Hipotalamus

Hipotalamus
Lo Udah Bikin Dia Nangis


__ADS_3

"Minta maaf apaan?! Gue nggak ngapa-ngapain dia!" bantah Jong Woo lagi.


"Lo udah bikin dia nangis!" omel Meta.


"Dia nangis sendiri! Bukan gue yang bikin!" Jong Woo terus membantah dan membuat Meta kesal.


Gadis itu menjewer telinga Jong Woo tanpa ampun. "Minta maaf sama Vio!" bentaknya.


"Aawww!! Sakit!! Astaga, gue salah apaan coba?!" bantahnya lagi.


"Masih nanya?! Vio nangis gegara Kak Lee Jong Woo!" teriak Meta lagi dan membuat Jong Woo kelabakan menutupi telinganya yang sedang dijewer.


"Iya, iya! Lepasin dulu! Gue udah kayak anak abis main gundu diomelin emaknya!" tegas Jong Woo.


"Kalau main gundu, nggak masalah. Asal jangan mainin hati anak orang!" tegas Meta melepaskan jewerannya.


Jong Woo malah melihat peluang dan kabur dari masalah itu. Ia berlari sekuat tenaga agar terhindar dari perempuan bersuara melengking itu.


"Kak Jong Woo!!" teriak Meta dan mengejarnya.


Sejak kejadian itu, Meta selalu memburu kehadiran Jong Woo dan memaksanya untuk meminta maaf kepada Vio. Meski Vio tidak mau masalah itu berkelanjutan, tapi Meta tetal tak terima temannya diperlakukan seperti itu oleh pria berdarah campuran Indo-Korea tersebut.


"Salah gue apa? Gue cuma bantuin temen. Malah dikejar Wewe Gombel!" umpat Jong Woo yang terpaksa makan sambil bersembunyi agar tak ditemukan oleh Meta.


Pagi ini Meta terlambat. Yura dan Vio sudah pergi ke sekolah terlebih dulu. Sementara gadis itu masih bersiap-siap di kamar asrama.


***


Di asrama sebelah malah Marc dan Jong Woo berdebat di waktu yang bersamaan.


"Udah siang ini, Jong!" omel Marc.


"Lo berangkat aja duluan sama Vin! Gue nggak apa-apa telat!" bantah Jong Woo yang sedari tadi dipaksa oleh Marc untuk berangkat bersama.


"Emangnya kenapa sih? Lo ada masalah? Sama siapa?" tanya Vin.


"Gue nggak mau ketemu Meta! Ntar gue dipaksa buat minta maaf ke Vio gegara yang kemaren!" jawab Jong Woo.


"Dia masih ngejar-ngejar lo?" tanya Marc.


"Lebih dari itu! Gue berasa jadi buronan!" jawab Jong Woo lagi.


"Ya udahlah! Kita duluan aja, Marc. Kesiangan nih. Bentar lagi telat kita!" ucap Vin dan Marc menyetujuinya.

__ADS_1


Mereka pergi meninggalkan Jong Woo sendirian di asrama. Tiba-tiba Jong Woo mendengar bunyi bel masuk di sekolah. Secepat kilat ia berlari ke luar asrama menuju sekolah.


Di perjalanan, ia malah melihat Meta yang sedang berlari di hadapannya.


"Kenapa dia telat juga?! Astaga! Mati gue!" ucap Jong Woo dalam hati.


Sesampainya mereka di sekolah, pintu pagar telah tertutup sempurna. Tak ada satu pun murid yang boleh memasukinya lagi. Tidak ada kata telat atau terlambat di Presidential International High School. Jika pagar telah tertutup, maka tidak akan dibuka hingga bel pulang berbunyi.


"Pak!! Buka, Pak!" jerit Meta pada satpam di depan pagar. Namun, satpam itu tak menghiraukannya. Karena memang peraturan sekolah seperti itu.


"Paaak!!" teriak Jong Woo membuat Meta menoleh padanya. "Bukain, Pak!" omel Jong Woo di sebelah Meta.


"Lo telat juga?" tanya Meta.


"Kenapa sih lo harus telat juga?!" omel Jong Woo lagi.


"Harusnya gue yang nanya gitu!" bantah Meta. "Lo sengaja telat ya biar ketemu gue?!" lanjutnya.


"Yang bener itu gue sengaja telat biar nggak ketemu sama lo! Tapi lo malah telat juga!" bantah Jong Woo.


"Pas banget! Lo harus minta maaf sama Vio, Kak!" bentak Meta.


"Lo kenapa sih?! Emangnya gue salah apa sama Violin? Gue cuma bantuin temen gue buat deket sama dia! Kenapa jadi gue yang disalahin?!" bantah Jong Woo.


"Astaga, serah lo aja, Met! Gue nggak ada urusan sama Vio lagi," ucap Jong Woo dan berjalan pergi.


"Kak Jong Woo!!" teriak Meta berlari mengikutinya.


"Lo jangan ngikutin gue!" bentak Jong Woo pada adik kelasnya itu.


"Nggak! Gue bakalan ngikutin lo samapi lo minta maaf sama Vio!" Meta membantah larangan tersebut.


"Gue harus minta maaf soal apa? Gue minta maaf buat perbuatan yang gue nggak salah ngelakuinnya?" jong Woo ikut membantah.


"Nggak salah?! Bdeketin Violin terus lo bikin nangis, itu nggak salah menurut lo, Kak?! Kayaknya cowok kayak lo harus dipukulin sama Yura dulu baru sadar. Jelas-jelas lo yang deketin Vio dan bikin dia Nangis. Sekarang lo bilang nggak salah?!" omel Meta.


Jong Woo tak tahan mendengar ocehannya tersebut dan memilih untuk menutup kupingnya dengan kedua tangan.


"Tuh 'kan! Lo nggak mau denger. Udah ketahuan sama gue! Lo nggak bisa ngelak, makanya lo milih buat tutup kuping dan nggak dengerin gue!" omel Meta lagi.


"Justru gue nggak mau dengerin lo, karena lo kayak bebek tahu nggak?! Nyerocos aja mulut lo nggak ada remnya!" Kini, Jong Woo yang mengomel.


"Enak aja kayak bebek! Pokoknya gue ikutin lo, sebelum lo minta maaf ke Vio!" tegas Meta.

__ADS_1


Jong Woo mengacak rambutnya dengan kasar. Tiba-tiba ia mengambil ponsel dan bergeming. Tak lama kemudian, sebuah mobil taksi menghampiri mereka.


"Pokoknya lo nggak boleh ikut!" tegas Jong woo sambil menunjuk wajah Meta dan ia berjalan memasuki taksi tersebut bersamaan dengan Meta yang langsung menerobos masuk lewat pintu yang lain.


"Lo!" tunjuk Jong Woo ke arah wajah Meta. "Turun, nggak?!" bentaknya.


"Nggak!" bantah Meta.


"Turun!" tegas Jong Woo.


"Nggak! Gue nggak mau!" teriak Meta tepat di depan wajah kakak kelasnya tersebut.


Jong Woo menarik napasnya dengan kesal. "Ke sini, Pak!" ucap Jong Woo menunjukkan sebuah peta dari ponselnya kepada supir taksi.


"Oke, Mas," balas supir itu dan melajukan mobilnya.


"Lo mau ke mana?" tanya Meta.


"Ke kantor Satpol PP!" tegas Jong Woo.


"Ngapain ke kantor Satpol PP?" tanya Meta lagi.


"Bawa lo ke sana! Lo bolos sekolah!" Jong Woo membuka seragam dan memasukkannya ke dalam tas. Kini ia mengenakan baju polos berwarna hitam.


"Lo 'kan juga bolos sekolah!" bantah Meta.


"Iya gue bolos sekolah! Lo bisa diem bentar nggak sih?!" Jong Woo kembali mengomel.


"Gue cuma nanya. Ini taksinya mau ke mana?!" bentak Meta.


"Banyak tanya!" Jong Woo ikut membentak.


***


Mobil itu berhenti di sebuah tempat yang tak asing bagi Meta. Taksi itu membawa mereka ke toko buku Gibi. Meta berkeliling-liling demi memastikan bahwa yang meteka datangi itu adalah toko buku milik ayahnya.


"Lo ngapain ke sini?" tanya Meta.


"Lo bisa diem nggak sih?!" bentak Jong Woo dan melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam toko itu.


"Selamat datang di toko buku Gi-bi," ucap William yang mulanya tersenyum tapi kini menjadi heran setelah melihat kehadiran adik perempuannya itu bersama seorang pria.


"Kenapa lo nggak sekolah?!" bentak William pada adiknya itu.

__ADS_1


__ADS_2