
Keesokan harinya, Jong Woo dan Marc sudah menyiapkan sebuah kado. Bertepatan dengan itu, Vio berlalu di depan kelas mereka. Vio juga memasuki kelas seniornya itu.
"Dia ke sini, Jong!" ucap Marc kalang kabut.
"Biasa aja!" tegas Jong Woo.
Namun, Vio menghampiri Kim Tae Young.
"Arnold?" desah Marc.
"Oke, minggu depan ya," ucap Vio. Kim Tae Young juga tersenyum pada gadis itu.
Saat Vio berada di luar kelas, Jong Woo dan Marc mengejarnya.
"Vi! Vio!" panggil Marc dan membuat gadis itu menoleh.
"Ini," ucap Marc sambil memberikan kotak kado berwarna hitam.
"Apaan nih?" tanya Vio.
Tiba-tiba lidah Marc mendadak kaku. Ia tak sanggup mengatakan bahwa ia memberikan boneka itu untuk mantan kekasihnya. Marc juga tidak sanggup mengakui bahwa ia masih mengharapkan Vio dan menyeesali karma yang terjadi saat ini.
"Ini kado, dari Jong Woo!" tegas Marc membuat temannya itu terbelalak.
"Gue?" tanya Jong Woo.
Vio malah mengingat bahwa kemarin Jong Woo sempat berkata ingin membelikannya sebuah boneka gantungan resleting tas.
"Makasih," ucap Vio dan mengambil kado tersebut.
***
Sejak saat itu, Vio jadi lebih sering memerhatikan gantungan resleting tasnya yang merupakan sosok boneka beruang berwarna hitam dengan mata yang lucu.
"Kenapa lo?!" tanya Yura membuat Vio yang sedari tadi memerhatikan gantungan tasnya menjadi terkejut.
"Bagus nggak?" Vio menunjukkan boneka tersebut.
"Hitam? Gue kira kodam lo tadi muncul di situ!" ejek Yura.
"Iri lo?!" balas Vio.
"Diiih, imuut! Beli di mana, Vi? Emang ada ya boneka warna hitam?" Meta adalah yang menyukai boneka tersebut.
***
Hari ini Jong Woo dan Marc menunggu Vio ke luar dari asrama dan mengajaknya berjalan menuju sekolah bersama.
"Pokoknya, ntar kalau dia ke luar. Lo langsung tarik tangannya terus ajak dia jalan bareng ke sekolah!" ucap Jong Woo.
"Aduh, keringetan tangan gue!" keluh Marc sambil mengelap telapak tangannya yang mendadak berkeringat.
Vio dan Meta ke luar dari asrama. Marc dan Jong Woo melihat mereka berdua.
__ADS_1
"Aduh, Jong! Perut gue mendadak sakit!" ucap Marc yang mencoba menahan rasa sakitnya. Namun, semakin Vio mendekat ke arah mereka. Rasa sakit itu bertambah parahnya. "Gue nggak tahan, Jong!" ucap Marc dan kabur ke toilet.
"Halo, Kak Jong Woo!" sapa Meta pada Jong Woo yang berdiri di depan pagar asrama.
"Kenapa berdiri di depan asrama cewek?" tanya Vio.
"Nungguin lo. Tadinya mau ngajakin lo ke sekolah bareng, tapi —"
"Uhuuuyyyy!! Jadian?" goda Meta memotong kalimat Jong Woo.
"Jadian, kepala lo kotak!" umpat Vio. "Jadi mau ngapain?" tanya Vio lagi.
"Nggak jadi deh," ucap Jong Woo yang hendak pergi. Namun, Meta terlebih dulu menghentikan langkah kakak kelasnya tersebut.
"Nggak apa-apa, Kak. Aku aja yang ke sekolah sendirian. Nasib jomblo gini amat!" ucap Meta. "Gue ke sekolah duluan ya! Bye, Vio!" lanjutnya dan berlari menuju sekolah.
"Met!! Metaa!!" teriak Vio memanggil temannya itu namun Meta terus berlari tanpa menghiraukan.
Vio dan Jong Woo saling menatap dan menggaruk kepala mereka yang tidak gatal. Mereka juga tidak tahu harus melakukan apa. Suasana mendadak kikuk karena tingkah Meta beberapa menit yang lalu.
***
Jong Woo dan Marc membawa sebuah tiket untuk menonton bioskop.
"Lo aja yang ngasih!" Jong Woo menaruh tiket itu ke genggaman Marc.
"Lo aja, Jong! Gue nggak berani!" ucal Marc.
"Kasih aja, apa susahnya!" omel Jong Woo.
"Ya emang kenyataannya gitu! Mau gimana lagi?!" Jong Woo memberikan tiket itu pada Marc.
"Gue malu, Jong! Bantuin gue lah! Masa iya lo sejahat ini sama gue, Jong?" Marc mulai memaksa.
"Lah, lo yang selingkuhin dia. Lo juga yang harus tanggungjawab sama perasaan lo!" tegas Jong Woo.
"Ngelihat mukanya aja gue nggak sanggup, Jong! Gue mendadak tremor! Bantuin dong, Jong!" Marc semakin panik karena mendapati kehadiran Vio dari kejauhan yang sedang berjalan bersama Yura dan Meta.
"Jadi gimana rasanya ngarepin mantan, Marc?" ejek Vin yang datang tiba-tiba sambil menepuk pundak Marc.
"Diem mulut lo, Sialan!" umpat Marc yang malah membawa tiket itu masuk ke dalam kelasnya.
"Lah! Marc! Itu dia! Kasih, buru!" teriak Jong Woo.
***
Siang ini, dikantin. Jong Woo, Vin dan Marc sedang menikmati waktu istirahat. Mata Marc terus menatap ke arah Vio yang makan sendirian. Kali ini, gadis itu terlihat sedikit aneh. Ia membawa buku tulis ke mana-mana.
"Dia suka sama cowok ya?" tanya Marc.
"Siapa?" tanya Vin.
"Vio," jawab Marc singkat.
__ADS_1
"Mana gue tahu," jawab Vin.
"Biasanya kalau dia lagi suka sama cowok, dia bakalan bikin kata-kata puitis di kertas. Kayaknya Vio lagi suka sama cowok," jelas Marc.
"Puitis? Emamg Vio bisa puitis?" tanya Jong Woo.
"Jangan kenceng-kenceng ngomongnya! Ntar kedengeran!" omel Vin.
"Bantu gue nyari tahu soal Vio, Jong," ucap Marc.
"Gue lagi? Gantianlah sama Vin!" bantah Jong Woo.
"Gue nggak bisa! Ada urusan!" ucap Vin.
"Gue juga ada urusan!" bantah Jong Woo lagi.
"Iya, urusan lo adalah bantuin gue," ucap Marc.
"Bisa botak kepala gue lama-lama, Marc!" umpat Jong Woo pada temannya tersebut.
***
Kali ini Jong Woo dipaksa untuk ikut ke dalam kasus buku tulis yang sering dibawa oleh Vio. Di sana Marc dan Jong Woo juga mengikuti Vio ke lapangan basket. Gadis itu menemui Kim Tae Young.
"Ngapain dia ngobrol sama Arnold lagi?" tanya Marc.
"Apa jangan-jangan dia suka sama Arnold?" tebak Jong Woo yang langsung mendapatkan pukulan di kepalanya oleh Marc.
"Nggak mungkin!" bantah pria itu dengan cepat.
"Mungkin aja sih," ucap Jong Woo sambil mengusap kepalanya yang masih terasa nyeri.
"Bukannya itu Yura sama Meta? Mereka ngapain ngintip-ngintip gitu?" tanya Marc yang merasa heran akan gelagat ke dua teman Violin yang dilihatnya dari kejauhan.
"Apa mereka juga penasaran sama buku tulis itu?" tanya Jong Woo.
"Kayaknya. Tapi masa iya sih Vio suka sama Arnold?!" bantah Marc lagi.
"Emangnya kenapa sih, Marc? Yang punya hati 'kan Vio, kenapa lo yang ngatur?!" omel Jong Woo.
"Nggak boleh! Pokoknya nggak boleh! Vio cuma boleh sama gue!" tegas Marc.
"Ya udah kalau dia cuma boleh sama lo, lo kasih aja tiket bioskopnya, Ege!" Jong Woo mulai terbakar api emosi menghadapi temannya tersebut.
***
Saat jam istirahat selesai, Jong Woo dan Marc menghampiri meja Kim Tae Young.
"Punya hubungan apa lo sama Violin?" tanya Marc.
"Vio?" Kim Tae Young mengingat-ingat siapa pemilik nama tersebut.
"Ya! Violini wae nong-gujang-eseo neol mannasseo?" tanya Jong Woo dengan bahasa Korea.
__ADS_1
"Aah! Violini?" Kim Tae Young baru mengingat siapa Vio atas pertanyaan yang Jong Woo ajukan mengenai gadis yang menemuinya di lapangan basket tadi. "Geu neun eomeoni leul mannal su issdolog yagsog-eul jab-adallago haessseubnida. Geu neun joh-eul gogaeg-ibnida. Mwoya?" lanjutnya.
"Pelanggan apaan?" tanya Jong Woo.