Hipotalamus

Hipotalamus
Ujian Nasional


__ADS_3

Vin menikmati sarapan dan Nia terbangun karena merasa lapar. Gadis itu mengucek matanya dan melihat ke arah Vin. Nia mengingat pesan Desi yang harus menyiapkan air dan sabun untuk tuan muda mereka.


Gadis itu bergegas menghampiri Vin. "Jadi air apa yang mau disiapin, Kak?" tanya Nia.


"Air? Ngigau lo?!" balas Vin.


"Katanya tadi kalo Kak Vin mau mandi, harus siapin air sama sabun," balas Nia.


"Gue udah mandi! Lo tidur di situ sampai jam setengah sembilan! Kalo ketauan sama Desi, mungkin lo bakalan dipecat! Bilang makasih ke gue sekarang!" ucap Vin sambil menyantap makanannya.


"Ya, mau gimana lagi. Gue ngantuk! Semalam gue begadang! Terus subuh-subuh malah dibangunin Desi disuruh berdiri di sini berjam-jam nungguin lo bangun cuma buat ngucapin selamat pagi!" omel Nia.


"Tadi ada pelayan yang anterin sarapan ke sini. Dia mau marahin lo! Tapi gue suruh biarin aja lo tidur di situ! Karena tadi lo bilang, lo masih ngantuk! Setidaknya lo bilang terima kasih kek apa kek gitu karena gue udah berusaha baik sama pelayan pribadi gue!" Vin ikut mengomel.


"Makasih buat apanya? Sakit leher gue tidur kayak gitu! Harusnya lo gendong gue ke atas kasur. Lo pinjemin selimut lo yang hangat dan nyaman itu! Bukannya biarin gue tidur di lantai!" balas Nia.


"Dikasih hati, minta jantung!" tegas Vin.


"Ya lo 'kan mau gue bilang makasih ke lo, Kak Vin!" bantah Nia.


"Tinggal bilang, makasih doang. Apa susahnya?!" tegas Vin lagi.


Nia terdiam. Vin memang banyak membantu dirinya. "Makasih!" ucap Nia. Seketika itu Vin tersenyum.


***


Akhirnya kali ini mereka sampai di saat ujian nasional. Kim Tae Young mengalami tremor berat karena takut menghadapi hal tersebut. Ia sampai dilarikan ke klinik sekolah karena wali kelas mereka mengkhawatirkan Kim Tae Young memgalami kejang.


Laju aliran darah pria itu juga tidak normal karrna ia begadang semalaman untuk belajar demi menghadapi ujian nasional ini.


"Jadi, Arnold gimana, Vin?" tanya Marc.


"Dibawa ke klinik," jawab Vin.


"Yah, gawat dong. Ujian bentar lagi, dimulai!" balas Marc dan membuat Vin kembali berpikir bagaimana caranya untuk mengeluarkan Kim Tae Young dari masalah ini.


"Emang bisa ya, orang ketakutan sampe gemetsr gitu?" tanya Marc.


"Ya bisalah! 'kan Arnold nggak mau dikirim ke Korea dari bokapnya, makanya dia usaha sekuat mungkin. Dia juga begadang semalaman di asrama," jawab Vin lagi.


"Ngeri juga, kadi kesian gue ngeliatnya," ucap Marc. "Kalo lo, belajar nggak, Vin?" lanjutnya.


"Nggak, bokap gue nyuruh gue tidur jam 9, gue mau buka buku pun nggak dibolehin. Katanya tidur aja, bangun pagi. Belajarnya pas pagi itu," ucap Vin.


Vin dan Marc kembali menghapal isi buku yang mereka pegang. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Vin memutuskan untuk menemui Kim Tae Young di klinik sekolah.


Di sana ia melihat Kim Tae Young yang sedang berusaha mengontrol tubuhnya yang terus menerus bergetar.


"Nold," panggil Vin yang duduk di sebelah pria itu.


Tiba-tiba Kim Tae Young semakin gemetar. Vin ikut panik melihatnya.


"Gue cuma mau bilang, gimana kalo nanti gue bantuin lo buat dapat ranking 1," ucap Vin.


"Maksud lo?" tanya Kim Tae Young.


"Ntar, kertas jawaban kita, kita tuker aja. Punya lo jangan lo kasih nama. Punya gue juga. Ntar kita tukeran dan tulis nama masing-masing. Kertas jawaban gue, jadi punya lo. Kertas jawaban lo, jadi punya gue," ucap Vin.


Perlahan gemetar di tubuh Kim Tae Young menghilang.


***

__ADS_1


Ujian Nasional dimulai. Mereka melancarkan semua aksinya seperti apa yang dikatakan oleh Vin. Semuanya berjalan lancar. Hingga akhirnya mereka harus menunggu hasil ujian nasional tersebut selama satu bulan.


"Pertanyaan gue!" tegas Yura di kantin. "Kenapa ujiannya cuma dua minggu? Kenapa nggak sebulan aja? 'kan lumayan, kita sebagai adek kelas lo bisa libur lebih panjang!" lanjutnya.


"Ya, mana gue tahu! Tanya sama Menteri Pendidikan sono!" balas Vin.


"Iya, padahal gue belum kelar nonton drama Korea. Minimal sebulanlah!" Vio ikut menimpali kalimat Yura tersebut.


"Jadi lo berdua maunya libur berapa hari?! Udah dikasih libur juga masih untung! Nih kita nggak ada hari libur! Minggu pun masih harus ke sekolah buat jam pelajaran tambahan!" omel Vin.


Bertepatan dengan itu, Jesika dan Kayuki datang dan memesan makanan. Mereka duduk di sebelah kumpulan Yura, Vio, Marc dan Vin. Yura langsung memasang wajah jengkelnya.


"Kak Vin!" Suara itu memecah keheningan.


Nia ikut bergabung bersama Vin.


"Ngapain lo di sini?" tanya Vin.


"Aku mau traktir kalian!" jawab Nia.


"Traktir? Nggak salah lo?!" balas Vin.


"Iya! Gue baru gajian!" balas Nia.


"Gue suka nih, traktiran! Gue mau bakso!" Yura langsung menanggapi niat baik adik kelasnya tersebut.


"Gue juga!" Vio mengikuti jejak Yura.


"Oke!!" balas Nia yang bergegas memesan bakso.


Vin malah terkekeh tak keruan melihat tingkah Nia tersebut.


"Lo kenapa, Vin?" tanya Yura.


"Kenapa dah?" tanya Yura lagi.


"Suka kali dia sama Nia," jawab Vio.


Yura malah tertawa. "Sukanya yang bocil-bocil ya, Bund?" ejek Yura dan membuat Vio tertawa bersamanya.


Marc malah sibuk bermain ponsel dan tak meladeni mereka.


***


"Gajian lo?" bisik Vin dan membuat Nia terkejut.


"Iya, Tuan Muda." Nia ikut berbisik dan memperagakan dirinya seolah sedang berhadapan dengan seorang pangeran.


Mereka menyantap makanan yang Nia belikan untuk mereka. Tak henti-hentinya Vin terkekeh setiap kali ia mengingat, kini pelayannya membelikan ia sebuah makanan karena gaji yang ia berikan.


Setelah Nia meninggalkan mereka semua, Yura mulai mengejek Vin.


"Ekhem! Ada yang suka bocil nih, Bund!" ejeknya.


"Lo suka bocil, Marc?!" pekik Vin.


"Lo!" balas Marc.


"Kok gue?" tunjuk Vin pada dirinya sendiri.


"Lo suka ya sama Nia?" tanya Yura.

__ADS_1


"Gila kali lo!" bantah Vin dengan cepat.


"Ciye, sukanya bocil ya, Bund!" ejek Yura lagi.


"Apaan sih, Ra?! Gue 'kan sukanya sama lo!" tegas Vin sambil terkekeh.


"Diiih! Najis!" balas Yura.


"Najis?!" pekik Vin.


"Ntar Vin beneran suka sama Nia, lo malah nangis, Ra!" ejek Marc.


"Ngapain gue nangis? Justru gue bersyukur! Biar Nia ikutan mewek kalo gue mukulin Vin!" balas Yura lagi.


"Lo terlalu idiot, Ra!" ucap Vin.


***


Hampir setiap hari, Yura melihat Vin yang suka mengejek Nia. Mereka terlihat seperti menyembunyikan sesuatu dari semua orang. Terlihat sangat jelas ketika Vin sering memberika isyarat untuk menyuruh Nia diam. Yura menjadi penasaran akan hal tersebut.


"Lo berdua, pacaran?" tanya Yura.


"Hah?!" Respons mereka bersamaan.


"Nggak, Kak!" bantah Nia dengan cepat.


"Tapi, lo berdua kayak pacaran," jawab Yura.


"Nggak!" balas Vin.


"Ya udah sih kalo nggak, nggak perlu sampe segitunya juga," jawab Yura.


Hari demi hari Yura semakin jarang berbicara dengan Vin, baik mengobrol maupun melakukan hal yang lainnya. Yura dan Vio juga melihat, Vin dan Marc lebih memilih untuk duduk di kantin dan mengobrol bersama Nia.


"Yakin si Vin nggak suka sama Nia?" tanya Vio.


"Ya serah dialah!" jawab Yura.


"Keloatan banget kalo dia suka sama Nia!" ucap Vio lagi.


"Ya serah dialah, Vi. Ngapain juga kita ngurusin Vin?" balas Yura.


Semakin Vin dekat dengan Nia di sekolah, semakkn Yura merasa kesepian. Sekolah terasa membosankan tanpa bertengkar dengan Vin. Inilah alasan Yura tak ingin berdamai dengan sosok pria itu. Hal yang ia takuti mulai terjadi.


"Lagian Vin bentar lagi bakalan lulus sekolah. Mau nggak mau gue bakalan bosen," ucap Yura bermonolog.


"Hah?!" respons Vio yang mendengar kalimat samar tersebut.


"Nggak apa-apa, cuma lagi mikir aja!" balas Yura.


***


Hari ini hasil ujian nasional akan diumumkan. Semua nilai para murid akan ditempelkan di papan pengumuman. Di sana Vin dan yang lainnya berbondong-bondong mengerumuni papan tersebut.


"Ada nama gue nggak, Vin?" tanya Marc yang digimpit oleh murid lain.


"Nggak ada!" jawab Vin yang sibuk mencari nama dirinya di urutan dua puluh hingga ke bawah.


"Wuiidih! Nama lo ada di atas, Vin!" pekik Marc yang melihat nama sobat karibnya tersebut.


Mata Vin berputar menuju urutan angka di atas.

__ADS_1


[1. Vin]


"Kok gue ranking satu?!" jerit Vin.


__ADS_2