
"Dia pelanggan di klinik kecantikan uri omma, wae? Mwoga munje ya?" tanya Kim Tae Young.
"Nggak ada salah apa-apa. Cuma nanya aja," ucap Jong Woo dan menarik Marc untuk kembali duduk di bangkunya masing-masing.
"Kenapa? Lo ngomongin apaan? Gue nggak paham!" ucap Marc.
"Violin itu pelanggan klinik kecantikannya nyokap Arnold. Dia cuma minta jadwal ketemuan sama nyokapnya Arnold. Berarti bukan Arnold cowok yang Vio suka," ucap Jong Woo.
"Kalau bukan dia, siapa lagi?!" tanya Vin.
"Ya pasti jawabannya gue!" jawab Marc penuh percaya diri.
"Marc turun, Marc!" ucap Vin. "Mimpi lo ketinggian!" ejeknya dan tertawa bersama Jong Woo.
***
Sepulang sekolah, Marc memutuskan untuk memberikan tiket bioskop itu kepada Vio. Sayangnya, lagi-lagi ia mendadak sakit perut saat melihat Vio dari kejauhan.
"Jong! Lo kasih ke dia, Jong! Gue sakit perut!!" pekik Marc sambil memberikan tiket itu kepada Jong Woo.
"Kok gue lagi yang kena?!" umpat Jong Woo dan mendapati Marc yang susah kabur ke arah toilet. "Astaga, kok gue lagi?! Nggak ada orang lain apa hah?! Selain gue gitu!" omelnya.
Tanpa sadar Vio sudah semakin dekat dengan Jong Woo. Tanpa ragu dan tanpa perasaan, Jong Woo menghentikan langkah gadis itu.
"Vio!" panggilnya. "Ini buat lo, datangnya ntar malem!" ucap Jong Woo dan langsung kabur karena tak tahu harus mengatakan apa lagi.
"Hah?!" Violin membatu saat mendapatkan tiket tersebut.
Ia sudah sedari kemarin berharap bisa berduaan bersama Jong Woo. Sejak Jong Woo memberikan kado berisi boneka beruang hitam hari itu, Vio menaruh hati pada pria itu tanpa diketahui oleh siapa pun.
***
"Gaes!!" pekik Vio yang membuka pintu kamar dan mengejutkan ke dua temannya.
"Apaan sih?! Kayak orang kesambet setan!" omel Yura.
"Tahu nih, jantungan gue!" Meta menimpalinya.
Vio tak menceritakan apa pun tentang tiket bioskop itu. Ia hanya memotretnya dan mengabadikan tiket itu di dalam ponselnya.
Biarlah kebahagiaan itu ia simpan sendirian. Karena Vio memang tidak terlalu terbuka pada teman-temannya mengenai kisah asmara yang ia alami.
Saat Vio sendirian di kamar, ia mulai berlatih dan membayangkan apa saja yang akan ia lakukan di bioskop nanti saat bersama Jong Woo.
"Kak Jong Woo suka nonton apa?" tanya Vio bermonolog sambil tersenyum-senyum.
__ADS_1
"Ini pop cornnya, Kak!" Ia menjulurkan buku tulis ke arah depan.
"Ah, Kak! Aku takut!" Vio berlagak seolah dia sedang menonton adegan horor bersama Jong Woo.
Tiba-tiba Yura dan Meta membuka pintu kamar. Vio langsung berbaring di kasurnya.
"Lo yakin nggak ikutan kita balik, Vi?" tanya Meta.
"Nggak! Gue mau di sini aja!" jawab Vio mengingat bahwa hari ini adalah hari Sabtu dan teman-temannya akan pulang ke rumah.
***
Vio begitu bersemangat untuk hari ini. Ia datang ke bioskop satu jam sebelum filmnya dimulai. Ia begitu lama menunggu. Hingga merasa bosan.
Saat seorang pria menepuk pundaknya. Ia dikejutkan akan kehadiran Marc di sana.
"Yuk, nonton," ucap Marc.
"Kok ... Kak Jong Woo, Mana?" tanyanya.
"Gue yang punya tiket itu, dia cuma gue suruh kasih ke lo. Kenapa?" Marc balik bertanya.
"Tapi dia ...."
"Tapi apa?" tanya Marc lagi.
"Tiket itu dari gue," ucap Marc.
"Maksud gue ... kenapa Jong Woo yang ngasih ke gue?" tanya Vio yang kini matanya berkaca-kaca.
"Gue yang nyuruh dia buat ngasih tiketnya ke lo, Vi," jawab Marc lagi.
Dada Vio benar-benar sesak. Ia mendongak agar air matanya tak menetes. Meski akhirnya tetap menetes juga. Hatinya hancur. Tak pernah ia bayangkan ini akan terjadi.
"Emangnya kenapa kalau gue yang datang?!" tanya Marc.
Vio menangis. Ia tak mampu menahan sesaknya itu. Marc juga hanya bisa berdiam diri melihat Vio yang menangis hingga tersedu-sedu.
Vio menghempas tiket itu dan pergi kembali ke rumahnya. Ia menangis. Bukan karena tiket bioskop itu. Tapi, ia tak menyangka bahwa perasaannya akan dipermainkan oleh pria seperti Jong Woo dan Marc.
Mulut mungil milik gadis itu tertutup rapat. Tapi air matanya terus mengalir tanpa perintah. Tak seharusnya ia sesenang itu ketika mendapat tiket bioskop dari Jong Woo.
Hari ini adalah hari tersakit bagi Violin. Setelah ia berdamai dengan rasa sakit akibat Marc. Tapi pria itu kembali membuatnya merasa sakit yang teramat. Dihancurkan oleh ekspektasi dirinya sendiri.
***
__ADS_1
Hari berlalu, Vio sendirian di kamar asramanya dan ia menikmati rasa sakit itu sendirian. Vio terus menangis. Mengingat bahwa ia tak bisa menampakkan rasa sedih itu di hadapan teman-temannya.
Siang di hari Minggu, Marc dan Jong Woo datang ke asrama perempuan dan meminta kepada penanggungjawab untuk memanggilkan Violin agar gadis itu ke luar dan mengobrol di luar asrama.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Vio keluar dari asrama dan menemui mereka. Jong Woo dan Marc benar-benar tidak tahu apa yang membuat Violin tega untuk membengkakkan matanya tersebut.
"Mau apa lagi?" tanya Vio dengan suara serak.
"Lo kenapa, Vi?" Marc balik bertanya.
"Gue capek. Gue mau istirahat. Kalau nggak ada yang mau diomongin, gue mau masuk," ucap Vio.
"Vi! Sebelumnya, gue mau minta maaf ke lo. Boneka yang kemaren gue kasih, itu dari Marc. Tiket bioskopnya juga," ucap Jong Woo.
"Boneka itu dari Marc?" tanya Vio.
"Iya," jawab Jong Woo tak tega. Karena air mata Vio kembali menetes.
"Kenapa lo mau ngelakuin ini?!" bentak Vio.
"Ya, karena Marc temen gue," jawab Jong Woo.
"Terus lo tega nyakitin perasaan gue demi temen lo?!" tegas Vio sambil berusaha mengontrol napasnya.
"Gue minta maaf, Vi. Gue sama Marc ke sini mau bilang itu. Kayaknya lo udah salah paham," ucap Jong Woo.
Sementara Marc tak berani mengucapkan kalimat apa pun.
Vio tak habis pikir. Ia kira semua ini bisa membuatnya menemukan sosok yang baru setelah sekian lama terluka dibuat Marc. Belum sempat lukanya sembuh, malah ia terluka lagi dibuat oleh orang yang sama.
Tanpa sepatah kata Vio masuk kembali ke dalam asrama.
***
Hari berikutnya, Meta melabrak meja Jong Woo. Tanpa rasa takut dia mendatangi pria itu.
"Lo apain Vio, Kak?!" teriaknya.
"Apain? Gue nggak ngapa-ngapain!" bantah Jong Woo.
"Lo yang ngasih kado itu buat dia! Kenapa dia nangis-nangis terus di asrama? Dia juga ngebakar bonekanya! Lo selingkuhin dia? Atau lo mutusin dia?!" omel Meta.
"Woi, woi! Gue sama Vio nggak pacaran! Gue cuma ngasih apa yang harus gue kasih ke dia!" ucap Jong Woo.
"Nggak usah sok polos! Lo yang deketin dia!" omel Meta lagi.
__ADS_1
"Lo harus minta maaf sama dia, Kak!" teriak Meta membuat Jong Woo menutup telinganya karena suara gadis itu benar-benar melengking dan menyakiti gendang telinga.