Hipotalamus

Hipotalamus
Kepindahan Jong Woo


__ADS_3

"Emangnya Jong Woo kapan berangkat?" tanya Yura pada Vio yang sedang bersiap-siap mendatangi tempat yang sama dengan Vin.


"Katanya sih minggu depan," jawab Vio.


"Ribet bener dah!" omel Yura membawa beberapa kardus ke luar kamar asrama.


Vio hanya berdiam diri dan membantu temannya itu.


"Lo gimana, Vi?" tanya Yura memecah keheningan.


"Gimana apanya?!" Vio langsung marah.


"Bukannya lo masih suka sama Jong Woo?" tanya Yura tanpa basa-basi.


"Ya terus?" Vio balik bertanya.


"Lo bggak sakit hati sama ini semua?" tanya Yura lagi.


"Biasa aja. Yang penting Meta seneng," jawab Vio dan lebih dulu membawa kardus-kardus itu.


Kembali notifikasi ponsel Yura berbunyi. Ia mengeceknya.


[Lo sama Vio tunggu aja di luar pagar. Ntar sopir gue ke sana] tulis Vin pada pesan tersebut.


"Vi!" teriak Yura menyusul temannya itu. "Vin nyuruh kita nunggu di depan pagar asrama. Katanya sopir dia mau jemput ke sini!" lanjut Yura.


"Enaknya temenan sama anak pemilik GG GROUP!" teriak Vio kegirangan. Sekarang tak ada lagi yang harus ditutupi pasal identitas Vin.


Mereka bergegas menunggu.


***


Sementara yang terjadi di Gibi. Vin sedang menonton anime bersama Marc.


"Sisa dua episode lagi. Vio sama Yura ke mana sih?! Lama bener! Katanya sopir lo mau jemput mereka, Vin?!" omel Marc.


"Udah biarin aja. Semoga mereka sampai pas animenya udah habis," ucap Vin.


Bertepatan dengan itu, Yura dan Vio sampai di Gibi. Yura terbelalak melihat Vin dan Marc yang masih asyik menonton anime. Sementara Gibi sudah didekorasi seram oleh para pelayan Vin.


"Vin!" teriak Yura membuat mereka semua terkejut. "Lo masih waras 'kan?! Ini cuma suprise buat Jong Woo! Bukan acara kematian dia!" omel Yura melihat semua dekorasi tersebut.


"Balon-balon dan kue, dan suprise!" ucap Vin menunjuk semua dekorasi itu.


"Maksud lo dekorasi ini suprisenya?!" tanya Vio.


"Iya, pasti dia kaget," ucap Vin.


"Jangankan dia, ini mah gue juga kaget! Gue kira Gibi disewa orang buat kematian!" omel Yura.


"Udah, mending kita nonton anime. Semuanya udah diurusin mereka!" ucap Vin.


Satu pukulan mendarat di lengan Vin. Yura sudah menggeram melihat tingkah pria itu. "Tutup laptopnya!" perintah Yura.


"Lo tuh mikir nggak sih?! Jong Woo itu mau diperlakukan spesial di perpisahan kita sama dia! Bukan semuanya dilakuin dari pelayan lo!" omel Yura.

__ADS_1


"Ya sebut aja kalo ini semua kita yang bikin. 'kan dia nggak tahu," ucap Marc.


Yura juga memukul lengan pria itu. "Lo tutup itu laptop, sebelum gue banting! Ini kardus, gue bawa ke sini susah payah. Lo berdua potong terus temepelin kertas yang warna-warni ini!" tegas Yura.


"Bentar lagi! Anime ya belum kelar. Sisa 2 episode!" bantah Vin.


"Tutup laptopnya! Atau gue banting?!" ancam Yura lagi.


"Iya-iya!" Vin terpaksa menutup laptopnya dan mengambil alih kardus yang Yura dan Vio bawa.


"Ini semua gegara Jong Woo! Banyak bangrt maunya. Kalo mau pindah, ya pindah aja. Ngapain coba minta surprise segala!" omel Vin.


"Woi! Jong Woo itu temen lo berdua! Ya elah! Lama-lama kesel gue ngelihat lo berdua!" teriak Yura.


"Potong aja, Vin! Jangan banyak ngomel!" ucap Marc memberikan salah satu gunting pada Vin.


"Ini cemilan sama minuman buat kalian," ucap Nurul yang kewalahan membawa semuanya.


Vin langsung berdiri dan membantu sang ibu. Untungnya pertengkaran di antara mereka telah usai. "Makasih, Ma!" ucap Vin.


"Ini buat surprise Jong Woo?" tanya Nurul.


"Iya, Tante. Ini idenya Vin. Emang rada nggak waras!" jawab Yura dengan cepat.


"Ya udah kalian siapin ya semuanya. Tante mau pulang. Ini kuncinya Tante titip ke kamu ya, Yura!" ucap Nurul memberikan kunci Gibi pada keponakan pemilik tempat tersebut.


"Iya, Tante," balas Yura.


"Tante!" panggil Yura membuat Nurul menghentikan langkahnya. "Kalo Vin ngeselin, boleh nggak aku pukul?" tanyanya.


"Lo yang gue pukulin duluan!" bantah Vin.


"Vin! Nggak boleh kasar sama cewek!" tegas Nurul.


"Iya itu buat cewek, Ma. Yura mah Genderuwo!" ucap Vin.


Yura langsung memukul lengan Vin. "Dia ngeselin, Tante," ucap Yura.


"Lo yang ngeselin!" bantah Vin.


"Ya udah, Tante pulang dulu ya! Vin, Mama pulang!" ucap Nurul. Wanita itu benar-benar pergi setelah mendengar jawaban iya dari mereka semua.


Notifikasi dari ponsel Vin berdering. Ia mengeceknya. [Gue udah boleh ke Gibi?] tulis pesan yang dikirim oleh Jong Woo tersebut.


[Iya] balas Vin.


"Yah! Yaaaaahhh!!!" teriak Vin.


"Lo kenapa sih, Bajingan?!" teriak Yura yang terkejut mendengarnya.


"Gue salah bales sms-nya Jong Woo! Dia barusan nanya udah boleh blom ke Gibi, malah gue balas iya!" ucap Vin panik.


"Kenapa lo balas iya?! Otak lo dipake nggak sih, Vin?!" omel Marc.


"Dia bales! Gue otw! Gimana nih?!" pekik Vin.

__ADS_1


"Sms mana bisa ditarik pesannya! Dih sumpah ngeselin amat sih lo, Vin?!" teriak Yura.


"Sabar, Ra! Mending kita beresin ini semua! Metanya gimana? Udah mau ke sini apa belum?" tanya Vio.


"Meta lagi di jalan! Tapi kayaknya bakalan Jong Woo duluan yang sampe ke sini. Jong Woo dari asrama soalnya!" ucap Yura.


"Yaudah, kita beresin dulu!" ucap Vio.


Secepat kilat mereka membersihkan semuanya. Para pelayan juga diberikan waktu untuk istirahat oleh Vin di kantin Gibi.


***


Jomg Woo bersiap dengan motornya menuju Gibi. Sepanjang jalan ia membayangkan akan bagaimana kejadian surprisenya malam ini.


"Aduh, pasti mereka bakalan nangis-nangis kayak waktu perpisahan sama Yura. Aduh, apa gue bakalan dikagetin kayak Yura sampai kepentok rak buku? Nggak apa-apa sih. Gue pura-pura nggak tahu aja," ucap Jong Woo bermonolog.


Sesampainya di Gibi, semua tirai yang menutupi jendela kaca telah tertutup. Namun lampu Gibi masih menyala. Bertepatan dengan Jong Woo memarkir motornya, lampu itu dimatikan oleh Yura.


Jong Woo tersenyum. Surprise apaan ini? Telat lo matiin lampunya, woe! umpat Jong Woo dalam hati.


Tanpa ragu Jong Woo membuka pintu Gibi dan memasukinya.


"Woi!" panggil Jong Woo.


"Ini mah mirip banget sama perpisahan Yura! Nggak kreatif amat!" umpat Jong Woo yang didengar oleh semua temannya dalam kegelapan.


"Gue nyalain lampunya ya!" ucap Jong Woo.


"Pakai ini aja, Jong!" ucap Marc memberikannya sebuah senter.


"Lo semua ada di sini, apa cuma lo sendiri, Marc?" tanya Jong Woo sambil menyalakan senternya. Marc tak memberikan jawaban apa pun.


Jong Woo menyorot segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Saat ia melihat ke arah langit-langit, pria itu langsung terduduk di lantai.


"Wwoiiii!!! Apaan itu?!" teriak Jong Woo yang dikejutkan akan kepala seseorang yang tergantung di sana.


"Woi! Itu manekin ya? Apa orang asli?!" teriak Jong Woo lagi. Tiba-tiba kepala itu menoleh padanya. "Wwwoooiiii!!!" teriak Jong Woo hendak kabur.


Namun, Vin lebih dulu menarik kakinya hingga terjatuh. Yura yang berpakaian bak kuntilanak, mengikat kaki pria itu dan membuat Jong Woo meronta-ronta hingga menangis.


"Apaan ni?" tanya Meta yang baru sampai dan mengacaukan segalanya.


"Aaarghhh!! Lepasin kaki gue!! Met, tolong Met!! Aarghhh!!! Ampun!!" teriak Jong Woo lagi.


Meta juga tak tahu bahwa surprise kali ini akan bertema horor.


Tiba-tiba Yura tertawa kencang dan mengejutkan semua orang.


"Aarghh!!" Vio ikut terkejut mendengarnya dan memeluk lengan Marc. "Gue kaget," ucapnya dan melepaskan pelukan tersebut.


Meta menyalakan lampunya dan melihat semua temannya sudah menjadi orang gila.


"Ini surprisenya?" tanya Meta.


"Kenapa lo nyalain lampunya, idiot?!" umpat Yura.

__ADS_1


__ADS_2