Hipotalamus

Hipotalamus
Tuan Lee


__ADS_3

"Masih ada tugas, Ma." Vin terpaksa berbohong pada ibunya. Ia khawatir Nurul marah jika mengetahui bahwa ia menginap di rumah ayahnya.


"Tugas apa?" tanya Nurul lagi.


"Tugas yang semester kemaren, belum selesai semua," jawab Vin.


Selama liburan sekolah, Vin tak pernah pulang ke rumah. Ia mulai menikmati kehidupan di rumah Rafa. Semua kebutuhannya telah disediakan. Ia juga tak perlu bersusah payah untuk mendapatkan sesuatu. Rafa selalu memberikan apa yang Vin butuhkan.


Hari ini adalah hari terakhir liburan semester pertama. Rafa dan Vin makan bersama di dapur. Segala macam lauk disajikan oleh pelayan.


"Apa kamu nggak kepikiran buat balik ke rumah ibu kamu, Vin?" tanya Rafa.


"Sabtu ini, aku ke sana," jawab Vin.


"Ah, sayang sekali. Rencananya Ayah ingin mengajakmu ke gedung GG GROUP agar kamu mengenal perusahaan," ucap Rafa.


"Kalau gitu, aku ke GG GROUP aja. Minggu pagi, aku bisa pulang ke rumah Mama," balas Vin.


***


"Sudah dua minggu liburan, Fen! Dia nggak pulang juga! Memangnya kalau liburan masih ada tugas sekolah?!" omel Nurul yang menunggu kehadiran Vin namun tak kunjung datang.


"Mungkin tugasnya yang kemaren memang belum kelar," jawab Feno.


"Apa dia menginap di rumah Rafa?" tanya Nurul.


"Sudahlah! Jangan berpikiran terlalu jauh!" ucap Feno.


"Mungkin aja dia nginap di rumah Rafa, Fen!" ucap Nurul dengan panik.


"Mungkin dia di asrama sama temen-temennya! Kan Vin sudah 18 tahun. Mungkin dia mau nikmatin masa remaja kayak anak yang lain," ucap Feno mencoba menenangkan sang istri.


"Tapi, kalau dia nginap di rumah Rafa, gimana?" tanya Nurul lagi.


"Tidak mungkin Vin melakukan itu. Dia tahu kalau kamu nggak mau kehilangan dia," jawab Feno.


***


Hari Sabtu ini, Rafa membawa Vin ke gedung perusahaan GG GROUP. Di sana Vin disambut layaknya seorang pangeran muda.


"Kamu harus sering ke sini, biar terbiasa," ucap Rafa.


"Tapi, aku 'kan sekolah dan tinggal di asrama," ucap Vin.

__ADS_1


"Setiap hari Sabtu, kamu bisa ke sini. Kamu juga boleh ajak teman-teman kamu," ucap Rafa dan Vin menyetujuinya.


***


Setelah beberapa hari Sabtu terlewati, Vin tak kunjung pulang ke rumah Nurul dan Feno. Hari itu, Feno menjemputnya ke sekolah atas perintah sang istri.


Feno menyaksikan sendiri bahwa Vin dijemput oleh supir pribadi dengan mobil mewah yang harganya bahkan bisa membeli nyawa yang Feno miliki. Menyaksikan hal tersebut, Feno merasakan sesak yang teramat. Pada akhirnya, harta akan selalu berada di atas segalanya.


Feno menyadari siapa dirinya di kehidupan Vin. Vin bukanlah anak kandungnya. Tapi, perasaan itu tak bisa dibohongi oleh dirinya sendiri. Feno merasa terpukul melihat Vin yang tak pernah pulang dan malah menikmati semua kekayaan yang Rafa miliki.


Memang, itu adalah Hak Vin sebagai anak Rafa, tapi Nurul menunggu kehadirannya di rumah kecil yang mereka diami sejak Vin masih bayi dan belum bisa melakukan apa pun.


Feno pulang dengan perasaan yang di asendiri tidak tahu cara menjelaskannya.


"Mana Vin?" tanya Nurul begitu melihat Feno membuka pintu tanpa membawa Vin ke rumah itu.


Feno langsung menoleh pada istrinya tersebut. "Vin sedang sibuk. Dia banyak tugas," ucap Feno yang terpaksa berbohong demi menyelamatkan perasaan Nurul dan perlakuan Vin.


"Tugas? Tugas apa lagi?! Masa dari ulangan semester ... libur sekolah dia juga nggak pulang! Masa sekarang masih sibuk nugas juga!" bantah Nurul.


Feno memilih untuk duduk di sebelah Nurul.


"Atau, kamu nggak ketemu ya sama dia?" tanya Nurul.


***


Sementara Vin berada di kediaman Rafa dan mulai mempelajari bisnis yang didirikan dan dikelola oleh ayahnya.


"Ini Tuan Kim. Dia klien sekaligus pemilik saham terbesar di bawah Ayah. Tuan Kim ini investor besar di perusahan kita. Jadi, kamu harus jaga hubungan baik kita bersama beliau," jelas Rafa sambil menunjuk sebuah foto pria berdarah Korea.


"Dan ini Tuan Lee. Anaknya juga sekolah di sekolahmu. Namanya, hmm, Ayah lupa," ucap Rafa sambil berusaha mengingat seseorang. "Ah! Namanya Lee Jong Woo," lanjutnya.


"Lee Jong Woo? Dia temanku. Kami juga jadi teman sekamar di asrama!" ucap Vin begitu mendengar nama temannya yang berdarah campuran itu disebut oleh ayahnya.


"Kau harus menjaga hubungan baik dengan Lee Jong Woo. Karena, Tuan Lee yang membantu ayag mendapatkan tempat di pasar Korea," ucap Rafa.


"Apa itu artinya aku tidak boleh bertengkar dengannya?" tanya Vin.


"Lebih baiknya, kau hindari pertengkaran itu," jawab Rafa dan menutup map hitam yang terdapat data para investor di sana.


***


Putri sedang berada di dalam ruangan gelap, yakni kamarnya sendiri. Lampu tak pernah dinyalakan olehnya selama lebih dari seminggu. Ia terus menangis setiap kali memasuki ruangan gelap itu. Angga terus menghubunginya dan mendesak Putri untuk mengurus kepindahan Yura ke Jepang.

__ADS_1


"Buk! Ibuk!" panggil asisten rumah tangganya sambil mengetuk pintu kamar tersebut.


Putri mengusap air matanya dalam kegelapan dan membuka pintu itu.


"Ibuk nggak apa-apa?" tanya ART yang bernama Minnah tersebut.


"Nggak apa-apa," jawab Putri sambil menahan pusing di kepalanya.


Sudah hampir 2 hari ia tidak makan dan hanya menghabiskan waktu dengan menangis. Waktu tidurnya juga berantakan karena urusan perasaannya yang tidak baik-baik saja.


"Buk," panggil Minnah lagi. Putri mulai kehilangan fokusnya. "Buk!" panggil Minnah sambil memegang lengan Putri dan wanita itu jatuh pingsan. Terjatuh bersama asisten rumah tangganya.


"Toloongg!! Kak Rum!!" teriak Minnah memanggil ART yang lain. Putri terpaksa dilarikan ke rumah sakit karena terlalu pucat dan tidak sadarkan diri lebih dari 15 menit.


***


Yura sedang berbaring di kasur asramanya. Tiba-tiba ponselnya berdering.


"Halo, ini siapa?" ucap Yura begitu melihat nomor itu tidak terdaftar di kontaknya.


"Halo, Ra! Ini Kak Rumi. Ibuk masuk rumah sakit!" ucap Rumi (asisten rumah tangga yang dekat dengan Yura).


"Kok bisa?" tanya Yura yang langsung bangkit dari baringnya menjadi duduk.


Meta dan Vio langsung menoleh ke arahnya.


"Ibuk nggak ke luar kamar udah dua hari. Tadi Minnah yang manggil biar ibuk ke luar, eh malah pingsan. Belum sadar juga sampai sekarang," jelas Rumi.


"Rumah sakit mana, Kak? Share loc aja, Kak!" ucap Yura dan langsung memutus telepon tersebut.


"Siapa yang masuk rumah sakit, Ra?" tanya Vio.


"Nyokap gue!" ucap Yura yang langsung mengambil jaketnya dan hendak pergi.


"Tante Putri, kenapa?" tanya Meta.


"Gue juga nggak tahu," jawab Yura dan pergi menuju rumah sakit.


***


Malam itu, Nurul mencoba untuk menghubungi Vin melalui pesan singkat.


"Kabar kamu gimana, Vin?" tulisnya pada pesan itu.

__ADS_1


__ADS_2