Hipotalamus

Hipotalamus
B*tch


__ADS_3

"Kenapa?" tanya Yura. "Dia ngadu soal aku bilang dia 'b*tch' ya, Pa?" lanjutnya.


Angga hanya mengangguk.


"Dia duluan yang kegatelan. Udah tahu Papa punya istri dan aku anaknya. Kalau bukan b*tch. Apa lagi namanya?!" tegas Yura sambil menatap Ayumi kejam.


Tiba-tiba Ayumi menangis seolah dirinya lemah dan tak berdaya.


"Tiba-tiba tangan gatel ya pengen mukul orang," ucap Yura menggaruk telapak tangannya.


Angga mengucapkan sesuatu kepada Ayumi dan mengajak Yura masuk kembali ke dalam rumah mereka untuk menikmati film kartun.


"Kenapa, Ngga? Kok lama?" tanya sang ibu.


"Ada ...."


"Ada cewek kegatelan, Nek!" Yura langsung menyambar pertanyaan neneknya itu.


"Hah?! Siapa?" tanyanya.


"Ayumi," ucap Yura.


Seketika sang nenek menoleh pada Angga. "Kamu masih deket sama Ayumi, Ngga?" tanyanya.


"Ya deket sebagai rekan kerja, Ma," jawab Angga.


"Terus kata Yura tadi dia kegatelan!" bantah sang ibu.


"Kayak yang dulu dia lakuin ke Putri," jawab Angga singkat.


"Oh, dia pernah gituin Mama juga?" tanya Yura.


"Iya!" Neneknya langsung menjawab. "Dari dulu Ayumi tuh ngejar-ngejar papa kamu, Ra. Cuma ya nggak kesampean. Dulu dia ngancem mama kamu buat bikin hancur hubungannya. Eh, sekarang dia ngancem kamu," lanjutnya.

__ADS_1


"Emang udah gatel dari sananya berarti," ucap Yura.


"Yura, kamu nggak boleh ngomong gitu, Nak," ucap Angga.


"Ya terus ngomongnya gimana? Ada ya manusia model begitu di muka bumi?" balas Yura.


"Tante Ayumi itu anak broken home. Jadi, Papa cuma kesian aja sama dia," ucap Angga.


"Iya, sekarang dia nyaman dikasihani! Makanya dikit-dikit pura-pura nangis. Pura-pura lemah depan Papa. Pas nggak ada Papa, muncul sifat aslinya yang kayak iblis! Udah tahu Papa punya istri sama anak. Masa mah dideketin. Nggak tahu diri!" balas Yura lagi.


"Nggak boleh ngomong kasar gitu, Nak. Udah jangan bahas Tante Ayumi lagi. Kita nonton aja," ucap Angga.


"Dih, jadi nggak seru deh nontonnya gegara kedatengan jelangkung!" ucap Yura berjalan memasuki kamarnya.


"Kan Mama udah pernah bilang ke kamu, Ngga! Jangan berhubungan lagi sama Ayumi! Apa lagi sekarang kamu udah punya Yura di sini! Dia pasti nggak suka sama Ayumi! Mama juga nggak suka sama dia! Kamu nggak mikirin perasaan Yura sama Putri gimana kalau tahu kamu deket sama Ayumi?!" omel sang ibu.


"Mau nggak deket kayak gimana, Ma? Dia temem kerja aku!" bantah Angga.


***


Setelah berbulan-bulan Vin tak menemui ibunya, kini keluarga yang Nurul miliki bersama Feno mulai goyah. Rasa rindu itu tak bisa Nurul pungkiri. Namun, Feno terus memintanya untuk bersabar dan membiarkan Vin memilih jalan hidupnya sendiri.


"Kamu nggak ngerasain, Fen. Kamu nggak bakalan tahu gimana rasanya jadi aku!" Nurul membelakangi suaminya yang sedang berbaring di kasur. Air mata menjadi bukti betapa sakit hatinya saat ini.


"Kamu juga nggak bakalan tahu gimana rasanya jadi Vin!" balas Feno.


"Kenapa? Aku ibunya! Dia anakku! Aku berhak bikin dia tetap berada di rumah ini!" tegas Nurul.


"Dan Vin juga berhak membantu ayahnya," jawab Feno yang mengubah posisinya menjadi duduk. Masih ia pandangi pundak Nurul yang gemetar akibat tangisan yang ditahan oleh pemiliknya.


"Tapi aku ibunya! Rafa nggak pernah ngurusin Vin! Kamu yang ngurusin Vin dari kecil! Kamu yang jadi sosok bapak buat dia!" balas Nurul lagi.


"Aku cuma sosok. Rafa itu ayah aslinya. Coba kamu pikir lagi. Vin dari kecil nggak pernah ketemu keluarga kamu. Vin malah lebih dekat sama keluarga Putri. Di usia segini, dia malah tahu kalau aku bukan ayahnya. Apa dia yang minta semua ini terjadi?" ucap Feno mencoba menasihasi istrinya dengan lemah lembut.

__ADS_1


Tapi, tetap saja Nurul menangis dan tak mau tahu. "Dia dari kecil tinggal di sini sama kita, Fen! Masa pas udah gede gini, tiba-tiba Rafa mau ambil dia!"


"Nggak ada kata ambil! Vin punya kaki sendiri. Dia juga bukan anak kecil lagi. Vin bisa nentuin ke mana dia harus melangkah. Aku percaya sama Vin!" ucap Feno.


"Gimana kalau soal perusahaan dan penyakit yang Rafa punya itu cuma akal-akalan dia buat dapetin Vin!" Nurul benar-benar didominasi oleh rasa takut dan benci terhadap Rafa.


"Hus! Nggak baik mikirin yang kayak gitu. Kamu itu seorang ibu! Apa pun yang pikirin, bosa jadi kenyataan!" balas Feno agar istrinya tak memikirkan hal yang buruk-buruk lagi tentang anaknya.


"Tapi itu bisa aja terjadi, Fen!" bentak Nurul.


Feno menghampiri istrinya itu dan memeluknya dari belakang sambil berbaring. Ia mengusap-usap pundak Nurul agar wanita kesayangannya itu berhenti menangis. "Udah. Vin tahu kok, kamu mamanya. Nggak mungkin dia lupain kamu gitu aja. Dia pasti balik ke sini lagi," ucap Feno.


"Iya, balik. Tapi kapan? Apa jangan-jangan dia balik ke sini pas udah mau nikah. Datang cuma buat minta restu. Sekalinya ketemu malah udah harus sibuk ngurusin keluarganya, sedangkan aku belum puas manjain dia, sayang-sayangin dia!" omel Nurul dengan air mata yang semakin berderai.


"Emangnya Vin udah punya calon istri? Umurnya aja baru delapan belas tahun. Syarat nikah di KUA aja minimal dua puluh satu tahun. Belum cukup," balas Feno.


"Bisa aja, pas lulus sekolah malah dia ke sini bawa cewek buat dinikahin. Secara, dia pasti dibiayain Rafa." Nurul kembali menangis.


"Udah, nggak apa-apa. Kalau Vin mau nikah, itu artinya dia normal. Dari pada dia nggak mau nikah, tahu-tahunya suka sama cowok, gimana?" goda Feno.


"Iiihhh! Aku serius!" balas Nurul.


"Iya-iya, Bidadariku. Udah nggak ada yang perlu dikhawatirin," ucap Feno dan memberikan sebuah kecupan di pundak Nurul.


"Udah, tidur aja. Besok mau kerja! Aku capek nangis mulu!" omel Nurul pada suaminya itu.


"Lah, siapa yang nyuruh nangis-nangis," balas Feno sambil terkekeh.


"Iiih! Udah tidur aja! Jangan dibahas lagi!" Nurul masih mengomel.


"Iya-iya! Sini tidurnya deketan. Jangan jauh-jauh! Nanti jatoh, sakit!" omel Feno sambil menarik istrinya agar lebih mendekat padanya.


Keesokan harinya, Nurul dan Feno berangkat ke Gibi. Di sana ia mendapati Putri dengan wajah kusam serta rambut yang acak-acakan. Untuk merawat diri pun Putri tak sanggup. Ia benar-benar sudah kehilangan akalnya saat ini. Ia merasakan kesendirian. Kini ia jauh dari Angga dan Yura.

__ADS_1


"Biasanya ada Yura yang bisa gue omelin, Nur," ucap Putri dengan lemas. Kantung matanya ikut menghitam dan kendor. Tampak jelas seberapa depresinya wanita satu anak itu.


__ADS_2