
"Mama nggak becus ngurusin kamu. Papa kamu maunya dia yang ngurusin kamu di Jepang. Kamu jangan bikin masalah lagi kalau di sana. Kasian Papa kamu," ucap Putri sambil terus menyeka air matanya.
"Kalau aku di Jepang, gimana?" tanya Yura.
"Mungkin kamu bakalan jadi lebih baik lagi kalau di sana bareng Papa," jawab Putri.
"Tapi aku nggak mau ke Jepang!" tegas Yura.
"Papa kamu yang mau kamu ke sana!" Putri ikut mempertegas kalimatnya.
"Tapi aku nggak mau!" tegas Yura lagi dan memilih untuk keluar dari ruangan tersebut dan duduk di kursi yang disediakan di sana. Ia termenung.
Itulah hal yang terjadi pada Yura sebelum kedatangan Angga.
***
Sedangkan di rumah kediaman Nurul dan Feno. Sore itu, Nurul mendatangi sekolah Vin dan meminta pada penjaga asrama untuk menemui anaknya yang tak pernah pulang di akhir pekan. Penjaga asrama memberikan daftar siswa yang pulang setiap pekan. Di sana Vin terdaftar setiap pekan ia pulang. Tapi Nurul tak menemuinya di rumah. Hal itu semakin membuat Nurul menggebu rasa kecewa di dadanya.
Vin datang dan bertemu ibunya di depan pagar asrama. Di sana, Vin berusaha menutupi perasaan bersalahnya terhadap Nurul. Ia takut Nurul akan kecewa padanya karena tak pernah pulang beberaoa bulan ini.
"Vin, pulang!" ucap Nurul.
"Tapi ...."
"Pulang!" tegas Nurul memotong kalimat anaknya tersebut.
"Tapi, tugasnya masih banyak, Ma!" bantah Vin.
"Kamu pilih tugas itu atau Mama?" tanya Nurul.
Vin tak bisa memilih dan hanya terdiam di hadapan ibunya itu.
"Vin!" tegas Nurul sambil meneteskan air mata. "Tugas apa yang kamu kerjain di sekolah? Acara apa yang kamu kerjain di sekolah? Kamu jangan bohongin Mama ya, Vin!" lanjutnya.
__ADS_1
"Papa yang bilang?" Vin malah melontarkan kalimat yang tak ingin Nurul dengar.
"Papa?! Jadi Papa kamu tahu alasan kamu nggak pulang?! Sejak kapan? Sejak kapan kamu jadi kayak gini, Vin?! Seminggu sekali pun sebenarnya masih kurang, Vin! Apa lagi kamu nggak pulang sama sekali kayak gini!" omel Nurul sambil menangis.
Vin tak mampu membendung rasa sedihnya akan kelecewaan Nurul hari ini. Ia ikut meneteskam air mata namun dengan cepat ia menyeka air mata itu.
"Maaf, Ma," ucap Vin.
"Jawab Mama, kamu pulang ke mana setiap hari Sabtu?" tanya Nurul.
"Aku ke rumah Ayah," jawab Vin pelan.
Hal itu semakin membuat Nurul kecewa pada anaknya itu. Ia sudah menduga ini akan terhadi
"Kenapa kamu ngelakuin ini, Vin?" tanya Nurul.
"Ayah yang minta aku buat belajar bisnis dan mengenal perusahaan," jawab Vin lagi.
"Karena hal itu, kamu nggak pulang?" Nurul berusaha menahan sesak yang ada di dadanya.
"Waktunya apa?!" tegas Nurul memotong kalimat anaknya tersebut. "Berapa bulan kamu nggak pulang? Segiti sibuknya kamu sampai nggak ada waktu buay Mama sama Papa di rumah?!" teriak Nurul semakin menjadi.
"Minggu ini aku pulang, Ma ...."
"Pulang sekarang!" Nurul sudah mencapai batas maksimum rasa sabarnya.
Ia benar-benar tidak akan membiarkan Rafa mengambil Vin begitu saja. Setelah pria itu meninggalkan mereka di saat-saat tersulit, kini dengan mudahnya Rafa melakukan ini semua.
"Aku nggak bisa sekarang, Ma," ucap Vin.
"Kenapa?! Kenapa nggak bisa pulang sekarang?!" teriak Nurul dengan air mata yang mengalir deras.
"Pihak sekolah cuma kasih izin pulang hari Sabtu dan Minggu. Sekarang baru hari Rabu, mana bisa pulang, Ma." Vin mencoba memberikan sedikit pengertian kepada ibunya itu.
__ADS_1
Namun, Nurul sudah tak bisa ditoleransi lagi. Vin bukannya tak diberi kesempatan untuk pulang sendiri. Tapi, pria itu tak memanfaatkan waktu tersebut. Kali ini Nurul yang akan membawanya pulang.
"Aku yang akan menghadap pihak sekolah, sekarang!" tegas Nurul dan hendak memasuki pagar asrama.
Vin segera menahannya. "Ma! Mama!" teriak pria itu menahan langkah sang ibu. "Ini bukan sekolah umum yang bisa datengin guru atau pihak sekolah gitu aja, Ma! Ini sekolah elite! Peraturannya beda dengan sekolah biasa!" jelas Vin lagi.
"Aku Mama kamu! Peraturan bersamaku, juga beda sama peraturan yang Rafa berikan ke kamu!" tegas Nurul.
"Iya, maaf, Ma!" ucap Vin terus berusaha menahan ibunya.
"Kamu sampai tega bohongin Mama sama Papa, Vin! Apa kamu nggak mikir gimana perasaan Mama sama Papa pas nungguin kamu pulang?! Bukan sehari dua hari, Vin. Berbulan-bulan!" teriak Nurul lagi.
Vin hanya bisa terdiam dan menahan tangisannya. Dia benar-benar merasa bersalah. Sedangkan Nurul benar-benar merasa kecewa pada anaknya tersebut.
"Kamu tahu? Mama sampai nyuruh Papa kamu bolak-balik ke sini buat jemput kamu biar bisa pulamg ke rumah! Kamu tahu, Mama nangis tiap malam cuma gegara mikirin kamu, Vin! Tapi kamu malah bohongin Mama! Kamu bohongin Papa kamu juga! Begini cara kamu perlakuin Mama sama Papa? Nggak nyangka, Vin. Mama nggak nyangka, kamu bisa sehebat ini!" ucap Nurul.
"Jadi kamu mau tinggal di rumahnya Rafa? Kamu malu hidup miskin sama Mama sama Papa?" ucap Nurul lagi.
"Nggak, Ma," jawab Vin pelan.
"Terus kamu kenapa kayak gini, Vin?!" Nurul masih tak bisa menerima bahwa Vin bisa membohonginya dengan mengatakan banyak tugas dari sekolah sebagai alasan agar ia tidak pulang dan tidak dipertanyakan.
"Aku cuma belajar tentang perusahaan yang Ayah ajarin ...."
"Terus itu semua buat apa?! Buat bikin kamu pintar bohong ke Mama?" tanya Nurul lagi.
"Nggak, Ma. Soal bohong itu, aku minta maaf. Aku takut Mama marah kalau tahu aku nginep rumah Ayah." Vin mengucapkan kalimat yang tak ingin Nurul dengar di telinganya.
"Terus kamu bohong? Justru kebohongan kamu itu yang bikin Mama sakit hati sama kamu, Vin! Kamu tega ya sama Mama. Mama nungguin kamu tiap hari Sabtu. Mama masak buat kamu, tapi kamu nggak pulang. Mama suruh Papa kamu jemput ke sekolah, tapi kamunya bilang banyak tugas nggak bisa pulang. Mama sanggup, Vin ngehidupin kamu sendirian tanpa ada Rafa. Mama sanggup besarin kamu, didik kamu, ngajarin kamu dari kecil sampai sebesar ini. Tapi Mama nggak sanggup, anak Mama yang Mama sayangi, Mama didik sebaik mungkin, malah bohongin Mama!" tegas Nurul.
Semuanya semakin membuat Vin merasa serba salah. Jika ia mengikuti apa yang Nurul mau. Maka dia akan membiarkan apa yang diinginkan oleh ayahnya. Jika ia mengikuti apa yang Rafa mau, maka ia akan menyakiti hati sang ibu. Nasib buah simalakama.
Vin tertunduk dalam. Air matanya menetes ke aspal tempat kakinya berpijak.
__ADS_1
"Kenapa aku yang berada di posisi ini?" tanya Vin sambil menangis.
"Posisi apa?! Mama nggak pernah rela kamu buat hidup sama Rafa!" tegas Nurul.