Hipotalamus

Hipotalamus
Ultah Kakek Buyut Marc


__ADS_3

Hari pertama, Meta dan Yura mengikuti Violin secara diam-diam di sekolah. Mereka mendapati Violin yang diam-diam berlalu di depan kelas Vin.


"Tuh 'kan, Met! Dia lewat kelasnya Vin. Dia juga noleh terus ke sana! Pasti dia suka sama Arnold!" tegas Yura.


"Nggak, Ra! Bisa aja dia mau lihat mantannya," ucap Meta sambil menunjuk ke arah Marc.


"Itu lebih mustahil lagi!" bantah Yura.


Mereka kembali mengikuti Violin ke arah lapangan basket. Di sana terdapat banyak anak laki-laki bermain atau sekedar duduk dan mengobrol bersama temannya. Di sana terdapat Kim Tae Young yang sedang bermain basket bersama kedua temannya, yakni Dewa dan Edo.


"Fix ini, Met! Valid seratus persen, eh maksud gue seribu persen! Dia ke lapangan basket buat nemuin Arnold! Fix ini Vio suka sama Arnold!" tegas Yura dari kejauhan.


"Gue masih nggak yakin kalau dia suka sama Arnold, Ra!" bantah Vio terus menerus.


Di sana Yura dan Meta melihat Vio menghampiri Arnold dan memberikannya sebuah surat. Mereka juga sempat mengobrol.


"Tuh 'kan, Met! Gue bilang juga apa! Dia ngasih surat ke Arnold!" ucap Yura lagi.


"Bisa aja itu surat tagihan hutang!" bantah Meta lagi.


"Astaga, gue getok nih kepala lo lama-lama, Met!" Yura mulai kesal dibuat oleh sepupunya tersebut.


"Dih, lagian nggak mungkin Vio suka sama Arnold!" tegas Meta.


"Lo mau bukti yang kayak gimana lagi?!" tanya Yura.


"Kalau mereka jalan berdua, gue baru percaya!" tegas Meta.


"Okey! Gue yakin dia bakalan jalan berdua sama Arnold! Ya lumayan juga sih, gue jadi punya alasan buat bikin Arnold nggak bilang gue pacarnya lagi!" ucap Yura.


"Ya udah, kita tunggu sampai mereka jalan berdua!" Meta menyetujui hal itu.


***


Saat di kamar asrama. Yura dan Meta saling menatap. Mereka juga mengobrol lewat tatapan mata yang seolah berbicara menyuruh satu sama lain menanyakan hal yang membuat mereka penasaran.


"Vio," panggil Yura.


"Vi!" Meta juga ikut memanggil.


Violin menoleh ke arah mereka berdua. "Apaan?" tanyanya.


"Lo suka Korea?" tanya Meta.


"Nggak," jawab Vio singkat.


"Kalau K-Pop?" tanya Meta lagi.


"Nggak, gue nggak suka cowok joget," jawab Vio lagi.


"Lo suka sama cowok Korea?" tanya Yura tanpa basa-basi dan membuat Meta membesarkan ke dua matanya.

__ADS_1


"Ada yang gue suka, ada yang nggak gue suka. Kenapa sih nanyain Korea ke gue? Emangnya gue ada tampang-tampang K-Pop Lovers?" Vio balik bertanya.


"Ya, nggak sih. Cuma mau tahu aja," ucap Yura.


***


Hari ke dua. Yura dan Meta kembali mengikuti Violin secara diam-diam. Vio semakin sering bertemu Kim Tae Young. Yura semakin yakin bahwa Violin menyukai sosok pria tersebut. Sementara Meta berusaha membuktikan bahwa Violin tidak mungkin menyukainya.


Di tempat yang lain, Violin secara diam-diam menulis sebuah puisi yang terdapat tulisan, "... Manakah mungkin seekor binatang mendapatkan seorang bintang seperti kamu."


Violin sempat menuliskan nama pria tersebut di ujung puisinya, tapi ia memilih untuk merobek bagian tersebut dan menjadikannya serpihan kecil.


"Gue juga nggak tahu kenapa bisa suka sama lo!" bantah Vio.


"Tapi ... temen gue suka sama lo, Vio!" tegas pria di hadapannya tersebut.


"Temen lo, siapa?" tanya Vio.


"Marc!" tegasnya.


Pria yang Vio sukai adalah Jong Woo. Tapi, Jong Woo mengenal dekat seorang Marc yang masih mencintai mantan kekasihnya tersebut.


***


Hari sebelum Vio menyatakan perasaannya kepada Jong Woo.


Marc menerima begitu banyak kado dari adik kelasnya secara tiba-tiba. Jong Woo menjadi satu-satunya orang yang membantu Marc mengatasi kado-kado tersebut.


"Nggak tahu," jawab Marc dan mulai membuka kado-kado itu satu per satu.


Vin baru saja membuka pintu dan melihat kado-kado tersebut. "Lo ulang tahun, Marc?" tanya Vin.


"Kakek buyut gue ulang tahun," jawab Marc.


"Bukannya lo suka sama Vio, Marc?" Vin mulai menggoda teman sekamarnya tersebut.


"Justru gegara ini semua. Vio jeles," jawab Marc penuh dengan rasa bangga.


"Masa sih? Tadi gue lihat dia ngobrol sama Arnold. Nggak ada tuh tampang-tampang jeles," ejek Vin yang cekikikan bersama Jong Woo.


"Mungkin dia lagi nanyain soal kado ini sama Arnold," ucap Marc mencoba mempertahankan rasa percaya dirinya.


"Harusnya dia nanyain ini ke Jong Woo, bukan ke Arnold!" bantah Vin.


"Ya udah sih, Vin. Ribet amat!" Marc malah mengomel.


"Nggak ribet sih, gue cuma nanya aja," ejek Vin lagi.


"Ngomong sekali lagi, gue bungkus mulut lo pakai kertas kado!" ancam Marc.


"Maksa amat. Padahal Vio nggak jeles." Vin kembali cekikikan bersama Jong Woo.

__ADS_1


"Gue nggak maksa, emang Vio jeles tadi pagi pas gue dikasih kado dari adek kelas. Tanya aja sama Jong Woo," bantah Marc.


"Nggak juga sih, Marc. Gue lihat sendiri," ucap Jong Woo dan membuat Vin tertawa.


"Kalau dia nggak jeles. Lo harus bantuin gue, Jong! Bikin Vio jeles!" tegas Marc dengan nada merajuk.


"Kok gue?" tanya Jong Woo.


"Kalau gue minta bantuan Vin, pastinya dia bakalan berurusan lagi sama Yura. Lo mau lihat dia dipukulin Yura?" jelas Marc.


"Ya, nggak. Tapi, masa gue?" tanya Jong Woo lagi.


"Pokoknya, lo bantuin gue besok!" tegas Marc.


***


Siang itu, Marc dan Jong Woo sengaja menunggu Vio berjalan di depan kelas mereka. Untungnya kali ini Vio tidak diikuti oleh Yura dan Meta. Jong Woo langsung berlari menghampirinya.


"Vio?" tanya Jong Woo dan Vio mengangguk.


Sebenarnya gadis itu malas meladeni Jong Woo, tapi ia tak memiliki pilihan lain karena ia berada di depan kelas seniornya itu. Ia tak ingin meninggalkan kesan jelek di sana.


"Gue boleh nanya sesuatu?" tanya Jong Woo.


"Nanya apa?" Violin balik bertanya.


"Lo suka warna apa?" tanya Jong Woo.


"Kenapa ya? Kok tiba-tiba nanyain warna kesukaan?" tanya Vio lagi.


"Nggak apa-apa. Gue cuma mau tahu aja. Soalnya keluarga gue punya bisnis fashion," ucap Jong Woo.


"Ow. Gue suka warna hitam," jawab Vio.


"Lo suka boneka?" tanya Jong Woo lagi.


"Boneka? Apa hubungannya boneka sama fashion?" tanya Violin.


"Boneka buat gantungan resleting tas, lo nggak pernah lihat?" Jong Woo terpaksa beralibi.


"Iya, gue suka," jawab Vio singkat.


"Oke! Besok gue beliin gantungan boneka warna hitam buat lo!" ucap Jong Woo dan pergi begitu saja.


Vio malah mengetnyitkan dahi mendengar hal tersebut. "Nggak jelas," ucapnya.


Jong Woo langsung memberitahukan hal tersebut kepada Marc.


"Dia suka boneka warna hitam!" ucap Jong Woo.


"Sejak kapan Vio suka warna hitam? Bukannya dia suka warna kuning?" bantah Marc.

__ADS_1


"Mungkin kalau dia lihat warna kuning, dia bakalan ingat lo. Kayak apaan gitu warna kuning, ha ha!" ejek Jong Woo.


__ADS_2