Hipotalamus

Hipotalamus
Tiket 28 Juta


__ADS_3

Vin terdiam dan kembali berpikir mendengar kalimat tersebut.


"Tiket dua puluh delapan jutanya udah ada di tangan lo, Vin. Cuma lo terlalu mikirin banyak hal! Jadi lo nggak bisa lihat berapa nilainya!" ucap Marc lagi.


"Bokap gue kakinya patah! Dia nggak bisa kerja! Nggak mungkin gue tambah rasa sakitnya dengan nginep di rumah Om Rafa!" bantah Vin.


"By the way, bokap lo itu Om Rafa, Vin. Jangan ketuker!" ucap Jong Woo.


"Iya, tapi dia ninggalin gue dari kecil!" tegas Vin.


Marc dan Jong Woo terpaksa membungkam mulut mereka karena tidak berkeinginan untuk ikut campur ke dalam masalah yang terjadi pada orang tua Vin.


***


Hari ini Vin kembali masuk ke sekolah dan bertemu dengan Yura. Vin terus berjalan sambil melamun dan mendahului gadis itu. Yura tahu pasti akan apa yang membuat Vin melamun.


Yura berlari mengejar Vin dan menyenggolnya hingga tersadar dari lamunan tersebut. "Ngelamun aja lo!" ucap Yura.


"Lagi pusing gue, Ra," ucap Vin.


"Gue juga pusing ngelihat lo kayak gini," ucap Yura. "Mikirin apaan sih lo?" lanjut Yura.


Vin memilih untuk tidak menceritakan tentang uang rumah sakit itu kepada Yura.


***


Saat jam istirahat tiba, Vin kembali mendapat tindakan yang tak mengenakkan dari murid-murid yang bersekolah di sana termasuk Kim Tae Young.


"Wah, ada anak haram," ucap Kim Tae Young begitu ia melewati Vin dan menghadang jalannya bersama Dewa dan Edo.


"Anak haram mau ke mana?" tanya Dewa.


"Mau nyari bapaknya?" ejek Edo menimpali kalimat temannya tersebut.


Vin memilih untuk pergi meninggalkan mereka bertiga dan menemui Marc serta Jong Woo di kantin. Marc dan Jong Woo terus memberikan saran agar Vin mau untuk tinggal bersama Rafa dalam waktu satu hari saja.


"Gue cuma mau lihat, reaksi Arnold pas tahu kalau lo itu anak orang kaya, Vin!" ucap Jong Woo.


"Iya, gue juga mau lihat. Lagian lo juga udah tahu kalau Arnold itu anak dari istri simpanan. Lo bisa lawan dia pakai itu, Vin!" Marc ikut membumbui hal itu agar Vin lebih tertarik pada rencana mereka.


Semua kejadian itu membuat Vin semakin bimbang untuk memenuhi syarat dari Rafa.

__ADS_1


***


Hingga akhirnya hari Sabtu kembali datang dan kali ini Vin mendatangi rumah ayahnya tersebut. Rafa tak berada di sana karena sedang bekerja. Vin dipersilahkan untuk menunggu di rumah megah milik ayahnya.


Di sana Vin dilayani bak seorang putra mahkota. Para pelayan tak henti-hentinya menanyakan sesuatu untuk keperluan Vin.


"Apa Tuan Muda sudah makan siang? Makanan apa yang Tuan Muda suka?"


"Apa Tuan Muda ingin beristirahat?"


"Apa Tuan Muda ingin berganti pakaian?"


Vin menolak semua tawaran dari para pelayan. Padahal, tawaran-tawaran itu sangat menyenangkan bagi para pelayan untuk melayani Tuan Muda mereka. Tapi, Vin tidak terbiasa akan semua itu.


Tiba-tiba Vin melihat satu pelayan muda yang tampak jelas bahwa dia adalah pelayan baru di rumah ini. Ia masih banyak mendapatkan penjelasan dari pelayan yang lain.


"Nanti akan ada tukang kebun yang baru ke sini. Kalau kamu lihat dia, kamu bawa ke gudang belakang ya? Soalnya gudang belakang disuruh Tuan Rafa bersihin buat naruh semua peralatan kebun," ucap salah satu pelayan pada gadis muda yang bernama Chika dan membuat gadis itu mengangguk.


***


Vin menunggu ayahnya pulang hingga merasa haus. Ia berjalan mencari dapur dan bertemu dengan pelayan muda itu.


"Mas, tukang kebun?" tanya Chika.


"Terus Mas siapa? Mau ngapain?" tanya Chika lagi.


"Saya mau ketemu Pak Rafa," jawab Vin.


"Nah iya, tadi saya disuruh bawa Mas ke gudang belakang," ucap Chika yang langsung berjalan. Menyadari bahwa Vin tak mengikutinya, Chika menoleh. "Nungguin apa Mas? Cepat!" tegas gadis itu.


Vin masih bergeming di tempatnya. Chika langsung menarik tangan Vin menuju gudang belakang yang letaknya lumayan jauh.


***


"Ini dibersihin ya, Mas!" tegas Chika menunjuk semua barang yang tertumpuk di sana.


"Tapi saya—"


"Nanti ini mau dibuat tempat naruh alat-alat kebun, katanya sih gitu." Chika langsung memotong kalimat Vin.


"Mbak! Saya ini—"

__ADS_1


"Iya iya! Saya bantuin kok." Lagi-lagi dia memotong kalimat Tuan Muda di rumah mewah tersebut.


Vin terpaksa menuruti gadis itu. Setidaknya dia bisa menghilangkan rasa kantuk dengan melakukan sesuatu di rumah ini.


***


Saat malam hari, Rafa pulang dan mendengar penjelasan bahwa Vin datang ke rumahnya. Tasnya juga masih tergeletak di atas kursi ruang tamu. Tapi sosok anaknya itu tak tahu berada di mana.


"Ke mana dia?" tanya Rafa.


"Tadi Tuan Muda masih duduk di sini, Tuan. Kami sudah menawarkan apa pun kebutuhannya. Tapi dia menolak. Sudah dari tadi sore, ia tak tahu berada di mana," jawab Kepala Pelayan.


Seketika Kepala Pelayan menyadari bahwa Chika juga tak berada di dapur sedari tadi. Secepat kilat ia berlari menghampiri gudang. Di dapatinya Vin yang tengah memindahkan rak-rak besar. Sementara Chika menyapu debu-debu yang ada di sana.


"CHIKAAA!!" teriak Kepala Pelayan yang bernama Desi itu dan mengejutkan mereka berdua.


"Tuan Muda, maafkan kami, Tuan Muda!" Desi mengelap tangan Vin yang berdebu dengan baju seragam pelayannya yang berwarna campuran hitam dan merah.


"Ada apa, Mak?" tanya Chika yang tak mengerti dan langsung mendapat pukulan di lengannya dengan sangat keras dari Desi.


"Apa yang kamu perbuat ini udah keterlaluan, Chika!!" teriak Desi.


"Kenapa?! Apa yang salah?" tanya Chika lagi dan Desi memukulnya kembali.


"Ini Tuan Muda Vin! Kenapa kamu bawa ke sini?! Dan apa ini, Chika?! Kamu bikin tangan Tuan Muda berdebu dan keringatan!" tegas Desi sambil mengelap tangan Vin terus menerus.


"Udah-udah! Ini cuma debu," ucap Vin yang membebaskan tangannya dari Desi.


"Chika!" bentak Desi pada bawahannya tersebut.


"A—aku ...." Chika tergagap dan tak melanjutkan kalimatnya.


"Udah, Bu! Ini cuma debu!" ucap Vin agar wanira paruh baya itu tak terus meneriaki Chika yang sudah ketakutan.


"Tapi Tuan Muda nggak pantas diperlakukan seperti ini. Maafkan kami, Tuan Muda," ucap Desi sambil membungkuk. "Chika! Minta maaf!!" teriak Desi secara tiba-tiba dan membuat Vin terkejut.


"Ma—maafkan saya, Tu—tuan Muda," ucap Chika sambil tergagap.


"Nggak apa-apa. Saya juga mau ngelakuin ini. Karena saya bosan. Sudah, jangan bertengkar," ucap Vin.


"Tuan Muda, Tuan Rafa sudah datang dan mencari Anda," ucap Desi sambil membungkuk.

__ADS_1


Vin langsung berlari menghampiri Rafa di dalam rumah. Semua pelayan yang ditemui Vin terperangah melihat Tuan Muda yang tampan itu dengan rambut lepek akibat keringat dan tubuh penuh debu. Terlihat seperti pria sejati yang mampu melindungi kaum wanita.


Rafa juga terbelalak melihat tubuh Vin dalam keadaan seperti itu. "Kamu dari mana, Vin?!" tanya Rafa sambil memutar-mutar tubuh Vin yang benar-benar berdebu.


__ADS_2