
"Iya, dulu ada Chika. Dia pelayan pribadi Tuan Muda, tapi dia dipecat gegara maling di rumah ini. Tapi, karena Tuan Muda itu orangnya baik, dia malah sembunyiin kasus itu," jelas mereka.
"Tapi buktinya dia nggak sebaik itu," jawab Nia yang membuatnya mendapat tatapan sinis dari para pelayan yang memuja tuan muda mereka tersebut.
***
Yura baru saja turun dari boncengan Kim Tae Young.
"Ma—"
"Makasih, Ra!" Kim Tae Young memotong kalimat yang hendak Yura ucapkan.
"Harusnya gue yang bilang makasih," ucap Yura.
"Gue yang makasih!" bantah Kim Tae Young.
"Kenapa?" tanya Yura tak mengerti.
"Gegara lo, gue nggak jadi bunuh diri," jawabnya.
Yura terdiam menatap pria itu. "Gue juga makasih. Gegara lo, gue nggak jadi ngebunuh Vin malam ini," ucap Yura sambil terkekeh.
Kim Tae Young tersenyum mendengar hal itu. "Kenapa sih lo nyebelin?" tanya Kim Tae Young.
"Nyebelin? Sejak kapan?!" bantah Yura.
"Masih lekat di otak gue. Pas gue bilang nggak jadi bunuh diri, lo malah nanya 'kenapa nggak jadi?' itu seolah-olah lo mau gue lanjutin sampai mati!" omel Kim Tae Young sambil terkekeh.
Yura ikut terkekeh. "Kan gue nanya doang!" bantahnya lagi.
"Yura!" tegas Angga yang melihat anak gadisnya itu baru pulang di tengah malam bersama seorang pria namun bukan Kayuki.
Angga mendekati mereka dan menatap sinis ke arah Kim Tae Young. "Habis ke mana kamu?!" tegasnya lagi.
"Abis anterin Yura pulang, Om," jawab Kim Tae Young.
"Bukan kamu!" tegas Angga lagi. "Saya nanya anak saya!" lanjutnya.
"Apaan sih, Pa!" bantah Yura yang tak menyukai sikap ayahnya tersebut.
"Kamu habis ke mana sama cowok ini?!" tanya Angga.
"Kita habis—"
"Saya nggak nanya kamu!" bentak Angga memotong kalimat Kim Tae Young.
"Habis mau bunuh diri! Tapi nggak jadi gegara ada dia!" tegas Yura.
__ADS_1
"Jawab yang jujur, Yura!" balas Angga.
"Apaan sih?! Ngeselin amat!" bentak Yura dan menghempas langkah memasuki rumah dengan kesal.
Angga dan Kim Tae Young memerhatikan Yura hingga gadis itu benar-benar menghilang dari pandangan mereka.
"Yang tadi itu, Yura nggak bohong, Om," ucap Kim Tae Young.
Angga menatap kedua bola mata pria itu.
"Yura mau bunuh diri di gedung yang sama di berita itu. Saya juga ke gedung itu. Juga ada Vin. Dia yang berantem sama Yura. Yura udah bawa pisau. Tapi pisaunya saya buang. Dia malah mau ngebunuh Vin. Untungnya tubuh Yura kecil, jadi saya bisa nahan. Gegara itu dia nggak jadi bunuh diri," jelas Kim Tae Young.
"Jangan ngada-ngada kamu," ucap Angga.
"Saya nggak ngada-ngada, Om! Nanti Om liat aja tangan Yura, ada bekas merah. Itu bukti kalo dia tadi mukulin Vin," ucap Kim Tae Young.
"Siapa nama kamu?!" tanya Angga.
"Arnold, Om," jawab Kim Tae Young.
"Ya udah, balik aja. Ini udah tengah malam!" tegas Angga.
"Saya pulang dulu, Om," ucap Kim Tae Young sambil menyalakan motornya.
"Oh iya, Om!" ucapnya menghentikan gerakan Angga yang hendak menutup pintu pagar. "Kayaknya Yura depresi, jangan ditingal sendirian. 'ntar dia malah kayak gini lagi," lanjutnya dan pergi.
Di sana ia melihat Yura yang sedang duduk di ruang tamu.
"Papa kenapa sih selalu kayak gitu?!" tanya Yura.
"Papa nggak mau kamu terlalu dekat sama laki-laki yang nggak jelas, Ra," jawab Angga.
"Itu tadi Arnold, Pa! Kakak kelas aku! Bulan depan dia mau dikirim ke Korea!" ucap Yura.
"Terus ngapain kamu balik tengah malam gini sama dia?!" tanya Angga.
Yura sempat terdiam sejenak. "Kita habis ngumpul sama temen-temen yang lain!" jawab Yura.
Angga mengingat kalimat yang Kim Tae Young katakan. Pandangannya tertuju pada tangan kanan Yura yang memerah di bagian ruas jarinya.
"Tapi tadi kamu bilang habis mau bunuh diri!" bantah Angga.
"Kita ngumpul!" Yura ikut membantah.
"Oke, anggap aja kamu ngumpul sama temen-temen kamu. Umur kamu itu belum genap delapan belas tahun, Yura! Kamu kira bagus pulang tengah malam bareng laki-laki kayak gitu?!" omel Angga.
"Itu cuma temen! Kakak kelas aku, Pa!" bantah Yura terus menerus.
__ADS_1
"Mau dia kakak kelas kamu, temen, sepupu atau apa pun. Selagi dia laki-laki, itu artinya kamu nggak boleh kayak gini! Apa lagi pulang tengah malam bareng dia!" omel Angga semakin menjadi hingga Putri mendengarnya.
"Papa itu terlalu overthinking! Apa sih yang bikin Papa se-posesif ini sama aku?! Aku juga mau ngumpul sama temen, ngobrol! Nggak peduli dia gender-nya apa, agamanya apa, sukunya apa, warna rambutnya, warna kulitnya. Aku nggak pernah peduli! Selagi aku bisa dan nyaman temenan sama mereka ya aku temenin! Kenapa sih Papa harus ngatur aku sampai ke seluk-beluk pertemanan aku?! Emangnya harus ya ngebatasin aku kayak gini?!" balas Yura.
"Papa cuma nggak ...." Angga tak melanjutkan kalimatnya karena melihat kehadiran Putri.
"Yura, masuk kamar aja," ucap Putri mengajak anaknya itu untuk menghindari perdebatan yang tidak akan ada ujungnya.
Di dalam kamar Yura, Putri mengusap rambut anak gadisnya itu.
"Kenapa sih Papa kayak gitu?!" omel Yura.
"Papa itu sayang sama kamu, Ra!" jawab Putri.
"Kalo sayang ya jangan nyiksa aku dong, Ma! Posesif amat!" balasnya.
Putri menghela napasnya. "Gini, Ra. Dulu Mama juga kayak kamu. Mama mau bebas. Cuma, bedanya kalo kamu punya Papa yang posesif. Kalo Mama, Mama malah punya abang yang posesif, nyebelin, suka ngajak berantem. Om Regi itu yang selalu batasin gerak Mama!" ucap Putri.
"Tapi Mama nggak pernah 'kan ngerasain setiap kali ada cowok ke rumah, yang walaupun itu cuma temen tapi malah dijudesin gitu dari Papa?!" balas Yura.
Putri malah terkekeh. "Justru Papa kamu dulu digituin dari Om Regi," jawabnya.
"Ya, kalo pun Papa pernah digituin dari Om Regi, bukan berarti Papa harus balas dendam ke semua temen aku dong!" bantah Yura.
"Papa nggak balas dendam, Ra," ucap Putri.
"Terus apa namanya kalo nggak balas dendam! Papa pasti nggak terima pernah digituin dari Om Regi, sekarang malah ngegituin temen-temen aku!" ucap Yura.
"Gini, Ra. Dulu, Mama pernah putus sama Papa kamu, karena dia mau tunangan sama Tante Nurul ...," ucap Putri.
"Hah?! Tante Nurul?! Mamanya Vin?!" pekik Yura terkejut.
"Denger dulu," ucap Putri.
"Jadi, pas Mama putus sama Papa. Papa mau tunangan sama Tante Nurul. Ya, Mama kesel dong. Pasti! Bertepatan dengan itu, Om Regi kasih Mama kerjaan buat riset karakter seseorang, di sana Mama kenal satu laki-laki yang benar-benar bikin Mama jatuh cinta. Om Feno udah bilangin ke Mama, kalau cowok itu bukan cowok baik-baik, tapi Mama tetap kekeh kayak kamu sekarang. Tapi, laki-laki itu malah lecehin Mama sampai Mama trauma sama laki-laki. Makanya, kamu nggak pernah 'kan lihat Mama dekat sama laki-laki selain Papa?" tanya Putri.
Yura mengangguk. Ia bingung untuk memberikan respons apa untuk cerita sang ibu.
"Mama udah terapi, ditemenin Om Feno waktu itu. Lumayan ngefek, tapi masih ada sampai sekarang. Kadang Mama takut ketemu laki-laki. Makanya Mama memilih untuk kerja sama Om Regi tanpa ketemu siapa pun, kecuali Om Regi sama Om Feno doang," ucap Putri.
"Maksudnya, Papa nggak mau aku kayak Mama? Tapi kenapa sampai segitunya gitu loh, Ma! Dulu sama Kayuki, sekarang sama Arnold juga gitu. Padahal Arnold itu kakak kelas aku!" tanya Yura.
Putri kembali menghela napasnya lebih dalam. "Papa kamu nggak suka sama Kayuki, karena dia tahu Kayuki anak siapa, Ra," jawab Putri.
"Ya, meskipun Kayuki anaknya Yakuza. Tapi keluarganya baik kok ke aku, Ma!" bantah Yura.
"Pria baik yang bikin Mama jatuh cinta dan bikin Mama trauma itu ayahnya Kayuki, Ra. Saigi," ucap Putri.
__ADS_1