
"Iya, tergila-gila sama lo," jawab Kayuki sambil melihat wajah Yura yang terpantul dari kaca jendela di sebelahnya.
"Gue serius!" Yura memukul lengan pria itu dan membuatnya meringis. "Lo cerita apa aja sama bokap lo?!" tanyanya.
"Nggak banyak kok, gue cuma bilang lo nyium gue di kereta, lo juga meluk gue pas tidur dan—"
"Iiihhh, KAYUKIIIIII!!" teriak Yura dan kembali memukul pria itu.
Kayuki terbahak melihat respons yang diberikan oleh Yura. "Aw! Sakit!" ucapnya sambil tertawa.
"Gue serius!! Lo cerita apa aja?!" tegas Yura lagi.
"Nggak ada apa-apa! Bokap gue heran aja ngelihat gue ngerjain tugas. Gue bilang itu semua berkat lo!" jawab Kayuki sambil menoyor jidat Yura dengan kuat.
"Nggak mungkin!" bantah Yura.
"Ya menurut lo, gue cerita apa aja?" tanya Kayuki.
"Ya yang tadi lo bilang pertama kali!" tegas Yura.
Kayuki kembali terkekeh. "Kenapa lo mikir ke situ?" tanyanya.
"Soalnya nyokap lo kayak nggak suka gitu sama gue!" tegas Yura lagi.
"Dia bukan nyokap gue." Kayuki memalingkan wajahnya ke arah jendela dan menatap jalanan.
"Bukannya tadi dia bilang kalau dia nyokap lo?" tanya Yura.
"Gue nggak mau bahas," jawab Kayuki singkat.
Yura terdiam sejenak. Mungkin Kayuki memiliki masalah keluarga yang tak ingin ia ceritakan pada siapa pun termasuk Yura. Begitu yang Yura pikirkan di dalam benaknya. Mungkin jika ia memulai untuk berbagi cerita, nantinya Kayuki juga akan berbagi kisah padanya.
"Gue mau cerita," ucap Yura dan tak mendapatkan respons apa pun dari pria yang duduk di sebelah kanannya tersebut.
"Selama gue balik ke Indo, gue ketemu sama semua temen-temen gue. Mereka malah bilang suka sama gue," ucap Yura membuat Kayuki menoleh padanya.
"Jadi sekarang lo punya pacar?" tanya Kayuki.
"Iya," jawab Yura. Kayuki kembali menoleh ke jendela. Tiba-tiba gerimis membasahi kaca jendela itu.
"Gue bilang ke mereka kalau gue punya cowok di Jepang," ucap Yura dengan malu-malu dan akhirnya ia memilih untuk menyandarkan kepala ke bangku di depannya.
Kayuki kembali menoleh pada gadis itu dan perlahan ia tersenyum. "Terus?" tanya Kayuki.
__ADS_1
Yura terdiam sejenak. Wajahnya memerah. Ia mencoba menyembunyikan itu dengan rambutnya yang terurai menutupi wajah akibat tertunduk.
"Terus lo bilang apa? Siapa cowok lo?!" Kayuki mulai penasaran.
"Gue bilang kalau cowok gue itu wibu," ucap Yura masih dengan posisi yang sama.
"Maksud lo?" tanya Kayuki.
"Ya, itu cuma alasan gue doang buat nolak mereka! Gue bilang kalau gue udah punya cowok di Jepang dan dia wibu," jawab Yura lagi.
"Iya, siapa cowoknya?!" Kayuki mulai kesal dibuat pensaran oleh gadis di hadapannya itu.
"Itu cuma alasan gue!" tegas Yura.
"Iya, siapa?! Lo bilang kalau lo punya cowok di Jepang, siapa?! Namanya sebut!" omel Kayuki.
Yura jadi ikut terpancing emosinya mendengar kalimat yang Kayuki katakan.
"Ya nggak ada! Itu cuma alasan gue doang. Lo mgerti nggak sih?! Itu cuma alasan biar mereka ilfil sama gue! Kan mereka jadi nggak mau lagi sama gue! Itu tujuannya gue bilang kalau gue punya cowok wibu di sini! Masih nggak paham juga?! Gue colok nih mata lo!" omel Yura menatap kedua mata yang sedang melihatnya tersebut.
Kayuki tersenyum dan terkekeh. Yura malah mendorong alis-alisnya pertanda bahwa ia tidak menyukai akan apa yang Kayuki tertawakan saat ini. "Kenapa lo ketawa?!" bentak Yura.
"Kenapa muka lo merah?" Kayuki balik bertanya.
"Rumah nenek lo masih jauh nggak sih? Nggak sampai-sampai dari tadi," ucap Kayuki mengalihkan pembicaraan.
"Jauh, di Kutub Utara!" balas Yura.
"Oh, lo mau menikmati perjalanan lebih lama sama gue?" Kayuki mulai menggoda Yura. Gadis itu malah berlagak seolah ingin muntah mendengarnya.
Perjalanan yang mereka tempuh memang lumayan jauh. Karena wilayah rumah keluarga Angga termasuk desa kecil yang jauh dari Tokyo. Sementara kediaman Kayuki berada di tengah kota Tokyo.
Perjalanan memakan waktu yang sangat lama. Hingga Yura mulai mengantuk. Kayuki mengetahui bahwa gadis itu ingin tidur. Yura menguap sedari tadi. Kayuki dengan sengaja menyandarkan tubuhnya agar Yura dapat bersandar di pundaknya. Namun, Yura memilih untuk tetap memaksakan bola matanya untuk terbuka.
Yura melihat Kayuki yang menguap. Ia menyandarkan tubuhnya di sebelah Kayuki, hingga pundak mereka bersentuhan. Kayuki langsung membaringkan kepalanya di pundak gadis itu. Dengan cepat Yura mendorongnya ke arah jendela.
"Apaan sih?!" omel Yura.
"Gue ngantuk," jawab Kayuki.
"Ya 'kan lo bisa senderan ke jendela! Kenapa ke gue? Kepala udah seberat kepala babi gitu!" omel Yura lagi.
"Lo ngantuk juga?" tanya Kayuki.
__ADS_1
"Iya! Tapi gue nggak ada tuh senderan sama lo!" jawab Yura.
"Ya senderan aja sini! Gue nggak keberatan meskipun kepala lo seberat kepala babi!" balas Kayuki sambil mengusap pundaknya.
"Makasih! Gue masih bisa tahan! Lagian ini udah deket," ucap Yura.
10 menit kemudian, bus masih berjalan dan berhenti di sebuah tempat.
"Ini rumah nenek lo?" tanya Kayuki.
"Bukan! Istirahat dulu! Soalnya masih jauh!" jawab Yura.
"Tadi lo bilang udah deket!" omel Kayuki.
"Iya deket kalo pakai pesawat!" balas Yura yang berjalan ke luar bus.
Di sana Kayuki membeli sebotol air mineral. Sedangkan Yura membeli sebuah payung.
"Ngapain lo beli payung? 'kan kita naik bus, nggak bakalan kehujanan," tanya Kayuki.
"Rumah nenek gue jauh dari halte. Jadi mesti jalan kaki," jawab Yura.
Kayuki hendak membeli juga, tapi ia mengurung niatnya tersebut saat muncul sebuah ide di otaknya.
***
"Kenapa lo bantuin Arnold buat jadi wibu, Marc?!" omel Vin di kamar asramanya.
"Dia cuma minjem flashdisk anime. Ya gue kasih, gue nggak tahu dia juga mau jadi wibu kayak lo buat dapetin Yura! Suer, gue nggak tahu!" bantah Marc.
"Parah lo, Marc! Harusnya lo kasih ke Vin dulu flashdisknya! Masa lo lebih mentingin Arnold!" Jong Woo ikut memanaskan keadaan.
"Dia minjem duluan! Lagian Vin baru bilang sore tadi ke gue, di depan lo juga dia bilang mau jadi wibu. Sedangkan Arnold minjem flashdisk dari balik sekolah tadi! Ya gue nggak tahu dia mau jadi Wibu kayak Vin. Gue juga nggak tahu Vin bakalan bilang mau jadi Wibu!" bantah Marc.
"Mana flashdisknya?" tanya Vin menadahkan tangan di hadapan temannya itu.
Marc memberikan flashdisk tersebut ke genggaman Vin. "Lagian itu isinya cuma 2 anime," ucap Marc.
"Dua?!" pekik Vin.
"Iya, cuma dua," jawab Marc.
"Lo ajak gue nonton anime sedih gini sampai gagal ginjal gue! Bocor airnya ke mata! Lo ajakin gue nonton satu anime! Sedangkan Arnold lo kasih dua anime! Parah!" omel Vin.
__ADS_1