Hipotalamus

Hipotalamus
Emang Lo Nggak Bisa Nolak?!


__ADS_3

[Pulpen gue habis] tulis Jong Woo pada pesan singkat tersebut.


"Gue ke koperasi sekolah dulu! Bye, Vio!" teriak Meta dan segera berlari menuju koperasi sekolah.


Ia membeli satu kotak pena dan kembali berlari ke kelas Jomg Woo dengan napas ngos-ngosan.


"Nih! Aduh, habis napas gue!" ucap Meta sambil menduduki bangku kosong di hadapan Jong Woo.


"Lo beli segini?" tanya Jong Woo menunjuk satu kotak pena tersebut.


"Iya, biar lo nggak laporan pulpen habis lagi," jawab Meta sambil mengontrol napasnya.


"Oh iya, tadi gue disuruh wali kelas buat ambil buku Bahasa Indonesia di perpustakaan. Anak-anak yang lain udah ngambil. Tinggal gue yang belum, soalnya kaki gue masih sakit, jadi gue nggak bisa ke perpus!" omel Jong Woo.


"Aduh, sabar kek. Gue tarik napas dulu! Perpus 'kan lumayan jauh dari sini!" bantah Meta.


"Bentar lagi jam terakhir dimulai. Lo mau gue nunggu sampai kapan?" balas Jong Woo.


"Iyaaa!!" teriak Meta dan kembali berlari menuju perpustakaan.


Sesampainya di sana, ia bertemu Vin yang sedang membawa dua buku tebal Bahasa Indonesia. "Lo dapat itu di mana?" tanya Meta.


"Di perpus. Lo disuruh Jong Woo buat ambil buku ini?" tanya Vin. Meta mengangguk cepat. "Nih." Vin memberikan salah satu buku itu kepada Meta.


"Beneran nih, buat Kak Jong Woo?" tanya Meta tak percaya bahwa sepupunya itu mempermudah urusannya.


"Bilang aja ke dia, lo yang ambil ke perpus. Lagian dia juga nggak bakalan peduli siapa yang ngambil. Yang penting bukunya ada," ucap Vin dan berlalu.


***


Siang itu Meta hendak pulang menuju asrama bersama ke dua temannya yakni Yura dan Violin.


"Udah lama nih nggak makan-makan. Jalan-jalan, yuk!" ajak Vio.


"Gue lagi ada urusan," ucap Yura memberikan pertanda bahwa ia tidak bisa ikut.


"Gue udah janji mau ke kafe Belerick nemenin Kak Jong Woo bikin tugas kelompok," ucap Meta.


Mendengar hal tersebut, Vio mulai mencurigai kedekatan Meta dan Jong Woo.


"Nemenin?" tanya Vio.


"Iya, soalnya nanti dia nggak bisa ke sana-sini. 'kan kaki dia masih sakit. Jadi dia minta gue buat ikut juga," ucap Meta dengan wajah sedih.

__ADS_1


"Emangnya lo nggak bisa nolak?" tanya Vio lagi.


"Bisa sih, cuma gue nggak enak aja. Udah bikin dia jatoh dari tangga. Terus masa gue nggak bantuin dia," jawab Meta.


"Lo lumayan deket ya sama dia," ucap Vio sambil berjalan.


"Nggak deket sih. Lebih tepatnya lumayan membantu," ralat Meta.


"Ya, apa pun itu. Gue iri sama lo," ucap Vio mendahului kedua temannya itu.


"Iri? Iri kenapa, Vi?" tanya Yura.


"Nggak, gue iri aja. Ada sesuatu yang bisa dikerjain," ucap Vio dan benar-benar meninggalkan temannya.


"Bukannya orang tua Vio punya mall ya? Kan dia bisa kerja di sana kalau mau ngerjain sesuatu," ucap Yura.


"Bukan itu maksudnya, Ra! Mungkin dia masih sayang sama Kak Jong Woo," jelas Meta.


"Sayang? Maksudnya?!" tanya Yura.


"Vio sama Kak Jong Woo pernah ada sesuatu gitu. Kak Jong Woo ngasih Vio boneka. Terus mereka sering ketemu gitu. Tiba-tiba Vio nangis gegara Kak Jong Woo," jelas Meta lagi.


"Berarti lo deketin cowok yang Vio suka," ucap Yura.


***


Namun, yang terjadi pada Vio sebenarnya adalah ....


"Gue iri sama lo, Met. Gue juga mau deket sama dia, kayak lo. Gue yang suka sama dia, tapi malah lo yang deket," ucap Vio pelan sambil terus berjalan.


***


Meta datang ke sebuah kafe dan menemui Jong Woo di sana. Marc dan Vin duduk bersama perkumpulan kakak kelas Meta.


"Lo ngapain di sini?" bisik Vin.


"Temen lo yang nyuruh," jawab Meta yang ikut berbisik.


Vin mulai merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi pada sepupunya tersebut. Pasalnya, Vin tahu seperti apa karakter anak-anak yang ikut mengerjakan tugas kelompok ini.


"Pacar lo, Jong?" tanya seorang wanita dari kelompok tersebut.


"Bukan, adek kelas kita," jawab Jong Woo santai.

__ADS_1


"Jadi jongos lo sekarang?" tanya wanita itu lagi sambil cekikikan bersama temannya.


"Mending lo balik aja deh, Met," ucap Vin yang tak terima melihat sepupu perempuannya diperlakukan seperti itu.


"Di sini aja, Met!" perintah Jong Woo.


"Met? Namanya jamet?" ejek wanita itu lagi.


"Balik aja!" tegas Vin agar ejekan tersebut tidak berlanjut.


"Tapi —"


"Gue yang nyuruh dia ke sini, Vin!" tegas Jong Woo memotong kalimat Meta.


Vin kembali duduk dan menahan amarahnya. Mereka melanjutkan tugas hingga akhirnya tugas itu diselesaikan.


"Met, beliin minuman dong. Kita capek, haus!" ucap wanita itu lagi.


"Iya, Kak," jawab Meta dan hendak berdiri namun Vin menahannya untuk tetap duduk.


"Lo bisa beli sendiri," ucap Vin.


"Vin, lo kenapa sih?" tanya Jong Woo.


"Lo yang kenapa! Lo mau jadi Arnold sekarang, hah?! Lo suruh Meta ke sini buat jadi budak lo?! Lo sengaja nyuruh dia ke sini, buat jadi bahan ejekan mereka?!" teriak Vin pada sahabatnya tersebut.


"Vin, nggak gitu maksud gue, Vin!" ucap Jong Woo.


"Terus lo mau apa?! Kenapa lo bawa dia ke sini?! Lo tahu sendiri 'kan mereka udah kayak setan kalau ngelihat adek kelas? Sekarang lo mau Meta dijadiin jongos mereka?!" Vin benar-benar marah melihat perlakuan tidak menyenangkan tersebut. Pasalnya ia tahu rasanya seperti apa.


"Si Miskin ini ngomong apaan sih?" ejek wanita itu lagi pada Vin.


"DAN LO!!" teriak Vin sambil menunjuk wajah wanita tersebut. "Lo bisa beli minuman sendiri. Kalau lo punya banyak duit, lebih baik lo gaji pelayan pribadi! Dari pada lo jadi setan kayak gini!" tegas Vin dan membawa Meta pergi.


"Aku nginep di rumah Om Rafa," ucap Vin sambil menyeka air matanya yang hampir menetes.


"Justru Papa yang harus bilang makasih, Vin. Mungkin kalau kamu nggak terima uang dari Rafa, Papa nggak tahu bakalan kayak gimana," ucap Feno.


"Papa, nggak marah?" tanya Vin.


"Marah kenapa? Rafa memang ayah kamu. Papa harus marah sama siapa? Papa harap kamu nggak jahat ke dia. Meskipun dia sejahat itu sama kamu dan mama kamu di waktu dulu," jawab Feno.


Vin malah semakin meneteskan air mata mendengar jawaban tersebut. Feno terlalu sempurna untuk menjadi ayah tirinya. Seandainya saja ia terlahir sebagai darah daging Feno. Itu yang Vin harapkan.

__ADS_1


"Tapi, Rafa pasti mau ambil Vin dari kita," ucap Nurul sambil menangis.


__ADS_2