Hipotalamus

Hipotalamus
TAMAT


__ADS_3

Vin mulai curiga pada ayahnya yang sering pergi hingga tengah malam. Rafa juga tak terlihat di kantor perusahaan.


"Ya, mungkin Tuan Rafa punya kesibukan lain," jawab Nia begitu ia mendengar keluh kesah Vin pasal ayahnya tersebut.


"Sibuk apa? Yang ngurusin ini itu di kantor juga masih gue. Kalo pun ke rumah sakit, ngapain sampai tengah malem?" balas Vin lagi.


"Tapi 'kan nggak semuanya harus diceritain ke lo, Kak Vin!" tegas Nia.


"Apa jangan-jangan bokap gue main cewek ya?" lanjut Vin.


"Hush!! Sembarangan mulut lo!" tegas Nia.


"Gue nggak sembarangan! Emang ada pelayan yang liat bokap gue lagi nelepon cewek!" omel Vin.


"Ya udah sih! Gue capek! Pusing kepala gue tuh!" ucap Nia dan berbaring di sofa kamar Vin.


Hingga sore tiba, Nia tak kunjung terbangun. Dengan sengaja Vin berbicara kencang agar gadis itu tersadar. Namun, sia-sia saja. Nia tetap memejamkan matanya.


"Nia!" teriak Vin di depan wajahnya.


Nia bergidik dan terbangun. Ia membuka mata perlahan. "Kenapa sih?!" omelnya.


"Udah sore! Lo mau makan gaji buta?!" umpat Vin.


"Aduh, gue mau istirahat dulu, Kak. Kayaknya gue nggak enak badan," ucap Nia dan berdiri. Tiba-tiba gadis itu terjatuh ke arah Vin dan tak sadarkan diri.


"Nia!" teriak Vin. Tanpa pikir panjang ia menggendong gadis itu untuk berbaring di kasurnya dan mengecek suhu tubuh Nia.


"Lo demam?" tanya Vin pada gadis yang tak sadarkan diri itu.


Vin ke luar kamar dan meminta salah satu pelayan untuk menyediakan kompres.


Vin memegangi tangan Nia sambil mengompres keningnya. Vin kembali duduk di pinggiran kasur dan terus memegangi tangan Nia. Ada perasaan nyaman akan tangan mungil dan halus itu. Tiba-tiba mata Vin tertuju pada tangan mereka. Seolah detak jantungnya sedang dipaju untuk berlari mengitari lapangan golf.


Kok gue deg-degan?


Vin melepaskan tangan gadis itu dan menyelimutinya.


***


Sejak kejadian Nia jatuh sakit itu, Vin menjadi salah tingkah setiap kali gadis itu memasuki kamarnya. Vin juga mulai membatasi apa-apa saja yang tidak boleh Nia lakukan di kamarnya.


"Lo kenapa sih?!" bentak Nia yang merasa aneh pada sikap tuan mudanya tersebut. "Biasanya juga gue yang beresin buku lo!" lanjutnya.


"Mulai sekarang, lo nggak boleh nyentuh buku-buku gue!" tegas Vin.


"Apaan sih, Kak?! Aneh!" umpat Nia dan mulai bermain ponsel.


Vin membuka lembar bukunya secara diam-diam dan merobek kertas yang pernah ia coret-coret itu. Kata-kata cinta terlalu banyak ia ungkapkan di dalam buku tersebut, itulah sebab Vin tak ingin Nia mengetahuinya.


***


Siang itu, Yura berkunjung ke rumah kediaman Rafa untuk menjenguk pamannya tersebut. Di sana Vin kembali bertemu dengan wanita itu. Tapi, kini semuanya terasa berbeda. Vin tak lagi merasakan rasa sakit itu terhadap Yura.

__ADS_1


Saat Vin kembali ke kamarnya dan membiarkan Yura mengobrol dengan sang ayah, dengan santai Nia berbaring sambil memainkam game online di ponselnya.


"Ada Yura," ucap Vin mengejutkan Nia.


"Kak Yura?!" teriak Nia tak percaya. Ia sampai meninggalkan permainannya hanya untuk mengintip ke luar kamar. Yura benar-benar berada di ruang tamu.


"Lo nggak boleh ke luar!" tegas Nia menutup pintu kamar itu dengan rapat.


Vin menarik salah satu alisnya. "Kenapa?" tanyanya.


"Ntar lo sakit hati lagi!" tegas Nia.


"Emangnya kenapa kalo gue sakit hati?" tanya Vin lagi.


"Kalo lo sakit hati, ntar pasti lo neriakin gue! Marah-marah nggak jelas!" balas Nia.


Vin mendekati gadis itu. Nia berusaha mengamankan pintu kamar. Tapi tujuan Vin bukanlah pintu, melainkan gadis yang berhasil membuatnya sembuh dari rasa sakit.


Vin mengunci pergerakan Nia dengan kedua tangannya yang bertumpu pada pintu di belakang Nia. Wajah mereka sangat dekat.


"Lo mau ngapain, Kak?! Jangan macem-macem!" jerit Nia.


"Gue suka sama lo," ucap Vin santai.


"Ha?!" pekik Nia. "Lo jangan becanda kayak ginian, Kak! Gue takut, suer! Lo kayak pedofil tahu nggak?!" balas Nia dan membuat Vin terkekeh.


"Pedofil? Lo udah bau tanah gini!" bantah Vin.


Sebuah ciuman mendarat di bibir gadis yang cerewet itu.


Nia mendorong Vin sekuat tenaganya. "Aaarghhhh!!! Kak Viiinn!!" teriak gadis itu dan berlari ke luar kamar.


Jeritan Nia menjadi pusat perhatian Yura dan Rafa.


"Ada apa, Nia?" tanya Rafa.


"Tuan Muda .... Tuan Muda sinting, gila, nggak waras, kesurupan setan!" jerit Nia yang terus berlari menuruni tangga dengan Vin yang menyusul di belakangnya. "Aaarghhh!!" teriak Nia mendekati Rafa dan Yura demi mencari perlindungan.


"Lo kenapa sih?!" bentak Yura.


"Kak Vin Gila!" teriak Nia.


"Lo apain dia, Vin?" tanya Yura.


"Gue cuma bilang gue suka sama dia," jawab Vin.


"Hah?!" Rafa dan Yura saling menoleh.


"Aarghhh!!" teriak Nia lagi.


***


Usaha Vin untuk mendapatkan Nia melalui ciuman pertama membuahkan hasil. Rafa juga tidak mempermasalahkan status mereka. Meski banyak pelayan yang mencemooh Nia, pernikahan itu tetap terjadi. Yura dan Kim Tae Young berfoto bersama Nia, Vin, Rafa dan Nurul di atas pelaminan.

__ADS_1


"Habis ini kita USG," ucap Kim Tae Young.


"USG?! Aku capek, Nold!" omel Yura.


"Kita udah dua bulan nggak cek, Ra," Kim Tae Young mencoba untuk tenang.


"Baru dua bulan! Masih bisa besok-besok! Aku capek! Kamu mah iya enak cuma duduk, makan. Aku nih ke mana-mana bawa perut! Dikira nggak sakit apa? Pegel loh kaki tuh! Pinggang juga pegel! Kepala pusing! Ini itu mual!" omel Yura mengundang perhatian para tamu undangan.


"Iya-iya! Besok!" balas Kim Tae Young demi menghindari perdebatan.


"Anak lo cewek apa cowok, Ra?" tanya Vin.


"Lah mana gue tau! Berojol aja belum!" omel Yura lagi.


"Sabar, Sayang!" ucap Kim Tae Young.


"Udah sabar ini! Vin nih! Nanya yang nggak-nggak!" balas Yura.


"Lah kok gue?" bantah Vin.


"Ya lo! Nanya nggak pake otak! Anak belum lahir udah ditanyain cowok apa cewek!" omel Yura lagi.


"Lah—"


"Maklumin, Vin. Lagi hamil, hormon," ucap Kim Tae Young


"Ya, hormon sih hormon. Tapi kalo kayak gini, mending dimasukin ke kandang Singa," ucap Nia.


"Ngomong apa lo barusan?" tanya Yura dan berjalan menghemampiri Nia.


"Lo mukul bini gue, gue ... gue ... gue pukulin suami lo!" ancam Vin sambil berusaha melindungi Nia dari jangkauan Yura.


"Ya udah, pukulin aja sono! Mana bini lo! Gue remas mulutnya pake cabe!" omel Yura.


"Yura, udah, Ra!" Kim Tae Young berusaha mengamankan bumil itu.


"Sini lo! Singa kata lo? Sini gue kasih tahu gimana rasanya dicakar Singa!" omel Yura.


Nia terus berusaha berlindung di belakang Vin.


"Sini lo! Baru jadi istrinya Vin aja, songong!" teriak Yura.


Pertengkaran itu menarik perhatian para tamu undangan. Yura berhasil mendapatkan Nia dan menarik gaun dress putih yang tengah ia kenakan.


"Ra, udah, Ra!" ucap Vin. "Jagain istri lo, Nold! Nggak becus amat jagain istri!" teriak Vin.


"Ya salah istri lo punya mulut nggak dijaga! Emang Yura hormonnya lagi nggak sabil, makannya dia ngamuk, wajar!" balas Kim Tae Young.


Yura menarik gaun dress itu dengan sekuat tenaga, hingga baju yamg dikenakan itu sobek di bagian roknya.


"Raaa, Yuraaaa!!!" Semua orang dipanikkan akan keanehan ibu hamil yang satu itu.


[Tamat]

__ADS_1


__ADS_2