
Putri langsung memutus panggilan tersebut.
"ARGGHH!!" teriak wanita itu sambil menangis sekencang-kencangnya di dalam kamar.
Para asisten rumah tangga di rumah itu juga mendengar teriakan tersebut.
"Ada masalah lagi ya sama Yura?" tanya salah satu asisten rumah tangga di sana pada ART yang lainnya.
"Neng Yura nggak balik dari semalam. Mungkin berantem sama Pak Angga," jawab yang lain.
***
Sementara itu, Yura sedang tertawa bahagia di rumah sang nenek bersama Feno dan Nurul.
"Ini, dulunya kamar Om Regi. Tapi, semenjak Om Regi nikah dan punya rumah sendiri, kamar ini jadi punya Om Feno," ucap ibu dari Putri dan Regi itu.
"Nek, aku mau nanya. Kenapa Om Feno tinggal di sini? 'kan Om Feno nggak ada ikatan saudara apa pun sama keluarga kita!" ucap Yura.
Seketika itu nenek dan kakeknya tertawa. Feno merasa malu pada dirinya yang dulu. Sementara Nurul dan Yura malah bingung tak mengerti apa yang lucu dari pertanyaan Yura tersebut.
"Jadi, awal mula Om Feno tinggal di sini karena Om Regi mau tanggungjawab atas kesehatan mental Om Feno," ucap sang kakek.
"Kesehatan mental? Kenapa? Om Feno punya gangguan mental?" tanya Yura lagi.
"Dulu, Om Feno itu termasuk orang yang memiliki gangguan kecemasan atau phobia. Dia phobia sama cewek cantik kayak mama kamu, ha ha!" ejek sang kakek membuat Feno tak enak hati karena Nurul sudah memasang wajah masam mendengar hal tersebut.
"Nggak!" bantah Feno. "Jadi gini, Ra. Om dulu pernah ada salah paham sama Om Regi. Iya, Om dulunya mengidap Caligynephobia. Om bukan takut cewek. Cuma om punya pengalaman pahit soal cewek. Dulu Om pernah dihina cewek, sampai Om takut dihina lagi. Makanya Om pingsan terus kalau ketemu cewek karena saking ketakutan," jelas Regi.
"Oh, jadi Om pingsan terus kalau ketemu Mama?" tanya Yura dan membuat Nurul memutar bola matanya. Pertanda bahwa ia tak mau membahas hal semacam ini.
"Nggak sama mama kamu aja. Semua cewek. Makanya Om sempat jadi nolep. Kerjaan Om cuma diam aja di kosan sambil nonton anime," jawab Feno.
"Tapi sekarang, Om masih suka pingsan kalau lihat cewek?" tanya Yura lagi.
"Masih. Tapi kalau lihat cewek lain, nggak pingsan. Cuma pas lihat Tante Nurul senyum," goda Feno.
__ADS_1
"Dddiihh idih!" ucap nenek dan kakek Yura yang merasa geli menyaksikan kejadian itu.
"Kalau Vin pernah nggak dibawa ke rumah orang tua Om atau Tante Nurul?" tanya Yura dan membuat suasana ruang tamu mendadak hening.
Tak ada yang mengetahui latar belakang keluarga Feno. Sedangkan Nurul telah diusir oleh kedua orang tuanya karena telah mengandung anak Rafa saat masih bertunangan dengan Angga.
"Emangnya Vin nggak pernah ketemu sama kakek atau neneknya?" tanya Yura lagi.
"Vin sering kok dibawa ke sini! Cuma nggak pernah ketemu kamu. Soalnya 'kan kamu ke sini cuma sekali buat nginep, itu pun nginepnya cuma bentar." Ayah angkat Feno itu mengalihkan topik pembicaraan yang dimulai oleh cucunya itu.
"Kakek lebih suka aku yang datang ke sini atau Vin yang ke sini?!" tanya Yura dengan nada serius.
"Kakek suka kalian ke sini. Katanya kalian sering berantem. Kakek mau lihat kalian berantem di sini," goda sang kakek.
"Ih, seriusan, Kek! Kakek lebih suka aku yang ke sini atau Vin? Cuma boleh pilih satu!" tegas Yura.
"Kakek suka semua cucu Kakek ngumpul di sini," jawab kakeknya lagi agar Yura berhenti membuat sebuah pernyataan yang membedakan dirinya dan Vin.
"Berarti Kakek nggak sayang aku!" tegas Yura.
Feno langsung menuruti perintah ayah angkatnya tersebut. Di sana, Yura membantu sang nenek bersama Nurul untuk membuat camilan. Mereka menggoreng keripik, kerupuk, mencetak cokelat-cokelat dan kacang-kacangan selama menunggu Vin datang.
"Om! Cobain ini, Om!" jerit Yura mencari keberadaan Feno dari dapur hingga ke ruang tamu.
Ia melihat seorang pria berdiri di depan pintu sambil menatap halaman rumah yang pintu pagarnya tertutup rapat. Yura menghampiri pria itu.
"Om Feno! Cobain ini!" jerit Yura begitu bersemangat membawa cokelat kacang yang sudah berhasil dicetak.
Pria itu menoleh dan ternyata ia adalah Vin. Yura yang hendak menyuapi pria itu mendadak membatu. Vin langsung melahap cokelat yang hendak Yura suapi kepadanya.
"Om Feno? Sejak kapan lo nyuapin bokap gue? Mau jadi pelakor lo?" ucap Vin sambil berjalan menuju dapur.
Yura mendesis kesal mendengar ucapan tersebut.
"Woi! Ini rumah nenek sama kakek gue! Jangan seenaknya!" teriak Yura menghadang langkah Vin.
__ADS_1
"Ini rumah kakek sama nenek gue juga. Lo mau ngapain di sini? Oh, mau nyari muka ya? Lo mau cerita kalau gue yang jahatin lo di sekolah. Biar gue dimarahin? Rada licik juga ya otak lo!" ucap Vin.
Tanpa basa-basi, Yura langsung memukul lengan Vin dan membuat pria itu meringis.
"Sana! Ngadu sama nenek-kakek lo! Ada bokap sama nyokap lo juga! Sana! Bilang kalau gue yang mukulin lo!" teriak Yura.
Vin hendak memukul Yura. Tapi kejadian itu disaksikan oleh Feno. "Vin," panggilnya.
Tangan Vin yang sudah mengambang di udara. Malah beralibi dengan mengusap kepala Yura sambil tersenyum. "Anak baik, anak cantik. Cepet mati ya," ucap Vin sambil menggerutu.
Untungnya Feno tak mendengar ucapan tersebut.
"Sini, Vin. Bantuin Kakek bikin bangku kecil buat kita ngumpul," ucap Feno. Vin segera mengikuti ayahnya itu.
Tak lupa ia menoleh ke arah Yura sambil menunjukkan tangan yang mengepal, pertanda bahwa ia akan menghajar gadis itu di lain kesempatan.
Yura, Nurul dan sang nenek membawa semua camilan ke tempat yang sudah diselesaikam oleh para pria untuk berkumpul.
Vin dipenuhi keringat akibat membantu. Yura mendekatinya sambil berbisik, "Kalau di rumah bokap lo, pasti pelayan udah rebutan mau ngelap keringat lo," ejeknya.
Vin mencubit lengan gadis itu dan membuatnya meringis kesakitan. "Vin! Kok kasar gitu sama Yura?" tanya Nurul.
"Iya nih, Tante. Udah kasar! Jelek lagi!" ucap Yura berpura-pura menjadi wanita yang lemah.
"Vin, minta maaf ke Yura!" perintah sang ibu.
"Kok minta maaf?!" bantah Vin.
"Kok minta maaf? Kamu masih nanya? Jelas-jelas kamu yang nyubit lengan Yura tadi!" ucap Nurul.
"MA-AF! teriak Vin di depan wajah Yura hingga gadis itu terpejam akibat jaraknya yang begitu dekat.
"Simpan aja! Paling ntar lo kayak gitu lagi," balas Yura dan membuat Vin kesal.
***
__ADS_1
Sementara Yura asyik berbagi kebahagiaan di rumah nenek dan kakeknya, Putri malah menangis penuh pilu menghadapi kehidupannya yang serba salah.