Hipotalamus

Hipotalamus
Kuliah Atau Kerja


__ADS_3

Vin tengah dilanda kebingungan untuk melanjutkan pendidikannya dengan berkuliah atau langsung terjun ke dunia binis milik ayahnya.


"Kalo gue kuliah, sekolah juga nggak bakalam seru kalo nggak ada Yura. Kalo gue bisnis, gue belum punya apa-apa. Ilmu pengetahuan gue aja masih secuil," ucap Vin bermonolog.


"Kuliah aja kalo gitu!" Seseorang menimpalinya, dan seseorang itu adalah Nia, sang pelayan pribadi sekaligus adik kelasnya yang sedang berbaring di sofa panjang yang terdapat di depan kasur Vin.


"Kenapa kuliah?!" tanya Vin yang bangkit dari tidurnya.


"Masih ada kesempatan buat belajar, kenapa nggak?" balas Nia lagi.


"Kan di perusahaan juga bisa nambah pengalaman," bantah Vin.


"Ya udah, terserah lo aja sih, Kak," jawab Nia dan memejamkan matanya.


"Jadi bingung gue. Kenapa gue harus dapat ranking satu?!" omel Vin membuat Nia kembali membuka matanya dan menoleh ke arah Vin yang duduk di kasur. "Harusnya Arnold!" lanjutnya.


"Lo nggak seneng dapat ranking satu di sekolahan elite International High School?!" pekik Nia.


"Kenapa gue mesti seneng?! Harusnya Arnold yang dapat ranking satu! Gue udah tuker lembar jawaban sama dia! Tapi kenapa gue yang ranking?! Harusnya dia!" omel Vin lagi.


"Berarti Arnold yang pinter!" imbuh Nia.


Vin menghela napasnya. Mungkin juga seperti itu, begitu pikir Vin. Ia tak belajar semaksimal mungkin untuk menghadapi Ujian Nasional. Try-out bukanlah patokan untuk dirinya menjadi yang nomor satu. Itu hanyalah sebuah latihan dan uji coba.


"Bentar-bentar, Kak!" Nia berusaha meluruskan otaknya karena semua yang diucapkan oleh Vin sangat sulit dicerna oleh otaknya. "Kenapa lo tuker lembar jawaban sama Kak Arnold?" tanya Nia.


"Arnold harus dapat ranking satu. Kalo nggak, dia bakalan dikirim ke Korea. Makanya gue bantuin dengan tuker lembar jawaban sama dia," ucap Vin.


"Hah?!" pekik Nia. "Lo yang bego, bantuin Kak Arnold buat dapat ranking satu dengan tuker lembar jawaban?! Gue jadi tahu letak kebodohan lo di mana!" omel Nia.


"Pas try-out, gue ranking satu! Makanya Arnold belajar mati-matian buat kalahin nilai gue!" balas Vin.


"Itu try-out doang! T-O! Lo ngerti konsep try-out nggak sih, Kak?! Terus kalo lo dapat ranking satu di T-O, lo bakalan dapat ranking satu di Ujian Nasional?! Ngelawak!" omel Nia dan memilih untuk kembali berbaring.


"Ya gue juga nggak tahu bakalan kayak gini! Arnold juga nggak tahu! Nggak ada yang tahu endingnya bakalan kayak gini!" balas Vin lagi.


***


Tuan Kim menampar Kim Tae Young dengan lembar hasil Ujian Nasional yang diberikan oleh pihak sekolah.

__ADS_1


"Ige mweo?!" teriak Tuan Kim.


Kim Tae Young tertunduk. Rasanya beban hidup semakin berat setelah hasil ujian itu diumumkan.


"Ya!! Nal chang-phihage hago sipheo?!" teriaknya lagi.


Kekesalan itu tak cukup sampai di sana, ia menampar Kim Tae Young di depan istri simpanannya tersebut.


"Geumanae!!" jerit sang istri sambil menangis begitu melihat Tuan Kim hendak memukul Kim Tae Young lagi.


Tuan Kim memilih untuk pergi meninggalkan rumah tersebut.


Kim Tae Young menghempas tangan ibunya dan memasuki kamar. Wanita itu adalah dalang dari kesengsaraan ini. Seharusnya Kim Tae Young tak terlahir dari seorang wanita perebut suami orang.


Jika saja, Kim Tae Young memiliki ayah seperti teman-temannya yang lain, mungkin kehidupannya tidak akan sehancur ini. Kalaupun ibunya seorang istri simpanan. Setidaknya ia ingin ayahnya menghilang saja dan tak pernah datang lagi ke rumah mereka.


Kim Tae Young berbaring di kasurnya. Terlalu banyak tekanan yang ia rasakan hari ini. Ia bangkit dan membawa jaket dan juga helm. Berkendara dengan kecepatan penuh di tengah malam adalah pelampiasan atas perasaan kesal yang ia rasakan malam ini.


Kim Tae Young datang ke gedung yang pernah diberitakan tentang Yura hendak bunuh diri. Di sana ia melihat pemandangan yang sangat indah. Sempat terbesit di pikirannya untuk meniru apa yang Yura lakukan. Ia berdiri di pinggiran puncak gedung.


"Mungkin ini yang Yura rasain sampai dia berani ke sini," ucap Kim Tae Young.


Yura langsung menariknya untuk kembali seimbang dan membuat pria itu terjatuh ke arahnya. Tubuh Yura terhempas. "Aaawww!!" jerit Yura.


Untungnya Kim Tae Young bisa bertahan dengan tangannya agar gadis itu tak lebih kesakitan lagi.


"Lo ngapain ke sini?!" omel Yura.


Kim Tae Young masih mempertahankan posisinya. Ia melihat wajah Yura di kegelapan. Tiba-tiba air matanya menetes di pipi Yura.


"Apaan nih?! Lo ingusan, Nold?!" Yura asal mengucap saja.


Tiba-tiba Kim Tae Young memeluknya. Tentu saja Yura langsung memberontak hingga ia melayangkan satu pukulan di perut Kim Tae Young dan membuat pria itu melepaskan pelukannya.


"Lo kenapa sih?!" teriak Yura.


Kim Tae Young tak memberikan jawaban apa pun. Ia juga tak tahu harus mengatakan apa. Ia tak ingin seseoramg tahu bahwa ia sedang mengalami sebuah masalah yang tak bisa diselesaikan.


"Dan kenapa lo ke sini?! Ini 'kan tempat persembunyian gue!" omel Yura lagi.

__ADS_1


Hal itu membuat Kim Tae Young menarik perlahan bibirnya untuk tersenyum. Semua tingkah Yura selalu berhasil membuatnya tersenyum dan keluar dari dunianya yang menyakitkan.


"Ngapain lo sembunyi?" tanya Kim Tae Young yang tertarik akan kalimat Yura tersebut.


"Ya gue kabur ke sini! Lo sendiri ngapain ke sini?!" Yura balik bertanya.


"Kenapa lo kabur?" tanya Kim Tae Young lagi.


"Gue capek di rumah. Nyokap gue nyuruh belajaaaaar mulu. Gue bosen, ya gue ke sini," jawab Yura.


... dan mereka kembali berdiam diri.


"Lo ke sini mau ngapain? Bunuh diri?" Yura memecah keheningan.


"Iya," jawab Kim Tae Young.


"Kenapa?" tanya Yura lagi.


"Nggak jadi!" jawab Kim Tae Young berdiri dan hendak pergi.


"Kenapa nggak jadi?!" tanya Yura membuat pria itu menghentikan langkahnya.


"Karena ada lo," jawab Kim Tae Young.


"Lo ada masalah?" tanya Yura lagi.


"Nggak, biasa aja," jawab Kim Tae Young kembali berjalan dan akhirnya benar-benar meninggalkan puncak gedung yang Yura pijak.


Saat Kim Tae Young sedang menutuni tangga darurat, tiba-tiba ia mendengar suara gemuruh tapak kaki dari arah bawah. Vin berlari ke arahnya.


"Lo liat Yura nggak?!" tanya Vin kalang kabut.


"Dia di atas," jawab Kim Tae Young singkat.


"Kenapa lo biarin?!!" teriak Vin dan kembali berlari menuju puncak gedung.


Kim Tae Young terdiam sejenak. Apa Yura datang ke tempat itu juga untuk bunuh diri? Pertanyaan itu muncul seketika. Ia kembali memutar arah untuk mengejar Vin.


Kim Tae Young mencari keberadaan Yura dan Vin. "Yuuraaaaaa!!!" teriak Vin yang terdengar.

__ADS_1


Kim Tae Young berlari menghampiri Yura yang duduk tersandar di dinding. Ia menyalakan lampu senter dari ponselnya dan melihat sebuah pisau yang tergeletak tak jauh dari mereka. Ia mengambil pisau itu dan melemparnya ke bawah gedung.


__ADS_2