
Putri tersenyum. "Ya udah, ini kamu beresin dulu ya? Mama masakon mi goreng," ucap Putri bergegas ke dapur.
Yura ikut tersenyum begitu melihat ibunya begitu bersemangat mendengar jawaban tersebut.
"Gitu doang ribet?" gerutu Yura pada dirinya sendiri.
Hampir dua jam Putri menghabiskan waktunya di dapur dengan bantuan beberapa asisten rumah tangga. Yura duduk di meja makan sambil menunggu.
"Sabar ya, Ra. Mama nggak pernah masak. Ini pertama kalinya," ucap Putri.
Yura terbelalak mendengar kalimat tersebut. "Jadi ini first-time?!" tanya Yura
"Ini khusus buat kamu," jawab Putri.
"Kak Rum, ambilin obat sembelit, Kak!" ucap Yura membuat Putri menoleh padanya. "Antisipasi," lanjut Yura.
"Maksud kamu, masakan Mama nggak enak sampai bikin sakit perut?!" tanya Putri.
"Ya 'kan antisipasi. Sekalian kasih tahu Papa, kalau aku mati sekarang—"
"Yura!!" teriak Putri membuat kalimat Yura terhenti. "Kamu, bener-bener ya. Pokoknya harus dimakan dulu!" tegas Putri.
"Kak Rumi aja yang cobain dulu!" ucap Yura.
"Nggak! Ini first-time buat kamu!" bantah Putri sambil menghidangkan sepiring mi goreng untuk Yura.
Bersamaan dengan itu, Angga datang dengan beberapa box makanan untuk anak gadisnya itu. Langkah Angga terhenti di depan pintu dapur begitu melihat perdebaran anak dan istrinya.
"Dari bentuknya aja kayak gini! Kayak makanan kucing!" omel Yura.
"Cobain dulu!" paksa Putri.
"Baunya juga! Kak Rumi aja yang cobain duluan! Kak Rum, cobain, Kak!" ucap Yura.
"Nggak! Ini first-time Mama masak. Harus kamu yang cobain!" paksa Putri sambil berusaha menyuapi anaknya tersebut.
"Aduh!" omel Yura. "Siapin obat sembelit, Kak Rum!" ucap Yura.
"Nggak ada sembelit-sembelit! Cobain dulu!" omel Putri.
"Astaga! Kalau dipaksa gini, boleh telepon damkar nggak sih? Minta pertolongan!" Yura ikut mengomel dan membuat para asisten rumah tangga mereka tertawa.
"Cobain dulu! Buka mulutnya!" perintah Putri.
Dengan sangat terpaksa Yura membuka mulutnya dan disuapi oleh sang ibu.
"Gimana?" tanya Putri.
__ADS_1
Yura masih berusaha mengunyah mi goreng yang fimasak oleh ibunya tersebut.
"Gimana?!" tanya Putri lagi.
"Enak sih. Cuma kok bentuknya kayak makanan kucing," gerutu Yura menyuap mi goreng itu lagi.
"Tuh 'kan! Segala mau ambil obat sembelit, telepon damkar! Orang enak gini mi gorengnya!" omel Putri.
Angga menghampiri mereka dan menaruh semua makanan yang ia beli di atas meja.
"Papa?" ucap Yura sambil terus menyuap makanan.
"Makan siang," ucap Angga.
"Tapi aku udah dimasakin Mama mi goreng. Enak sih, cuma wujudnya bikin nggak nafsu makan," ucap Yura.
"Ya, namanya juga first-time!" bantah Putri.
"Harus banyak-banyak masak! Jangan nyuruh ART mulu!" omel Yura tanpa basa-basi.
"Iya! Nanti Mama masakin. Kamu mau makan apa lagi?" tanya Putri.
"Ini aja dulu, dibenerin lagi wujudnya. Mungkin kalau ditambahkan sedikit kecap, mi-nya jadi lebih menarik. Dari pada pucet gini, kayak orang anemia," ucap Yura berlagak seperti juri perlombaan masak sambil terkekeh.
Putri ikut terkekeh. Tapi wajahnya mendadak berubah saat pandangannya tertuju pada Angga.
***
"Mama nggak kerja?" tanya Yura yang seharian ini melihat ibunya sibuk mencoba memasak menu ini dan itu.
"Mama udah berhenti. Om Regi udah dapat karyawan baru," jawab Putri. Angga juga mendengar ucapan istrinya tersebut.
"Karyawan baru? Siapa?" tanya Yura.
"Om Feno. Lumayan juga 'kan gajinya gede. Katanya sih Om Feno udah mulai mau nabung buat renovasi rumah," jawab Putri lagi.
"Wah, rugi dong kalau gajinya gede. Tapi Mama berhenti," ucap Yura.
"Lebih Rugi lagi kalau Mama kehilangan keluarga gegara pekerjaan," ucap Putri sambil terus memasak.
Yura dan Angga saling menatap. Ada rasa bersalah yang Angga rasakan terhadap istrinya tersebut.
Yura menghampiri ibunya itu. "Masak apa?" tanyanya.
"Lagi nyoba masak sayur sama goreng-gorengan, masakan sehari-hari. Kalau di rumah nenek 'kan Mama tinggal makan aja, nggak pernah masak," jawab Putri.
Yura melihat masakan yang sedang ibunya masak. "Banyak banget masaknya?!" omel Yura.
__ADS_1
"Ini buat kita semua! Buat ART juga! Ternyata masak juga seru ya!" jawab Putri dengan semangat membolak-balikkan ikan yang tengah ia goreng.
Yura melihat keringat yang mengucur di jidat dan leher ibunya itu. Tapi, Putri tak menunjukkan bahwa ia lelah. Memasak akan menjadi hobi barunya setelah berhenti bekerja.
***
Jauh di kediaman keluarga Kim. Kim Tae Young sedang berbaring menatap langit-langit kamarnya sambil melempar bola kasti ke dinding dan kembali ke genggamannya.
Darah blasteran Indo-Korea, bukanlah sebagus yang terdengar. Begitu yang Kim Tae Young rasakan saat ini. Ayahnya memiliki keluarga sah secara negara di negeri ginseng. Sementara dirinya bersama sang ibu terpaksa diasingkan ke Indonesia agar semua kebusukan itu tak terbongkar atau diketahui oleh istri sah sang ayah.
Seorang pria mengetuk pintu kamar itu dan membukanya sambil membungkuk. "Tuan muda, mobil dari Tuan Kim sudah sampai," ucapnya.
"Iya," jawab Kim Tae Young dan berjalan menemui mobil yang terparkir di halaman rumahnya tersebut. Tanpa aba-aba Kim Tae Young memasukinya dan meluncur ke sebuah pertemuan.
Di sana Tuan Kim telah berdiri menunggu anaknya tersebut. "Ini bisnis besar. Kuharap kamu bisa memperlancar semuanya," bisik Tuan Kim begitu Kim Tae Young melewatinya.
Pertemuan itu terjadi di antara dua keluarga perusahaan. "Ini Kim Tae Young?" tanya pria pemilik perusahaan yang hendak Tuan Kim ajak bekerjasama.
"Panggil saja Arnold," ucap Kim Tae Young sambil membungkuk ramah.
"Arnold? Ya, lebih mudah diucapkan oleh orang Indonesia. Ini putra tunggal Anda, Tuan Kim?" tanya pria itu lagi.
"Iya, dia siap dijodohkan dengan Jesika," jawab Tuan Kim membuat Kim Tae Young terkejut.
"Ya, Jessica sangat manja. Dia butuh sosok oria seperti Arnold. Saya harap perjodohan ini bisa mempertahankan kerjasama perusahaan kita," ucap apria yang duduk di hadapan Tuan Kim tersebut.
"Ya, saya juga berharap begitu," jawab Tuan Kim.
"Kamu masih bersekolah, Arnold?" tanya pria itu.
"Masih, Om. Saya sekolah di International High School," jawab Kim Tae Young.
"Berarti, kamu satu sekolah dengan Jesika?! Kamu kelas berapa sekarang?" tanya pria itu lagi.
"Jesika? Saya tidak pernah mendengar nama itu di sekolah. Saya kelas sebelas," jawab Kim Tae Young mencoba ramah.
"Pantas saja. Jesika baru kelas sepuluh. Tapi dia kenal kamu," jawab pria itu.
Pertrmuan itu diakhiri dengan Kim Tae Young yang pulang bersama ayahnya.
"Maechime-ikhing-eun museun ddeusin-gayo?!" tanya Kim Tae Young.
"Lakukan!" perintah sang ayah dengan singkat.
Kim Tae Young tak berani membantah, mengingat siapa dan apa statusnya dalam keluarga untuk berhadapan dengan ayahnya.
Sesampainya di rumah, Kim Tae Young langsung dihampiri oleh sang ibu. "Ada apa, Tae Young-hee?" tanyanya.
__ADS_1
Kim Tae Young berdiam diri dan memasuki kamarnya tanpa memberikan jawaban apa pun.