak durhaka!" tegas Putri.
Lagi-lagi Yura mendengar kalimat itu. Sepertinya dia memang pantas disebut anak durhaka. Tidak ada hal yang pantas dibanggakan dari sosok ibunya tersebut selain membagi perhatian ayahnya. Satu-satunya orang tua yang benar-benar mengurusi Yura, yang gadis itu rasakan hanyalah sosok Angga yang pulang hanya sesekali dari negeri sakura. Sementara keseharian Yura hanya dikelilingi oleh asisten rumah tangga. Ibunya hanya sibuk pergi entah ke mana dan pulang sore hari. Itu yang Yura rasakan.
"Kayaknya emang udah jadi anak durhaka dari dulu!" balas Yura.
"Kamu mau Mama bilang ini semua ke papa kamu?!" ancam Putri.
"Bilang aja! Mama tahu nggak alasan kenapa aku berantem terus sama Vin?! Mama nggak pernah nanya! Mama juga nggak peduli! Cuma tahu marah-marah nyalahin aku! Mama nggak pernah belain aku! Vin aja terus yang istimewa di mata Mama! Kadang aku mikir, lebih baik lahir di keluarga miskin kayak Vin, dari pada hidup kayak gini—"
Sebuah tamparan mendarat di wajah gadis itu. Putri benar-benar sudah habis kesabaran menghadapi anak perempuannya tersebut.
Yura dan Putri berdiam diri. Sementara beberapa asisten rumah tangga mereka mengintip dari pintu dapur yang lumayan jauh.
"Kadang aku ngerasa kayak piatu dari lahir!" tegas Putri dan berjalan pergi meninggalkan rumah itu.
"Yuraaa!!" teriak Putri agar anaknya itu kembali. Tapi Yura benar-benar merasa sakit hati dan kesal pada ibunya.
***
__ADS_1
Yura menangis tanpa suara di pojok rak buku. Satu-satunya tempat untuk ia melarikan diri adalah toko buku milik omnya, Regi.
Satu orang pria menghampirinya. Pria itu adalah Feno, ayah tiri Vin yang bekerja di toko buku tersebut.
"Yura?" panggil Feno membuat gadis itu bergegas mengusap air matanya. "Ngapain di sini? Baru balik sekolah?" tanya Feno saat melihat gadis itu masih menggunakan seragam sekolah.
Yura menggeleng pertanda bahwa ia tak ingin berkata apa pun.
"Om!" teriakan itu membuat Feno menoleh padanya. Feno menunjuk Yura dan memberi isyarat bahwa dia sedang menangis pada pria yang berteriak itu. Ia adalah William, anak pemilik toko tersebut sekaligus sepupu laki-laki Yura.
Feno menghampiri William dan memberikan kunci toko padanya. "Yura lagi nangis, kayaknya berantem lagi sama mamanya," bisik Feno pada pria yang tinggi hampir sama dengannya itu. "Om balik dulu, ya!" ucapnya dan pergi.
William menarik kursi dan duduk di hadapan Yura yang tengah duduk di lantai dan bersandar di rak buku. "Lo kenapa?" tanyanya.
"Biasalah," jawab Yura singkat dengan suara parau khas habis menangis.
"Meta ada di rumah?" tanya Yura mengenai adik perempuan William yang seusia dirinya.
"Meta juga sering berantem sama emak gue. Tadi sih dia kabur, nggak tahu ke mana. Tapi paling ntar malem balik lagi," jawab William.
"Ajak gue balik, Bang! Gue mau nginep," ucap Yura.
***
Sesampainya di rumah kediaman William. Yura langsung disambut oleh Debi, ibu dari William.
"Haloo! Yuraaa!!" jerit Debi yang langsung menghampiri keponakannya tersebut. "Duh, udah gede aja keponakan Tante!" lanjutnya.
__ADS_1
"Masih duka berantem sama Vin?" Debi malah mengungkit topik masalah di dalam hidup Yura. "Kira-kira gimana ya kabarnya keponakan Tamte yang satu itu? Kamu pernah ketemu Vin, Wil?" tanya Debi pada anaknya. William malah mengangkat bahunya pertanda bahwa ia tidak tahu.
Hal itu malah membuat Yura merasa bingung. Mengapa Vin dan William menjadi sepupu sedangkan kedua orang tua Vin tidak satu keluarga dengan ayah atau ibu William. Jelas-jelas yang merupakan sepupu William hanyalah Yura yang disebabkan Putri dan Regi merupakan dua kakak beradik. Sedangkan Vin, mengapa ia menjadi sepupu William?
***
"Nggak, Ra! Lo salah! Vin itu nggak kayak gitu! Gue temenan sama Kelvin dari kecil! Dia nggak mungkin sekasar itu!" bantah Meta begitu mendengar curahan hati Yura.
"Btw nama dia cuma Vin, nggak ada Kel-nya," ucap Yura.
"Iya, maksud gue tuh, Vin nggak mungkin kasar kayak yang lo ceritain!" jelas Meta sambil memeluk boneka Doraemon.
Kamar berwarna biru itu kini diisi dengan cerita-cerita tentang Vin.
"Pokoknya Vin itu ngancem mau sebarin ke sekolah kalau gue anak durhaka! Mama gue juga ngomel mulu, gue digampae tahu nggak?!" oceh Yura.
"Digampar? Tante Mput nampar lo? Masa iya? Bohong ya lo?" respons Meta.
"Kepala lo gila?! Lo kira gue kabur ke sini tuh gegara apaan?! Ya gegara itu!" balas Yura.
"Tadi juga gue kabur! Gegara mama gue nggak bolehin beli album K-Pop! Iihh sumpah kesel gue! Ya udah gue kabur 'kan! Eh malah ditelepon abang gue katanya ada lo di rumah. Ya udah gue balik!" Meta berhasil membuat Yura menepuk jidatnya. Dua gadis bersepupuan itu memiliki kisah yang berbeda, namun masalah yang sama yakni ibu mereka sendiri.
"Buat apaan lo album K-Pop?!" tanya Yura dengan nada meninggi.
"Ya buat koleksi! Soalnya kalau beli sekarang, bisa dapat album yang ada tamda tangannya!" jawab Meta.
"Lo nggak waras, Met!" ucap Yura yang langsung berbaring dan menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
__ADS_1
"Dih! Lo kapan pindah ke asrama, Ra? Bukannya lo nggak mau di sini?" tanya Meta.