Hipotalamus

Hipotalamus
Jadi


__ADS_3

"Uri neun hag-gyo-eseo dong-geubsaeng-ibnida!" jelas Kim Tae Young pada Tuan Kim.


"Ah. International High School?" tanya Tuan Kim.


"Nee," jawab Kim Tae Young.


"Vin, perkenalkan. Ini Tuan Kim. Investor utama di GG Group," ucap Rafa. Vin tersenyum ramah dan memberikan salam pada Tuan Kim. "Dan ini, anak Tuan Kim," jelas Rafa membuat Vin semakin terkejut mendengar hal tersebut.


"Ini siapa?" tanya Tuan Kim dengan logat bahasa Korea.


"He is my son," ucap Rafa. Tak hanya Vin, yang terkejut akan pertemuan itu. Kim Tae Young juga tak menyangka bahwa pria miskin yang selalu ia ejek di sekolah merupakan anak tunggal dari pendiri sekaligus pemilik GG Group.


"Ya, ige mwoya?" ucap Kim Tae Young.


"Mwoya, museun mariya?" tanya Tuan Kim.


"Lo anaknya Tuan Rafa?" tanya Kim Tae Young pada Vin.


Vin malah mengangkat dagunya dan hendak menyalami teman sekelasnya tersebut.


Melihat salam Vin yang tak dibalas oleh anaknya, Tuan Kim berdehem. Kim Tae Young menyalami Vin.


"Vin. Putra tunggal pemilik GG Group, Tuan Rafa," ucap Vin membanggakan apa yang ia miliki saat ini.


Ini adalah hal yang tepat untuk membalas semua perbuatan Kim Tae Young kepadanya.


"Pu—putra tunggal?" tanya Kim Yae Young sambil tergagap. Begitu ia tak percaya akan sebenarnya yang terjadi pada Vin.


"Kalian saling mengenal?" tanya Rafa.


"Dia teman sekelasku," jawab Vin.


"Oh. Baguslah kalau begitu. Semoga kalian bisa berteman dan menjaga persahabatan perusahaan kita," ucap Rafa.


"Ya, aku rasa begitu seharusnya," ucap Vin sambil tersenyum sekilas.


Kim Tae Young langsung pergi dari kumpulan itu dan mengambil ponselnya. Ia melaporkan kejadian hari ini kepada teman-temannya di grup WhatsApp.


"Lo yakin itu Vin?" tulis Edo dalam grup tersebut.


Kim Tae Young memotret Vin secara diam-diam dan mengirim foto itu ke grup.


"Wih iya itu Vin!" tulis Dewa.


"Kok bisa, Nold?" tanya Edo.

__ADS_1


"Gue juga nggak tahu," balas Kim Tae Young.


"Berarti selama ini lo gangguin anak rekan bisnis bapak lo!" tulis Dewa lagi.


"Gayanya songong banget. Kayaknya dia ngerencanain sesuatu. Soalnya nggak mungkin dia nggak ungkap identitasnya di sekolah dan terima-terima aja pas kita semua katain dia anak haram," tulis Edo.


"Kalau dia ngebalas perbuatan lo yang kemaren, gimana, Nold?" tanya Dewa.


Kim Tae Young langsung mematikan fungsi data seluler pada ponselnya setelah membaca pesan tersebut.


Tak bisa ia bayangkan jika Vin benar-benar merencanakan sesuatu untuk membalas perbuatan yang telah ia lakukan selama ini. Yura juga tidak ada lagi di sekolah mereka. Kim Tae Young tak bisa menanyakan pasal ini kepada siapa pun.


Di dalam pertemuan tersebut juga terdapat Regi selaku investor juga. Di sana Regi membahas tentang bisnis baru yang hendak ia rencanakan bersama beberapa temannya.


Kim Tae Young langsung menyadari bahwa penulis terkenal itu merupakan saudara ipar Tuan Rafa. Dengan kata lain, Vin merupakan sepupu Meta. Maka itu semua menunjukkan bahwa Meta dan teman-temannya termasuk Yura juga mengetahui siapa Vin sebenarnya di sekolah.


Kim Tae Young juga baru menyadari bahwa Tuan Rafa merupakan donatur terbesar di sekolah mereka. Lantas mengapa Vin menyembunyikan kekayaan ayahnya tersebut?


***


Keesokan harinya di kelas, Kim Tae Young melihat Vin yang sedang duduk membaca buku di tempatnya. Vin menyadari kehadiran pria tersebut. Ia tersenyum kepada Kim Tae Young dan kembali membaca buku.


"Sekarang lo tahu siapa gue. Silakan sebarin ke seluruh sekolah kayak waktu lo nyebarin semua aib keluarga gue!" ucap Vin dalam hatinya.


"Kayaknya dia takut Vin laporin semua perbuatan Arnold ke bokapnya," jawab Edo.


"Parah sih. Gue juga heran, kenapa Vin sembunyiin identitasnya. Padahal semua orang tahu kalau Tuan Rafa itu donatur terbesar di sekolah kita. Semua orang bakalan meng-anak-emas-kan Vin kalau tahu siapa dia sebenarnya dari awal. Gue juga heran, alasan dia pindah ke sekolahan ini apa?" ucap Dewa.


Kim Tae Young duduk di bangkunya bersama Dewa dan Edo. Ia mengusap wajah frustrasi.


"Lo kenapa, Nold?" tanya Edo.


"Lo takut sama Vin?" goda Dewa. Hal itu malah membuat Kim Tae Young merasa kesal.


"Udahlah, masalah bisnis bokap lo, jangan dibawa ke sekolah!" ucap Edo.


"Gue cuma penasaran, kenapa dia nggak ungkapin identitasnya di sekolah?" ucap Kim Tae Young.


"Gue juga heran soal itu. Kayaknya dia ngerencanain sesuatu. Atau jangan-jangan dia mau balas perbuatan lo, Nold?" ucap Dewa semakin membuat Kim Tae Young kesal.


"Emangnya gue ngapain dia?" tanya Kim Tae Young mencari pembelaan.


"Lo 'kan yang sebarin kalau dia anak haram. Lo juga yang bilang kalau nyokapnya Vin itu melontay!" ucap Dewa sambil terkekeh melihat wajah Kim Tae Young yang ketakutan.


"Gue nggak pernah bilang gitu!" bantah Kim Tae Young.

__ADS_1


"Pernah! Gue sama Edo saksinya! Kita juga pernah bahas ini di grup WA, nah itu buktinya!" ucap Dewa semakin terkekeh.


"Nggak! Gue nggak pernah bilang gitu! Lo berdua yang bahas. Gue nggak ikutan!" bantah Kim Tae Young lagi.


"Ada, Nold! Udah jangan playing victim! Ha ha!" ucap Dewa yang kini tertawa melihat ekspresi temannya tersebut.


"Aniyo! Nan jeoldae geureoge haji anha!" bantah Kim Tae Young lagi.


Seketika itu tawa Edo dan Dewa pecah karena melihat Kim Tae Young yang ketakutan dan tak mau disalahkan atas kejadian yang telah lalu.


"Kalau dia ngebalas perbuatan lo, gimana, Nold?" tanya Dewa lagi.


***


Istirahat pertama hari ini dinikmati oleh Dewa dan Edo dengan tawa karena ekspresi Kim Tae Young benar-benar menunjukkan bahwa dia merasa takut pada Vin.


Kantin yang ramai, menutupi keberadaan Vin dan Marc. Sementara Jong Woo tak lagi ikut bersama mereka. Isu tentang Meta yang hendak berhenti sekolah dan melakukan home schooling pun menjadi pemicu utama pertengkaran mereka semakin memanas.


"Lo nggak ada niatan buat ngobrol sama Jong Woo, Vin?" tanya Marc.


"Buat apaan?" balas Vin.


"Ya, 'kan Jong Woo anak investor di perusahaan bokap lo," balas Marc.


"Oh iya. Gue mau cerita. Kemaren ada pertemuan para investor di hotel dan lo tahu, gue ketemu siapa?" tanya Vin.


"Siapa?" tanya Marc.


"Gue ketemu Arnold," jawab Vin sambil tersenyum-senyum.


"Arnold? Maksudnya? Kok bisa ketemu? Dia kerja di hotel?" balas Marc.


"Nggaklah! Dia anaknya salah satu investor bokap gue," ucap Vin.


"Seriusan? Kok bisa?!" tanya Marc lagi.


"Ya bisa aja! Dia juga kaget ngelihat gue. Gue jadi punya rencana," ucap Vin sambil terkekeh.


"Rencana apaan? Ajak gue dong!" tanya Marc


"Gue mau balas semua perbuatan Arnold." Vin terkekeh membayangkan semua yang ia rencanakan di dalam otaknya.


"Maksudnya? Gimana sih? Gue nggak paham!" ucap Marc sambil menggaruk kepalanya yang mendadak terasa gatal.


"Jadi ...." Vin membisikkan sesuatu ke telinga temannya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2