
"Udah, biarin aja," balas Vio.
"Ada-ada aja kelakuan mantan lo, Vio!" ejek Meta.
"Mau gimana lagi? Guenya cakep gini!" tegas Vio sambil mengikat rambutnya yang panjang dan lurus.
"Nggak lebih cakep dari gue sih, mohon maaf ya," balas Meta yang ikut-ikutan mengikat rambut.
***
"Bakso gue yang nggak pakai mi!" ucap Jong Woo berebutan dengan Marc mengambil tiga mangkuk bakso yang Vin bawa.
Kantin benar-benar ramai di jam istirahat pertama.
"Saosnya mana?" tanya Jong Woo melihat meja mereka yang bersih.
"Di rumah lo!" bentak Marc sambil berdiri.
"Marc sekalian ambil saos, Marc!" perintah Jong Woo.
"Ambil sendiri! Gue mau ambil kola buat minum!" ucap Marc dan berjalan ke antrian kola.
Saat mengantri, Marc malah bertemu kembali dengan Vio dan Meta. Keramaian di sana membuat Marc menyenggol punggung gadis itu.
"Apaan sih?" tanya Vio sambil menoleh.
"Ramai! Senggol-senggolan itu biasa!" balas Marc.
Marc mendapatkan kola itu terlebih dahulu. Melihat Vio dan Meta yang berebutan dengan anak yang lain, Marc malah memberikan kola itu untuk mereka.
"Nih," ucapnya sambil memberikan dua gelas kola kepada Vio.
"Gue bisa beli sendiri," ucap Vio.
"Setidaknya lo nggak ngantri lebih lama," ucap Marc.
Meta langsung merampas dua gelas kola tersebut. "Makasih, Kak!" ucapnya sambil tersenyum.
"Lo—"
"Udah! Yang penting nggak ngantri, capek kaki gue, pegel," ucap Meta dan mengajak temannya itu untuk duduk kembali ke meja mereka.
***
Kim Tae Young juga berada di kantin dan melihat Meta serta Vio yang hanya makan berdua. Dia menyadari sesuatu bahwa Yura tidak bersama mereka. Pria itu menghampiri mereka.
"Mana Yura?" tanyanya.
__ADS_1
Meta langsung menghela napas. Pertanda ia tak menyukai kehadiran pria itu.
"Mana Yura?!" tegas Kim Tae Young.
"Di asrama!" teriak Vio.
"Kenapa dia nggak sekolah?" tanya Kim Tae Young lagi.
"Kepalanya belum sembuh! Dia anemia gegara kejadian malam kemaren!" bentak Vio.
***
Marc melihat Vio yang meneriaki Kim Tae Young itu.
"Mereka ada masalah apa sama Arnold?" tanya Marc dan membuat ke dua temannya ikut menoleh ke arah Meta dan Vio.
"Kayaknya urusan Yura," jawab Vin.
"Oh iya, gue baru sadar. Yura ke mana? Kok nggak ikut sama temennya?" tanya Jong Woo.
"Dia kurang darah gegara kejadian di acara kemaren. Berdiri juga masih suka pusing," jawab Vin.
"Prethayata gimana?" tanya Jong Woo lagi.
"Kena skorsing dua minggu," jawab Marc. "Apa Arnold bakalan gangguin Vio sama Meta kalau nggak ada Yura?" tanya Marc.
"Kayaknya nggak deh, dia cuma mau gangguin Yura," jawab Vin.
***
"Gue kenapa sih?!" teriak Marc di dalam kamar mandi. Ia menyalakan shower dan membiarkan air itu membasahi tubuhnya.
Bayangan Vio terus muncul setiap ia menutup mata. Senyuman yang dulu pernah ada untuknya dan juga air mata yang tertumpah karenanya, semua menjadi satu adegan di dalam otak Marc.
"Kayaknya gue harus nyari cewek deh. Kenapa pikiran gue ke Vio terus?!" omelnya pada diri sendiri.
"Lo jahat, Marc!" Kalimat itu membuat mata Marc terbuka lebar. Kejadian saat Vio mengetahui apa yang Marc perbuat.
Marc mengacak rambutnya dengan kasar. Kepalanya dipenuhi oleh Violin yang kini datang kembali ke kehidupannya. Ia akui bahwa tidak ada wanita seperti Vio. Gadis itu adalah satu-satunya sosok yang Marc sakiti. Marc memang dekat dengan banyak wanita dan mereka semua menginginkan kekasih seperti Marc.
Tapi, setiap kali Marc mencoba menjalin cinta pada mereka. Selalu diakhiri dengan hati Marc yang disakiti. Vio adalah wanita pertama dan satu-satunya yang Marc sakiti, dan kini Marc menyesali perbuatannya itu.
"Aarghh!!" teriak Marc di tengah guyuran air shower.
***
Hari ini Marc akan membuat Vio kembali menjadi miliknya dengan cara mendekati Meta. Gadis itu cukup dekat dengan Vio. Setidaknya jika dia berhasil mendekati Meta, dia akan menjadi dekat juga dengan Vio secara otomatis.
__ADS_1
"Buat lo!" ucap Marc menaruh sebotol minuman di atas meja Meta dan pergi begitu saja.
"Hah?! Nggak salah orang?" tanya Meta.
"Buang aja, Met," ucap Vio. "Kayaknya dia mau deketin lo," lanjutnya.
"Kenapa? Kok gue?! Oh gue tahu, mungkin dia mau ngasih lo, tapi salah orang. Nah, ini gue kasih ke lo ya, Vio," ucap Meta memberikan botol minuman itu kepada Vio.
"Nggak, Met. Dia mau deketin lo, dan itu pasti ada tujuannya," bantah Vio.
"Nggak, Vi. Gue yakin seratus persen. Dia itu mau ngasih lo, cuma karena dia buru-buru jadi dia ngasihnya nggak lihat dulu," ucap Meta.
"Gue tahu dia kayak gimana, Met," ucap Vio.
***
Siang itu juga, Meta mendatangi Marc di kantin dan membawa botol minuman itu. Ia menaruhnya di depan Marc, Jong Woo dan Vin.
"Ini maksudnya gimana ya, Kak?" tanya Meta membuat Jong Woo dan Vin mengernyitkan dahi akibat tak mengerti.
"Oh ini kola rasa jeruk. Emang rada aneh sih—"
"Bukan gitu! Ini maksudnya apa ya, Kak Marc?" bantah Meta memotong kalimat Jong Woo.
"Hah?! Lo abis ngapain sama dia, Marc?!" Vin langsung menaikkan nada bicaranya karena mengetahui Marc berurusan dengan sepupunya tersebut.
"Gue cuma ngasih dia ini, apa salahnya?" tanya Marc.
"Iya, maksudnya apa?! Kok nggak ada angin, nggak ada hujan, badai, angin ribut. Tiba-tiba ngasih minuman?" Meta balik bertanya.
"Emangnya ngasih harus ada alasan?" tanya Marc lagi.
"Ya ... nggak sih," jawab Meta sambil mengambil minuman itu dan kembali ke meja di mana tempat Vio duduk dan menikmati makanannya.
"Kayaknya lo bener, Vi. Masa iya dia ngasih tanpa alasan, pasti ada apa-apanya!" tegas Meta.
"Itu karena dia mau deketin lo!" ucap Vio.
"Dih, lo jangan gitu dong! Gue 'kan jadi takut. Lo tahu sendiri Kak Marc kayak gimana. Dia 'kan si mesum di kelas 2!" ucap Meta sambil berlagak merinding.
"Gue 'kan udah pernah sama dia, Met. Gue tahu dia bakalan kayak gimana!" ucap Vio dan kembali menyantap makanannya.
"Ya, nggak gitu juga dong!" bantah Meta.
"Pasti habis nih, dia bakalan nyelipin cokelat di dalam tas lo," ucap Vio.
"Dih, Violin! Gue takut!" omel Meta.
__ADS_1
Sepulang sekolah, mereka kembali ke asrama. Prediksi Vio, benar. Meta membuka tasnya dan hendak menyusun buku. Satu cokelat diselipkan di dalam tasnya.
"VIOOOOO!!" teriak Meta membuat Yura dan Vio terkejut mendengar teriakannya itu. "Vi! Tolongin gue, Vi! Ra! Tolongin gue, Ra! Gue nggak mau diginiin, Ra! Gue takut, sumpah!" jerit Meta sambil mengangkat cokelat yang Marc selipkan ke dalam tasnya.