
"Kan lo yang pengen Yura dikirim ke Jepang. Kenapa sekarang kayak gini, Put?!" pekik Nurul yang memberikan segelas minuman pada sahabatnya tersebut.
"Iya, gue akuin gue bodoh! Gue akuin gue terlalu sibuk sama kerjaan. Gue akuin juga kalau gue nggak pernah ngurusin Yura. Tapi ...." Putri meneteskan air mata di hadapan Nurul.
Nurul langsung mengusap pundak Putri. "Sabar, Put. Lo bisa cerita ke gue. Jangan dipendam sendirian," ucapnya.
"Gue juga nggak ngerti sama apa yang gue rasain, Nur. Gue dongkol kalau ada Yura di rumah. Gue kesel kalau dia berantem mulu di sekolah. Rasanya, gue mau dia itu jauh-jauh dari gue. Tapi sekarang, dia udah beneran jauh. Rasanya ... gue nggak tahu jelasinnya kayak gimana." Air mata kembali menetes sembari Putri mencurahkan isi hati.
"Coba lo bayangin. Gue yang mengandung dia. Gue yang ngelahirin dia bertaruh nyawa. Tapi tiba-tiba sekarang, dia pergi. Gue ...." Air mata Putri benar-benar membanjiri wajahnya yang kusam.
Nurul malah ikut menangis mendengar hal tersebut. Pasalnya ia tengah merasakan apa yang coba Putri jelaskan. "Gue paham kok rasanya kayak gimana," ucap Nurul sambil mengusap air mata.
"Ya, mungkin gue kelihatan lebay. Lo boleh kok bilang gue lebay," ucap Putri.
"Nggak, Put! Lo nggak lebay! Emang rasanya susah dijelasin. Gue juga lagi ngalamin itu," ucap Nurul.
"Ngalamin apa? Vin kenapa?" tanya Putri.
"Vin udah lama nggak pulang," ucap Nurul.
"Dia betah di asrama?" tanya Putri lagi.
"Nggak. Dia nginep di rumah Rafa." Nurul kembali meneteskan air mata. Rasanya berat sekali mengikhlaskan bahwa anaknya itu lebih memilih untuk tinggal bersama pria yang mencampakkannya sedari kecil.
"Hah?! Rumah Rafa? Maksudnya? Kok bisa?" balas Putri begitu mendengar penjelasan tersebut.
"Katanya, dia harus belajar ngurus perusahaan. Jadi, dia nggak sempat pulang. Kayak yang lo bilang. Gue yang mengandung, gue yang berusaha mati-matian ngelahirin Vin. Gue dan Feno yang banting tulang buat gedein dan didik Vin. Tapi tiba-tiba dia nggak di samping gue lagi," ucap Nurul sambil berusaha mengontrol napasnya agae air mata tak menetes lebih banyak.
"Tapi 'kan Vin baru delapan belas tahun. Masa harus belajar bisnis perusahaan di usia segitu?" balas Putri.
"Gue juga nggak ngerti, Put. Gue malah mikir kalau ini cuma akal-akalannya Rafa biar Vin nggak bisa pulang," jawab Nurul.
"Dih, kesian loh Vin masih kecil udah dipaksa belajar bisnis perusahaan! Di sekolah pasti banyak tugas! Masa mau ditambah bebannya anak!" omel Putri.
"Udah jangan bahas, Vin. Gue mau nangis aja bawaannya," ucap Nurul.
"Ya, terus bahas apaan? Kesian gue sama Vin!" balas Putri.
"Bahas tentang lo sama Angga aja. Lo masih berantem sama dia?" tanya Nurul.
__ADS_1
"Ya, gitu. Mungkin dengan ini, Yura makin jauh sama gue. Dia pasti bakalan nyaman tinggal di Jepang. Di sana ada keluarga Angga yang pastinya bakalan lebih peduli sama dia dari pada gue," jawab Putri.
"Belum tentu, Put. Yura bukan anak manja kayak Vin. Bisa aja dia mukulin anak orang lagi di sana," balas Nurul.
"Nah, itu juga mungkin terjadi. Biar Angga tahu kalau anaknya itu emang nakal! Biar dia tahu rasa ngurusin Yura sendirian!" tegas Putri dengan gemas.
***
Sementara yang terjadi di Presidential International High School, Vin melihat tingkah Jong Woo yang mulai semakin agresif terhadap Meta. Pria itu juga menggunakan kata-kata tak pantas hanya untuk menunjukkan bahwa ia tidak menyukai Meta. Vin mulai terpancing akan hal tersebut.
"Ada ya cewek model kayak lo! Udah kayak cewek murahan!" ucap Jong Woo.
Vin lamgsung berdiri dan menatap mata Jong Woo dengan tajam.
"Kenapa lo, Vin?" tanya sahabatnya itu.
"Lo jaga mulut lo!" bentak Vin.
"Lah, kenapa?" balas Jong Woo.
Tiba-tiba Vin mengingat kalimat yang pernah Rafa katakan bahwa dirinya diharuskan untuk menjaga hubungan baik dengan anak para investor yang bekerjasama dengan GG GROUP.
"Udah Vin, Jong Woo emang mulutnya lemes. Udah-udah!" Marc berusaha menengahi mereka.
"Kenapa sih? Salah gue apa?" Jong Woo malah tak menyadari perbuatannya. Hal itu semakin membuat Vin merasa kesal padanya.
Vin meninggalkan kantin dan teman-temannya di sana.
***
Sesampainya di kelas, ia mendapati Kim Tae Young bersama kedua temannya yang sedang mengobrol. Mereka sudah semakin asing semenjak kepergian Yura dari sekolah itu.
"Mana?" tanya Kim Tae Young.
"Ini! Makin mirip orang Jepang aja dia!" Kalimat itu mengundang perhatian Vin. Namun pria itu memilih untuk duduk di tempatnya.
"Ongkos ke Jepang berapa sih?" tanya Dewa.
"Nggak tahu, gue nggak pernah ke sana. Keluarga gue liburanya ke Eropa. Asia masih deket, paling nggak mahal-mahal amat," jawab Edo.
__ADS_1
"Emangnya di Jepang ada apa aja?" tanya Kim Tae Young.
"Lah, lo nggak tahu? Bukannya Korea sama Jepang tetanggaan ya?" balas Dewa.
"Memang dekat, tapi nggak tertarik ke sana," jawab Kim Tae Young.
"Nggak tahu gue. Paling ada wibu." Edo menimpali kalimat sahabatnya tersebut.
"Mungkin Yura bakalan jadi Wibu juga kalau ke sana! Faktor lingkungan! Bisa aja 'kan?" pekik Dewa.
"Nggak mungkin! Gue nggak yakin kalau Yura jadi Wibu nolep. Tapi, mungkin dia ikut kelompok gangster kayak Genji di sana!" Edo ikut menimpalinya.
"Nah! Terus pas balik ke sini lagi malah udah jadi Yakuza! Ha ha!" ejek Dewa sambil tertawa bersama Edo.
***
Sepulang sekolah, Vin dan Jong Woo masih tak membahas permasalahan di kantin tadi siang. Kamar asrama mereka terasa sepi akibat hal tersebut. Vin enggan mengingat sikap Jong Woo terhadap sepupunya itu. Jong Woo juga enggan membahas Vin yang aneh.
Marc malah merasa risih melihat mereka berdua yang tidak saling bicara. "Lo berdua kenapa sih?" tanya Marc yang tak mendapatkan jawaban.
"Coba deh diomongin baik-baik kalau ada masalah. Jangan kayak gini. Berasa tidur sendirian gue di sini!" omel Marc.
"Nggak ada masalah apa-apa," bantah Jong Woo.
"Nggak ada masalah apa-apa? Yakin lo?!" balas Vin.
"Tuh 'kan!" Marc memijat jidatnya.
"Lo ada masalah apa sih sama gue, Vin?!" tanya Jong Woo.
"Ada masalah apa? Masih nanya lo?!" balas Vin dengan kesal.
"Ya, lo tiba-tiba marah-marah kayak gini. Gue salah apa sama lo?!" tanya Jong Woo lagi.
"Lo suka sama Meta?" tanya Vin.
"Meta? Ini soal Meta?" tanya Jong Woo.
"Jangan bilang, lo jeles Vin lihat Jong Woo deketin Meta!" Marc malah menduga hal tersebut.
__ADS_1