Hipotalamus

Hipotalamus
Pret


__ADS_3

Lee Jong Woo merupakan teman Kim Tae Young dari Korea. Ia menceritakan tentang Kim Tae Young semasa di sana kepada Vin.


"Arnold itu aslinya lahir dan sekolah dasar di Korea. Pas dia lulus SD, terpaksa ikut nyokapnya ke Indonesia. Dia bilang sih, karena nyokapnya dokter kecantikan dan buka cabang klinik di Indo. Jadi dia ikut ke sini. Tapi dari rumor yang gue dapet sih, nyokapnya Arnold itu kabur ke Indonesia," ucap Jong Woo.


"Kabur? Kenapa?" tanya Vin.


"Gue emang blasteran Indo-Korea, gue dari kecil emang sering bolak-balik Indo-Korea karena sebagian keluarga gue ada di sini, dan sebagian keluarga gue di sana. Nah, kalau Arnold emamg blasteran Indo-Korea kayak gue, masa iya dia nggak pernah ke Indonesia semasa kecilnya?" ucap Jong Woo.


"Emangnya harus bolak-balik gitu?" tanya Vin lagi.


"Ya nggak harus, cuma 'kan logikanya gitu loh. Masa nyokapnya Arnold nggak pernah kunjungin keluarganya?" ucap Jong Woo lagi.


"Iya juga sih. Terus nyokapnya kabur kenapa?" tanya Vin.


"Karena jadi istri simpanan," jawab Jong Woo sambil melirik kiri kanan, takutnya ada yang mendengar.


"Hah?! Lo tahu dari mana?!" Marc ikut menimpali masalah tersebut.


"Gue tahu, karena temen SD gue itu anak istri pertama bapaknya Arnold!" jawab Jong Woo lagi.


"Masa nyokapnya jadi istri simpanan! 'kan nyokapnya Arnold kaya! Dokter kecantikan!" bantah Vin.


"Ya, gue nggak nyelidikin sampai ke sana juga! Nanya yang bener dong!" omel Jong Woo.


"Iya juga sih, bahasa Indonesia lo juga lebih lancar dari pada Arnold," ucap Vin.


"Karena gue blasteran! Dari kecil gue dah bolak-balik Indo-Korea. Gue belajar tiga bahasa sekaligus dari kecil," imbuh Jong Woo.


"Lo nggak punya nama panggilan kayak Arnold, Jong?" tanya Marc.


"Nggak ada! Nama gue Lee Jong Woo. Sebenarnya itu diambil dari bahasa Jawa. Le, itu 'kan kayak orang tua manggil anak laki-lakinya gitu loh. Le! Mangan, Le! Nah, Jong Woo itu sebenarnya Jawa, cuma biar agak Korea dikit, jadi Jong Woo. Lee Jong Woo. Le Jawa! Tuh 'kan gue jadi inget nenek gue sering bilang 'Le, mangan, Le!'" jelas Jong Woo membuat ke dua teman sekamarnya itu terbahak-bahak begitu dia menirukan gaya bahasa khas suku Jawa.


"Absurd banget!" balas Marc sambil tertawa.


"Iku sing boso Jowo versi Korea loh!" ucap Jong Woo dengan logat khas Jawa. Membuat ke dua temannya semakin terbahak-bahak hingga menepuk-nepuk lantai.


"Korea rasa lokal," ucap Vin.


"Casing Korea, pas unboxing ternyata Jawa!" Marc ikut mengejek temannya tersebut.


"Ya soal nama tadi, Lee itu nama keluarga bokap gue!" ralat Jong Woo.


Vin mempunyai senjata untuk melawan Kim Tae Young. Tapi ia tak cukup berani untuk mengatakannya.


Kali ini Kim Tae Young berlalu di hadapan kamar Vin. Bertepatan dengan itu, Vin juga baru saja menutup pintu kamarnya. Mata mereka bertemu.


"Wae?" tanya Kim Tae Young dengan berbahasa Korea.


Vin mengingat kalimat Jong Woo yang mengatakan bahwa pria di hadapannya itu setidaknya harus fasih berbahasa Indonesia jika dia memang darah campuran seperti Jong Woo.

__ADS_1


Vin tak menghiraukannya dan memilih untuk berlalu ke dapur.


"Vin! Vin!!" Seseorang berteriak sambil mengejar Vin. Dia adalah Lee Jong Woo. "Yura berantem sama Prethayata!!" teriaknya lagi sambil menarik tangan Vin untuk melihat pertunjukan tersebut.


Vin ikut berlari ke arah mana Jong Woo melangkah. "Lo tahu dari mana? Bukannya asrama cewek dipisah sama asrama cowok?!" teriak Vin.


***


Tak hanya mereka berdua, murid pria lainnya juga berlari menghampiri dinding pagar perbatasan antara asrama putri dan putra.


"Yura berantem sama Prethayata di asrama!!" teriak Dewa memberitahukan hal tersebut kepada teman-temannya.


Kim Tae Young ikut berlari untuk melihat kejadian tersebut.


***


Ratusan pria memanjat pagar perbatasan asrama hanya untuk melihat pertikaian antara Yura dan kakak kelasnya itu.


"Tonjok aja, Ra! Kalau gue jadi lo, udah gue sobek mulutnya Prethayata!"


"Iya, pukul aja!"


"Nggak asik ih cuma lihat-lihatan!"


Para murid laki-laki memprovokasi Yura untuk memukul Prethayata.


"Lo sengaja manggil mereka semua buat lihat ini?!" tanya Prethayata sambil sedikit berteriak.


"Bukannya lo yang bawa gue ke sini?" balas Yura.


"Ra! Jangan bikin masalah lagi!" teriak Vin yang digendong oleh kedua temannya agar bisa mencapai atas pagar.


"Dia yang ngajakin gue ke sini! Gue juga nggak tahu dia mau ngapain!" balas Yura.


"Eh, kutu kupret! Lo mau apain cewek gue?!" teriak Kim Tae Young membuat semua murid perempuan menoleh padanya.


Yura mendesis kesal akan perbuatan Kim Tae Young tersebut. "Udah ya, Kak Pret. Kalau nggak ada kepentingan, gue mau balik ke kamar!" ucap Yura dan pergi begitu saja.


"Yyaaahhh!! Nggak asik!" teriak semua murid laki-laki yang sedari tadi menunggu perkelahian di antara mereka berdua.


Saat semua anak laki-laki hendak bubar. Vin memberanikan diri untuk menghadang langkah Kim Tae Young.


"Kenapa?" tanya Kim Tae Young pada pria itu.


"Jangan ganggu Yura," ucap Vin.


Kim Tae Young malah tersenyum sinis. "Are you jealous?" tanyanya.


"Gue nggak jeles sama lo. Gue kenal Yura dari kecil, jadi mending lo jangan ganggu dia!" ucap Vin lagi.

__ADS_1


Kim Tae Young menghampiri pria itu dan menoyor kepalanya. "Si Miskin ini mau apa? Mau gue jauhin Yura? Si Miskin ini suka sama Yura?" balas Kim Tae Young sambil terkekeh bersama kedua temannya, yakni Dewa dan Edo.


Vin menepis tangan Kim Tae Young membuat Dewa dan Edo hendak memukulnya, tapi Kim Tae Young lebih dulu menghentikan gerak ke dua temannya itu.


"Gue emang miskin, tapi gue nggak sebiadab lo!" tegas Vin.


"Miskin tetap aja Miskin! Gimana cara lo bayar sekolah? Pakai duit hasil nyokap lo melacur?" balas Kim Tae Young.


Vin hendak memukulnya, tapi Jong Woo menahannya. "Udah, Vin. Jangan bikin masalah!" ucal Jong Wo menarik tangan temannya itu untuk pergi.


***


Malam ini diadakan acara untuk menyambut murid kelas 1 yang baru mendiami asrama. Semua murid berkumpul di lapangan sekolah pada malam hari. Pihak sekolah juga menyalakan api unggun untuk memeriahkan acara tersebut.


Mereka memperkenalkan diri satu sama lain. Yura menjadi murid paling mencolok di sana. Karena semua orang mengenalinya.


"Lo dilihatin terus dari kakak kelas, Ra," ucap Meta.


"Biarin aja. Mata, mata dia," balas Yura.


***


Sedangkan yang terjadi tak jauh dari Yura. Kim Tae Young sedang menumpuk kayu pada api unggun. Ia memerhatikan Yura yang sedang mengobrol bersama Meta.


Vin juga melihat kejadian Kim Tae Young sedang memerhatikan gadis yang sering bertengkar dengannya itu.


"Lo beneran nggak jeles, Vin?" tanya Jong Woo.


"Nggaklah! Gila!" bantah Vin dengan cepat.


"Tapi kok kalau gue lihat, lo jeles," balas Jong Woo.


"Gue tahu Yura kayak gimana. Gue cuma kasihan aja," ucap Vin.


"Bukannya lo sama dia sering berantem? Kok jadi kasihan? Ada apaan nih? Tiba-tiba ganti musim," goda Jong Woo sambil menyenggol pundak Marc yang sedari tadi diam saja.


"Dari pada lo bahas Yura yang masih bocil, mending kita bahas Lina anak kelas 3-2. Bodinya booyyy!!" ucap Marc sambil tertawa.


"Temen lo, Jong!" ucap Vin.


"Gue masih polos! Jangan buat gue dewasa sebelum umur gue 21 tahun!" omel Jong Woo sambil meraup wajah temannya itu.


"Dewasa itu umur 18 woe!" bantah Vin.


"Nggak gue nggak mau jadi dewasa!" bantah Jong Woo.


"Sumpah, aneh!" balas Marc. "Lo berdua lebih suka bahas Yura yang rata depan belakang?! Mending Lina, Boy! Kayak gitar spanyol!" lanjut Marc sambil tertawa kembali.


"Nggak waras temen lo, Vin!" teriak Jong Woo yang menolak untuk menjadi pria mesum, dan meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2