
Sementara jauh di Jepang, Putri memasuki kamar ayahnya dan melihat lembar komik berserakan di mana-mana.
"Berantakan amat," gerutu Yura.
"Pa!" panggil Yura namun ia tak mendapati jawaban apa pun.
"Papa kamu belum pulang, Ra! Tadi buru-buru pergi pas kamu mandi," ucap sang nenek.
Yura kembali menutup pintu kamar ayahnya dan memilih untuk bersantai menonton televisi bersama nenek dan kakeknya.
"Gimana sekolah kamu, Ra?" tanya sang nenek.
"Biasa aja, Nek," jawab Yura.
"Anak mafia itu, gimana? Ada gangguin kamu atau gimana?" tanya neneknya lagi.
"Nggak ada. Malah aku risih dijagain orang suruhan Papa! Susah mau ke mana-mana. Udah kayak anak sultan! Temen aku sampai takut mau ngobrol," jelas Yura.
"Jadi kamu nggak mau dijagain lagi?" tanya sang nenek.
"Iya. Nenek bantu bilang ke Papa, ya! Biar dua orang itu nggak ngikut lagi ke sekolah! Berasa kayak pelihara hantu," ejek Yura.
"Iya, Ra. Kamu gimana? Masa nggak ada pacar umur udah segini," goda sang nenek.
"Pacar?" Yura malah terkekeh geli.
"Iya masa kamu nggak punya pacar, Ra? Dulu papa sama mama kamu pacaran umur segini. Tiap hari papa kamu ngelukis wajah mama kamu di kertas. Dipajang di dinding, di meja belajar. Tapi pas nenek lihat, kamarnya bersih, nggak ada apa-apa. Ternyata disembunyiin di dalam tumpukan buku," ucap sang nenek sambil terkekeh.
"Masa sih, Nek? Apa yang bikin papa suka sama mama?" tanya Yura.
"Hmmm, Nenek nggak tahu. Yang nenek lihat sih, mama kamu apa adanya. Dulu papa kamu pernah punya pacar, namanya Nurul," jelas sang nenek lagi.
"Nurul? Tante Nurul?! Itu mah mamanya Vin, Nek!" tegas Yura begitu terkejut saat mengetahui ayahnya pernah berpacaran dengan ibu Vin.
"Kamu kenal? Nah dulu papa kamu sering bawa Nurul ke rumah. Nenek nggak suka sama dia! Kelihatan banget sok baiknya! Dia sengaja kayak mau deketin Nenek biar bisa deket sama papa kamu. Ya, Nenek nggak suka dong. Nenek sukanya sama mama kamu aja," ucap Isabel.
"Kenapa Nenek suka sama mama?" tanya Yura lagi.
"Putri orangnya periang. Dia juga sering berantem sama papa kamu. Putri kalau suka, dia bilang suka. Tapi, kalau Angga, sebaliknya," jawab Isabel.
__ADS_1
"Berarti mama kayak aku dong. Aku kalau suka, ya bilang aja langsung. Lagian kenapa harus bohong," ucap Yura.
"Hmm berarti kamu suka sama cowok? Cerita dong sama Nenek! Masa Nenek nggak tahu kamu suka sama siapa!" goda Isabel pada cucu semata wayangnya itu.
"Nggak ada!" bantah Yura.
"Cerita dong! Nenek 'kan mau tahu! Kamu sukanya cowok yang kayak gimana? Yang populer di sekolah? Atau yang cupu atau yang gimana?" Isabel memaksa Yura untuk menceritakan kisah asmaranya.
"Nggak, Nek! Aku nggak punya kriteria apa pun. Kalau aku suka, ya suka aja!" ucap Yura.
"Iihh, mirip Putri pas masih SMA," ucap Isabel.
"Emangnya mama kayak gitu?" tanya Yura.
"Dulu, semua orang nggak suka sama papa kamu, karena dia Wibu. Tapi, Putri satu-satunya perempuan yang suka sama papa kamu. Tanpa alasan. Dia suka, ya suka aja. Kayak yang kamu bilang tadi," ucap Isabel membuat Yura semakin terkejut.
"Berarti papa Wibu? Makamya papa suka gambar komik? Dan kerja bikin komik?!" tanya Yura.
"Kakek kamu juga kerja sebagai ilustrator anime. Wajar aja kalau papa kamu suka komik sama anime," jelas Isabel.
"Kakek juga? Keluarga kita wibu semua?!" tanya Yura tak percaya.
"Kamu jangan gitu, nanti dapat suami wibu, mau?" ejek sang nenek.
"Kayuki? Itu 'kan anak mafia itu 'kan?!" tanya Isabel.
"Bukan! Bukan Kayuki, tapi Kak Yuki! Ada, itu kakak kelas aku, Nek! Namanya Yuki, aku manggilnya Kak Yuki, gitu," alibi Yura menutupi kebohongannya.
"Kak Yuki, Kayuki. Mirip banget namanya. Orangnya gimana?" tanya Isabel lagi.
"Orangnya ganteng. Tapi nggak ganteng-ganteng amat. Terus orangnya baik, tapi nggak baik-baik amat," ucap Yura.
"Berarti, orangnya biasa-biasa aja?" tanya Isabel.
"Iya, biasa aja. Aku juga bingung kalau disuruh nilai orang, Nek! Aku aja nggak bisa nilai diri aku sendiri!" bantah Yura.
"Ya udah. Kenapa kamu suka sama dia?" tanya Isabel lagi.
"Nggak tahu, suka aja," jawab Yura singkat.
__ADS_1
"Aduh, susah ya ngomong sama kamu, Ra! Berasa ngomong sama Putri," ucap Isabel mengusap kepala cucunya itu.
***
Yura menunggu Angga pulang. Namun, hingga jam dinding menunjukkan ke angka 11 malam, pria itu tak kunjung datang. Hingga akhirnya Yura tertidur di ruang tamu akibat terlaiu mengantuk.
Saat Angga pulang dan membuka pintu, ia mendapati anak gadisnya itu di sofa ruang tamu. Ia menggendong Yura dan membawanya ke kamar. Ia memasangkan selimut agar Yura tak kedinginan.
"Papa udah pulang?" tanya Yura yang terbangun dengan suara serak.
"Iya. Udah tidur aja, besok mau sekolah," ucap Angga.
"Papa dari mana? Pulangnya malam amat," tanya Yura lagi.
"Ada urusan," jawab Angga sambil mengusap wajah anak gadisnya itu.
"Papa nggak ada niatan buat libur? Aku mau liburan bareng Papa sama Mama. Siapa tahu Mama nggak marah lagi kalau kita ajakin liburan," ucap Yura. Ide itu terinspirasi dari mimpi yang baru saja ia alami di dalam tidurnya.
"Libur? Nanti Papa atur libur, ya, Sayang. Sekarang tidur dulu. Besok mau sekolah," ucap Angga sambil mengecup kening Yura. "Good night," bisiknya dan meninggalkan Yura sendirian di kamar itu.
***
Angga menghempas tubuhnya di atas kasur dan menatap langit-langit kamarnya tersebut.
"Siapa tahu Mama nggak marah lagi kalau kita ajakin liburan." Kalimat itu menjadi bumerang yang terus terdengar di telinga Angga.
"Iya, siapa tahu," ucap Angga. "Siapa tahu kamu bisa bahagia tanpa ada mama kamu, Ra," lanjutnya.
"Kenapa Putri sekeras kepala ini? Kenapa dia nggak mau dengerin aku? Apa dia udah nggak cinta lagi sama aku? Apa dia udah punya sosok pengganti aku?" Beribu tanya muncul di otak Angga.
Kembali ia ambil foto keluarga mereka yang terdapat Yura kecil di sana. Terlihat begitu bahagia. Tapi kini tak sebahagia itu lagi.
"Kamu kenapa sih, Put?" tanya Angga.
Kembali ia mengingat saat-saat mereka masih mengenakan seragam sekolah menengah. Di mana Putri yang sangat menjengkelkan malah terlihat menggemaskan. Kemunculan Rafa di antara mereka berdua, juga memeperjelas rasa suka yang Angga miliki terhadap Putri.
Berbekalkan video komplikasi gaya bicara Nata-chan, Angga bisa memiliki alasan untuk menjadikan Putri pacarnya.
Angga tersenyum mengingat kejadian itu.
__ADS_1
"Papa," panggilan itu mengejutkan Angga dan melihat Yura berdiri di depan pintu kamarnya.
"Kenapa nggak tidur, Ra?" tanya Angga.