
Sejak kejadian itu, Jong Woo, Marc dan Vin berusaha membuat Meta untuk mengobati rasa takutnya. Vin juga membawa Meta ke psikiater dan menemani sepupunya itu untuk menjalankan proses terapi.
"Yura udah balik lagi ke Jepang?" tanya Marc pada Vin saat tengah menikmati jam istirahat di kantin.
"Iya," jawab Vin singkat.
"Dia ada pamitan sama lo?" tanya Marc lagi.
"Nggak ada," jawab Vin lagi.
"Terus lo tahu dia udah balik, dari mana?" tanya Marc.
"Dari Meta," jawab Vin yang kini matanya tertuju pada Jesika. "Itu murid baru yang gantiin Yura, ya?" tanyanya.
"Iya, namanya Jesika. Katanya sih, dia dijodohin sama Arnold!" ucap Jong Woo.
"Terus dia mau dijodohin?" tanya Vin.
"Ya mana gue tahu. Katanya sih, mereka dijodohin karena perusahaan bokap mereka mau kerjasama," jawan Jong Woo.
"Lo tahu dari mana?" tanya Marc.
"Ya tahu lah! 'kan bokapnya Jesika juga nawarin kerjasama ama perusahaan bokap gue! Dan bokap gue cerita kalau bokap Jesika nawarin anaknya buat dijodohin sama gue. Bokap gue nggak mau lah! Kerja yang profesional aja, jangan bawa-bawa asmara!" jelas Jong Woo.
"Jangan-jangan bokapnya Jesika bakalan nawarin kerjasama juga ama lo, Vin?" duga Marc.
"Gila lo! Yang bener aja!" bantah Vin dengan cepat.
"Bisa aja 'kan?!" tanya Marc meminta persetujuan dari kedua temannya.
Vin melihat Jesika menghampiri Kim Tae Young dan teman-temannya. Anehnya, gadis itu malah mengobrol bersama Edo.
"Atau, jangan-jangan Jesika suka sama edo," ucap Vin.
"Lah, kok bisa?" tanya Marc.
"Lo lihat!" tunjuk Vin ke arah mereka dengan menggunakan bibirnya.
"Bisa aja sih," ucap Jong Woo. "Lagian gue heran ya, kenapa orang selalu numbalin anaknya buat perusahaan?" lanjutnya.
"Ya, bokap gue juga gitu! Gue harus yang paling sempurna di antara semua anak pemilik saham!" jawab Vin.
"Nah 'kan! Gue juga gitu soalnya!" ucap Jong Woo.
"Untungnya sih, gue nggak kayak gitu. Gue malah dipaksa buat buka usaha sendiri! Perusahaan pasti bakalan dikasih ke abang gue!" ucap Marc.
"Sedih amat hidup lo, Marc?" ejek Jong Woo.
"Iya, kalau tahu peraturan keluarga gue kayak gini. Mending gue brojol duluan sebelum abang gue lahir!" ucap Marc sambik terkekeh.
__ADS_1
"Mana bisa gitu!" bantah Vin sambil menyentil tangan temannya tersebut.
"Ya lagian, gue dari kecil nggak pernah dianggap! Apa-apa abang gue, apa-apa abang gue. Udah kayak setan gue di rumah. Ada, tapi nggak kelihatan!" omel Marc.
"Sabar, Marc. Kisah hidup lo sedih banget, Marc, huaaaa!!" ejek Jong Woo sambil memeluk temannya itu. Marc juga meladeni akting menangis yang sedang Jong Woo lakukan.
"Permisi, Kak!" Kalimat itu membuat mereka semua menoleh. Jesika menghampiri Vin. "Kak Vin?" tanyanya.
"Iya, kenapa?" balas Vin.
"Jesika," ucap gadis itu sambil menjulurkan tangannya.
"Kak Jong Woo?" tanya Jesika.
Jong Woo memberikan wajah seolah ia tak menyukai keberadaan gadis tersebut.
"Kak Vin, boleh minta tolong nggak?" tanya Jesika pada Vin.
"Soal apa?" Vin balik bertanya.
"Gimana ya bilangnya? Aku juga susah jelasinnya, Kak. Pokoknya 'ntar balik sekolah, Kakak ke perpus ya!" jawab adik kelasnya tersebut.
"Soal apa?" Vin mengulangi kalimatnya.
"Aku susah jelasinnya, Kak. Mau ya?" ucap Jesika.
"Hm," jawab Vin singkat. Jesika tersenyum dan kembali ke mejanya bersama rombongan Kim Tae Young.
"Lo berdua ikut gue 'ntar!" ucap Vin.
"Pasti!" jawab Jong Woo.
"Pasti lo mau digodain, Vin!" ucap Marc.
***
Dua hari telah berlalu, Jesika selalu menghampiri Vin dan meminta bantuan untuk hal-hal kecil, termasuk tugas sekolahnya.
Hingga akhirnya Jesika mengucapkan kalimat yang tak pernah Vin bayangkan sebelumnya.
"Kak Vin, mau nghak jadi pacar aku?" ucap gadis itu di depan pagar asrama putra.
"Sorry, Jes! Gue lagi nunggu seseorang. Sekarang dia ada di sini, bentar lagi dia balik lagi ke Jepang," ucap Vin membuat gadis di hadapannya itu terdiam sejenak.
"Maksudnya? Kak Vin udah punya cewek?" tanya Jesika.
"Gue nggak minat pacaran," jawab Vin.
"Terus? Cewek yang Kak Vin tunggu itu siapa?" tanya Jesika lagi.
__ADS_1
"Dia cewek spesial. Gue akuin lo lebih cantik dari dia. Tapi gue nggak minat sama cewek cantik," jawab Vin lagi.
"Gue sakit hati loh, Kak, dengernya," ucap Jesika sambil berusaha menahan sesak.
"Ya, gue minta maaf kalau lo sakit hati sama apa yang gue bilang, Jes. Tapi ini faktanya. Dia emang nggak se-cantik lo, tapi lo nggak se-spesial dia di hati gue," ucap Vin membuat Jesika semakin merasa sakit hati.
"Nggak tahu mau bilang apa lagi," ucap Jesika sambil tersenyum menahan sakit.
"Sekarang lo lagi dijodohin sama Arnold, 'kan?" tanya Vin.
Jesika menganggukkan kepalanya, pertanda jawaban 'iya'.
"Kenapa lo nggak fokus sama perjodohan lo aja?" tanya Vin.
Jesika menarik napasnya lebih dalam dan menghembuskannya dengan kasar. "Kak Arnold bilang kalau dia lagi nungguin Yura balik ke Indonesia," ucap Jesika.
Vin langsung menoleh padanya. "Arnold bilang gitu?" tanya Vin.
"Yang Kak Vin bilang dari tadi itu Yura juga?" Jesika balik bertanya.
"Iya," jawab Vin singkat.
"Kok bisa kalian berdua ngarepin cewek yang sama?" tanya Jesika lagi.
"Ya, karena yang kayak gue bilang tadi. Yura spesial," jawab Vin.
"Se-spesial apa sih?" gerutu Jesika yang mendadak kesal dan menghempas langkah menuju asrama.
Sesampainya di asrama, Jesika bertemu dengan Vio yang kini menjadi teman sekamar dan sekelasnya. Jesika menghempas tasnya di atas kasur tanpa memberikan sepatah kata. Vio pun merasa enggan menyapa gadis itu.
Jesika membuka laci mejanya dan terdapat sebuah buku di sana. Buku tersebut adalah milik Yura yang tertinggal.
"Yura?" Jesika membaca nama yang tertera di sampul buku. Ia langsung menghempas buku itu ke dalam kotak sampah.
"Ada masalah apa lo sama Yura?" Vio mengeluarkan kalimat pertamanya pada murid baru tersebut.
"Lo kenal Yura? Secantik apa sih cewek itu? Se-spesial apa? Sampai Arnold sama Kak Vin tergila-gila sama dia?" tanya Jesika.
"Kenapa? Punya masalah apa lo?!" tanya Vio dengan nada meninggi.
"Yang mana sih yang namanya Yura? Lo bisa tunjukin ke gue?" balas Jesika.
Vio menunjukkan foto wallpaper ponselnya yang terdapat foto dirinya bersama Meta dan Yura.
"Yang mana?" tanya Jesika lagi.
"Menurut lo?" balas Vio.
"Dekil gini? Kenapa Arnold sama Kak Vin bisa suka sama dia?" Jesika kembali mengumpat.
__ADS_1
"Karena dia ke sekolah bukan buat tebar pesona kayak lo," jawab Vio dengan santainya.
Jesika menahan geram berada di kamar yang sama dengan gadis tersebut.