Hipotalamus

Hipotalamus
Sok Lemah


__ADS_3

"Vin, bawa Yura ke kamar ini!" perintah sang nenek sambil membelai rambut Yura yang tertidur di lantai depan televisi.


"Suruh Papa aja, Nek!" bantah Vin.


"Feno lagi bantuin Kakek beresin tempat tadi!" omel neneknya.


"Nah, suruh Kakek aja," ucap Vin lagi.


"Kakek mana kuat, Vin!" tegas sang nenek (Isabel).


Wajah Vin mendadak masam dan menggendong Yura. "Buka pintunya," ucap Vin dengan nada malas.


Isabel membuka pintu kamar bekas Putri itu untuk cucunya. "Ini, dulunya kamar Putri," ucap Isabel sambil membuka pintu kamar tersebut.


Vin tak menanggapinya dan langsung membaringkan Yura ke atas kasur. Yura tidak terlalu berat dengan tubuh seratus lima puluh sentimeter.


Yura malah terbangun saat Vin membaringkannya. Ia menatap tajam wajah Vin. Mata mereka bertemu.


"Mau ngapain lo?!" teriak Yura.


"Mau ngebunuh lo! Mumpung diliatin dari Nenek!" bentak Vin.


"Neneeek!!" teriak Yura sambil berdiri.


"Vin cuma gendong kamu ke sini, Ra. Soalnya Nenek kasian lihat kamu ketiduran depan TV," ucap Isabel.


Yura terdiam dan menggaruk tengkuknya begitu melihat Isabel berdiri di depan pintu kamar. "Ya udah. Ke luar sono! Gue mau tidur," ucap Yura pada Vin.


"Ya, emang mau ke luar. Lo-nya aja yang teriak-teriak nggak jelas!" bantah Vin sambil berjalan menghampiri neneknya.


"Lihat kalian berdua. Nenek jadi ingat Putri sama Regi pas masih seumuran kalian. Beranteeem terus kerjaannya. Tiap hari berantem," ucap Isabel.


"Vin duluan, Nek!" bantah Yura.


"Kok gue? Lo yang teriak-teriak! Udah digendong ke sini juga. Lo kira badan lo nggak berat? Untung tangan gue nggak patah!" balas Vin.


"Berat? Gue cuma empat puluh enam kilo! Berat dari mana?!" bantah Yura lagi.


"Empat puluh enam kilo? Udah hampir setengah kuintal! Itu badan apa karung beras?!" tegas Vin.


"Tuh 'kan, Nek! Dia yang duluan!" Yura mengadukan hal itu pada neneknya.


"Dih, idiiih! Sok lemah!" tegas Vin yang merasa jijik dengan tingkah Yura. Sejak kapan seorang Yura suka mengadu? Itu hal yang dipertanyakan Vin dalam benaknya.


"Nenek!" ucap Yura lagi.


"Dih, demi apa coba lo kayak gitu?!" omel Vin.

__ADS_1


"Udah ah, Vin. Udah-udah! Jangan berantem terus!" ucap Isabel.


Vin mendesah kesal dan menunjukkan kepalan tangan ke arah Yura.


"Tuh 'kan, Nek! Dia mau mukul aku!" ucap Yura lagi.


Vin memilih untuk meninggalkan kamar tersebut.


***


Sekolah kembali dimulai hari Senin ini. Yura masih mendapati Meta yang terus diperlakukan seperti jongos pribadi milik Jong Woo.


"Lo nggak capek, Met?" tanya Yura pada gadis yang sedang menyalin tugas milik Yura.


"Gue capek, Ra! Capeeek banget! Gue mau berhenti, tapi Kak Jong Woo belum sembuh. Gue sampai nggak sempat bikin tugas gegara kemaren ngikutin dia ke sana sini!" jawab Meta.


Vio yang duduk di sebelahnya hanya mampu berdiam diri dan menutupi apa yang ia rasakan.


"Lo mau gue kasih tahu sesuatu?" tanya Yura.


"Ntar aja deh, Ra. Gue kelarin tugasnya dulu! Bentar lagi bel masuk!" Meta kembali fokus pada tugasnya.


"Lo mau gue kasih tahu sesuatu nggak, Vi?" tanya Yura pada Vio yang sedari tadi hanya berdiam diri.


"Apaan?" tanya Vio.


"Hah?! Maksudnya gimana?!" Malah Meta yang terkejut mendengar kalimat tersebut.


"Jong Woo udah sembuh dari kemaren-kemaren," ucap Yura lagi.


"Tapi kemaren dia masih pincang! Dia juga masih neleponin gue buat ini itu! Sembuh dari mananya?!" pekik Meta.


"Dia cuma caper aja sama lo," ucap Yura tanpa dipikirkan terlebih dulu.


"Caper gimana maksudnya, Ra?!" teriak Meta.


"Jong Woo suka sama lo," ucap Vio memperjelas semuanya.


"Hah?! Nggak mungkin, Vi! Kan lo suka sama Kak Jong Woo. Lo juga pernah deket sama dia. Harusnya dia caper ke lo dong!" bantah Meta.


"Kan lo duluan yang caper ke dia," ucap Vio.


"Hah?! Maksudnya gimana?" tanya Meta.


"Kelarin dulu deh tugas lo, Met! Bentar lagi bel masuk bunyi!" Vio malah mengalihkan topik pembicaraan tersebut.


"Lo pernah deket sama Jong Woo, Vi?" tanya Yura.

__ADS_1


"Nggak," jawab Vio dan membuat Meta menoleh padanya. "Kelarin tugas lo, Met!" tegas Vio. Meta kembali mengerjakan tugas.


"Terus kenapa?" tanya Yura membuat Vio mengernyitkan dahi pertanda bahwa ia tak mengerti akan apa yang ditanyakan oleh Yura.


"Kenapa apanya?" tanya Vio.


"Kenapa lo jeles sama Meta?" tanya Yura tanpa basa-basi.


"Dih, nggak kok! Gue nggak ngapa-ngapain, Vi! Suer! Gue juga nggak mau sama Kak Jong Woo. Gue 'kan tahu kalau lo suka sama Kak Jong Woo! Nggak mungkin gue sejahat itu Vi—"


"Kelarin tugas lo, Met!" tegas Vio agar Meta tak terus mengoceh.


***


"Lo belum jawab pertanyaan gue," ucap Yura.


"Gue nggak pernah suka sama dia," ucap Vio.


"Berarti kalau Jong Woo mau jadian sama Meta. Lo bakalan dukung 'kan?" tanya Yura lagi.


"Dih, nggak bakalan, Ra! Gue tahu Vio suka sama Kak Jong Woo!" bantah Meta.


"Tapi tadi dia bilang nggak suka!" Yura ikut membantah.


"Gue tahu. Lo suka 'kan sama Kak Jong Woo, Vi? Lo juga seneng 'kan dikasih dia boneka? Jawab jujur, Vi!" ucap Meta.


"Nggak! Boneka itu dari Marc! Jong Woo cuma bantu ngasih doang," ucap Vio membuat Yura dan Meta terperangah.


"Berati lo suka sama Kak Marc?" tanya Meta.


"Nggak! Gue nggak ada waktu buat suka sama cowok!" ucap Vio dan pergi ke toilet.


"Jadi boneka itu dari Kak Marc? Pantesan Vio bilang nggak suka sama Kak Jong Woo! Berarti kemaren-kemaren itu gue salah paham? Astagaaa!!" gerutu Meta sambil memukul kepala. "Berarti gue kelihatan bego banget di depan Kak Jong Woo. Pantesan dia kabur mulu pas ketemu gue sampai jatoh di tangga!" lanjutnya.


"Gue tahu dari Vin. Dia udah ceritain semuanya. Jong Woo cuma caper sama lo! Dia nggak berani ngungkapin, takutnya lo nolak terus ngejauhin dia," ucap Yura.


***


Setelah beberapa bulan berlalu. Hari ini adalah hari ujian semester pertama di sekolah Vin. Nurul sangat menantikan kedatangan anaknya tersebut. Pastinya libur sekolah nanti, Vin akan pulang dan menikmati waktu lebih lama bersama mereka.


Tapi, nyatanya tidak. Vin memilih untuk kembali ke rumah Rafa untuk mengurus sesuatu. Ia berusaha menutupi kasus pelayan yang memasuki kamarnya tanpa izin. Setelah menonton rekaman CCTV, Vin mengetahui bahwa pelayan tersebut adalah Chika.


Desi dan para pelayan lain masih mencari pelakunya. Sementara Vin berusaha menutupi.


***


"Kenapa tidak pulang, Vin?" tanya Nurul melalui panggilan telepon.

__ADS_1


__ADS_2