Hipotalamus

Hipotalamus
Berarti Pacaran Dong


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Kayuki terus mengoceh dan menanyakan banyak hal pada Yura.


"Berarti lo pernah pacaran dong sama cowok yang tadi!" ucap Kayuki.


"Arnold? Gila kali lo! Ngapain juga gue pacaran sama cowok kayak gitu?" bantah Yura dengan cepat.


"Tadi dia bilang lo sama dia nggak pernah putus, berarti pacaran dong!" Kayuki ikut membantah.


***


Angga mendapat informasi tentang Yura yang pulang ke Indonesia tanpa berpamitan pada dirinya termasuk kedua orang tuanya dari Kayuki yang kini menginap di rumah mereka. Hal ini memicu emosi seorang Angga. Ia sempat berpikir, wajar saja jika Putri dan Yura sering bertengkar. Karena, anak gadis mereka memang seperti ini.


Angga juga berangkat ke Indonesia demi mencegah hal-hal yang tidak terjadi akan diucapkan oleh Yura kepasa ibunya. Namun, kemarahan Angga hari itu dibungkam oleh pemandangan istrinya yang sedang mengepel dengan keringat membanjiri wajah dan tubuhnya.


Bukannya kelelahan, Putri malah bersenandung menikmati pekerjaannya tersebut. Tiba-tiba gadis itu terdiam dan merenung sambil menopang dagu dengan tongkat pel. Angga ikut berdiam diri memerhatikan istrinya di dapur.


"Tugas suami itu memanjakan istrinya!" omel Putri membuat Angga terkejut.


"Iya! Gue simpen buat istri gue!" ucap Putri lagi. Memperagakan kalimat yang dulu pernah Angga ucapkan saat mereka masih di Sekolah Menengah dan mendapatkan hukuman membersihkan bersama-sama di toilet.


"Ya, jangan disimpen dong, 'kan istrinya ada di sini!" lanjut Putri lagi.


"Mau gue sikat moncong lo?!" Putri membuat suara berat seolah-olah dia sedang berbicara kepada Angga.


Tiba-tiba Angga mengingat sesuatu yang samar-samar di dalam otaknya. Kepala Angga mendadak berat. Aliran darahnya tersumbat. Ia berjalan menghampiri Putri.


"Put," panggilnya lemah.


"Angga?!" Putri ikut terkejut akan kehadiran suaminya itu. Ia segera menghampiri karena Angga kehilangan kendali pada tubuhnya sendiri.


Angga menghamburkan tubuhnya ke Putri. Tubuhnya mendadak lemas dan jatuh pingsan di lantai dapur yang masih basah.


"Yuraaa!! Kayuki!! Tolong!" teriak Putri.

__ADS_1


Kayuki yang baru saja keluar dari kamar mandi dan melihat Yura berlari, ikut berlari mengejarnya ke dapur.


Lantai dapur terlalu licin hingga Yura terpeleset dan hampir terjatuh. Untungnya Kayuki memegang kedua pundak Yura untuk berdiri tegak.


***


Selama pingsan, Angga memimpin semua memorialnya yang sempat hilang dari ingatan. Termasuk Nata-chan dan Putri. Semua hal yang mengubah kehidupannya.


Saat terbangun, Angga mendengar suara Putri sedang mengobrol di dekatnya.


"Iya, karena Mama nggak punya kegiatan lain. Makanya Mama bantuin Om Regi buat jaga Gibi. Lagian uangnya juga lumayan. Om Regi nggak pelit. Dulunya, Gibi itu belum punya nama. Gibi itu muncul pas Tante Debi ngelahirin Meta. Pas lahiran William juga belum ada namanya. Mama menikmati kerja sama Om Regi. Mama bisa berantem sama Om Regi setiap hari. Kalau di rumah, Mama mau berantem sama siapa? Yang ada bosan. Makanya Mama suka kerja sama Om Regi. Kamu tahu nggak sih, Ra? Padahal Mama sama Om Regi sering berantem. Tapi, pas Om Regi nikah, Mama nangis, ha ha! Lucu deh kalau ingat yang dulu-dulu! Karena dulunya Papa kamu itu wibu, jadi malam pertama pengantin sama dia, kita nonton anime sampai pagi, ha ha! Malah dikira habis ngapain semalaman dari keluarga, soalnya udah siang nggak bangun-bangun. Padahal kita begadang nonton anime!" oceh Putri disambut tawa oleh Kayuki dan Yura.


Angga menggapai tangan Putri yang berada di atas kepalanya dan menempatkan tangan itu di pipi.


"Eh," ucap Putri yang terkejut.


"Ngoceh mulu," komentar Angga membuat Kayuki dan Yura semakin tertawa.


"Orang lagi cerita ke anak-anak!" bantah Putri.


Putri tersenyum. Seketika ia menghilangkan semua masalah yang ada di otaknya. Ia mengecup kening Angga yang sedang berbaring di hadapan Kayuki dan Yura.


Kayuki menutup mata Yura dengan cepat.


"Apaan sih, lo?!" bentak Yura.


"Waduh-waduh! Kayaknya kita belum cukup umur, mending kita ke tempat lain, Ra," balasnya.


"Jangan sentuh anak gadis saya!" bentak Angga melihat tangan Kayuki.


Sementara itu, kedua orang tuanya tak seindah yang Yura lihat. Putri juga tidak baik-baik saja di belakang anaknya tersebut. Tetap saja perasaan kesal dan marah itu masih ada di dalam hatinya.


"Ini," ucap Putri memberikan surat yang sudah ia tandatangani.

__ADS_1


Angga terdiam begitu mendapatkan surat pengadilan yang kemarin sempat ia berikan kepada istrinya itu.


"Sekarang Yura udah gede. Dia bisa memilih jalannya. Aku juga bisa berdiri di kaki aku sendiri," ucap Putri dan pergi.


Angga masih terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca. Kini semua kesalahan itu terjadi karenanya.


Putri berkendara kencang menuju Gibi dengan mobil yang ia miliki. Sepanjang perjalanan air mata tak berhenti mengalir. Mungkin ini yang terbaik untuk mereka semua meski tak terasa adil. Putri mengalah agar tak lebih sakit.


Angga sudah memiliki buah cinta yang lain di Jepang. Mempertahankan hubungan yang memang sudah tiada setia di dalamnya juga akan terasa sulit dan sakit.


Sesampainya di Gibi, Putri menemui Nurul. Di sana ia menangis sejadi-jadinya.


"Nggak mungkin, Put!" bantah Nurul begitu mendengar apa yang Putri ceritakan tentang Angga.


"Gue ... gue nggak tahu mau bilang apa lagi, Rul. Rasanya sakit banget. Sumpah! Lo sendiri yang tahu segimana gue sama Angga! Tapi ... tapi dia kayak gini ke gue! Sementara kita udah punya anak!" oceh Putri sambil sesenggukan.


Nurul ikut menitikkan air mata. "Gue nggak percaya Angga kayak gitu!" bantah Nurul lagi.


Bertepatan dengan itu, Feno mendapat telepon dari Regi yang meminta untuk datang ke rumahnya. Putri memilih untuk ikut ke rumah Regi bersama Feno. Di sana ia kembali menceritakan hal yang sama pada abangnya tersebut.


"Emang kurang ajar si Angga! Sekarang dia di mana?! Gue samperin!" teriak Regi yang merasa tak terima akan perlakuan Angga terhadap sang adik.


Meta ikut melihat kejadian itu dan segera memberitahu Yura akan apa yang terjadi pada kedua orang tuanya.


"Gue udah tanda tangan di surat perceraian," ucap Putri.


"BAGUS! TANDA TANGANIN AJA! NGGAK PANTAS JADI SUAMI TUH BAJINGAN!" teriak Regi.


"Udah jangan teriak-teriak kenapa sih?! Mau bikin Meta ketakutan lagi?!" omel Debi pada suaminya itu.


"Kesel dengernya!" ucap Regi.


"Mending lo omomgin dulu semuanya ke Yura, Put. Selidikin dulu, bener nggak soal anak itu," ucap Feno.

__ADS_1


"Gue mau selidikin ke mana, Fen? Nyokapnya Angga yang bilang ke gue! Yura juga bilang gitu! Yura yang ikut Angga tinggal di Jepang kemaren-kemaren!" balas Putri.


__ADS_2